Saturday, March 27, 2010

Marine Meeting WWF Indonesia



18 - 21 Maret 2010 tim Marine WWF khususnya Bunaken, Kendari dan Wakatobi berkumpul di Wakatobi. Membahas PPMM. Gak ngerti khan? Sejenis workplan deh.
Yang pastinya kegiatannya Marine Team, apalagi kalau di Wakatobi, terus gak pakai acara nyelam. Gak mungkin lah yaw.
Pagi setelah move dari Wanci utk mooring di Hoga, langsung aja bbrp rekan setting alat dan turun dari FRS Menami ke Simba untuk mulai ibadah selam pagi hari. Bahkan ibu hamil 12 minggu pun minta jatah juga. Yah, daripada ntar the baby ngileran terpaksa deh diijinkan, tentunya dengan ketentuan yang berlaku yaitu isi kandungan di luar tanggungjawab ABK. Lah iya lah...

Episode penyelaman selanjutnya adalah penyelaman sore. Di penyelaman kedua ini sudah bersiap tim spesial yaitu penyelaman religi. Pak Wawan hendak mengulangi sholat bawah airnya. Yang pertama dilakukan saat masih bertugas di Wakatobi tahun 2007. Penyelaman ini dipersiapkan betul karena harus mendapatkan lokasi yang tidak berkarang, agar tidak merusak; tidak berarus, biar gak terguling-guling; n tidak terlalu dalam, biar pencahayaan masih bagus n tentunya gak melewati batas penyelaman yg aman. Jadinya? Lihat aja sendiri foto di atas

Wednesday, December 16, 2009

Kunjungan Duta Besar Amerika Serikat ke Wakatobi

Kepala Bappeda Ir. Abdul Manan MSc. mengkonfirmasikan ke saya bahwa Duta Besar AS akan hadir dalam Simposium yang akan diselenggarakan pada 14 - 16 Desember 2009 nanti. Bahkan beliau akan hadir dua hari lebih awal untuk menikmati kehidupan bawah laut Wakatobi. Untuk itu kami diminta membantu mendampingi kegiatan bawah air ini. Tentunya dengan senang hati kami menyiapkan diri.
Tak lama dari info tersebut Hugo Yon, staf Kedubes AS, mengirim email yang menyatakan rencana kedatangannya kedua kali ke Wakatobi.
Sudah tentu dalam rangka mendampingi bosnya, sang Dubes. Dan akan ada satu lagi dalam rombongan mereka, body guard katanya.
Singkat cerita pada tanggal 12 pagi kami mendapat konfirmasi bahwa rombongan kecil ini sudah terbang dari Jakarta dan diperkirakan tiba di Wakatobi pukul 14.00 WITA. Namun ternyata mereka tiba lebih awal. Pukul 13.00 mereka sudah tiba di Rumah Makan Wisata untuk makan siang bersama Bupati, MUSPIDA dan para pimpinan SKPD.
Karena hari masih cukup terang maka kami menawarkan satu kali penyelaman hari ini. dan memutuskan untuk menyelam. Penyelaman pertama ini memilih terumbu di pesisir desa Sombu, Pulau Wangi-Wangi. Beberapa waktu lalu kebetulan saya sempat snorkling di lokasi tersebut untuk memastikan amatan beberapa rekan penyelam lain yang menyatkan bahwa Sombu memiliki terumbu karang yang bagus. Penyelaman pertama ini diikuti oleh Dubes AS, Cameron Hume; Hugo Yon dan Bupati Wakatobi. Sebagai pendamping penyelam ikut serta LD Amaludin, Putu Suastawa dan saya sendiri. Tambahan satu penyelam lagi yaitu Dullah dari Kendari Ekspress sebagai dokumentasi penyelaman.
Penyelaman kedua dan ketiga akan dilakukan esok hari dengan target lokasi penyelaman di Karang Kaledupa dan di Pesisir Tomia atau Hoga. Penyelaman kedua yang dilakukan di Atol Kaledupa merupakan penyelaman yang akan memberikan kesan mendalam selanjutnya bagi Duta Besar Amerika tersebut. Titik penyelaman dimana kami menyelam tersebut beberapa hari setelah penyelaman kami ditawarkan oleh Bupati Wakatobi untuk diberi nama beliau. Ya! titik penyelaman tersebut kemudian secara resmi diberi nama Cameron's Pinnacle. Keren khan..
Semoga hal ini bisa mendorong partisipasi lebih aktif lagi masyarakat dunia seperti Mr Cameron untuk ikut serta menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang di Wakatobi. Semoga!

International Simposium "Coastal and Marine Management for Better Life"



Gelaran akhir tahun ini merupakan hasil kerjasama Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) dan Coral Triangle Community Foundation (CTCF). Kegiatan ini diselenggarakan di Gedung Wanita, Wangi-Wangi pada tanggal 14-16 Desember 2009. Rangkaian kegiatan yang panjang ini cukup melelahkan namun memberikan pengalaman baru bagi para kepala2 daerah yang hadir. Tercatat setidaknya 21 kabupaten dan kota di Indonesia hadir dari total 40-an yang mengkonfirmasikan hadir.

Monday, October 19, 2009

Menjadikan Wakatobi Center of Excellence

Dengan segala keindahan dan keanekaragaman hayatinya, rasanya tidak cukup bagi Wakatobi. Kunjungan para ilmuwan muda mancanegara dan foto2 indah bawah laut yang diabadikan oleh para penyelam asing harusnya menjadi perangsang untuk para pencinta bahari nusantara ini berbuat. Bagi para penyelam ayo dong ikutan lomba foto bawah lautnya Wakatobi, biar jangan cuma nama2 asing saja yang muncul sebagai pemenangnya. Begitu pula para ilmuwan muda jangan cuma mentok di Pulau Pari aja. Mulailah untuk mengembangkan pusat-pusat kelautan di seluruh kepulauan di Nusantara ini.

Salah satu inisiatif rintisan yang sedang diperjuangkan adalah membangun satu pusat riset dan ilmu kelautan di kepulauan Wakatobi. Bermula dari bincang-bincang antar personal yang peduli dan punya minat pada ilmu pengetahuan dan kelautan, pada tanggal 2 Oktober 2009 lalu, dengan penuh semangat satu langkah telah ditempuh. Kami bertemu dan berbincang yang dilanjutkan dengan menyelami bersama keindahan ekosistem terumbu karang di Inner Pinnacle-Hoga. Para peneliti muda dan Kepala Pusat dari Badan Riset Kelautan dan Perikanan-DKP, staf Kedubes US dan USAID, staf Balai TN Wakatobi, penggiat lingkungan dari TNC dan WWF dipandu langsung oleh Bupati Wakatobi berdiskusi mengenai upaya membangun stasiun lapang untuk Pusat Riset dan Ilmu Kelautan ini. Kami berharap semoga niat yang baik ini dapat menjadi nyata. Sehingga bangsa bahari ini menjadi benar-benar besar akan kebahariannya baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusianya. Semoga Wakatobi dapat menjadi salah satu pusat kemutakhiran tersebut.

Monday, March 02, 2009

Seni Tenun Ikat dan Anyam Wakatobi

Melaju di Deru Perubahan Zaman
 
WAKATOBI – Percuma kalau pergi ke Wakatobi, bila hanya untuk menikmati rumpunan soft coral dan kehidupan orang laut Bajo. Karena di dalam gugusan pulau-pulau indah di kawasan Sulawesi Tenggara ini, masih tersimpan banyak daya tarik lainnya. Seperti menelusuri keindahan seni tenun ikat dan melihat pengrajin anyaman tikar lipat. 
Taman nasional laut yang terletak di tenggara Buton ini sepertinya memang sengaja terus menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru untuk menambah arus pemasukannya. Setelah sukses dengan keindahan bawah laut dan kehidupan orang Bajo, mereka mencoba menggagas kemungkinan wisata kerajinan yang bisa menjadi salah satu simbol kemudian hari di Wakatobi.

Mungkin nama sarung Wuray kurang terdengar akrab di telinga, apalagi anyam tikar dari Feruke. Tapi dengan keunikannya masing-masing, kedua jenis kerajinan tradisional ini mencoba menyeruak dan meminta perhatian agar diposisikan sebagai buah tangan yang layak untuk dibawa.
Seperti juga seni kerajinan daerah lain. Hingga sekarang mungkin masih saja terdengar kendala yang merapatinya. Namun, kalau mau melihat ke depan, sebenarnya jenis wisata seperti ini memiliki pasar tersendiri yang bisa terus digeluti.

Sarung Wuray 
Sambil menanti kedatangan pick-up yang akan membawa kami ke masjid. La Mahode, pemandu kami, menawarkan mengunjungi beberapa pengrajin tenun di sana. Di Pulau Kaledupa yang teduh di serambi-serambi rumahnya, ditemui banyak perempuan yang melakukan kegiatan menenun. Salah satu rumah di utara desa kelihatan juga menyimpan satu perempuan yang kelihatan sibuk di teras rumahnya yang bertingkat dua. 
”Sarung wuray ini biasanya hanya dipakai saat ada kegiatan khusus saja. Semacam perkawinan dan acara resmi keluarga di sini,” kata La Mahode. Kain dengan motif kebanyakan garis-garis ini juga terkenal karena daya tahannya. ”Kain yang saya pakai sekarang, merupakan warisan dari nenek saya,” kata La Mahode lagi menjelaskan secara implisit kekuatan sarung tersebut. Padahal, bila melihat bahan dasar yang berupa benang kapas biasa, sarung ini cukup menakjubkan karena mampu bertahan hingga 20 tahun lamanya. 
Dengan harga Rp150 – 200 ribu kita bisa memiliki kain sarung tersebut. Namun, sayang hingga kini keberadaan sarung tersebut hanya untuk konsumsi orang Buton. Penjualan paling jauh hanya ke kota Bau-bau. Padahal kalau mau diseriuskan, bisa saja menjadi tambahan bagi perekonomian sekitar. 

Tikar Lipat 
Satu lagi kerajinan asli Kepulauan Wakatobi yang rasanya pantas untuk dibicarakan adalah seni anyaman tikar lipat. Dengan bahan dasar daun pandan yang dikeringkan, dan kemudian dianyam menjadi tikar. Banyak penduduk desa Feruke mencoba menjualnya ke turis yang biasa datang ke sana. 
”Biasanya baru setelah dijemur selama tiga hari. Daun pandan siap untuk dianyam menjadi tikar liap,” ungkap seorang ibu. Harganya juga tidak terlalu mahal,berkisar antara 25 – 50 ribu saja, kita telah memiliki sebuah tikar lipat seukuran badan orang dewasa. Rasa sejuk yang keluar saat kita tidur di atasnya, menjadi daya tarik tersendiri di tengah teriknya udara lautan di sana. (slg)

Copyright © Sinar Harapan 2003

Ritual makan karang di Wakatobi

Oleh YOSHASRUL

Makan karang dan kulit kerang bagi bagi masyarakat umum tentu sesuatu yang mustahil. Tapi tidak sebagian warga di pesisir Kecamatan Kaledupa, Kabuten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Bahkan makan karang ini seolah sudah menjadi tradisi bagi warga disana.


Laode Biru mungkin tinggal satusatunya orang yang masih menjalankan ritual makan karang di desanya di wangi-wangi, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi hingga kini.

Tak heran jika laode biru yang sudah berumur lebih dari seratus tahun menjadi tontonan ratusan pasang mata saat pembukaan festival pesisir di kabupaten wakatobi provinsi sulawesi tenggara.

Dalam usianya yang telah mencapai 106 tahun orang tidak akan menyangka jika pria yang telah mencapai usia 1 abad lebih ini mampu memakan karang dan kulit kerang tanpa alat bantu apapun.

Laode Biru mampu memukau para tamu undangan dan masyarakat dalam satu acara ritual di kepulauan wakatobi sulawesi tenggara tanpa mengalami hambatan apapun.

Ritual yang telah diwarisi secara turun temurun ini semula sempat diragukan oleh banyak pihak karena melihat kondisinya yang sangat tidak mungkin dilakukan pria normal manapun. Apalagi dengan kondisi gigi la ode biru yang hampir tanggal semua.

Bagi Laode Biru, ritual makan karang bukanlah hal yang Baru. Sebab kebiasaan makan karang dan kulit kerang ini telah dilakoninya sejak berumur 2 tahun. ”Tradisi ini sebagai ucap syukur kepada sang kuasa atas limpahan rejeki bagi warga di pesisir,”kata Laode Biru.

Dalam aksinya pria yang juga merupakan tokoh adat masyarakat kaledupa dengan enteng memakan karang dan kulit kerang yang sebelumnya diperlihatkan kepada orang banyak.

Tak hanya Laode Biru, seorang pengunjung yang hadir dalam acara tersebut juga ikut menyantap karang dan kulit kerang yang berada dalam genggaman La Ode Biru. ”Saya mau mencoba,”Dasman, pengunjung yang nekat itu.

Sebelumnya Ia terlebih dahulu wajib mengikuti arahan Laode Biru. Namun Ia tak sanggup. ”Keras sekali kulit kerang itu, saya tidak sanggup,”katanya lagi.

Sayangnya tradisi makan karang dan kulit kerang yang diwariskan secar turun temurun oleh pendahulunya kini tidak lagi diwariskan ke generasi berikutnya dan la Laode biru adalah pewaris terakhir yang hingga saat ini masih bertahan hidup.

Saturday, February 07, 2009

Penyelaman pertama di 2009



Setelah liburan dan serial pertemuan-pertemuan di Bali dan Jakarta akhirnya tiba saat yang paling mengasyikkan. Back to the nature. Wakatobi.

Kegiatan pertama adalah menyelam. Wajib itu...

Penyelaman pertama di 2009 ini dilakukan di Coral Garden Reef dekat pulau Hoga. Bersama dalam penyelaman ini adalah Bupati Wakatobi, Hugua, dan Kapolres Wakatobi, AKBP R Pitra Andreas Ratulangi SS SIK, serta para penyelam Wakatobi, Noval, Safrin, Didi dan Udin. Pukul 16.00 WITA, setelah rangkaian kunjungan kerja Bupati di Lintea dan Derawa, kami mulai turun menyelam. Tak kurang dari 45 menit, kami harus mulai naik ke permukaan. Langit sudah mulai agak gelap. Selain matahari sudah mulai ke Barat, awan mendung juga sedikit menutupi. Yah.. lumayan.

Sebuah awal yang menyegarkan untuk memulai kerja lapangan tahun ini.

Saturday, January 10, 2009

Wakatobi Unggulkan Pesona Alam Bawah Laut

WAKATOBI - Salah satu pulau wisata di Wakatobi yang sering dikunjungi wisman asal Eropa dan Amerika untuk menyaksikan keindahan bawah laut Wakatobi. (SK/Ami Herman)

SUARA KARYA Jumat, 2 Januari 2009

Kalau Kota Bukittinggi (Sumatera Barat) bisa populer karena panorama alamnya yang indah dan berudara sejuk, Bali dikenal karena beragamnya keunikan adat istiadat dan seni budayanya, maka Wakatobi (di Sulawesi Tenggara) juga tak mau kalah.

"Kami ingin dikenal sebagai daerah wisata alam bawah laut. Jujur kami katakan, daerah kami jauh lebih menarik dibanding Karibia. Daerah kami bahkan sering disebut-sebut banyak wisatawan mancanegara sebagai daerah wisata alam bawah laut paling menarik di dunia," ujar Bupati Wakatobi Ir Hugua dalam presentasinya mengenai objek wisata Wakatobi, di ruang rapat Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Depbudpar, Jakarta, Selasa lalu.

Ikut mendengarkan penuturan Bupati Wakatobi itu selain Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Depbudpar Firmansyah Rahim dan Dirjen Pemasaran Pariwisata Sapta Nirwandar, juga Sekjen Depbudpar Wardiyatmo dan sejumlah wartawan.

Menurut Hugua, perkembangan Wakatobi sebagai daerah wisata alam bawah laut saat ini makin menggembirakan. Dukungan masyarakat untuk menjaga potensi kelautan juga terus membaik. Buktinya ialah makin berkurangnya masyarakat menggunakan bom laut untuk mengambil ikan. Masyarakat menyadari bom laut tidak hanya merusak biota laut yang selama ini menjadi rahasia daya tarik alam bawah laut Wakatobi, tetapi juga berpotensi mematikan nelayan pengguna bom itu.

"Dukungan masyarakat Kepulauan Wakatobi saat ini juga diperlihatkan dengan makin bermunculannya home industry yang tidak saja menjual makanan dan minuman segar, tetapi juga menyediakan cendera mata serta penginapan-penginapan dengan harga murah," ujar Bupati lagi.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Wakatobi sendiri di samping terus meningkatkan anggaran promosi kepariwisataan Wakatobi, juga secara terpadu menggerakkan semua potensi pembiayaan agar Wakatobi pada saatnya nanti bisa menjadi ikon kepariwisataan bahari Indonesia. "Bahkan, dalam waktu dekat ini, kami akan memiliki dua bandar udara yang bisa dimanfaatkan wisatawan mancanegara datang ke Wakatobi," kata Hugua.

Bandar udara yang pertama dibangun investor asal Swiss beberapa tahun lalu. Kemudian bandar udara yang akan diresmikan penggunaannya dalam waktu dekat dibangun Pemkab Wakatobi, terletak di Kepulauan Wanci.

Dengan adanya dua bandara itu, dipastikan Wakatobi akan makin sering dikunjungi wisman dan wisnus dari berbagai tempat. Para wisatawan berdatangan ke daerah ini utamanya ingin menyaksikan daya tarik alam bawah laut yang ada di pulau-pulau di kawasan wisata bahari Wakatobi.

Pesona alam bawah laut Wakatobi disebut-sebut banyak wisman asal Eropa dan Amerika Serikat paling menarik di dunia antara lain karena bentuk karang laut dan spesies ikan hias yang dimilikinya jauh lebih beragam dan unik. Agar keindahan bawah laut Wakatobi itu senantiasa diberitakan berbagai wartawan Indonesia dan mancanegara, setiap tahun Wakatobi menggelar lomba foto bawah laut tingkat dunia dengan hadiah ribuan dolar Amerika Serikat (AS).

Untuk lomba foto tingkat internasional tahun 2008, yang diikuti 65 peserta dari 9 negara, menurut ketua dewan juri Michael AW dari Singapura dan Makarios Soekojo dari Indonesia, pemenangnya mencapai 13 orang. Pemenang utamanya untuk kategori Best of Show adalah Hermawan Wong, yang meraih hadiah 4 ribu dolar AS. Pemenang kedua, Michael Sukri, meraih 3.000 dolar AS dan pemenang ketiga, Sofi Sugiarto, meraih hadiah 2.000 dolar AS. (Ami Herman)

Saturday, December 20, 2008

Dewan Pesisir Wakatobi Gelar Pertemuan Semester II

Wangi-Wangi, Kepres - Dewan pesisir Wakatobi yang terdiri dari perwakilan sejumlah organisasi dan profesi, Selasa (16/12) lalu melakukan pertemuan semester II. Bertempat di Aula RM Wisata Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi. Salah satu tujuan dari pertemuan ini yakni melakukan review atas pelaksanaan tugas Dewan Pesisir Wakatobi. Salah satu tugas dari Dewan Pesisir ini yakni memberikan masukan pada pihak pengelola terumbu karang Wakatobi. Dalam hal ini PMU Coremap II Wakatobi.

Dalam pertemuan ini, ditarik beberapa kesimpulan yang nantinya akan disusun dalam sebuah rekomendasi untuk PMU Coremap II. Diantaranya perlu peningkatan peran media lokal dalam memberikan informasi yang dapat mebuka wawasan dan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan terumbu karang yang berkelanjutan. Serta perlunya peningkatan kerjasama dengam lembaga-lembaga yang konsen dalam melakukan konservasi sumber daya alam di Wakatobi. 

Pertemuan ini dihadiri oleh, Ir Salim yang mewakil Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Wakatobi, Ir Veda Santiaji Pimpinan TNC WWF Wakatobi, Ir Abdul Haris coordinatir tim leader Coremap II Wakatobi, dan Abd Rahman konsultan publik awarnes Coremap II Wakatobi. Hadir pula sejumlah tokoh pemuda, tokoh agama yang juga tergabung dalam Dewan Pesisir ini. 

Sekedar diketahui, sekitar awal juni 2008 lalu Dewan Pesisir ini juga telah melakukan pertemuan yang sama dan berhasil melahirkan sejumlah rekomendasi. Selain pertemuan semesteran semacam ini Dewan Pesisir juga akan melakukan pertemuan tahunan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.CR2/B/LEX

KENDARI EKSPRESS 17 DESEMBER 2008

Friday, December 05, 2008

Wakatobi Pusat Penelitian Bawah Laut Dunia


WAKATOBI, KOMPAS, 5 Desember 2008 - Kekayaan keragaman hayati atau biodiversity terumbu karang di kawasan Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, bukan cuma menarik untuk kepentingan pariwisata, melainkan juga ilmu pengetahuan dan penelitian. Bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi ternama di Eropa, Pemerintah Kabupaten Wakatobi akan menjadikan Taman Nasional Wakatobi sebagai pusat keunggulan dunia untuk penelitian bawah laut
 
"Proses pembangunan pusat keunggulan penelitian bawah laut dunia itu sedang dalam persiapan," kata Hugua, Bupati Wakatobi, di Wangi-wangi, Wakatobi, Kamis (4/12).Hugua menyebutkan. Wakatobi layak mengklaim sebagai surga nyata bawah laut di jantung segitiga terumbu karang dunia yang meliputi enam negara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Niugini, Pulau Solomon, dan Timor Leste. Taman Nasional Wakatobi memiliki 750 jenis terumbu karang dari 850 jenis terumbu karang di dunia.
 
"Dari tiga pusat penyelaman kelas dunia, Wakatobi lebih unggul dan menakjubkan. Ini sudah diakui dunia. Karibia hanya punya 50 jenis terumbu karang, sedangkan Laut Merah (Mesir) punya 300 jenis terumbu karang," jelas Hugua.Selama ini, peneliti dari sejumlah negara datang ke Wakatobi untuk meneliti biodiversity bawah laut Bahkan, pada 2009 ratusan peneliti dunia akan mengadakan pertemuan untuk presentasi soal kajian bawah laut di Wakatobi,Sebagai tahap awal, kata Hugua, Pemkab Wakatobi menyiapkan bangunan di Pulau Hoga untuk menjadi laboratorium lahanbasah (wetland laboratorium) pada 2009. Untuk sumber energi, dikembangkan dari tenaga air, angin, atau matahari.Veda Santiaji, Project Leader Joint Program The Nature Conservancy-WWF untuk Taman Nasional Wakatobi, mengatakan sumber daya alam di Wakatobi sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai laboratorium alam yang luar biasa. WWF mengidentifikasi delapan sumber daya alam yang penting di Taman Nasional Wakatobi.Sumber daya alam di Wakatobi itu meliputi terumbu karang, mangrove, lamun atau padang rumput laut (sea grass), daerah pemijahan ikan, mamalia laut, burung-burung migrasi, penelur-an penyu, dan ikan-ikan pesisir. Tetapi yang penting, Pemkab Wakatobi harus tegas soal zonasi wilayah yang sudah disepakati," kata Veda. (ELN)

Wednesday, December 03, 2008

Students head marine conservation in Wakatobi

Matahora is a fishing village on the island of Wangi-wangi, one of four in an island chain which comprises the Wakatobi National Park, Southeast Sulawesi. 

After Wangi-wangi the chain extends southeast -- Kaledupa, Tomia, Binongko -- between the Banda and Flores seas. The quartet makes up the territory of Wakatobi regency, which has much water and little land: 823 square kilometers are islands and 55,113 square kilometers are ocean, 98.5 percent of its total area. 

Wakatobi was declared a protected area in 2002. 

"Wakatobi can claim some of the broadest biological marine diversity in the world," said Ali Basaru, an environmental activist and public high-school teacher from Matahora. 

Ali cited data on coral: Ninety percent of the world's 850 species can be found in Wakatobi regency. 

Research conducted by the Coral Reef Rehabilitation and Management Program from the Indonesian Institute of Sciences (COREMAP LIPI) in 2007 recorded 942 species of fish in the region. It also discovered the world's longest atoll, the coral island of Kaledupa, which spans 48 km. 

Ali said the coral reefs around his village, particularly those along the island's eastern shoreline, were severely damaged between 1998 and 2001. 

"There was a lot of illegal fishing going on with explosives and poisons. The ecosystem was damaged, which then cut into the fishermen's catches." 

Anggun Ciputri Pratami, 18, one of Ali's students, said people near the village had been quarrying coral and stealing sand during that period. 

"The marine and shoreline ecosystem was damaged by locals and outsiders. Unscrupulous fishing was trying to meet export needs to increase their income and they didn't heed good conservation practices," Anggun said. 

Anggun said the rural community and administration in 2002 had begun efforts to restore the coral ecosystem around their village. 

"They gave the lagoon area, Ou Matahora, special protection status.... The open-close system has been in effect in that protected area." 

The open-close system is a traditional marine conservation strategy which allows the area to be open for use by Matahora villagers but closed to outsiders. The Matahore people are responsible for protecting the area at the same time. 

Anggun and her two classmates, Dian Ekawati (18) and Musriani (17) conducted research from May to August 2008 on the effectiveness of this moderate conservation strategy. The three undertook field surveys, studied relevant literature, drew up site maps and interviewed local residents. 

"This system has proven to be effective for rehabilitating damaged coral reefs," Dian said. 

Based on the team's observations, 96 percent of the lagoon's coral is now growing better than eight years ago, thanks to the conservation effort. Fishing in the lagoon is open only during a certain period for local ceremonial practices, and then only after consulting with village leadership. 

"Ou Matahora is closed to all outsiders, not just those using equipment hostile to the environment," Dian said, adding local residents who fished near the lagoon were required to use environmentally friendly equipment. 

Violators could face warnings, customary sanctions and fines. 

The young researchers said they hoped other regions in Indonesia, particularly those around Wakatobi, could imitate the coral reef conservation efforts Matahora villagers have undertaken. They also suggested regional authorities facilitate the local endeavor by legalizing existing customary rules for effective control. 

The group's research efforts earned Anggun and her peers third place in the Young Innovator Contest III for Indonesia's Coral Reef Conservation 2008, organized by COREMAP LIPI on Oct. 24-25 in Jakarta. They presented a working paper to marine experts on Ou Matahora, describing the lagoon as a potential fish bank to support sustainable fishing. 

Since 2007, Wangi-wangi's high school has taught marine conservation as part of its local curriculum. The subjects has also been taught at Wangi-wangi's primary school. 

Ali Basaru said making the subject a full part of the curriculum brings home to the students the importance of safeguarding environmental conditions around their school and homes. 

"Some 70 percent of the studies involve field practice and the rest is theoretical classroom work. So students are taught to practice direct observation in nature," he said. 

Field studies, he added, had proven to be very effective because students could directly observe actual objects or natural conditions. To learn about the coral reefs, Wangi-wangi students snorkeled or dived around the island. 

"They've become more acquainted with the diversity of coral reef and marine biodata through direct experience," said Ali, who sidelines as a marine researcher and dive guide in addition to his teaching and activism. 

He said when his students observed sea grass they discovered various plant species growing around their village that they hadn't seen in their textbooks. 

"Their findings didn't match what the books said. Perhaps the author had gotten pictures and species samples from other regions. 

"Textbook descriptions are often different from actual circumstances in nature ... when the students are taken to coral areas, they can see for themselves the actual conditions and better examine their shapes, sizes and colors," he added. 

Musriani, 17, a second-year Wangi-wangi high school student, said outdoor surveys were very exciting. 

"We can immediately see a wide variety of flora and fauna in the sea and around the shore," she said, adding field work was a valuable experience which acquainted her both with the marine biota and with the ecosystem damage caused by human behavior. 

Through her observations, Musriani said she discovered why coral growth in Ou Matahora had proceeded so fast. Within eight years, damaged coral reefs in Ou Matahora were now almost totally restored. 

"It's because Wakatobi waters are very rich in nutrients conducive to the growth of coral and fish," said the school's research team member. 

In view of the great potential of natural resources in Wakatobi National Park, elevating marine conservation as a full-fledged subject in the schools is a wise move. 

The park has great tourism potential: Its gorgeous beaches and fascinating aquatic panorama attracts foreign tourists and marine wildlife researchers alike. 

"With its conserved marine wealth and unique ecotourism features, our archipelago can bring economic benefit to the local population," Ali said.

Bambang Parlupi ,  Contributor ,  Wakatobi   |  Tue, 12/02/2008

Monday, August 25, 2008

Menengok Jantung Karang Dunia

WAKATOBI. Kawasan kepulauan dekat Pulau Buton ini disebut-sebut sebagai “jantung karang dunia”. Di perairan itu memang muncul sebuah keajaiban alam. Sebuah gugusan pulau karang membentang sekitar 48 kilometer, dengan luas 90 ribu hektare, yang menjadikannya karang terpanjang di dunia.

Di situlah para penyelam internasional bersaksi, di dasar lautnya terdapat panorama terumbu karang yang paling cantik, penuh keanekaragaman ikan yang tak ada duanya di dunia, bahkan dibanding Karibia. Dengan snorkeling sebentar, kita dapat menemui barracuda, ikan badut, dan kuda laut.


Dan siang itu–dalam perjalanan menuju “surga” tersebut–kapal motor yang saya tumpangi pontang-panting digoyang ombak keras Laut Banda. Perjalanan ditempuh dari Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. Dengan perahu cepat itu, Kendari ke Wangi-Wangi, salah satu pulau di sana, biasanya ditempuh tiga setengah jam. Namun, ombak ganas hari itu membuat perjalanan kami memakan waktu delapan jam.

Nama Wakatobi diambil dari singkatan empat pulau utama: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Pertengahan April 2008 lalu, saya bergabung dalam sebuah ekspedisi mengeksplorasi potensi wisata Wakatobi. Acara ini diadakan Pemerintah Kabupaten Wakatobi, diikuti sejumlah wartawan dari Jakarta dan lokal. Kami bermaksud mengunjungi keempat pulau tersebut.

Sejak 1996, pemerintah meresmikan perairan Wakatobi menjadi Taman Nasional Wakatobi.  Sebuah keputusan yang saya kira tepat, karena sebagaimana hasil penelitian Operation Wallacea, sebuah lembaga penelitian yang berpusat di Inggris: Wakatobi mempunyai angka tertinggi di dunia untuk keanekaragaman biota lautnya. Lembaga ini mencatat ada 942 spesies ikan hidup di sini.

Di Wakatobi juga terdapat 750 spesies karang dari 850 spesies yang ada di muka bumi. Bandingkan dengan dua pusat terumbu karang lain di dunia. Laut Merah yang hanya mempunyai 300 spesies, sedangkan Laut Karibia hanya 50 spesies.

Pulau-pulaunya juga menyimpan keunikan. Di situ misalnya ada perkampungan para “petualang laut” terkenal suku Bajo. Di beberapa tempat juga terdapat peninggalan sejarah–kejayaan kekuasaan Kesultanan Buton.

***

Kami akhirnya tiba di Wangi-Wangi, pulau terbesar dengan penduduk 50 ribu jiwa, ibu kota kabupaten. Pagi itu tampak sebagian warga memulai aktivitas mereka. Di Desa Liya Mawi, kaum ibu terlihat sibuk memanen rumput laut sembari mengasuh anak mereka. Tumbuhan berkhasiat ini diangkat dari tempat persemaian di laut, tak jauh dari pantai. Rumput laut atau disebut garanggang adalah penghasilan utama mereka. Setelah dipanen, garanggang dijemur kemudian dijual Rp 7.000-8.000 per kilogram.

Tak syak, masyarakat Kepulauan Wakatobi mengandalkan penghasilan utama dari laut. Meski begitu, ada juga sebagian warga Wanci–sebutan lokal untuk Wangi-Wangi–yang berdagang barang bekas impor. “Mereka berburu barang sampai ke Singapura pakai kapal kayu, lalu dijual di sini,” kata Saleh, warga lokal yang menemani saya jalan-jalan di pulau itu.

Wangi-Wangi sempat dikenal sebagai daerah pemasok barang bekas impor berharga murah. Dari pakaian bermerek terkenal, barang elektronik, sampai kendaraan bermotor “beredar” di sini. Saya sempat heran ketika melihat motor gede merek Aprilia melintas di depan saya. “Di sini motor seperti itu bisa dibeli seharga Rp 10 juta saja,” ujar Saleh, yang juga aktivis World Wildlife Fund. Buset.. kata saya dalam hati, karena di Jakarta, merek terkenal itu mungkin harganya lima kali lipat.

Saya mengunjungi Masjid Liya di Wangi-Wangi. Masjid ini konon tertua setelah Masjid Keraton Buton di Pulau Buton. Letak masjid ini di atas bukit, di dekat Benteng Liya Togo. Di zaman penjajahan Portugis dan Belanda, tempat ini merupakan salah satu benteng pertahanan. Tak jauh dari benteng, ada makam Talo-Talo, pemimpin kadiye atau “kerajaan kecil” bagian Kesultanan Buton. Talo-Talo dalam bahasa setempat berarti “dia yang mengalahkan”.

Ada pula makam Djilabu, ulama penyebar syiar Islam daerah itu. Sejumlah bangunan bersejarah ini berada di Desa Liya Togo. Sesuai dengan artinya, tempat ini dulu togo atau pusat kota. Tiap-tiap Lebaran desa ini menyelenggarakan ritual adat Posepa, semacam tawuran massal yang diakhiri dengan bermaaf-maafan, di tanah lapang di depan masjid. Rumah peninggalan La Ode Taru tak jauh dari Masjid Liya. La Ode Taru “raja kecil” terakhir Liya yang dibunuh pada zaman penjajahan Jepang.

Sorenya saya mengunjungi pasar malam Wanci. Pasar itu menjual berbagai kebutuhan warga Wangi-Wangi. Ikan berbagai ukuran, dari yang kecil sampai sebesar anak umur empat tahun, juga ada.

***

Pukul dua dini hari. Tatkala sunyi menyelimuti warga Wangi-Wangi, kami menuju ke Kaledupa. Sebuah kapal pinisi putih bernama Menami yang buang sauh 500 meter di lepas pantai pelabuhan kecil Wangi-Wangi telah menanti kami untuk perjalanan ke Kaledupa.

Pinisi itu sulit bersandar di dermaga karena air laut surut. Untuk mencapainya, kami naik speedboat. Pelayaran dari Wangi-Wangi ke Kaledupa dengan kapal Menami yang punya kecepatan maksimum delapan mil per jam butuh waktu tiga jam.

“Kita berangkat dini hari. Biar pukul lima pagi kita sudah masuk perairan Kaledupa,” kata Veda Santiaji, project leader The Nature Conservancy- World Wildlife Fund, yang memimpin pelayaran.

The Nature Conservancy dan World Wildlife Fund adalah dua lembaga yang dalam lima tahun ini buka base camp di Wakatobi. Bersama pemerintah setempat, kedua lembaga itu memonitor kawasan taman laut nasional.

Kami memasuki perairan Kaledupa ketika matahari masih malu-malu memperlihatkan wajahnya.  Sunrise begitu indah di tempat ini. Pukul enam, kapal buang sauh di perairan yang diapit Pulau Kaledupa dan Hoga. Saya tak sabar bergegas pindah ke kapal motor untuk merapat ke Pulau Hoga.

Meski pulau kecil, Hoga adalah salah satu tempat favorit penyelam profesional dalam dan luar negeri. Di pulau ini terdapat Marine Research Station, yang dikelola Operation Wallacea. Biasanya musim penyelaman terjadi sepanjang satu bulan pada Maret atau tiga bulan sepanjang Juni-Agustus (musim panjang). “Musim panjang, tamu yang datang bisa ratusan orang,” kata Asri, pengurus stasiun riset itu.

Umumnya mereka mahasiswa Eropa dan Amerika yang meneliti biota laut. Di tempat ini mereka bisa tinggal berminggu-minggu. Saya sempat jalan-jalan di pulau teduh dengan rerimbunan pohon itu. Lewat jalan setapak, saya mengelilingi area penginapan para peneliti asing tersebut. Ada sekitar 200 penginapan sederhana, berbentuk rumah panggung kecil dari kayu, tersebar di sebagian pulau. Itu milik warga Kaledupa. “Sewanya Rp 40 ribu semalam tiap orang,” ujar Asri. Harga yang murah untuk orang asing.

Bupati Wakatobi, Hugua mengatakan kehadiran stasiun penelitian itu dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat. Selain mendapat uang sewa penginapan, warga memperoleh penghasilan dari penyediaan makanan untuk mereka. “Operation Wallacea cuma tangani penelitian. Penginapan dan makanan diserahkan ke warga,” kata Hugua.

Sayang, lantaran waktunya tidak tepat, saya tak menemukan satu bule pun di sana. Ratusan penginapan itu kosong melompong, meski adakalanya pulau ini penuh sesak. Wajar jika Hoga jadi daya tarik para penyelam. Pantainya sangat indah berpasir putih, nyiur melambai menyambut siapa pun yang datang. Tak satu pun bungkus permen atau biskuit saya temukan. Kebersihannya terjaga, pemandangan langka di pantai-pantai wisata di Jawa.

Dari atas dermaga kayu, saya melihat ikan warna-warni bermain di celah terumbu karang. Air lautnya jernih, memungkinkan saya menonton pemandangan dasar laut tanpa harus terjun ke air. Pulau Hoga mengingatkan orang akan keindahan laut dan pantai di film The Beach yang diperankan Leonardo DiCaprio. Tak terasa, dua jam kami berjalan-jalan di Hoga. Kami harus kembali ke kapal Menami.

Di kapal ternyata ada rombongan lain bergabung. Mereka menyusul dari Wangi-Wangi naik speedboat. Ada tim penyelam profesional yang akan membuat film bawah laut dengan Nadine Chandrawinata sebagai bintang-nya. Mantan Putri Indonesia itu ditemani ayahnya, Andy Chandrawinata.

Dan peralatan selam kemudian disiapkan. Dua buah boat parkir di sisi kapal Menami, siap mengantar ke Hoga Channel. Ini sebuah dive site atau situs penyelaman yang terletak antara Pulau Hoga dan Kaledupa. Di sini kami membagi dua tim. Tim pertama menyelam hingga kedalaman 20 meter. Tim ini tentu melengkapi diri dengan pakaian selam (wet suit), sepatu katak (fin), masker, dan tabung oksigen. Nadine, yang kini rajin menyelam, tentu di tim pertama.

Saya sendiri bergabung dengan tim kedua, ber-snorkeling ria. Kami tak perlu tabung oksigen. Cuma modal kacamata snorkel dengan selang menjulur ke atas untuk nyemplung ke laut. Selang ini membantu bernapas dengan mulut saat berenang dengan kepala di bawah permukaan air untuk melihat pemandangan dasar laut. Karena itu, tim kami memilih lokasi yang tak terlalu dalam, dua setengah sampai lima meter saja. Saya tidak mau ambil risiko ikut tim pertama menyelam puluhan meter. Jujur, saya tak punya keterampilan menyelam. Ingat semboyan, “Safety first.”

Meski cuma snorkeling, saya mendapat pengalaman tak kalah keren. Di Wakatobi, snorkeling pun bisa menyaksikan “surga” bawah laut. Karang warna-warni menggerombol di sana-sini. Anemon fish atau ikan badut bermain di sela-sela karang lembut anemon yang jadi rumah mereka. Apa jadinya jika karang indah itu rusak gara-gara pemakaian bom ikan?

Makhluk laut yang cantik itu tentu tak lagi bisa bermain dan berkembang biak di sana. Kelestariannya sangat bergantung pada kelestarian karang. Cipto Aji Gunawan, penyelam profesional yang ikut dalam kegiatan ini, mengatakan ada jenis ikan yang bertelur di karang, tapi banyak juga jenis yang tinggal dan hidup di sana. “Lebih dari 33 persen jenis ikan laut bergantung pada terumbu karang,” ujar konsultan pengembangan wisata bahari ini.

Selain Hoga Channel, ada sekitar 20 situs penyelaman tersebar di perairan Wakatobi. Di antara itu, ada yang menjadi favorit para penyelam. Itulah situs Pinnacle, di dekat Pulau Hoga. Di Kaledupa ada Karang Kaledupa dan di Pulau Tomia ada Mari Mabuk. Setiap situs ini punya keunikan masing-masing. Seperti di Karang Kaledupa, terdapat table coral (karang berbentuk meja) berukuran 2-3 meter. “Ini jarang dijumpai di dive site lain,” kata Cipto.

Soal keindahan struktur karang, Pinnacle pusatnya. Di situs ini, karangnya bergunung-gunung, sesuai dengan namanya, Pinnacle atau “puncak”. Lokasi ini juga menjadi habitat ikan barracuda yang jarang ditemui di tempat lain. Ikan berbentuk lonjong seperti peluru itu termasuk hewan laut tercepat. Di Pinnacle, ikan barracuda bergerombol. Hoga Channel lain lagi. Di lokasi ini bisa dijumpai pygmy, kuda laut berukuran sangat kecil. Nadine sampai dua kali menyelam hari itu. Keindahan bawah laut Wakatobi tak pernah ia temukan di tempat lain. “Karangnya indah, ikannya cantik-cantik,” ujarnya.

***

Pada hari ketiga saya mengunjungi Pulau Tomia. Seperti dari Wangi-Wangi ke Kaledupa, perjalanan Kaledupa-Tomia berlangsung sekitar tiga jam. Sebelum berlayar ke Tomia malam harinya, kami mampir di Kaledupa. Dekat dermaga Kaledupa, rumah-rumah panggung warga hampir seragam, berderet rapi. Di sini saya mencicipi ikan bakar, juga kaswami dari ubi dan luluta. Luluta atau nasi bambu adalah nasi ketan yang dibakar dengan batang bambu. Enak.

Kami kembali menyelam dan snorkeling di Tomia. Kami juga mengunjungi Benteng Patua. Seperti Benteng Liya di Wangi-Wangi, Benteng Patua konon dibangun di masa kekuasaan Kesultanan Buton. Letaknya juga di atas bukit. Perlu 30 menit bermobil plus 20 menit jalan kaki ke sini. Beberapa meriam kuno masih terpasang mengarah ke laut, “menyambut” kedatangan musuh. Konon perairan ini dulu dilewati kapal penjajah yang “merampok” rempah dari Maluku. Di area benteng juga terdapat makam tokoh pejuang lokal dan bekas perkampungan.

Ada pula Jomba Katepi yang menyita perhatian. Sumur berlubang kecil sedalam lebih dari 100 meter itu ternyata WC “masa lalu”. Versi berbeda selain tempat buang hajat adalah tempat menceburkan orang-orang hukuman. Sayang, peninggalan arkeologis itu kurang mendapat perhatian. Saat ke sini, jalan setapak menuju benteng tertutup alang-alang. Bangunan benteng dan makam yang seharusnya terlihat, sebagian tertutup pohon dan semak belukar. Apa boleh buat, kesan angker yang terasa.

***

Hari itu juga kami mengunjungi Pulau Binongko. Kami tidak menggunakan kapal Menami, tapi naik speedboat agar cukup waktu. Esoknya kami harus balik badan ke Wangi-Wangi dan kembali ke Jakarta. Memakai perahu cepat, dari Tomia ke Binongko sekitar satu jam saja. Di Pulau Binongko kami mendatangi para tukang besi yang jumlahnya makin berkurang.

Kembali ke Tomia, kami mampir di Wakatobi Dive Resort. Resor eksklusif ini milik penanam modal asing. Mungkin jarang turis lokal menginap di sini. Kebanyakan turis asing berkantong tebal, karena paket menginap dan wisata selamnya dipatok dengan dolar.

Saking eksklusifnya, resor ini membangun Bandar Udara Maranggo, bandara kecil untuk pesawat pengangkut tamu mereka dari Bali. Pemerintah kabupaten pun sekarang tengah membangun lapangan terbang umum di Wangi-Wangi. Bandara yang bakal bernama Matahora ini memiliki landasan sepanjang 1.600 meter, pembangunannya ditargetkan rampung tahun 2008 ini. Sebuah maskapai penerbangan pelat merah sudah siap mendaratkan pesawatnya untuk menarik minat wisatawan berkunjung.

Saat perjalanan pulang dari Binongko, sejumlah ikan lumba-lumba beriringan melintas di depan speedboat kami. Saya jadi ingat yang dikatakan Veda Santiaji. Dulu, di Wakatobi terdapat 30 area pemijahan ikan alami. Pada 2003 jumlahnya menyusut tinggal 12 karena penangkapan ikan berlebihan atau over-fishing. Tahun lalu jumlah ini melorot lagi tinggal empat, dengan satu lokasi kini dalam keadaan kolaps.

Penangkapan ikan di area konservasi masih terjadi. Penggunaan bom untuk menangkap ikan masih dilakukan sembunyi-sembunyi, di tempat yang jauh dari pantauan. Penggunaan bius atau potas oleh nelayan yang dimodali pengusaha lokal masih marak.

Bom menghancurkan terumbu karang. Potas mematikan hewan karang dan sebaran racunnya merusak biota laut lain. Saya tercenung, jangan sampai Wakatobi tak lagi menjadi “surga” ikan-ikan dan terumbu karang.

Dimas Adityo, Wakatobi, April 2008

Friday, August 08, 2008

Wakatobi; Keindahan Terumbu Karangnya Terbaik di Dunia

Satu lagi tulisan tentang Wakatobi yang dimuat di www.ruang keluarga.com yang dikutip dari www. perempuan.com.   Tulisan yang cukup menarik untuk promosi Wakatobi.  Namun masih ada beberapa koreksi yang perlu dibuat pada tulisan ini seperti adanya pembagian suku Tukang Besi Utara dan Selatan, kayanya harus dicek ulang deh...  

Dituliskannya seperti ini, "Destinasi kali ini akan mengusik jiwa petualang anda. Sebuah kawasan yang masih terbilang masih asli menawarkan perjalanan yang tak terlupakan. Adalah Kepulauan Tukang Besi, sebuah gugusan kepulauan yang terdiri dari empat pulau besar dengan luas sekitar 821 km2. Empat pulau besar tersebut adalah Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko yang oleh masyarakat setempat biasa diakronimkan sebagai WAKATOBI.

Sebagaimana namanya, Tukang Besi, kepulauan ini memang terkenal dengan pembuatan keris tradisional yang indah dan tetap diproduksi hingga sekarang. Gugusan kepulauan ini memiliki alam yang masih asli, tenang dengan air laut yang segar, gua-gua bawah laut yang saling berdekatan satu sama lain yang disuguhkan khusus untuk pecinta alam sejati. Bisa dikatakan bahwa wilayah ini merupakan kawasan wisata taman laut pertama di Indonesia.

Meski menyelam bisa dilakukan setiap saat, tetapi bulan April dan Desember adalah bulan yang paling baik untuk melakukan penyelaman karena cuacanya sangat bagus. Di samping menyelam dan snorkling di pantai juga disediakan khusus motor selam, tour snorkling dan penjelajahan di kepulauan. Sebuah kawasan kecil yang berlokasi di samping pulau Tomia seluas 8 km2, bernama Pulau Tolandona (Pulau Onernobaa) memiliki keunikan karena pulau ini dikelilingi taman laut yang indah.

Setelah menempuh perjalanan 5-6 jam dengan kapal cepat dari Kendari, Bau-Bau menjadi tempat transit berikutnya ke Wakatobi. Perjalanan tidak dapat langsung karena jadwal penyeberangan Bau-Bau-Wanci, pintu gerbang Wakatobi terbatas. Lagi pula penyeberangan dengan kapal kayu sekitar satu hari akan sangat melelahkan. Jalur yang biasa dipakai dari Bau-Bau adalah perjalanan darat ke Lasalimu, kecamatan di sebelah tenggara Bau-Bau, sekitar 3 jam. Selanjutnya menyeberang ke Wakatobi. Itu pun jadwal penyeberangan sekali sehari, pukul 06.00.

Ada dua macam suku di Kepulauan Tukang Besi, yaitu Tukang Besi utara dan selatan. Total penduduk kedua suku tersebut kini mencapai kisaran 250.000 orang, tersebar di empat pulau besar Wakatobi. Mata pencarian suku Tukang Besi adalah bertani. Makanan pokok mereka adalah ubi-ubian, yang biasa dibakar dan dimakan bersama ikan. Suku Tukang Besi selatan juga termasuk rumpun suku Buton. Ketergantungan hidup mereka terletak pada hasil laut yang menjadi santapan sehari-hari.

Jika anda ingin berkunjung ke Wakatobi, pada bulan Juli-September ombak bisa setinggi gunung. Namun, bagi anda yang berjiwa petualang, ombak besar tidak menjadi halangan untuk mengunjungi gugusan kepulauan di antara Laut Banda dan Laut Flores ini. Tapi bila anda ingin lebih ‚aman’, bulan Oktober sampai awal Desember merupakan pilihan terbaik menikmati keindahan di Wakatobi. Begitulah beberapa pesan penduduk Wakatobi yang ditemui di Kota Bau-Bau.

Sebenarnya Wakatobi tidak hanya mengandalkan transportasi laut dari Bau-Bau atau Lasalimu. Sejak tahun 2001, transportasi udara bisa menjangkau wilayah kepulauan di timur Pulau Buton ini. Namun, ongkos perjalanan sangat mahal, selain itu transportasi udara hanya melayani jalur Denpasar-Wakatobi dengan jadwal tiap 11 hari.

Kepulauan Tukang Besi mempunyai 25 gugusan terumbu karang yang masih asli dengan spesies beraneka ragam bentuk. Terumbu karang menjadi habitat berbagai jenis ikan dan makhluk hidup laut lainnya seperti moluska, cacing laut, tumbuhan laut. Ikan hiu, lumba-lumba dan paus juga menjadi penghuni kawasan ini. Kesemuanya menciptakan taman laut yang indah dan masih alami. Taman laut yang dinilai terbaik di dunia ini sering dijadikan ajang diving dan snorkling bagi para penyelam dan wisatawan. Sejak tahun 1996, kawasan Wakatobi ditetapkan sebagai taman nasional.

Kawasan wisata juga terdapat di Pulau Wangi-Wangi, Hoga, pulau di sebelah Kaledupa dan Binongko. Selain snorkling dan diving, aktivitas pariwisata lain yang bisa dinikmati adalah pemandangan pantai, menyusuri gua, fotografi, berjemur, dan camping.

Empat pulau besar di Wakatobi memiliki karakteristik khusus, yakni setiap pulau merupakan satu wilayah kecamatan, kecuali Pulau Wangi-Wangi yang terdiri dari dua kecamatan. Wangi-Wangi, pulau pertama yang dijumpai saat memasuki Kabupaten Wakatobi, menjadi pintu gerbang dan paling dekat dengan Pulau Buton. Di sini terdapat pelabuhan besar yang melayani kapal barang dan penumpang di Desa Wanci. Jika Pulau Wangi-Wangi menjadi pintu gerbang transportasi laut, maka Pulau Tomia menjadi pintu gerbang transportasi udara.

Pastikan Wakatobi menjadi destinasi kunjungan anda selanjutnya. Berikan liburan yang sedikit berbeda kepada keluarga anda."

Saturday, August 02, 2008

Suku Bajo dan “No Go Area”

Zonasi Taman Nasional Wakatobi diperbarui untuk mencegah makin susutnya area pemijahan ikan alami. Nelayan suku Bajo khawatir daerah tangkapan menyempit.

——-

DESA Mola Selatan, perkampungan suku Bajo di Pulau Wangi-Wangi, suatu siang pertengahan April 2008 lalu. Rumah La Ode Mustamin tiba-tiba dipenuhi belasan warga. Padahal sang empunya rumah, yang menjabat kepala desa, tidak sedang menggelar pertemuan.


Para nelayan Bajo ini mendadak berkumpul karena sejumlah wartawan–termasuk saya dari Tempo–bertandang ke rumah Mustamin. Seperti dikomando, mereka nimbrung ketika sang pemimpin berkeluh-kesah tentang kesulitan ekonomi yang dialami warga.

Ketua komunitas kerukunan masyarakat Bajo se-Kabupaten Wakatobi ini mengeluhkan aturan zonasi Taman Nasional Wakatobi yang ditetapkan tahun lalu. Sejumlah lokasi menjadi daerah terlarang bagi nelayan untuk menangkap ikan. “Sekarang semua serba dilarang,” kata Mustamin.

Pada Juli 2007, Balai Taman Nasional Wakatobi bersama Pemerintah Kabupaten Wakatobi serta Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam menetapkan peta zonasi. Zonasi ini untuk membatasi daerah yang bisa dimanfaatkan dan yang tidak. Peta ini membagi perairan Wakatobi menjadi lima zona: zona inti, perlindungan bahari, pariwisata, pemanfaatan lokal, dan pemanfaatan umum.

Zona inti atau “no go area” adalah kawasan yang sama sekali tidak boleh dimanfaatkan atau dilintasi kapal. Zona perlindungan bahari juga terlarang untuk penangkapan ikan, meski kapal nelayan boleh melintas. Adapun zona pariwisata hanya untuk wisata. Nelayan hanya boleh menangkap ikan di zona pemanfaatan lokal dan zona pemanfaatan umum.

Zona pemanfaatan lokal inilah yang bisa dimanfaatkan nelayan setempat. Sedangkan nelayan daerah lain, asalkan mengantongi izin, bisa mencari ikan di zona pemanfaatan umum. Aturan zonasi inilah yang dikhawatirkan semakin mempersulit ekonomi warga. Suku Bajo, kata Mustamin, sangat menggantungkan hidup pada hasil laut.

***

Suku Bajo, bagaimana keadaan mereka?

JUMLAH penduduk suku Bajo di Kepulauan Wakatobi kini 12 ribu orang, yang tersebar di beberapa kampung. Selain Mola Selatan, ada Desa Mantigola dan Sampela di Pulau Kaledupa serta Desa Lamanggau di Tomia. Mola terbanyak penduduknya, 7.000 orang. Kampung ini juga paling “modern” dibanding kampung Bajo lain. Beberapa rumah terbuat dari tembok, sebagian beratap seng, menunjukkan sisa-sisa “kejayaan” mereka.

Jalan-jalan setapak yang melintasi kampung dibeton, seakan sudah menyatu dengan daratan. Itu berbeda dengan Kampung Sampela, yang merupakan “rumah tancap” di tengah laut, terpisah dari darat, seakan membentuk sebuah pulau sendiri. Meski lebih modern, sebagian rumah warga di Mola masih menunjukkan ciri khas perkampungan Bajo: rumah panggung dari kayu atau gedek, dengan atap daun kelapa. Kampung didirikan di atas laut, yang ditimbun karang.

Suku Bajo memang tak terpisahkan dari laut. Sejak dulu, mereka dikenal sebagai pelaut ulung, gemar mengarungi lautan Nusantara. Sejak puluhan tahun lalu, para orang tua mereka mendapat berkah dari hasil laut perairan ini. Mereka bisa menangkap ikan dan penyu di mana pun tanpa larangan.

Untuk menangkap ikan, mereka berlayar ke perairan Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, bahkan sampai ke wilayah Australia. Nelayan Desa Mola Selatan “terkenal” sering terjaring pihak berwajib Australia. “Saya pernah ditahan polisi Australia karena menangkap hiu untuk diambil sirip dan ekornya,” ujar Mujur, nelayan Bajo di Mola.

Mustamin bercerita, pada 1980-an hingga 1990-an, warga Bajo Wakatobi mengalami “masa kejayaan” berdagang penyu sisik. Penyu yang ditangkap sebagian dijual, sebagian dikembangbiakkan. Dulu mereka bisa menjual penyu sisik ukuran 60 sentimeter seharga Rp 100-200 ribu per ekor. “Penyu itu sekarang harganya jutaan,” ujarnya. Mereka menjualnya ke beberapa daerah, terutama Bali. Di Pulau Dewata, kata Mustamin, penyu laku keras karena dibutuhkan untuk upacara adat. Ia pernah menjual 200 ekor penyu sisik ke Bali sekali kirim.

Penjualan penyu memang bergantung pada besar kapal yang digunakan. “Dari berdagang penyu, tiga bulan sekali kami mendapat puluhan juta rupiah.” Setelah penangkapan penyu dilarang di seluruh perairan Indonesia, kegiatan perdagangan hewan itu merosot drastis. Pendapatan mereka sejak beberapa tahun lalu pun jauh berkurang.

Kini kesulitan itu ditambah dengan kekhawatiran soal penetapan zonasi. Meski para nelayan Bajo bisa saja mencari ikan di luar kawasan konservasi, larangan itu tak urung membuat daerah tangkapan mereka semakin sempit. Warga khawatir pendapatan mereka yang sudah berkurang makin menyusut. “Dulu pinjam uang jutaan mudah, sekarang Rp 100 ribu saja sulit,” ujar Mustamin.

Bupati Wakatobi, Hugua, mengungkapkan keresahan warga Bajo. “Manusiawi, mereka merasa terusik.” Padahal, kata Hugua, hanya 10 persen kawasan perairan Wakatobi yang tidak boleh diganggu. Meski demikian, ia mengaku tak membiarkan warga Bajo kesulitan akibat aturan itu. Belum lama ini, kabupaten mengucurkan kredit ringan Rp 20 miliar untuk masyarakat, termasuk warga Bajo.

Kredit ini untuk mengembangkan usaha di sektor perikanan dan kelautan, kerajinan, serta pariwisata. Untuk warga Bajo, kredit dikucurkan antara lain melalui program motorisasi kapal. “Untuk meningkatkan kemampuan menangkap ikan, tapi dengan alat ramah lingkungan.” Nelayan diberi pemahaman bahwa mereka masih bisa menangkap ikan meskipun selektif. Misalnya ikan yang bermigrasi sepanjang waktu dari laut dalam atau laut lepas. “Ikan laut dalam ini yang kita tangkap di Wakatobi,” kata Hugua.

Veda Santiaji, project leader The Nature Conservancy-World Wildlife Fund, mengatakan aturan zonasi dibuat untuk mengefektifkan konservasi kawasan itu. Sejak taman nasional diresmikan, 1996, sebenarnya telah dibuat peta zonasi. “Tapi sampai 2003 belum berjalan efektif,” ujarnya. Nelayan masih menangkap ikan di daerah terlarang.

Area pemijahan ikan, yang dulu tersebar di 30 lokasi, pada 2003 menyusut tinggal 12 lokasi karena penangkapan berlebihan. Penggunaan bom ikan, bius (potas), dan pukat harimau (trawl) yang merusak lingkungan masih terjadi. Terumbu karang di kawasan “segi tiga karang dunia” itu banyak yang rusak akibat praktek tersebut. “Karena itu, zonasi didesain ulang,” kata Veda.

Meski peta zonasi yang baru telah dikeluarkan tahun lalu, bukan berarti aturan ini langsung efektif. Penangkapan ikan di zona-zona terlarang masih terjadi. Penggunaan bom ikan, meski jauh berkurang, kadang dilakukan di tempat yang jauh dari pantauan. “Penggunaan potas juga masih marak.” Karena itu, kata Veda, penerapan zonasi bukan untuk membatasi hajat hidup nelayan. “Tapi justru menjamin suplai sumber daya laut demi kepentingan hajat hidup mereka di masa depan.”

Warga Bajo sendiri sesungguhnya mempersilakan aturan zonasi kawasan konservasi diterapkan. Tapi mereka tetap menanti solusi “alternatif” jika lokasi-lokasi yang mereka anggap banyak ikannya justru masuk zona terlarang. “Kami kan butuh makan,” katanya. Mereka menganggap program bantuan yang direncanakan pemerintah setempat masih belum jelas manfaat dan sasarannya. Tapi, di sisi lain, nelayan Bajo selalu menjadi pihak yang dicurigai melanggar kawasan konservasi. “Kami merasa dianggap seperti anak tiri,” ujar Mustamin.

Dimas Adityo, Wakatobi, April 2008
http://dimasadityo.wordpress.com

Saturday, July 12, 2008

Tim Join Program TNC-WWF Wakatobi


Pepatah lama mengatakan "Tak kenal maka tak sayang...".  Maka di atas ini adalah wajah-wajah tim Join Program TNC-WWF di Wakatobi.  Tentunya untuk dikenali dan disayangi.

Thursday, May 08, 2008

Wakatobi Belum Terpengaruh Perubahan Iklim

JAKARTA - Meskipun suhu laut diakui memanas, Kepulauan Wakatobi (Wangiwangi, Kaledupa, Tomea, dan Binongko) tetap diasumsikan belum terpengaruh perubahan iklim. Kenaikan air laut juga tak ditemui.
“Kami tak menemukan adanya tanda kenaikan air laut yang berpengaruh pada tenggelamnya pulau-pulau di kawasan konservasi Wakatobi saat ini,” urai Wahju Rudianto, Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, Minggu (1/4), di Jakarta.
Justru yang ada saat ini, menurutnya, merupakan kecenderungan naiknya permukaan gosong-gosong (pulau karang) di sana. “Seperti gosong Kabota, yang menurut pengamatan kami malah tumbuh terus permukaan tanahnya,” papar beliau.
Kondisi tersebut menurutnya lazim terjadi karena wilayah ini merupakan daerah tumbukan lempengan. Karena pertumbukan itu, ada beberapa pulau karang terus naik wilayah permukaannya. Data tersebut kemudian disebut Wahju, baru dari pengamatan melalui pasang surut air laut.
Wilayah Wakatobi sendiri dikenal sebagai area dengan topografi bergelombang. Kebanyakan sisi yang menjorok lautan, tidak datar langsung menemui laut. Keberadaan tersebut membuat kondisi fluktuasi kenaikan air laut karena perubahan iklim menjadi isu yang tidak terlalu mencemaskan.
Karena pandangan itu pula, kemudian belum ada program adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim di sana. “Bukan menyepelekan, namun bila melihat kondisi yang ada, kondisi tenggelamnya pulau-pulau di Wakatobi karena kenaikan air laut tampaknya belum akan terjadi dalam waktu dekat ini,” ucapnya.

Tak Ada Pemutihan
Kondisi perubahan lingkungan karena perubahan iklim yang terjadi, saat ini di Wakatobi yang paling signifikan malah terlihat pada naiknya suhu lautan. “Namun kondisi tersebut belum membuat terjadinya pemutihan karang,” kata Wahju.
Meskipun data kenaikan suhu belum dapat dirata-ratakan. Namun kecenderungan kenaikan tidak mencapai titik dua derajat celcius. Sementara itu, tingkat mencemaskan untuk pemutihan karang (bleaching) karena pemanasan bumi diperkirakan bila mencapai titik tiga derajat celcius.
Faktor kerusakan karang yang dicemaskan saat ini kebanyakan datang dari intervensi manusia. Karena hingga saat ini masih banyak nelayan menggunakan bom, bahan kimia, dan jaring sebagai sarana untuk menangkap ikan.
Meskipun Bupati Wakatobi saat ini, Ir Hugua, sudah menyatakan perang terhadap para perusak karang laut. Namun disinyalir cakupan penangkapan ikan secara tak ramah lingkungan di wilayah yang dahulu dikenal dengan nama Kepulauan Tukang Besi tersebut masih luas.
Hal lain yang mencemaskan lestarinya terumbu karang di sana adalah masih digunakannya terumbu karang laut sebagai fondasi rumah. Kebiasaan ini sendiri merupakan adat turun-temurun yang hingga kini masih banyak dilakukan masyarakat sekitar Wakatobi.
Tindakan tersebut terutama terlihat pada masyarakat Sampela yang dikenal beretnis Bajo. Dalam penelitian yang dilakukan Caitlyn Louise Stanley, “Sikap-sikap dan Kesadaran Orang Bajo terhadap Lingkungan Hidup dan Konservasi”, tahun 2005 lalu, terungkap kalau masalah utama dari kebiasaan ini merupakan mahalnya bahan subtitusi pengganti karang laut sebagai fondasi rumah. Konsep keberlanjutan terhadap lingkungan juga belum melekat pada adat budaya mereka.
 
Oleh
Sulung Prasetyo (Sinar Harapan)

Tuesday, May 06, 2008

Kunjungan Putri Indonesia 2005 ke Wakatobi


Nadine Chandrawinata, memenuhi undangan Bupati, berkunjung ke Wakatobi. Berangkat bersama ayah dan sepupunya serta beberapa orang kru dokumentasi Nadine berangkat untuk melakukan sesi pemotretan sekaligus memenuhi hasrat hobi barunya, menyelam.
Promosi gencar Kabupaten Wakatobi sebagai satu destinasi penyelaman unggulan di ajang pameran Deep Indonesia 2007 menyebabkan banyak orang bertanya-tanya "Seperti apa sih Wakatobi dan surga nyata bawah lautnya itu". Surga nyata bawah laut di pusat segitiga karang dunia merupakan visi kabupaten Wakatobi yang tak pernah lupa dikumandangkan dalam setiap event di nasional maupun internasional. Tak heran banyak orang penasaran untuk membuktikannya. Dan Nadine merupakan salah satu yang dengan penuh antusias datang ke Wakatobi untuk membuktikannya.
Perjalanan mengarungi perairan Wakatobi, mulai 10 - 15 April 2008, tak lengkap rasanya tanpa menikmati pengalaman tinggal di kapal FRS Menami. Kapal ini sejauh ini telah menjadi saksi bisu dari kedatangan para jurnalis, pejabat dan selebritis ke Wakatobi. Tak luput pula si Putri Indonesia ini. Tentunya ini berkah tersendiri bagi para ABK, yang sebelumnya hanya bisa menonton di layar kaca, bisa tinggal bersama sang putri selama empat hari.
Dan yang kian membanggakan adalah komentar Nadine ketika ditanya kesannya selama empat hari bersama FRS Menami, "Kamar mandinya bersih dan nyaman. Seperti kebanyakan perempuan, biasanya agak risih kalau harus menggunakan toilet yang tidak bersih. Tapi di Menami saya bisa menikmati perjalanan karena toiletnya yang bersih". Mmmh.. suatu komentar yang tak terduga, tapi cukup berkesan dan tentunya menambah semangat para ABK untuk mempertahankan kebersihan FRS Menami yang sudah dikenal selama ini sebagai "Kapal Putih" yang sangat bersih oleh masyarakat Wakatobi yang berkesempatan menaikinya.
Selamat buat para ABK dan semoga Nadine dan seleb yang lain akan terus ingin menikmati FRS Menami.

Sunday, April 27, 2008

Seminar dan Diskusi: Dive Resorts and Sustainable Tourism in Indonesia

Sebagian dari upaya mempromosikan Wakatobi dilakukan melalui seminar di forum nasional Deep Indonesia. Liputannya sebagai berikut :

Kajian seminar National Geographic Indonesia mengenai keberadaan operator asing, nasional dan komunitas masyarakat lokal, yang diselenggarakan di Lumba Lumba room, Asembly Hall, Jakarta Convention Centre pada hari minggu, 30 Maret 2008, pukul 15:00-17:00, berlangsung hangat, menyerap peserta lebih dari 110 orang membuat panitia harus menambah kapasitas kursi pada saat seminar hendak dibuka oleh moderator Wayan Veda Santiadji dari WWF.

Tantyo Bangun, chief editor majalah National Geographic Indonesia ikut hadir untuk membuka seminar yang dihadiri oleh Bupati Wakatobi, Hugua yang secara khusus diundang untuk ikut berbicara sore itu. Juga Komeng yang mewakili Elang Ekowisata kepulauan seribu, Paul Batuna dari Murex Dive-Bunaken, Sandra Turok dari Eco Divers-Bunaken dan Bapak Ahyaruddin dari Departemen Budaya dan Pariwisata. Cipto Aji Gunawan juga hadir sebagai salah satu panelis mewakili konsultan wisata bahari.

Beragam kalangan datang untuk menyimak seminar bebas yang digelar untuk memeriahkan acara pameran Deep Indonesia 2008 ini. Termasuk juga di antaranya yang hadir beberapa pagawai pemerintah, pelaku pendidikan universitas negeri, pembaca majalah National Geographic Indonesia, mahasiswa, rekan wartawan daerah hingga prospektus bisnis.

Acara yang berlangsung selama 2 jam tersebut mengangkat tema yang sedikit berusaha menggelitik rasa nasionalis dan pula berusaha mengajak membuka peluang berbisnis warna negara lokal untuk merebut dominasi dive operator asing yang masih merambah. Acara ini pun sekaligus menjadi simbolik pembuka Indonesia Reef 2008 yang akan datang.

(dikutip dari http://indonesiareef.com/?show=blog&id=78)

Thursday, April 24, 2008

Nadine Punya Sertifikat Menyelam

Kamis, 24/4/2008
 
WINDIARTO TJANDRA
JAKARTA, KAMIS - Mungkin banyak yang belum tahu bahwa Putri Indonesia 2005, Nadine Chandrawinata, memiliki hobi lain selain jalan-jalan. Hobi lain itu ialah menyelam. Bahkan untuk yang satu ini Nadine sudah memiliki sertifikat.

Nadine yang memiliki tinggi badan  174 cm dan berat 60 kg itu kagum akan keindahan bawah air Indonesia yang kaya akan berbagai makhluk hidup termasuk terumbu karang dan jenis ikan laut dengan berbagai ukuran.
    
Namun, perempuan kelahiran Hanover, Jerman, 1984, itu prihatin akan banyaknya terumbu karang yang rusak akibat pencarian ikan dengan  bahan peledak. 

"Mungkin cara seperti itu dilakukan karena faktor ekonomi. Karenanya kita perlu melakukan kampanye laut untuk merubah pola pikir dan mangajak mereka untuk turut menjaga lingkungan dan ekosistem," kata putri dari Andy Chandrawinata dan Elfie Chandrawinata itu.
    
Menurut Nadine, Indonesia memiliki kekayaan laut yang berpotensi sebagai modal untuk mengembangkan daerah wisata selam dan sekarang negara kepulauan ini harus menjaganya.
    
Kecintaannya terhadap dunia selam juga ditunjukkan oleh perempuan yang sedang menyelasaikan skripsi S-1nya di bidang Periklanan itu dengan mempromosikan bukunya yang berjudul Nadine, Labor of Love.
    
Buku karya Windiarto Tjandra itu menggambarkan kecantikan Nadine Chandrawinata sebagai Putri Indionesia yang juga pernah tampil pada pemilihan Miss Universe 2006 dan keindahan bawah air Indonesia.
    
Sebagai penyelam yang telah mengetahui dan mengagumi keindahan laut Indonesia, penyuka mie itu juga turut mempromosikan tujuan wisata selam Indonesia di Pameran Selam Asia (Asia Dive Expo) 2008 di Singapura yang berlangsung dari 18 hingga 20 April 2008.
    
Pada kesempatan itu, dia mempromosikan tempat wisata selam Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang memiliki keindahan laut dengan berbagai tumbuhan dan binatang laut termasuk terumbu karang dan ikan-ikan yang unik.