Monday, March 02, 2009
Seni Tenun Ikat dan Anyam Wakatobi
Ritual makan karang di Wakatobi
Saturday, February 07, 2009
Penyelaman pertama di 2009


Setelah liburan dan serial pertemuan-pertemuan di Bali dan Jakarta akhirnya tiba saat yang paling mengasyikkan. Back to the nature. Wakatobi.
Kegiatan pertama adalah menyelam. Wajib itu...
Penyelaman pertama di 2009 ini dilakukan di Coral Garden Reef dekat pulau Hoga. Bersama dalam penyelaman ini adalah Bupati Wakatobi, Hugua, dan Kapolres Wakatobi, AKBP R Pitra Andreas Ratulangi SS SIK, serta para penyelam Wakatobi, Noval, Safrin, Didi dan Udin. Pukul 16.00 WITA, setelah rangkaian kunjungan kerja Bupati di Lintea dan Derawa, kami mulai turun menyelam. Tak kurang dari 45 menit, kami harus mulai naik ke permukaan. Langit sudah mulai agak gelap. Selain matahari sudah mulai ke Barat, awan mendung juga sedikit menutupi. Yah.. lumayan.
Sebuah awal yang menyegarkan untuk memulai kerja lapangan tahun ini.
Saturday, January 10, 2009
Wakatobi Unggulkan Pesona Alam Bawah Laut
WAKATOBI - Salah satu pulau wisata di Wakatobi yang sering dikunjungi wisman asal Eropa dan Amerika untuk menyaksikan keindahan bawah laut Wakatobi. (SK/Ami Herman)
SUARA KARYA Jumat, 2 Januari 2009
Kalau Kota Bukittinggi (Sumatera Barat) bisa populer karena panorama alamnya yang indah dan berudara sejuk, Bali dikenal karena beragamnya keunikan adat istiadat dan seni budayanya, maka Wakatobi (di Sulawesi Tenggara) juga tak mau kalah.
"Kami ingin dikenal sebagai daerah wisata alam bawah laut. Jujur kami katakan, daerah kami jauh lebih menarik dibanding Karibia. Daerah kami bahkan sering disebut-sebut banyak wisatawan mancanegara sebagai daerah wisata alam bawah laut paling menarik di dunia," ujar Bupati Wakatobi Ir Hugua dalam presentasinya mengenai objek wisata Wakatobi, di ruang rapat Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Depbudpar, Jakarta, Selasa lalu.
Ikut mendengarkan penuturan Bupati Wakatobi itu selain Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Depbudpar Firmansyah Rahim dan Dirjen Pemasaran Pariwisata Sapta Nirwandar, juga Sekjen Depbudpar Wardiyatmo dan sejumlah wartawan.
Menurut Hugua, perkembangan Wakatobi sebagai daerah wisata alam bawah laut saat ini makin menggembirakan. Dukungan masyarakat untuk menjaga potensi kelautan juga terus membaik. Buktinya ialah makin berkurangnya masyarakat menggunakan bom laut untuk mengambil ikan. Masyarakat menyadari bom laut tidak hanya merusak biota laut yang selama ini menjadi rahasia daya tarik alam bawah laut Wakatobi, tetapi juga berpotensi mematikan nelayan pengguna bom itu.
"Dukungan masyarakat Kepulauan Wakatobi saat ini juga diperlihatkan dengan makin bermunculannya home industry yang tidak saja menjual makanan dan minuman segar, tetapi juga menyediakan cendera mata serta penginapan-penginapan dengan harga murah," ujar Bupati lagi.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Wakatobi sendiri di samping terus meningkatkan anggaran promosi kepariwisataan Wakatobi, juga secara terpadu menggerakkan semua potensi pembiayaan agar Wakatobi pada saatnya nanti bisa menjadi ikon kepariwisataan bahari Indonesia. "Bahkan, dalam waktu dekat ini, kami akan memiliki dua bandar udara yang bisa dimanfaatkan wisatawan mancanegara datang ke Wakatobi," kata Hugua.
Bandar udara yang pertama dibangun investor asal Swiss beberapa tahun lalu. Kemudian bandar udara yang akan diresmikan penggunaannya dalam waktu dekat dibangun Pemkab Wakatobi, terletak di Kepulauan Wanci.
Dengan adanya dua bandara itu, dipastikan Wakatobi akan makin sering dikunjungi wisman dan wisnus dari berbagai tempat. Para wisatawan berdatangan ke daerah ini utamanya ingin menyaksikan daya tarik alam bawah laut yang ada di pulau-pulau di kawasan wisata bahari Wakatobi.
Pesona alam bawah laut Wakatobi disebut-sebut banyak wisman asal Eropa dan Amerika Serikat paling menarik di dunia antara lain karena bentuk karang laut dan spesies ikan hias yang dimilikinya jauh lebih beragam dan unik. Agar keindahan bawah laut Wakatobi itu senantiasa diberitakan berbagai wartawan Indonesia dan mancanegara, setiap tahun Wakatobi menggelar lomba foto bawah laut tingkat dunia dengan hadiah ribuan dolar Amerika Serikat (AS).
Untuk lomba foto tingkat internasional tahun 2008, yang diikuti 65 peserta dari 9 negara, menurut ketua dewan juri Michael AW dari Singapura dan Makarios Soekojo dari Indonesia, pemenangnya mencapai 13 orang. Pemenang utamanya untuk kategori Best of Show adalah Hermawan Wong, yang meraih hadiah 4 ribu dolar AS. Pemenang kedua, Michael Sukri, meraih 3.000 dolar AS dan pemenang ketiga, Sofi Sugiarto, meraih hadiah 2.000 dolar AS. (Ami Herman)
Saturday, December 20, 2008
Dewan Pesisir Wakatobi Gelar Pertemuan Semester II
Friday, December 05, 2008
Wakatobi Pusat Penelitian Bawah Laut Dunia
Wednesday, December 03, 2008
Students head marine conservation in Wakatobi
Monday, August 25, 2008
Menengok Jantung Karang Dunia
Di situlah para penyelam internasional bersaksi, di dasar lautnya terdapat panorama terumbu karang yang paling cantik, penuh keanekaragaman ikan yang tak ada duanya di dunia, bahkan dibanding Karibia. Dengan snorkeling sebentar, kita dapat menemui barracuda, ikan badut, dan kuda laut.
Dan siang itu–dalam perjalanan menuju “surga” tersebut–kapal motor yang saya tumpangi pontang-panting digoyang ombak keras Laut Banda. Perjalanan ditempuh dari Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. Dengan perahu cepat itu, Kendari ke Wangi-Wangi, salah satu pulau di sana, biasanya ditempuh tiga setengah jam. Namun, ombak ganas hari itu membuat perjalanan kami memakan waktu delapan jam.
Nama Wakatobi diambil dari singkatan empat pulau utama: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Pertengahan April 2008 lalu, saya bergabung dalam sebuah ekspedisi mengeksplorasi potensi wisata Wakatobi. Acara ini diadakan Pemerintah Kabupaten Wakatobi, diikuti sejumlah wartawan dari Jakarta dan lokal. Kami bermaksud mengunjungi keempat pulau tersebut.
Sejak 1996, pemerintah meresmikan perairan Wakatobi menjadi Taman Nasional Wakatobi. Sebuah keputusan yang saya kira tepat, karena sebagaimana hasil penelitian Operation Wallacea, sebuah lembaga penelitian yang berpusat di Inggris: Wakatobi mempunyai angka tertinggi di dunia untuk keanekaragaman biota lautnya. Lembaga ini mencatat ada 942 spesies ikan hidup di sini.
Di Wakatobi juga terdapat 750 spesies karang dari 850 spesies yang ada di muka bumi. Bandingkan dengan dua pusat terumbu karang lain di dunia. Laut Merah yang hanya mempunyai 300 spesies, sedangkan Laut Karibia hanya 50 spesies.
Pulau-pulaunya juga menyimpan keunikan. Di situ misalnya ada perkampungan para “petualang laut” terkenal suku Bajo. Di beberapa tempat juga terdapat peninggalan sejarah–kejayaan kekuasaan Kesultanan Buton.
***
Kami akhirnya tiba di Wangi-Wangi, pulau terbesar dengan penduduk 50 ribu jiwa, ibu kota kabupaten. Pagi itu tampak sebagian warga memulai aktivitas mereka. Di Desa Liya Mawi, kaum ibu terlihat sibuk memanen rumput laut sembari mengasuh anak mereka. Tumbuhan berkhasiat ini diangkat dari tempat persemaian di laut, tak jauh dari pantai. Rumput laut atau disebut garanggang adalah penghasilan utama mereka. Setelah dipanen, garanggang dijemur kemudian dijual Rp 7.000-8.000 per kilogram.
Tak syak, masyarakat Kepulauan Wakatobi mengandalkan penghasilan utama dari laut. Meski begitu, ada juga sebagian warga Wanci–sebutan lokal untuk Wangi-Wangi–yang berdagang barang bekas impor. “Mereka berburu barang sampai ke Singapura pakai kapal kayu, lalu dijual di sini,” kata Saleh, warga lokal yang menemani saya jalan-jalan di pulau itu.
Wangi-Wangi sempat dikenal sebagai daerah pemasok barang bekas impor berharga murah. Dari pakaian bermerek terkenal, barang elektronik, sampai kendaraan bermotor “beredar” di sini. Saya sempat heran ketika melihat motor gede merek Aprilia melintas di depan saya. “Di sini motor seperti itu bisa dibeli seharga Rp 10 juta saja,” ujar Saleh, yang juga aktivis World Wildlife Fund. Buset.. kata saya dalam hati, karena di Jakarta, merek terkenal itu mungkin harganya lima kali lipat.
Saya mengunjungi Masjid Liya di Wangi-Wangi. Masjid ini konon tertua setelah Masjid Keraton Buton di Pulau Buton. Letak masjid ini di atas bukit, di dekat Benteng Liya Togo. Di zaman penjajahan Portugis dan Belanda, tempat ini merupakan salah satu benteng pertahanan. Tak jauh dari benteng, ada makam Talo-Talo, pemimpin kadiye atau “kerajaan kecil” bagian Kesultanan Buton. Talo-Talo dalam bahasa setempat berarti “dia yang mengalahkan”.
Ada pula makam Djilabu, ulama penyebar syiar Islam daerah itu. Sejumlah bangunan bersejarah ini berada di Desa Liya Togo. Sesuai dengan artinya, tempat ini dulu togo atau pusat kota. Tiap-tiap Lebaran desa ini menyelenggarakan ritual adat Posepa, semacam tawuran massal yang diakhiri dengan bermaaf-maafan, di tanah lapang di depan masjid. Rumah peninggalan La Ode Taru tak jauh dari Masjid Liya. La Ode Taru “raja kecil” terakhir Liya yang dibunuh pada zaman penjajahan Jepang.
Sorenya saya mengunjungi pasar malam Wanci. Pasar itu menjual berbagai kebutuhan warga Wangi-Wangi. Ikan berbagai ukuran, dari yang kecil sampai sebesar anak umur empat tahun, juga ada.
***
Pukul dua dini hari. Tatkala sunyi menyelimuti warga Wangi-Wangi, kami menuju ke Kaledupa. Sebuah kapal pinisi putih bernama Menami yang buang sauh 500 meter di lepas pantai pelabuhan kecil Wangi-Wangi telah menanti kami untuk perjalanan ke Kaledupa.
Pinisi itu sulit bersandar di dermaga karena air laut surut. Untuk mencapainya, kami naik speedboat. Pelayaran dari Wangi-Wangi ke Kaledupa dengan kapal Menami yang punya kecepatan maksimum delapan mil per jam butuh waktu tiga jam.
“Kita berangkat dini hari. Biar pukul lima pagi kita sudah masuk perairan Kaledupa,” kata Veda Santiaji, project leader The Nature Conservancy- World Wildlife Fund, yang memimpin pelayaran.
The Nature Conservancy dan World Wildlife Fund adalah dua lembaga yang dalam lima tahun ini buka base camp di Wakatobi. Bersama pemerintah setempat, kedua lembaga itu memonitor kawasan taman laut nasional.
Kami memasuki perairan Kaledupa ketika matahari masih malu-malu memperlihatkan wajahnya. Sunrise begitu indah di tempat ini. Pukul enam, kapal buang sauh di perairan yang diapit Pulau Kaledupa dan Hoga. Saya tak sabar bergegas pindah ke kapal motor untuk merapat ke Pulau Hoga.
Meski pulau kecil, Hoga adalah salah satu tempat favorit penyelam profesional dalam dan luar negeri. Di pulau ini terdapat Marine Research Station, yang dikelola Operation Wallacea. Biasanya musim penyelaman terjadi sepanjang satu bulan pada Maret atau tiga bulan sepanjang Juni-Agustus (musim panjang). “Musim panjang, tamu yang datang bisa ratusan orang,” kata Asri, pengurus stasiun riset itu.
Umumnya mereka mahasiswa Eropa dan Amerika yang meneliti biota laut. Di tempat ini mereka bisa tinggal berminggu-minggu. Saya sempat jalan-jalan di pulau teduh dengan rerimbunan pohon itu. Lewat jalan setapak, saya mengelilingi area penginapan para peneliti asing tersebut. Ada sekitar 200 penginapan sederhana, berbentuk rumah panggung kecil dari kayu, tersebar di sebagian pulau. Itu milik warga Kaledupa. “Sewanya Rp 40 ribu semalam tiap orang,” ujar Asri. Harga yang murah untuk orang asing.
Bupati Wakatobi, Hugua mengatakan kehadiran stasiun penelitian itu dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat. Selain mendapat uang sewa penginapan, warga memperoleh penghasilan dari penyediaan makanan untuk mereka. “Operation Wallacea cuma tangani penelitian. Penginapan dan makanan diserahkan ke warga,” kata Hugua.
Sayang, lantaran waktunya tidak tepat, saya tak menemukan satu bule pun di sana. Ratusan penginapan itu kosong melompong, meski adakalanya pulau ini penuh sesak. Wajar jika Hoga jadi daya tarik para penyelam. Pantainya sangat indah berpasir putih, nyiur melambai menyambut siapa pun yang datang. Tak satu pun bungkus permen atau biskuit saya temukan. Kebersihannya terjaga, pemandangan langka di pantai-pantai wisata di Jawa.
Dari atas dermaga kayu, saya melihat ikan warna-warni bermain di celah terumbu karang. Air lautnya jernih, memungkinkan saya menonton pemandangan dasar laut tanpa harus terjun ke air. Pulau Hoga mengingatkan orang akan keindahan laut dan pantai di film The Beach yang diperankan Leonardo DiCaprio. Tak terasa, dua jam kami berjalan-jalan di Hoga. Kami harus kembali ke kapal Menami.
Di kapal ternyata ada rombongan lain bergabung. Mereka menyusul dari Wangi-Wangi naik speedboat. Ada tim penyelam profesional yang akan membuat film bawah laut dengan Nadine Chandrawinata sebagai bintang-nya. Mantan Putri Indonesia itu ditemani ayahnya, Andy Chandrawinata.
Dan peralatan selam kemudian disiapkan. Dua buah boat parkir di sisi kapal Menami, siap mengantar ke Hoga Channel. Ini sebuah dive site atau situs penyelaman yang terletak antara Pulau Hoga dan Kaledupa. Di sini kami membagi dua tim. Tim pertama menyelam hingga kedalaman 20 meter. Tim ini tentu melengkapi diri dengan pakaian selam (wet suit), sepatu katak (fin), masker, dan tabung oksigen. Nadine, yang kini rajin menyelam, tentu di tim pertama.
Saya sendiri bergabung dengan tim kedua, ber-snorkeling ria. Kami tak perlu tabung oksigen. Cuma modal kacamata snorkel dengan selang menjulur ke atas untuk nyemplung ke laut. Selang ini membantu bernapas dengan mulut saat berenang dengan kepala di bawah permukaan air untuk melihat pemandangan dasar laut. Karena itu, tim kami memilih lokasi yang tak terlalu dalam, dua setengah sampai lima meter saja. Saya tidak mau ambil risiko ikut tim pertama menyelam puluhan meter. Jujur, saya tak punya keterampilan menyelam. Ingat semboyan, “Safety first.”
Meski cuma snorkeling, saya mendapat pengalaman tak kalah keren. Di Wakatobi, snorkeling pun bisa menyaksikan “surga” bawah laut. Karang warna-warni menggerombol di sana-sini. Anemon fish atau ikan badut bermain di sela-sela karang lembut anemon yang jadi rumah mereka. Apa jadinya jika karang indah itu rusak gara-gara pemakaian bom ikan?
Makhluk laut yang cantik itu tentu tak lagi bisa bermain dan berkembang biak di sana. Kelestariannya sangat bergantung pada kelestarian karang. Cipto Aji Gunawan, penyelam profesional yang ikut dalam kegiatan ini, mengatakan ada jenis ikan yang bertelur di karang, tapi banyak juga jenis yang tinggal dan hidup di sana. “Lebih dari 33 persen jenis ikan laut bergantung pada terumbu karang,” ujar konsultan pengembangan wisata bahari ini.
Selain Hoga Channel, ada sekitar 20 situs penyelaman tersebar di perairan Wakatobi. Di antara itu, ada yang menjadi favorit para penyelam. Itulah situs Pinnacle, di dekat Pulau Hoga. Di Kaledupa ada Karang Kaledupa dan di Pulau Tomia ada Mari Mabuk. Setiap situs ini punya keunikan masing-masing. Seperti di Karang Kaledupa, terdapat table coral (karang berbentuk meja) berukuran 2-3 meter. “Ini jarang dijumpai di dive site lain,” kata Cipto.
Soal keindahan struktur karang, Pinnacle pusatnya. Di situs ini, karangnya bergunung-gunung, sesuai dengan namanya, Pinnacle atau “puncak”. Lokasi ini juga menjadi habitat ikan barracuda yang jarang ditemui di tempat lain. Ikan berbentuk lonjong seperti peluru itu termasuk hewan laut tercepat. Di Pinnacle, ikan barracuda bergerombol. Hoga Channel lain lagi. Di lokasi ini bisa dijumpai pygmy, kuda laut berukuran sangat kecil. Nadine sampai dua kali menyelam hari itu. Keindahan bawah laut Wakatobi tak pernah ia temukan di tempat lain. “Karangnya indah, ikannya cantik-cantik,” ujarnya.
***
Pada hari ketiga saya mengunjungi Pulau Tomia. Seperti dari Wangi-Wangi ke Kaledupa, perjalanan Kaledupa-Tomia berlangsung sekitar tiga jam. Sebelum berlayar ke Tomia malam harinya, kami mampir di Kaledupa. Dekat dermaga Kaledupa, rumah-rumah panggung warga hampir seragam, berderet rapi. Di sini saya mencicipi ikan bakar, juga kaswami dari ubi dan luluta. Luluta atau nasi bambu adalah nasi ketan yang dibakar dengan batang bambu. Enak.
Kami kembali menyelam dan snorkeling di Tomia. Kami juga mengunjungi Benteng Patua. Seperti Benteng Liya di Wangi-Wangi, Benteng Patua konon dibangun di masa kekuasaan Kesultanan Buton. Letaknya juga di atas bukit. Perlu 30 menit bermobil plus 20 menit jalan kaki ke sini. Beberapa meriam kuno masih terpasang mengarah ke laut, “menyambut” kedatangan musuh. Konon perairan ini dulu dilewati kapal penjajah yang “merampok” rempah dari Maluku. Di area benteng juga terdapat makam tokoh pejuang lokal dan bekas perkampungan.
Ada pula Jomba Katepi yang menyita perhatian. Sumur berlubang kecil sedalam lebih dari 100 meter itu ternyata WC “masa lalu”. Versi berbeda selain tempat buang hajat adalah tempat menceburkan orang-orang hukuman. Sayang, peninggalan arkeologis itu kurang mendapat perhatian. Saat ke sini, jalan setapak menuju benteng tertutup alang-alang. Bangunan benteng dan makam yang seharusnya terlihat, sebagian tertutup pohon dan semak belukar. Apa boleh buat, kesan angker yang terasa.
***
Hari itu juga kami mengunjungi Pulau Binongko. Kami tidak menggunakan kapal Menami, tapi naik speedboat agar cukup waktu. Esoknya kami harus balik badan ke Wangi-Wangi dan kembali ke Jakarta. Memakai perahu cepat, dari Tomia ke Binongko sekitar satu jam saja. Di Pulau Binongko kami mendatangi para tukang besi yang jumlahnya makin berkurang.
Kembali ke Tomia, kami mampir di Wakatobi Dive Resort. Resor eksklusif ini milik penanam modal asing. Mungkin jarang turis lokal menginap di sini. Kebanyakan turis asing berkantong tebal, karena paket menginap dan wisata selamnya dipatok dengan dolar.
Saking eksklusifnya, resor ini membangun Bandar Udara Maranggo, bandara kecil untuk pesawat pengangkut tamu mereka dari Bali. Pemerintah kabupaten pun sekarang tengah membangun lapangan terbang umum di Wangi-Wangi. Bandara yang bakal bernama Matahora ini memiliki landasan sepanjang 1.600 meter, pembangunannya ditargetkan rampung tahun 2008 ini. Sebuah maskapai penerbangan pelat merah sudah siap mendaratkan pesawatnya untuk menarik minat wisatawan berkunjung.
Saat perjalanan pulang dari Binongko, sejumlah ikan lumba-lumba beriringan melintas di depan speedboat kami. Saya jadi ingat yang dikatakan Veda Santiaji. Dulu, di Wakatobi terdapat 30 area pemijahan ikan alami. Pada 2003 jumlahnya menyusut tinggal 12 karena penangkapan ikan berlebihan atau over-fishing. Tahun lalu jumlah ini melorot lagi tinggal empat, dengan satu lokasi kini dalam keadaan kolaps.
Penangkapan ikan di area konservasi masih terjadi. Penggunaan bom untuk menangkap ikan masih dilakukan sembunyi-sembunyi, di tempat yang jauh dari pantauan. Penggunaan bius atau potas oleh nelayan yang dimodali pengusaha lokal masih marak.
Bom menghancurkan terumbu karang. Potas mematikan hewan karang dan sebaran racunnya merusak biota laut lain. Saya tercenung, jangan sampai Wakatobi tak lagi menjadi “surga” ikan-ikan dan terumbu karang.
Friday, August 08, 2008
Wakatobi; Keindahan Terumbu Karangnya Terbaik di Dunia
Dituliskannya seperti ini, "Destinasi kali ini akan mengusik jiwa petualang anda. Sebuah kawasan yang masih terbilang masih asli menawarkan perjalanan yang tak terlupakan. Adalah Kepulauan Tukang Besi, sebuah gugusan kepulauan yang terdiri dari empat pulau besar dengan luas sekitar 821 km2. Empat pulau besar tersebut adalah Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko yang oleh masyarakat setempat biasa diakronimkan sebagai WAKATOBI.
Sebagaimana namanya, Tukang Besi, kepulauan ini memang terkenal dengan pembuatan keris tradisional yang indah dan tetap diproduksi hingga sekarang. Gugusan kepulauan ini memiliki alam yang masih asli, tenang dengan air laut yang segar, gua-gua bawah laut yang saling berdekatan satu sama lain yang disuguhkan khusus untuk pecinta alam sejati. Bisa dikatakan bahwa wilayah ini merupakan kawasan wisata taman laut pertama di Indonesia.
Meski menyelam bisa dilakukan setiap saat, tetapi bulan April dan Desember adalah bulan yang paling baik untuk melakukan penyelaman karena cuacanya sangat bagus. Di samping menyelam dan snorkling di pantai juga disediakan khusus motor selam, tour snorkling dan penjelajahan di kepulauan. Sebuah kawasan kecil yang berlokasi di samping pulau Tomia seluas 8 km2, bernama Pulau Tolandona (Pulau Onernobaa) memiliki keunikan karena pulau ini dikelilingi taman laut yang indah.
Setelah menempuh perjalanan 5-6 jam dengan kapal cepat dari Kendari, Bau-Bau menjadi tempat transit berikutnya ke Wakatobi. Perjalanan tidak dapat langsung karena jadwal penyeberangan Bau-Bau-Wanci, pintu gerbang Wakatobi terbatas. Lagi pula penyeberangan dengan kapal kayu sekitar satu hari akan sangat melelahkan. Jalur yang biasa dipakai dari Bau-Bau adalah perjalanan darat ke Lasalimu, kecamatan di sebelah tenggara Bau-Bau, sekitar 3 jam. Selanjutnya menyeberang ke Wakatobi. Itu pun jadwal penyeberangan sekali sehari, pukul 06.00.
Ada dua macam suku di Kepulauan Tukang Besi, yaitu Tukang Besi utara dan selatan. Total penduduk kedua suku tersebut kini mencapai kisaran 250.000 orang, tersebar di empat pulau besar Wakatobi. Mata pencarian suku Tukang Besi adalah bertani. Makanan pokok mereka adalah ubi-ubian, yang biasa dibakar dan dimakan bersama ikan. Suku Tukang Besi selatan juga termasuk rumpun suku Buton. Ketergantungan hidup mereka terletak pada hasil laut yang menjadi santapan sehari-hari.
Jika anda ingin berkunjung ke Wakatobi, pada bulan Juli-September ombak bisa setinggi gunung. Namun, bagi anda yang berjiwa petualang, ombak besar tidak menjadi halangan untuk mengunjungi gugusan kepulauan di antara Laut Banda dan Laut Flores ini. Tapi bila anda ingin lebih ‚aman’, bulan Oktober sampai awal Desember merupakan pilihan terbaik menikmati keindahan di Wakatobi. Begitulah beberapa pesan penduduk Wakatobi yang ditemui di Kota Bau-Bau.
Sebenarnya Wakatobi tidak hanya mengandalkan transportasi laut dari Bau-Bau atau Lasalimu. Sejak tahun 2001, transportasi udara bisa menjangkau wilayah kepulauan di timur Pulau Buton ini. Namun, ongkos perjalanan sangat mahal, selain itu transportasi udara hanya melayani jalur Denpasar-Wakatobi dengan jadwal tiap 11 hari.
Kepulauan Tukang Besi mempunyai 25 gugusan terumbu karang yang masih asli dengan spesies beraneka ragam bentuk. Terumbu karang menjadi habitat berbagai jenis ikan dan makhluk hidup laut lainnya seperti moluska, cacing laut, tumbuhan laut. Ikan hiu, lumba-lumba dan paus juga menjadi penghuni kawasan ini. Kesemuanya menciptakan taman laut yang indah dan masih alami. Taman laut yang dinilai terbaik di dunia ini sering dijadikan ajang diving dan snorkling bagi para penyelam dan wisatawan. Sejak tahun 1996, kawasan Wakatobi ditetapkan sebagai taman nasional.
Kawasan wisata juga terdapat di Pulau Wangi-Wangi, Hoga, pulau di sebelah Kaledupa dan Binongko. Selain snorkling dan diving, aktivitas pariwisata lain yang bisa dinikmati adalah pemandangan pantai, menyusuri gua, fotografi, berjemur, dan camping.
Empat pulau besar di Wakatobi memiliki karakteristik khusus, yakni setiap pulau merupakan satu wilayah kecamatan, kecuali Pulau Wangi-Wangi yang terdiri dari dua kecamatan. Wangi-Wangi, pulau pertama yang dijumpai saat memasuki Kabupaten Wakatobi, menjadi pintu gerbang dan paling dekat dengan Pulau Buton. Di sini terdapat pelabuhan besar yang melayani kapal barang dan penumpang di Desa Wanci. Jika Pulau Wangi-Wangi menjadi pintu gerbang transportasi laut, maka Pulau Tomia menjadi pintu gerbang transportasi udara.
Pastikan Wakatobi menjadi destinasi kunjungan anda selanjutnya. Berikan liburan yang sedikit berbeda kepada keluarga anda."
Saturday, August 02, 2008
Suku Bajo dan “No Go Area”
——-
DESA Mola Selatan, perkampungan suku Bajo di Pulau Wangi-Wangi, suatu siang pertengahan April 2008 lalu. Rumah La Ode Mustamin tiba-tiba dipenuhi belasan warga. Padahal sang empunya rumah, yang menjabat kepala desa, tidak sedang menggelar pertemuan.
Para nelayan Bajo ini mendadak berkumpul karena sejumlah wartawan–termasuk saya dari Tempo–bertandang ke rumah Mustamin. Seperti dikomando, mereka nimbrung ketika sang pemimpin berkeluh-kesah tentang kesulitan ekonomi yang dialami warga.
Ketua komunitas kerukunan masyarakat Bajo se-Kabupaten Wakatobi ini mengeluhkan aturan zonasi Taman Nasional Wakatobi yang ditetapkan tahun lalu. Sejumlah lokasi menjadi daerah terlarang bagi nelayan untuk menangkap ikan. “Sekarang semua serba dilarang,” kata Mustamin.
Pada Juli 2007, Balai Taman Nasional Wakatobi bersama Pemerintah Kabupaten Wakatobi serta Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam menetapkan peta zonasi. Zonasi ini untuk membatasi daerah yang bisa dimanfaatkan dan yang tidak. Peta ini membagi perairan Wakatobi menjadi lima zona: zona inti, perlindungan bahari, pariwisata, pemanfaatan lokal, dan pemanfaatan umum.
Zona inti atau “no go area” adalah kawasan yang sama sekali tidak boleh dimanfaatkan atau dilintasi kapal. Zona perlindungan bahari juga terlarang untuk penangkapan ikan, meski kapal nelayan boleh melintas. Adapun zona pariwisata hanya untuk wisata. Nelayan hanya boleh menangkap ikan di zona pemanfaatan lokal dan zona pemanfaatan umum.
Zona pemanfaatan lokal inilah yang bisa dimanfaatkan nelayan setempat. Sedangkan nelayan daerah lain, asalkan mengantongi izin, bisa mencari ikan di zona pemanfaatan umum. Aturan zonasi inilah yang dikhawatirkan semakin mempersulit ekonomi warga. Suku Bajo, kata Mustamin, sangat menggantungkan hidup pada hasil laut.
***
Suku Bajo, bagaimana keadaan mereka?
JUMLAH penduduk suku Bajo di Kepulauan Wakatobi kini 12 ribu orang, yang tersebar di beberapa kampung. Selain Mola Selatan, ada Desa Mantigola dan Sampela di Pulau Kaledupa serta Desa Lamanggau di Tomia. Mola terbanyak penduduknya, 7.000 orang. Kampung ini juga paling “modern” dibanding kampung Bajo lain. Beberapa rumah terbuat dari tembok, sebagian beratap seng, menunjukkan sisa-sisa “kejayaan” mereka.
Jalan-jalan setapak yang melintasi kampung dibeton, seakan sudah menyatu dengan daratan. Itu berbeda dengan Kampung Sampela, yang merupakan “rumah tancap” di tengah laut, terpisah dari darat, seakan membentuk sebuah pulau sendiri. Meski lebih modern, sebagian rumah warga di Mola masih menunjukkan ciri khas perkampungan Bajo: rumah panggung dari kayu atau gedek, dengan atap daun kelapa. Kampung didirikan di atas laut, yang ditimbun karang.
Suku Bajo memang tak terpisahkan dari laut. Sejak dulu, mereka dikenal sebagai pelaut ulung, gemar mengarungi lautan Nusantara. Sejak puluhan tahun lalu, para orang tua mereka mendapat berkah dari hasil laut perairan ini. Mereka bisa menangkap ikan dan penyu di mana pun tanpa larangan.
Untuk menangkap ikan, mereka berlayar ke perairan Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, bahkan sampai ke wilayah Australia. Nelayan Desa Mola Selatan “terkenal” sering terjaring pihak berwajib Australia. “Saya pernah ditahan polisi Australia karena menangkap hiu untuk diambil sirip dan ekornya,” ujar Mujur, nelayan Bajo di Mola.
Mustamin bercerita, pada 1980-an hingga 1990-an, warga Bajo Wakatobi mengalami “masa kejayaan” berdagang penyu sisik. Penyu yang ditangkap sebagian dijual, sebagian dikembangbiakkan. Dulu mereka bisa menjual penyu sisik ukuran 60 sentimeter seharga Rp 100-200 ribu per ekor. “Penyu itu sekarang harganya jutaan,” ujarnya. Mereka menjualnya ke beberapa daerah, terutama Bali. Di Pulau Dewata, kata Mustamin, penyu laku keras karena dibutuhkan untuk upacara adat. Ia pernah menjual 200 ekor penyu sisik ke Bali sekali kirim.
Penjualan penyu memang bergantung pada besar kapal yang digunakan. “Dari berdagang penyu, tiga bulan sekali kami mendapat puluhan juta rupiah.” Setelah penangkapan penyu dilarang di seluruh perairan Indonesia, kegiatan perdagangan hewan itu merosot drastis. Pendapatan mereka sejak beberapa tahun lalu pun jauh berkurang.
Kini kesulitan itu ditambah dengan kekhawatiran soal penetapan zonasi. Meski para nelayan Bajo bisa saja mencari ikan di luar kawasan konservasi, larangan itu tak urung membuat daerah tangkapan mereka semakin sempit. Warga khawatir pendapatan mereka yang sudah berkurang makin menyusut. “Dulu pinjam uang jutaan mudah, sekarang Rp 100 ribu saja sulit,” ujar Mustamin.
Bupati Wakatobi, Hugua, mengungkapkan keresahan warga Bajo. “Manusiawi, mereka merasa terusik.” Padahal, kata Hugua, hanya 10 persen kawasan perairan Wakatobi yang tidak boleh diganggu. Meski demikian, ia mengaku tak membiarkan warga Bajo kesulitan akibat aturan itu. Belum lama ini, kabupaten mengucurkan kredit ringan Rp 20 miliar untuk masyarakat, termasuk warga Bajo.
Kredit ini untuk mengembangkan usaha di sektor perikanan dan kelautan, kerajinan, serta pariwisata. Untuk warga Bajo, kredit dikucurkan antara lain melalui program motorisasi kapal. “Untuk meningkatkan kemampuan menangkap ikan, tapi dengan alat ramah lingkungan.” Nelayan diberi pemahaman bahwa mereka masih bisa menangkap ikan meskipun selektif. Misalnya ikan yang bermigrasi sepanjang waktu dari laut dalam atau laut lepas. “Ikan laut dalam ini yang kita tangkap di Wakatobi,” kata Hugua.
Veda Santiaji, project leader The Nature Conservancy-World Wildlife Fund, mengatakan aturan zonasi dibuat untuk mengefektifkan konservasi kawasan itu. Sejak taman nasional diresmikan, 1996, sebenarnya telah dibuat peta zonasi. “Tapi sampai 2003 belum berjalan efektif,” ujarnya. Nelayan masih menangkap ikan di daerah terlarang.
Area pemijahan ikan, yang dulu tersebar di 30 lokasi, pada 2003 menyusut tinggal 12 lokasi karena penangkapan berlebihan. Penggunaan bom ikan, bius (potas), dan pukat harimau (trawl) yang merusak lingkungan masih terjadi. Terumbu karang di kawasan “segi tiga karang dunia” itu banyak yang rusak akibat praktek tersebut. “Karena itu, zonasi didesain ulang,” kata Veda.
Meski peta zonasi yang baru telah dikeluarkan tahun lalu, bukan berarti aturan ini langsung efektif. Penangkapan ikan di zona-zona terlarang masih terjadi. Penggunaan bom ikan, meski jauh berkurang, kadang dilakukan di tempat yang jauh dari pantauan. “Penggunaan potas juga masih marak.” Karena itu, kata Veda, penerapan zonasi bukan untuk membatasi hajat hidup nelayan. “Tapi justru menjamin suplai sumber daya laut demi kepentingan hajat hidup mereka di masa depan.”
Warga Bajo sendiri sesungguhnya mempersilakan aturan zonasi kawasan konservasi diterapkan. Tapi mereka tetap menanti solusi “alternatif” jika lokasi-lokasi yang mereka anggap banyak ikannya justru masuk zona terlarang. “Kami kan butuh makan,” katanya. Mereka menganggap program bantuan yang direncanakan pemerintah setempat masih belum jelas manfaat dan sasarannya. Tapi, di sisi lain, nelayan Bajo selalu menjadi pihak yang dicurigai melanggar kawasan konservasi. “Kami merasa dianggap seperti anak tiri,” ujar Mustamin.
Dimas Adityo, Wakatobi, April 2008
http://dimasadityo.wordpress.com
Saturday, July 12, 2008
Thursday, May 08, 2008
Wakatobi Belum Terpengaruh Perubahan Iklim
“Kami tak menemukan adanya tanda kenaikan air laut yang berpengaruh pada tenggelamnya pulau-pulau di kawasan konservasi Wakatobi saat ini,” urai Wahju Rudianto, Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, Minggu (1/4), di Jakarta.
Justru yang ada saat ini, menurutnya, merupakan kecenderungan naiknya permukaan gosong-gosong (pulau karang) di sana. “Seperti gosong Kabota, yang menurut pengamatan kami malah tumbuh terus permukaan tanahnya,” papar beliau.
Kondisi tersebut menurutnya lazim terjadi karena wilayah ini merupakan daerah tumbukan lempengan. Karena pertumbukan itu, ada beberapa pulau karang terus naik wilayah permukaannya. Data tersebut kemudian disebut Wahju, baru dari pengamatan melalui pasang surut air laut.
Wilayah Wakatobi sendiri dikenal sebagai area dengan topografi bergelombang. Kebanyakan sisi yang menjorok lautan, tidak datar langsung menemui laut. Keberadaan tersebut membuat kondisi fluktuasi kenaikan air laut karena perubahan iklim menjadi isu yang tidak terlalu mencemaskan.
Karena pandangan itu pula, kemudian belum ada program adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim di sana. “Bukan menyepelekan, namun bila melihat kondisi yang ada, kondisi tenggelamnya pulau-pulau di Wakatobi karena kenaikan air laut tampaknya belum akan terjadi dalam waktu dekat ini,” ucapnya.
Tak Ada Pemutihan
Kondisi perubahan lingkungan karena perubahan iklim yang terjadi, saat ini di Wakatobi yang paling signifikan malah terlihat pada naiknya suhu lautan. “Namun kondisi tersebut belum membuat terjadinya pemutihan karang,” kata Wahju.
Meskipun data kenaikan suhu belum dapat dirata-ratakan. Namun kecenderungan kenaikan tidak mencapai titik dua derajat celcius. Sementara itu, tingkat mencemaskan untuk pemutihan karang (bleaching) karena pemanasan bumi diperkirakan bila mencapai titik tiga derajat celcius.
Faktor kerusakan karang yang dicemaskan saat ini kebanyakan datang dari intervensi manusia. Karena hingga saat ini masih banyak nelayan menggunakan bom, bahan kimia, dan jaring sebagai sarana untuk menangkap ikan.
Meskipun Bupati Wakatobi saat ini, Ir Hugua, sudah menyatakan perang terhadap para perusak karang laut. Namun disinyalir cakupan penangkapan ikan secara tak ramah lingkungan di wilayah yang dahulu dikenal dengan nama Kepulauan Tukang Besi tersebut masih luas.
Hal lain yang mencemaskan lestarinya terumbu karang di sana adalah masih digunakannya terumbu karang laut sebagai fondasi rumah. Kebiasaan ini sendiri merupakan adat turun-temurun yang hingga kini masih banyak dilakukan masyarakat sekitar Wakatobi.
Tindakan tersebut terutama terlihat pada masyarakat Sampela yang dikenal beretnis Bajo. Dalam penelitian yang dilakukan Caitlyn Louise Stanley, “Sikap-sikap dan Kesadaran Orang Bajo terhadap Lingkungan Hidup dan Konservasi”, tahun 2005 lalu, terungkap kalau masalah utama dari kebiasaan ini merupakan mahalnya bahan subtitusi pengganti karang laut sebagai fondasi rumah. Konsep keberlanjutan terhadap lingkungan juga belum melekat pada adat budaya mereka.
Oleh
Sulung Prasetyo (Sinar Harapan)
Tuesday, May 06, 2008
Kunjungan Putri Indonesia 2005 ke Wakatobi
Nadine Chandrawinata, memenuhi undangan Bupati, berkunjung ke Wakatobi. Berangkat bersama ayah dan sepupunya serta beberapa orang kru dokumentasi Nadine berangkat untuk melakukan sesi pemotretan sekaligus memenuhi hasrat hobi barunya, menyelam.
Promosi gencar Kabupaten Wakatobi sebagai satu destinasi penyelaman unggulan di ajang pameran Deep Indonesia 2007 menyebabkan banyak orang bertanya-tanya "Seperti apa sih Wakatobi dan surga nyata bawah lautnya itu". Surga nyata bawah laut di pusat segitiga karang dunia merupakan visi kabupaten Wakatobi yang tak pernah lupa dikumandangkan dalam setiap event di nasional maupun internasional. Tak heran banyak orang penasaran untuk membuktikannya. Dan Nadine merupakan salah satu yang dengan penuh antusias datang ke Wakatobi untuk membuktikannya.
Perjalanan mengarungi perairan Wakatobi, mulai 10 - 15 April 2008, tak lengkap rasanya tanpa menikmati pengalaman tinggal di kapal FRS Menami. Kapal ini sejauh ini telah menjadi saksi bisu dari kedatangan para jurnalis, pejabat dan selebritis ke Wakatobi. Tak luput pula si Putri Indonesia ini. Tentunya ini berkah tersendiri bagi para ABK, yang sebelumnya hanya bisa menonton di layar kaca, bisa tinggal bersama sang putri selama empat hari.
Selamat buat para ABK dan semoga Nadine dan seleb yang lain akan terus ingin menikmati FRS Menami.
Sunday, April 27, 2008
Seminar dan Diskusi: Dive Resorts and Sustainable Tourism in Indonesia
Kajian seminar National Geographic Indonesia mengenai keberadaan operator asing, nasional dan komunitas masyarakat lokal, yang diselenggarakan di Lumba Lumba room, Asembly Hall, Jakarta Convention Centre pada hari minggu, 30 Maret 2008, pukul 15:00-17:00, berlangsung hangat, menyerap peserta lebih dari 110 orang membuat panitia harus menambah kapasitas kursi pada saat seminar hendak dibuka oleh moderator Wayan Veda Santiadji dari WWF.
Tantyo Bangun, chief editor majalah National Geographic Indonesia ikut hadir untuk membuka seminar yang dihadiri oleh Bupati Wakatobi, Hugua yang secara khusus diundang untuk ikut berbicara sore itu. Juga Komeng yang mewakili Elang Ekowisata kepulauan seribu, Paul Batuna dari Murex Dive-Bunaken, Sandra Turok dari Eco Divers-Bunaken dan Bapak Ahyaruddin dari Departemen Budaya dan Pariwisata. Cipto Aji Gunawan juga hadir sebagai salah satu panelis mewakili konsultan wisata bahari.
Beragam kalangan datang untuk menyimak seminar bebas yang digelar untuk memeriahkan acara pameran Deep Indonesia 2008 ini. Termasuk juga di antaranya yang hadir beberapa pagawai pemerintah, pelaku pendidikan universitas negeri, pembaca majalah National Geographic Indonesia, mahasiswa, rekan wartawan daerah hingga prospektus bisnis.
Acara yang berlangsung selama 2 jam tersebut mengangkat tema yang sedikit berusaha menggelitik rasa nasionalis dan pula berusaha mengajak membuka peluang berbisnis warna negara lokal untuk merebut dominasi dive operator asing yang masih merambah. Acara ini pun sekaligus menjadi simbolik pembuka Indonesia Reef 2008 yang akan datang.
(dikutip dari http://indonesiareef.com/?show=blog&id=78)
Thursday, April 24, 2008
Nadine Punya Sertifikat Menyelam
Thursday, April 03, 2008
Seru, diskusi soal bisnis selam tanah air
Friday, March 21, 2008
Berupaya Demi Penghidupan Masa Depan
Friday, March 07, 2008
Ekspedisi NGI ke Wakatobi
Trip to Wakatobi
by Tono Suhartono
Towards the end of the year 2007, I still got no plan to spend the end of the year while there are still a lot of leaves that I have not been able to spend. Suddenly, there was an announcement in Alfa Dolfin mailing list, inviting divers to participate in Reef and Spawning Aggregations monitoring at Wakatobi. I registered and soon found out that Bonar Sitohang (my friend at Alfa Dolfin as we used to dive together) also participated in the event.
The trip was organized by Indonesia Reef – NGI (National Geographic Indonesia) together with TNC (The Nature Conservancy) and WWF (World Wildlife Federation). A lot of sponsors are supporting the event including Ody Dive. Ody Dive was involved in planning the trip together with NGI.
Initially there were 12 divers, but soon after it was increased to 18 divers. At the technical meeting, Sari - the dive coordinator - reminded us to limit our baggage to maximum 15 kg. She said it was caused by relatively small airplane that flying from Makassar to Baubau at Buton Island where by only 65% of the gross weight will be carried by the airplane the rest will be sent on the next day. After nearly removing all fancy items, I managed to get 20 kg. Sari was in no objection when I sent an SMS to her indicating my baggage weight. It turned up later the baggage limitation inflicted some problems in some of the divers. Some found the meals were not suitable but they did not bring enough food of their own choice. Many of participated divers did not bring their Under Water casing for underwater photography.
On 25 December 2007 early in the morning, we embark on the journey to Makassar by plane. Soon after we landing at the Makassar, there was another mishaps as a result of miss management where by our luggage were not transferred directly to next flight to Baubau but was sent down to conveyor belt instead. So we recheck in again at Makassar. The flight to Baubau was delayed also for about 2 hours. I met with my co-worker at the airport lounge but I forgot who he was. After talking with him around 15 minutes, I finally gave up and asked Department he working for and he said Field Human Resource. I then remembered he was Arnham Pattamwari. I used to meet him at Musholla in Badak while performing Ashar prayer. I left Badak already for more than a year, so it a bit hard to remember everyone.
I was a bit sick when leaving Jakarta, but since Debbie – Sari’s assistance- requested me to submit a health certificate I went to a doctor couple days before trip. The doctor then directed me to an internist specialist. Then I got a lot of medicine including Aridin that should be used before diving.
Finally at 15:00 WITA, there was an announcement to board the plane to Baubau. Makassar - Baubau took around 45 minutes using twin turboprop engine. Soon after we landed at Baubau, we embark on land cruise to Pasarwajo which took around 2 hours driving using a bus. The facility at Baubau airport was very poor. The toilet has no water. I cannot imagine if I have to wait for a flight in that airport. The airstrip also very short, I think that was the reason for limiting baggage weight.
At Pasarwajo port, the ship FRS (Floating Ranger Station) Menami already waiting for us. Some divers took liberty to shower and clean themselves as Menami was loaded with fresh water. The spirit was a bit high at that time. I can feel it. From a driver at Wanci, I later learned that Menami is the common local name for Napoleon fish. Menami have 12 beds at the bottom deck and 4 beds at the lower deck. She has two toilets. The upper deck was an open but sheltered deck giving a room for a meeting and comfortable sleeping room at night. The pre-dive briefing and training were given in the upper deck.
On the day two, at the Hoga Channel near Kaledupa Island, we were attending training and met with media team consisting reporters and presenters. I managed to get signature and photo of the famous presenter Rianni Djangkaru as requested by my nephew who is very much fond of her. The training was about how to perform monitoring. It was very much scientific, but to perform it requires an advanced diving skill. The data will be used as a feed back to TNKW (Taman National Kepulauan Wakatobi – Wakatobi islands National park). The data includes Reef health status, herbivore fish population, and carnivore fish population. There is a correlation between those three that indicates ecosystem healthiness. The other training was on Spawning Aggregations (SPAGs) monitoring; whereby we monitor fishes especially of a rather large commercial fishes were mating in a large aggregation. There were 5 known locations for the SPAGs usually takes place, that are now reserved and agreed with locals not be fished. The locations are kept secret to preserve the fish populations. To monitor SPAGs requires a lot of effort as it took place in heavy current area. The current ensures eggs are spread around avoiding being eaten by the predators.
I realized, I have entered a scientific community where people talking about fish by their scientific names instead of common names such as Baronang, Kerapu etc. The TNC personnel were talking about fuscogattus, aerolatus, etc. Upon mixing with these researchers, Bendri –our speed boat captain- has developed his own scientific name for his Batak friends such as ucoklatus etc.
The diving was quite good. We saw several Spawning Aggregations. We saw Wakatobi pigmy sea horse, turtle, large fish and also nudi branch. I was once attacked by a trigger fish called Titan. Luckily, I can move back quickly avoiding it. Pak Putu, TNC personnel, was laughing when I met him shortly afterwards, it was the first time he was laughing under water and I was a bit shock at that time. Later at the ship, Sessy informed me that there was an event she read in a magazine where by a diver lost his ear eaten by Titan. Titan can be very aggressive especially when approached by human while it nesting. Titan has very strong jaws.
To avoid problems due to unfit body, I always dive closer to the surface than anybody else in the group and immediately went on to the surface once one of the researchers surfacing. Kiki once asked me why I surfaced so quickly. The next dive, however, she was diving close to the surface also. Upon asking her on air status, she showed me the gauge that went 50bar then reduce to 30 bar and increase again to 50bar. I then open her tank exhaust and immediately the indicator showing 100bar. So she surfaced with 100bar tank.
On the day three we were hit by a storm. The ship was move around by gusty winds on top and heavy current in opposite direction at the bottom resulting both anchors were moved several meters. The ship ended up sink to the sea sand below. Upon starting the engine, the rear side of the ship sink deeper as the front side was stuck at the sea bottom. The ship can leave the site after water level increased due to high tide at mid night. The next morning, the snorkeling crew found the ship propeller was damaged. The ship was then docking at Kaledupa port and we stayed there for about 2 days while waiting for propeller being fixed at Wanci. The good thing was that we can perform Jum’ah prayer at Kaledupa in congregation instead of individually at the ship as it was originally planned.
After hit by a storm, the team spirit was down, nearly all team members were sick. The only one who was not sick was Darwin, the body builder. Sari tried to boost team spirit by performing a visit to Kaledupa salt water lake and wait for sun set at Sombanu beach at the other side of the Kaledupa Island. It was quite enjoying actually. Just before the storm, we visited a village in Hoga to release tension after a training that finished late at night and a full day monitoring exercises. However, being a true divers, the team spirit always boosted when we were about to dive especially a fun dive. Nearly all team members went diving regardless of their sickness. At the bottom, the sickness is healed, they said.
From Tomia, we were informed that BMG (National Weather Bureau) had released information saying that in 1-2 days ahead a huge tropical storm will be approaching. After diving in the morning under light rain, we headed up to Wanci which took around 5 hours under heavy storm using Menami. We spent New Year eve at the boat at Wanci and visited TNC-WWF office at Wanci. I took Yayan’s picture in front of TNC-WWF office as depicted above. From Wanci we went to Kendari using regular ship that took around 10 hours.
At the end of trip, we were greeted with Ir. Hugua, Wakatobi district head (Bupati) in Kendari. He asked us how our feel on the overall trip. Before meeting him, Sari already appointed Yayan, the eldest among us to talk on our behalf. So when Bupati asked how our observation was, we all looked at Yayan. Being late at night (around 23:00 hours at that time) and lack of sleep, Yayan nervously mentioned that we have visited Tomiang (should be Tomia) and Kelapa dua (a district in Jakarta instead of Kaledupa). The team was then burst in laughing. Anyway, I saw a leader with very optimistic view in pak Bupati. Being an entrepreneur himself, he has a vision to make Wakatobi a major tourist destination in the near future.
Overall trip was quite adventurous and yet scientific. Look forward for another trip with NGI.
Seru... khan!!! Ditunggu loh kalau ada yang mo ke Wakatobi di trip berikutnya 2008
