Showing posts with label Berita. Show all posts
Showing posts with label Berita. Show all posts

Wednesday, June 16, 2010

Kabar dari Pulau Runduma-Anano

Awal 1990-an, Dr Colin J Limpus, peneliti penyu dari University of Queensland, dihubungi seorang nelayan yang mengatakan telah menemukan tag. Ini sejenis alat penanda untuk penyu. Nelayan itu juga menyebutkan suatu daerah yang memiliki banyak penyu untuk diteliti. Ketika Limpus ke sana—daerah yang dikenal dengan nama Shoalwater Bay--- Dia tak hanya menyaksikan penyu, tapi juga Dugong, ular laut, pari dan fauna laut lain di perairan yang jernih. Ketika itu, Limpus kembali melakukan tagging dan penelitian populasi penyu. Baginya, penyu tak hanya sebuah cerita tentang satwa purba yang berjuang mengatasi krisis keseimbangan tapi juga tentang perjalanan separuh abad laut ini. ”....Dan untuk mengetahui banyak informasi tentang penyu, kita harus sering berkomunikasi dengan masyarakat sekitar,” tulisnya dalam makalah biologi dan konservasi penyu tiga negara.
Tujuhbelas tahun setelah penelitian Limpus, tim monitoring lain menyusuri Taman Nasional Wanci, Kaledupa, Tomia, Binongko atau Wakatobi Sulawesi Tenggara, yang luasnya 1,390 juta hektar. Perjalanan ditempuh saat purnama bulan Mei memuncak. Kapal patroli FRS Menami milik WWF Indonesia untuk program bersama WWF Indonesia,TNC-CTC dan Balai Taman Nasional Kepulauan Wakatobi, menyusuri laut yang cuacanya sungguh tak bisa diperkirakan. ”Seharusnya teduh, tapi ini memabukkan,” kata Anton Wijonarno, tim TNC yang menyandang gelar dive master. Ia memiliki keahlian mengamati lokasi pemijahan ikan dan pemetaan wilayah. Pimpinan monitoring, pria bernama Purwanto, pembawaannya tenang.
Dalam perjalanan itu, tim peneliti dan monitoring mencoba menemukan satwa sama yang dilihat Limpus yakni dugong, ular laut, pari, karang-karang terbaik dan penyu, meski dari jenis yang berbeda. Namun, ada kenyataan tak menggembirakan dari monitoring ini. Yakni penyu-penyu menjadi semakin tak mudah ditemui. Pukul 2 dinihari, saat tim turun ke Pulau Anano (bagian dari Kepulauan Tomia), mereka hanya bisa menyaksikan bayangan penyu seperti titik hitam bergerak-gerak di bawah air yang bening karena pantulan rembulan. Penyu enggan naik. Mereka mencium bau ancaman. Di Pulau Runduma, yang letaknya 2 jam dari Anano, tim monitoring hanya menemukan jejak penyu. Tampaknya, cerita Limpus tentang krisis keseimbangan satwa itu juga ada di sini. Di Pulau Runduma-Anano, wilayah yang dijuluki pulau penyu.

Luas Pulau Runduma 521,808 hektar. Ujung Pulau bisa disaksikan saat berdiri di tepi laut. Tak ada listrik, air bersih dan fasilitas seperti di kota. Pulau Runduma tergolong pulau yang sulit. Jaraknya 2 hari perjalanan dari ibukota Kendari. Pulau ini bersebelahan dengan laut dalam—sebuah istilah untuk tingkat kedalaman laut yang dihindari nelayan --. Bisa dihitung jari orang dari Kendari yang mengunjungi Runduma dalam setahun. ”Bisa 5 atau 10 orang saja,” kata Halima (18 th). Sebaliknya, dihitung jari orang Runduma yang keluar dari wilayah itu. ”Saya belum pernah kemana-mana,di sini terus,” ujar Halima. Ia tamat SD, lalu menikah dengan nelayan Runduma. Pendatang biasanya disambut dengan joged lulo. Warga akan menyiapkan api unggun, menabuh musik dan joged hingga dinihari di bawah langit. Di sini, lebih gampang menemukan siaran radio Flores dibanding Kendari di pulau ini.
Nenek Husain merupakan generasi pertama yang menempati Runduma. Tahun, 1950-an, Husain bisa menyaksikan tukik yang berlarian dari sarangnya menuju laut. Tahun 1990-an, bila beruntung, ”yah masih ada tukik,” katanya. Tapi lebih sering Dia hanya menemukan jejak, atau kadang rangkas penyu yang tergeletak begitu saja.
”Tak tahu siapa yang mengambilnya,” katanya. ”Bisa jadi warga desa sini atau orang luar”. Harga kulit penyu menggiurkan bagi sejumlah nelayan. Satu penyu bisa mencapai Rp 50 ribu, telur penyu Rp 500 hingga Rp 1000 per butir.
Hatipa, perempuan Runduma berani mengakui perbuatannya. ”Saya pengumpul telur penyu, untuk biaya sekolah anak-anak,” katanya. Tahun 2005, Hatipa menghentikan kegiatannya. Dia tersentuh saat menyaksikan petugas jagawana dari Balai Taman Nasional Kepulauan Wakatobi berkunjung ke desanya untuk memantau penyu. ” Meski ombak kencang,” ceritanya. ”Saya lalu tanya, kenapa harus jaga penyu?”.
Jawabannya membuat Hatipa tercengang. ”Jumlahnya tinggal sedikit, kalau telur dan kulitnyanya diambil, kita pe anak tidak tahu lagi muka penyu itu,” kutipnya. Dia menghentikan kegiatannya dan mulai kampanye perlindungan penyu. Sederhana saja, saat kumpul dibale-bale mengikat kasuami, makanan khas orang pulau, Hatipa akan berkata, ”janganmi ambil telur penyu kasian, maumi habis”.
Esran, petugas jagawana itu mengatakan, pendekatan mereka ke warga sangat menentukan keberhasilan konservasi penyu dan keanekaragaman hayati di Taman Nasional Kepulauan Wakatobi. ”Sudah tidak pakai senjata lagi, mereka kami ajak baik-baik, ini kan milik mereka juga,” ujarnya. Tidak mudah, karena penentangnya juga banyak. ”Resiko,” kata Esran.
Aktivitas pengelolaan laut yang berlebihan juga menjadi ancaman bagi penyu. Pada April 2005, sekian mill dari pulau Anano-Runduma, tim monitoring TNC-WWF- Taman Nasional Kepulauan Wakatobi mencatat sekitar 522 kapal beroperasi. Sebanyak 79 diantaranya tertangkap menggunakan bom, bius,pukat dasar, ganco dan kompresor untuk memperoleh ikan, kima, taripang dan penyu.
Tahun 1999-2005, petugas patroli Taman Nasional Kepulauan Wakatobi mengadukan 126 nelayan yang mengelola laut dengan bom, racun atau mengambil satwa yang dilindungi. Nelayan yang terbukti divonis paling maksimal 1 tahun. Sebagian 7 bulan atau dilepas. Pemburu penyu praktis tak banyak diberi sanksi. Mereka seringkali “dibina” , artinya ditegur, dilarang dan diberi tahu serentetan hewan yang boleh dan tidak ditangkap. Istilah ini juga berarti, mereka akan diajarkan alternatif pencaharian lain. “Tetap di laut, tapi harus lebih ramah, misalnya menggunakan jaring,” kata Purwanto.
Tidak berhenti di situ. Masalah lain kadang muncul dari patroli yang lemah. Seringkali, pemantauan dilakukan di pulau Kaledupa, namun bom ikan atau eksploitasi ikan terjadi di Tomia. Bila itu terjadi, tak hanya ikan yang terjaring, tapi juga penyu. Pada tahun 2000-an, bom ikan bahkan terdengar 5-10 kali sehari. Termasuk kegiatan semprotan sianida pada ikan-ikan hias.
Kata Purwanto, sulit memantau wilayah ini. Sejak ditunjuk menjadi taman nasional tahun 1996, tantangan berat yang dihadapi aktivis lingkungan adalah menyederhanakan teori pelestarian pada warga. Wilayah Wakatobi tergolong unik. Penduduknya berada dalam kawasan taman nasional. Seringkali terjadi perbedaan tajam soal penetapan zonasi dan memunculkan komentar sinis seperti ’ekstrim konservasi’ terhadap TNC-WWF Indonesia.
”Kami malah pernah mendemo TNC-WWF,” kata Beloro, pria etnis Kaledupa. Belakangan, Beloro memberikan dukungan pada kegiatan konservasi, setelah melihat banyaknya kerugian yang diakibatkan oleh pengelolaan laut tak ramah lingkungan.
Konservasi juga sering diterjemahkan sebagai istilah : DILARANG. ”Masak kami dilarang ambil ikan atau penyu? Nenek moyang kami kan hidup di sini terus,” kata Ali Rahman, nelayan di wilayah Wakatobi.
”Tidak melarang, tapi menyelaraskan kebutuhan manusia dengan kondisi alam,” kata I Wayan Veda Santiadji, Community Outreach Coordinator WWF Indonesia.”Targetnya, apa yang ada dalam kawasan ini bisa berkesinambungan dan dinikmati generasi ke depan,” katanya.

Konservasi ketat dilakukan karena Wakatobi masuk kategori segitiga terumbu karang terbaik di dunia. Di sini terdapat 396 jenis karang keras, 28 marga karang lunak dan 31 jenis karang jamur. Jenis-jenis keanekaragaman hayati lain yang tercatat di balai taman nasional Wakatobi adalah, 590 jenis ikan karang, 9 jenis lamun, 11 jenis paus, 34 jenis Stomatopoda, 300 jenis opisthobranch, 5 jenis teripang, 4 jenis bulu babi, 1 jenis bintang laut, 31 jenis Foraminifera dan 3 jenis penyu. Kekayaan ini menarik minat banyak peneliti dan menjadikan Wakatobi surga bagi penyelam.
Penyu sendiri merupakan satwa unik. Fosil penyu laut dengan ukuran karapas 4 meter dikenal dengan nama Archeleon. Dulunya, ada 5 family penyu laut, sekarang sisa 2 famili, 3 lagi punah. Hasil penelitian juga menunjukkan, dari 30 generasi penyu, tersisa 6 generasi dari 7 spesies. Di Kepulauan Wakatobi, terdapat 3 jenis penyu yang bisa ditemui saat musim peneluran. Yakni penyu hijau, penyu belimbing dan penyu sisik.
Penyu belimbing bisa dikenali dari ukurannya yang besar, kadang mencapai 160 cm. Ciri khasnya terlihat pada lekukan rahang atas dan kulit licin. Penyu hijau bisa dikenali dari karapasnya yang keras, dan gerigi pada rahang yang digunakan untuk memotong lamun, makanannya. Penyu sisik mirip penyu hijau. Seringkali orang salah menilai, yang pasti penyu sisik memiliki sisik prefrontal dengan 4 pasang sisik dada dan sisiknya saling tumpang tindih.
Menurut penelitian Limpus, seekor tukik—anak penyu—memulai hidup yang unik dan penuh ancaman sejak masa peneluran. Hidupnya berawal dari migrasi seekor penyu dewasa yang kadang menempuh jarak paling pendek 100 kilometer atau mencapai 3000 kilometer. Umumnya penyu dewasa bermigrasi di daerah pemijahan. Penyu jantan tergolong play boy, sangat aktif secara seksual. Ia bisa saja kawin dengan 7 betina berbeda dalam satu bulan. Musim peneluran berikutnya, ia akan kawin dengan beberapa penyu betina lagi.
Selanjutnya, penyu betina akan bergerak ke daerah peneluran. Ia membutuhkan pasir yang tidak becek atau terlalu kering. Penyu sangat sensitif, kegiatan sekecil apapun akan mengganggu mereka. Penelitian menunjukkan, seekor penyu betina yang hendak bertelur kadang mencoba 1 hingga 39 kali naik ke darat dalam semalam, namun gagal karena gangguan kecil :cahaya lampu, gerakan atau bunyi.
Ancaman lainnya berasal dari hewan yang suka menyantap telur penyu. Dari sekitar 50-100 telur dalam sarangnya hanya sebagian yang selamat. Tukik akan muncul setelah 50 atau 60 hari. Jenis kelaminnya sangat ditentukan suhu. Kelamin betina bila suhu di atas 29,5 derajat celcius, jantan bila suhu di bawah 29 derajat. Begitu muncul dari cangkang telur, mereka akan berlarian ke laut, menghirup bau air yang disentuhnya dan merasakan sinar matahari. Setelah itu tukik tak akan makan dan tidur 3 hari. Hidupnya tergantung pada kuning telur yang dibawanya saat lahir. Ia sekaligus akan belajar menghadapi ancaman yang datang dari burung elang, ikan hiu atau bahkan lumba-lumba. Mereka berjuang untuk hidup hingga dewasa dan kata Limpus, kemungkinannya hanya 1:1000.
Pada saat itu, tukik akan terbawa arus ke laut lepas dan membuat mereka kadang tak terpantau 20-50 tahun. Ini disebut tahun-tahun hilang. Menjelang musim kawin dan peneluran, penyu-penyu itu kembali ke lokasi lahirnya. Ada yang mengarah ke Pulau Anano-Runduma, bisa jadi, bayangan penyu itulah yang dilihat tim monitoring, bergerak-gerak seperti titik hitam dan merasa terancam. Penyu itu tak tahu bahwa puluhan warga Runduma telah mengeluarkan peraturan desa untuk menghentikan penjualan dan pengambilan telur penyu. Pemburu penyu dilaporkan ke pihak berwajib. Meskipun, menurut Hatipa, siapa yang bisa memantau pemburu penyu yang datang malam hari dan pergi diam-diam dari pulau terpencil ini?
”Tapi tidak apa-apa, kan untuk kita juga ji”, serunya.
Artinya, ini tak sekadar soal penyu tapi tentang rencana besar untuk menyisakan sejarah dan kekayaan nyata pada generasi selanjutnya di Wakatobi. (Naskah :Indarwati Aminuddin, anggota komunitas Pantau dan kini bekerja untuk WWF Indonesia di Sulawesi Tenggara)


Sunday, June 06, 2010

Pemutihan Karang Makin Meluas, Ikan Napoleon Penjaga Keseimbangan Menyusut


Wakatobi, Kompas - Pemutihan karang saat ini meluas di sejumlah wilayah perairan Indonesia. Termasuk pula di wilayah perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang disebut-sebut sebagai jantung karang dunia dan terletak di wilayah segitiga terumbu karang Asia-Pasifik.

Sebelumnya, Pusat Penelitian Oseanografi pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan, fenomena pemutihan karang telah terjadi secara massal, terbentang dari perairan Pulau Weh, Nanggroe Aceh Darussalam, hingga Nusa Tenggara Timur.

Karang yang membentuk kumpulan menjadi terumbu karang ini jika terserang pemutihan akan memiliki persentase kematian antara 60 dan 90 persen. Di Wakatobi, pemutihan masih terjadi di beberapa titik terumbu karang yang lokasinya mulai menyebar.

”Ini menjadi indikasi dampak pemanasan global. Kenaikan suhu muka laut naik mengakibatkan pemutihan pada terumbu karang,” kata Kepala Bidang Inventarisasi Sumber Daya Alam Laut pada Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) M Yulianto, Kamis (3/6) di Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Bakosurtanal menyurvei perairan Wakatobi akhir-akhir ini untuk pemetaan atau inventarisasi sumber daya alam laut yang dimiliki beberapa pulau kecil. Sebelum Wakatobi, tim Bakosurtanal menyurvei pulau-pulau kecil di Maluku Tenggara Barat.

”Meitike”

”Di Maluku Tenggara Barat pada bulan Mei 2010 terjadi meitike, yaitu bahasa lokal untuk fenomena air laut ketika surut lebih lama dari biasanya. Meitike bisa sampai enam jam,” ujar Yulianto.

Meitike ini memungkinkan pula terjadinya pemutihan akibat gangguan terhadap terumbu karang oleh manusia. Pada saat meitike, penduduk menangkap ikan yang masih terperangkap di sela karang sehingga karang-karang kerap terinjak.

Putu Suastawa, anggota Polisi Kehutanan pada Balai Taman Nasional Wakatobi, menjadi pemandu penyelaman tim Bakosurtanal. Menurut Putu, pemutihan karang di Wakatobi ini baru saja terjadi dan menjadi fenomena baru.

”Selama tiga tahun bekerja di Taman Nasional Wakatobi, baru kali ini menjumpai pemutihan terumbu karang,” kata Putu.

Dia mengatakan, pada Maret 2010 ia mengikuti periset dari Inggris menyelam di Wakatobi. Mereka belum menemukan pemutihan pada terumbu karang, tetapi periset dari Inggris itu mengatakan, telah terjadi tanda-tanda pemutihan karang.

Bupati Wakatobi Hugua mengatakan, pemutihan terumbu karang yang terjadi di mana-mana saat ini menjadi fenomena massal. Penyebab hal ini perlu segera diketahui. Kemungkinan besar sebagai dampak perubahan iklim.

Ikan napoleon

Tim dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI dalam waktu bersamaan pekan ini meriset pula wilayah perairan Wakatobi. Salah satu perisetnya, Dirhamsyah, mengatakan, populasi ikan napoleon (Cheilinus undulatus) di Wakatobi dikhawatirkan terus menyusut sehingga kemungkinan keseimbangan alam untuk kelestarian terumbu karang mulai terkikis.

Ikan napoleon dikenal memakan telur bulu seribu (Acanthaster plancii). Bulu seribu ini hewan pemakan karang yang sekaligus mengganggu kelangsungan hidup karang. (NAW)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/05/03561274/.pemutihan.karang.makin.meluas

Wednesday, June 02, 2010

Menyegarkan kembali semangat bersih2 di Wangi-Wangi

Pagi ini walaupun waktu jogging sudah kelewat jamnya namun kesempatan berolahraga pagi masih bisa. Maklum dari semalam hujan deras sekali hingga pagi, sehingga tidur pun berlanjut hingga pukul 7 lewat. Tapi pukul 8.00 tetap badan ini harus sudah bangun untuk 'berolahraga'.
Hari ini adalah hari kedua untuk kerja bakti membersihkan pasar kota dari sampah plastik. Dimulai kemarin ketika Bupati mempimpin langsung pembersihan di . Diperingati dengan menyegarkan kembali semangat pembersihan kota dari sampah plastik. Kurang lebih dua tahun lalu sudah dicanangkan oleh Bupati Wakatobi, Hugua, gerakan Hari tanpa Sampah Plastik, dimana seluruh warga didorongkan untuk membersihkan lingkungannya dari sampah plastik. Gerakan ini mengendor dengan berjalannya waktu. Namun gagasan yang baik ini tentunya tidak boleh padam. Badan Lingkungan Hidup Kab. Wakatobi, mengundang staf SKPD lingkup Wakatobi untuk kerja bakti membersihkan sampah pasar sebagai penyegaran.
Semoga ini berlanjut dan menularkan virus 'ogah ada sampah plastik bertebaran' ke seluruh warga Wakatobi

Saturday, May 01, 2010

Wakatobi: A paradise for divers

“Wow... it’s beautiful,” said a passenger sitting beside me as he was watching a vast expanse of blue sea and green terrain from the plane window upon its landing at Matahora Airport, Wakatobi, Southeast Sulawesi.

Heaven underneath: A diver observes coral reefs at Waha, Wakatobi archipelago, Southeast Sulawesi.

Heaven underneath: A diver observes coral reefs at Waha, Wakatobi archipelago, Southeast Sulawesi.

Its gorgeous beach covered with white sand was clearly in sight, enhancing the magnificence of Wakatobi archipelago.

Passengers seated in the middle also tried to peek from nearby windows for a better view of the panorama outside. Nearly all those boarding the plane with a capacity of 30 people were amazed as it touched down at the airport located in Wanci, Wangi-wangi Island.

Wakatobi is an acronym of the names of major islands composing this island group: Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia and Binongko. The other name is Tukang Besi as the islands’ population is famous for its blacksmiths, who used to supply the domestic and war equipment for the Buton kingdom.

As part of the Heart of the World Coral Triangle Center, Wakatobi is believed to have become a magnet for divers from all over the globe. Marine expert Jacques Cousteau even described Wakatobi as the finest diving site in the world.

Wakatobi has at least 100 diamond-class dive sites. Situated between Banda and Flores seas, the island group has the most beautiful coral ridges in the world’s coral triangle. The coral ridges found in Kaledupa are even the longest in the world, extending along 48 kilometers.

“Top dive sites are mostly located in Tomia,” said Jupri from the Fisheries and Maritime Affairs Ministry. “There we can see various species of fish and coral reefs,” he added. Jupri has worked in the Wakatobi National Park for three years now.

Ragged-finned firefish (Pterois antenatta)

Ragged-finned firefish (Pterois antenatta)

Wakatobi’s varied and unique marine resources with its enchanting underwater panoramas make this archipelago a submarine paradise lying in the Heart of The World Coral Triangle Center, a zone with the highest diversity of coral reefs and other biota covering the Philippines, Indonesia and Solomon Islands.

The underwater biodiversity of Wakatobi is claimed to be higher than that of the Caribbean and Egypt, currently known as the world’s top diving centers. Around 90 percent of the globe’s 850 coral species or 750 species are found in Wakatobi. The Caribbean, famous for its marine tourism, only has 50 species and the Red Sea, Egypt, 300 species.

At last, my dreams of diving in Wakatobi waters came true, after skin diving in Raja Ampat, Papua, two years ago, and later in Tulamben, Bali and Bunaken, North Sulawesi.

At midday, with seven other divers, I began my first dive on Hoga Island. It took about 45 minutes to reach this island from Wang-wangi by speedboat. Hoga has been the center of Operation Wallacea — a series of biological and conservation management research programmes — activities since 1995. Several students, mostly from Britain, have been conducting research in the area of Wakatobi National Park.

On this site we were diving along a slope of between 60 and 70 degrees. We had 30-meter visibility thanks to the clear seawater. Coral reef density was not so high and the number of fish species not so large either.

However, we could still observe gorgonian fans about 2.5-meters wide on coral along with giant barrel sponges.

There were also leaf corals, presenting attractive formations at a depth of 12 meters. Small fish such as cardinal and damsel fish were swimming around them, while hundreds of yellowback fusiliers were moving in a group near the surface.

The 45-minute dive failed to satisfy my curiosity as I hadn’t yet encountered anything that matched my expectations. I really wished to relish truly amazing views, those of the underwater paradise.

By afternoon we returned to Wangi-wangi and then on to Waha to join other divers. It was cloudy with a rather strong current in Waha. With the urge to watch submarine splendor, we began our dive in front of Waha’s drop-off.

A few moments after descending, a fantastic sight appeared before us. An extensive stretch of stunning coral reefs aroused our admiration.

Painted rock lobster sits in coral

Painted rock lobster sits in coral

We let ourselves drift along while enjoying the wall diving. A group of purple and bright yellow fish were swimming along the coral wall, followed by some batfish and butterflyfish in a marching formation.

Before dark, I decided to dive 25 meters deep. At 10-meter visibility, I kept drifting right before the wall, directing my torch at the coral while trying to identify the various biota. I was staring at black and white snappers and moorish idol. But as the current grew stronger, I couldn’t stay much longer.

Time went by so fast and we wound up our dive. On the surface, we could hear the call to dusk prayer. The sky was getting dark, golden yellowish on the horizon.

“This is great” said a diver, with which his peer concurred. “We’ve got to come back here tomorrow,” I proposed.

We returned to Waha the next morning. It had been raining hard that morning, which worried me a little. But fortunately the rain soon subsided and it was bright again. I enjoyed every bit of this last dive. On this site, Wakatobi proved its reputation as one of best dive sites in the world besides Raja Ampat in Papua.

As soon as I peered down underwater, a splendid sight emerged right before my eyes, more gorgeous than any artist could ever paint.

Dazzling, fresh and varied coral reefs in bluish seawater were teeming with colorful small fish moving around amid the striking natural surroundings.

Round and oval corals with very elegant textures, were growing along with soft corals.

Diving 18 meters deep, I saw a painted rock lobster hiding in its nest resembling a small cave. Some 1.5 meters from the first lobster, a second could be found snug in its hole, as if watching me taking the pictures of the other while gesturing with its antennae.

Slowly, I went further to a depth of 25 meters. After a little while, I noticed some ragged-finned fire fish, locally called lepu, swimming upside down under coral, and pixy hawkfish hiding in sponge.

After admiring the biota, I tried to again descend to 35 meters deep, where I could see a yellow trumpet fish swimming peacefully near a pink sea fan. In a few moments I ascended slowly to get back to the near-surface biodiversity.

The 40-meter visibility and the wide variety of observable undersea biota made me wish I could extend my diving experience.

Sadly, time was limited even though there were many more dive sites to visit. But this may well prompt me to go there again some day.

There’s still much more to explore. Ben, a British student who had to go home after two weeks’ of surveying on Hoga Island with several peers agreed.

“I’ll be back in July,” said the marine biology student aboard the boat that would take him to the site for another dive in the paradise of Wakatobi.

Sea wealth: Small fish swim around coral reefs at Waha.

Sea wealth: Small fish swim around coral reefs at Waha.

— Photos by JP/Arief Suhardiman

Arief Suhardiman, The Jakarta Post, Wakatobi, Southeast Sulawesi | Sat, 04/24/2010 9:56 AM

Wednesday, December 16, 2009

Kunjungan Duta Besar Amerika Serikat ke Wakatobi

Kepala Bappeda Ir. Abdul Manan MSc. mengkonfirmasikan ke saya bahwa Duta Besar AS akan hadir dalam Simposium yang akan diselenggarakan pada 14 - 16 Desember 2009 nanti. Bahkan beliau akan hadir dua hari lebih awal untuk menikmati kehidupan bawah laut Wakatobi. Untuk itu kami diminta membantu mendampingi kegiatan bawah air ini. Tentunya dengan senang hati kami menyiapkan diri.
Tak lama dari info tersebut Hugo Yon, staf Kedubes AS, mengirim email yang menyatakan rencana kedatangannya kedua kali ke Wakatobi.
Sudah tentu dalam rangka mendampingi bosnya, sang Dubes. Dan akan ada satu lagi dalam rombongan mereka, body guard katanya.
Singkat cerita pada tanggal 12 pagi kami mendapat konfirmasi bahwa rombongan kecil ini sudah terbang dari Jakarta dan diperkirakan tiba di Wakatobi pukul 14.00 WITA. Namun ternyata mereka tiba lebih awal. Pukul 13.00 mereka sudah tiba di Rumah Makan Wisata untuk makan siang bersama Bupati, MUSPIDA dan para pimpinan SKPD.
Karena hari masih cukup terang maka kami menawarkan satu kali penyelaman hari ini. dan memutuskan untuk menyelam. Penyelaman pertama ini memilih terumbu di pesisir desa Sombu, Pulau Wangi-Wangi. Beberapa waktu lalu kebetulan saya sempat snorkling di lokasi tersebut untuk memastikan amatan beberapa rekan penyelam lain yang menyatkan bahwa Sombu memiliki terumbu karang yang bagus. Penyelaman pertama ini diikuti oleh Dubes AS, Cameron Hume; Hugo Yon dan Bupati Wakatobi. Sebagai pendamping penyelam ikut serta LD Amaludin, Putu Suastawa dan saya sendiri. Tambahan satu penyelam lagi yaitu Dullah dari Kendari Ekspress sebagai dokumentasi penyelaman.
Penyelaman kedua dan ketiga akan dilakukan esok hari dengan target lokasi penyelaman di Karang Kaledupa dan di Pesisir Tomia atau Hoga. Penyelaman kedua yang dilakukan di Atol Kaledupa merupakan penyelaman yang akan memberikan kesan mendalam selanjutnya bagi Duta Besar Amerika tersebut. Titik penyelaman dimana kami menyelam tersebut beberapa hari setelah penyelaman kami ditawarkan oleh Bupati Wakatobi untuk diberi nama beliau. Ya! titik penyelaman tersebut kemudian secara resmi diberi nama Cameron's Pinnacle. Keren khan..
Semoga hal ini bisa mendorong partisipasi lebih aktif lagi masyarakat dunia seperti Mr Cameron untuk ikut serta menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang di Wakatobi. Semoga!

International Simposium "Coastal and Marine Management for Better Life"



Gelaran akhir tahun ini merupakan hasil kerjasama Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) dan Coral Triangle Community Foundation (CTCF). Kegiatan ini diselenggarakan di Gedung Wanita, Wangi-Wangi pada tanggal 14-16 Desember 2009. Rangkaian kegiatan yang panjang ini cukup melelahkan namun memberikan pengalaman baru bagi para kepala2 daerah yang hadir. Tercatat setidaknya 21 kabupaten dan kota di Indonesia hadir dari total 40-an yang mengkonfirmasikan hadir.

Monday, March 02, 2009

Seni Tenun Ikat dan Anyam Wakatobi

Melaju di Deru Perubahan Zaman
 
WAKATOBI – Percuma kalau pergi ke Wakatobi, bila hanya untuk menikmati rumpunan soft coral dan kehidupan orang laut Bajo. Karena di dalam gugusan pulau-pulau indah di kawasan Sulawesi Tenggara ini, masih tersimpan banyak daya tarik lainnya. Seperti menelusuri keindahan seni tenun ikat dan melihat pengrajin anyaman tikar lipat. 
Taman nasional laut yang terletak di tenggara Buton ini sepertinya memang sengaja terus menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru untuk menambah arus pemasukannya. Setelah sukses dengan keindahan bawah laut dan kehidupan orang Bajo, mereka mencoba menggagas kemungkinan wisata kerajinan yang bisa menjadi salah satu simbol kemudian hari di Wakatobi.

Mungkin nama sarung Wuray kurang terdengar akrab di telinga, apalagi anyam tikar dari Feruke. Tapi dengan keunikannya masing-masing, kedua jenis kerajinan tradisional ini mencoba menyeruak dan meminta perhatian agar diposisikan sebagai buah tangan yang layak untuk dibawa.
Seperti juga seni kerajinan daerah lain. Hingga sekarang mungkin masih saja terdengar kendala yang merapatinya. Namun, kalau mau melihat ke depan, sebenarnya jenis wisata seperti ini memiliki pasar tersendiri yang bisa terus digeluti.

Sarung Wuray 
Sambil menanti kedatangan pick-up yang akan membawa kami ke masjid. La Mahode, pemandu kami, menawarkan mengunjungi beberapa pengrajin tenun di sana. Di Pulau Kaledupa yang teduh di serambi-serambi rumahnya, ditemui banyak perempuan yang melakukan kegiatan menenun. Salah satu rumah di utara desa kelihatan juga menyimpan satu perempuan yang kelihatan sibuk di teras rumahnya yang bertingkat dua. 
”Sarung wuray ini biasanya hanya dipakai saat ada kegiatan khusus saja. Semacam perkawinan dan acara resmi keluarga di sini,” kata La Mahode. Kain dengan motif kebanyakan garis-garis ini juga terkenal karena daya tahannya. ”Kain yang saya pakai sekarang, merupakan warisan dari nenek saya,” kata La Mahode lagi menjelaskan secara implisit kekuatan sarung tersebut. Padahal, bila melihat bahan dasar yang berupa benang kapas biasa, sarung ini cukup menakjubkan karena mampu bertahan hingga 20 tahun lamanya. 
Dengan harga Rp150 – 200 ribu kita bisa memiliki kain sarung tersebut. Namun, sayang hingga kini keberadaan sarung tersebut hanya untuk konsumsi orang Buton. Penjualan paling jauh hanya ke kota Bau-bau. Padahal kalau mau diseriuskan, bisa saja menjadi tambahan bagi perekonomian sekitar. 

Tikar Lipat 
Satu lagi kerajinan asli Kepulauan Wakatobi yang rasanya pantas untuk dibicarakan adalah seni anyaman tikar lipat. Dengan bahan dasar daun pandan yang dikeringkan, dan kemudian dianyam menjadi tikar. Banyak penduduk desa Feruke mencoba menjualnya ke turis yang biasa datang ke sana. 
”Biasanya baru setelah dijemur selama tiga hari. Daun pandan siap untuk dianyam menjadi tikar liap,” ungkap seorang ibu. Harganya juga tidak terlalu mahal,berkisar antara 25 – 50 ribu saja, kita telah memiliki sebuah tikar lipat seukuran badan orang dewasa. Rasa sejuk yang keluar saat kita tidur di atasnya, menjadi daya tarik tersendiri di tengah teriknya udara lautan di sana. (slg)

Copyright © Sinar Harapan 2003

Ritual makan karang di Wakatobi

Oleh YOSHASRUL

Makan karang dan kulit kerang bagi bagi masyarakat umum tentu sesuatu yang mustahil. Tapi tidak sebagian warga di pesisir Kecamatan Kaledupa, Kabuten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Bahkan makan karang ini seolah sudah menjadi tradisi bagi warga disana.


Laode Biru mungkin tinggal satusatunya orang yang masih menjalankan ritual makan karang di desanya di wangi-wangi, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi hingga kini.

Tak heran jika laode biru yang sudah berumur lebih dari seratus tahun menjadi tontonan ratusan pasang mata saat pembukaan festival pesisir di kabupaten wakatobi provinsi sulawesi tenggara.

Dalam usianya yang telah mencapai 106 tahun orang tidak akan menyangka jika pria yang telah mencapai usia 1 abad lebih ini mampu memakan karang dan kulit kerang tanpa alat bantu apapun.

Laode Biru mampu memukau para tamu undangan dan masyarakat dalam satu acara ritual di kepulauan wakatobi sulawesi tenggara tanpa mengalami hambatan apapun.

Ritual yang telah diwarisi secara turun temurun ini semula sempat diragukan oleh banyak pihak karena melihat kondisinya yang sangat tidak mungkin dilakukan pria normal manapun. Apalagi dengan kondisi gigi la ode biru yang hampir tanggal semua.

Bagi Laode Biru, ritual makan karang bukanlah hal yang Baru. Sebab kebiasaan makan karang dan kulit kerang ini telah dilakoninya sejak berumur 2 tahun. ”Tradisi ini sebagai ucap syukur kepada sang kuasa atas limpahan rejeki bagi warga di pesisir,”kata Laode Biru.

Dalam aksinya pria yang juga merupakan tokoh adat masyarakat kaledupa dengan enteng memakan karang dan kulit kerang yang sebelumnya diperlihatkan kepada orang banyak.

Tak hanya Laode Biru, seorang pengunjung yang hadir dalam acara tersebut juga ikut menyantap karang dan kulit kerang yang berada dalam genggaman La Ode Biru. ”Saya mau mencoba,”Dasman, pengunjung yang nekat itu.

Sebelumnya Ia terlebih dahulu wajib mengikuti arahan Laode Biru. Namun Ia tak sanggup. ”Keras sekali kulit kerang itu, saya tidak sanggup,”katanya lagi.

Sayangnya tradisi makan karang dan kulit kerang yang diwariskan secar turun temurun oleh pendahulunya kini tidak lagi diwariskan ke generasi berikutnya dan la Laode biru adalah pewaris terakhir yang hingga saat ini masih bertahan hidup.

Saturday, January 10, 2009

Wakatobi Unggulkan Pesona Alam Bawah Laut

WAKATOBI - Salah satu pulau wisata di Wakatobi yang sering dikunjungi wisman asal Eropa dan Amerika untuk menyaksikan keindahan bawah laut Wakatobi. (SK/Ami Herman)

SUARA KARYA Jumat, 2 Januari 2009

Kalau Kota Bukittinggi (Sumatera Barat) bisa populer karena panorama alamnya yang indah dan berudara sejuk, Bali dikenal karena beragamnya keunikan adat istiadat dan seni budayanya, maka Wakatobi (di Sulawesi Tenggara) juga tak mau kalah.

"Kami ingin dikenal sebagai daerah wisata alam bawah laut. Jujur kami katakan, daerah kami jauh lebih menarik dibanding Karibia. Daerah kami bahkan sering disebut-sebut banyak wisatawan mancanegara sebagai daerah wisata alam bawah laut paling menarik di dunia," ujar Bupati Wakatobi Ir Hugua dalam presentasinya mengenai objek wisata Wakatobi, di ruang rapat Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Depbudpar, Jakarta, Selasa lalu.

Ikut mendengarkan penuturan Bupati Wakatobi itu selain Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Depbudpar Firmansyah Rahim dan Dirjen Pemasaran Pariwisata Sapta Nirwandar, juga Sekjen Depbudpar Wardiyatmo dan sejumlah wartawan.

Menurut Hugua, perkembangan Wakatobi sebagai daerah wisata alam bawah laut saat ini makin menggembirakan. Dukungan masyarakat untuk menjaga potensi kelautan juga terus membaik. Buktinya ialah makin berkurangnya masyarakat menggunakan bom laut untuk mengambil ikan. Masyarakat menyadari bom laut tidak hanya merusak biota laut yang selama ini menjadi rahasia daya tarik alam bawah laut Wakatobi, tetapi juga berpotensi mematikan nelayan pengguna bom itu.

"Dukungan masyarakat Kepulauan Wakatobi saat ini juga diperlihatkan dengan makin bermunculannya home industry yang tidak saja menjual makanan dan minuman segar, tetapi juga menyediakan cendera mata serta penginapan-penginapan dengan harga murah," ujar Bupati lagi.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Wakatobi sendiri di samping terus meningkatkan anggaran promosi kepariwisataan Wakatobi, juga secara terpadu menggerakkan semua potensi pembiayaan agar Wakatobi pada saatnya nanti bisa menjadi ikon kepariwisataan bahari Indonesia. "Bahkan, dalam waktu dekat ini, kami akan memiliki dua bandar udara yang bisa dimanfaatkan wisatawan mancanegara datang ke Wakatobi," kata Hugua.

Bandar udara yang pertama dibangun investor asal Swiss beberapa tahun lalu. Kemudian bandar udara yang akan diresmikan penggunaannya dalam waktu dekat dibangun Pemkab Wakatobi, terletak di Kepulauan Wanci.

Dengan adanya dua bandara itu, dipastikan Wakatobi akan makin sering dikunjungi wisman dan wisnus dari berbagai tempat. Para wisatawan berdatangan ke daerah ini utamanya ingin menyaksikan daya tarik alam bawah laut yang ada di pulau-pulau di kawasan wisata bahari Wakatobi.

Pesona alam bawah laut Wakatobi disebut-sebut banyak wisman asal Eropa dan Amerika Serikat paling menarik di dunia antara lain karena bentuk karang laut dan spesies ikan hias yang dimilikinya jauh lebih beragam dan unik. Agar keindahan bawah laut Wakatobi itu senantiasa diberitakan berbagai wartawan Indonesia dan mancanegara, setiap tahun Wakatobi menggelar lomba foto bawah laut tingkat dunia dengan hadiah ribuan dolar Amerika Serikat (AS).

Untuk lomba foto tingkat internasional tahun 2008, yang diikuti 65 peserta dari 9 negara, menurut ketua dewan juri Michael AW dari Singapura dan Makarios Soekojo dari Indonesia, pemenangnya mencapai 13 orang. Pemenang utamanya untuk kategori Best of Show adalah Hermawan Wong, yang meraih hadiah 4 ribu dolar AS. Pemenang kedua, Michael Sukri, meraih 3.000 dolar AS dan pemenang ketiga, Sofi Sugiarto, meraih hadiah 2.000 dolar AS. (Ami Herman)

Saturday, December 20, 2008

Dewan Pesisir Wakatobi Gelar Pertemuan Semester II

Wangi-Wangi, Kepres - Dewan pesisir Wakatobi yang terdiri dari perwakilan sejumlah organisasi dan profesi, Selasa (16/12) lalu melakukan pertemuan semester II. Bertempat di Aula RM Wisata Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi. Salah satu tujuan dari pertemuan ini yakni melakukan review atas pelaksanaan tugas Dewan Pesisir Wakatobi. Salah satu tugas dari Dewan Pesisir ini yakni memberikan masukan pada pihak pengelola terumbu karang Wakatobi. Dalam hal ini PMU Coremap II Wakatobi.

Dalam pertemuan ini, ditarik beberapa kesimpulan yang nantinya akan disusun dalam sebuah rekomendasi untuk PMU Coremap II. Diantaranya perlu peningkatan peran media lokal dalam memberikan informasi yang dapat mebuka wawasan dan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan terumbu karang yang berkelanjutan. Serta perlunya peningkatan kerjasama dengam lembaga-lembaga yang konsen dalam melakukan konservasi sumber daya alam di Wakatobi. 

Pertemuan ini dihadiri oleh, Ir Salim yang mewakil Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Wakatobi, Ir Veda Santiaji Pimpinan TNC WWF Wakatobi, Ir Abdul Haris coordinatir tim leader Coremap II Wakatobi, dan Abd Rahman konsultan publik awarnes Coremap II Wakatobi. Hadir pula sejumlah tokoh pemuda, tokoh agama yang juga tergabung dalam Dewan Pesisir ini. 

Sekedar diketahui, sekitar awal juni 2008 lalu Dewan Pesisir ini juga telah melakukan pertemuan yang sama dan berhasil melahirkan sejumlah rekomendasi. Selain pertemuan semesteran semacam ini Dewan Pesisir juga akan melakukan pertemuan tahunan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.CR2/B/LEX

KENDARI EKSPRESS 17 DESEMBER 2008

Friday, December 05, 2008

Wakatobi Pusat Penelitian Bawah Laut Dunia


WAKATOBI, KOMPAS, 5 Desember 2008 - Kekayaan keragaman hayati atau biodiversity terumbu karang di kawasan Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, bukan cuma menarik untuk kepentingan pariwisata, melainkan juga ilmu pengetahuan dan penelitian. Bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi ternama di Eropa, Pemerintah Kabupaten Wakatobi akan menjadikan Taman Nasional Wakatobi sebagai pusat keunggulan dunia untuk penelitian bawah laut
 
"Proses pembangunan pusat keunggulan penelitian bawah laut dunia itu sedang dalam persiapan," kata Hugua, Bupati Wakatobi, di Wangi-wangi, Wakatobi, Kamis (4/12).Hugua menyebutkan. Wakatobi layak mengklaim sebagai surga nyata bawah laut di jantung segitiga terumbu karang dunia yang meliputi enam negara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Niugini, Pulau Solomon, dan Timor Leste. Taman Nasional Wakatobi memiliki 750 jenis terumbu karang dari 850 jenis terumbu karang di dunia.
 
"Dari tiga pusat penyelaman kelas dunia, Wakatobi lebih unggul dan menakjubkan. Ini sudah diakui dunia. Karibia hanya punya 50 jenis terumbu karang, sedangkan Laut Merah (Mesir) punya 300 jenis terumbu karang," jelas Hugua.Selama ini, peneliti dari sejumlah negara datang ke Wakatobi untuk meneliti biodiversity bawah laut Bahkan, pada 2009 ratusan peneliti dunia akan mengadakan pertemuan untuk presentasi soal kajian bawah laut di Wakatobi,Sebagai tahap awal, kata Hugua, Pemkab Wakatobi menyiapkan bangunan di Pulau Hoga untuk menjadi laboratorium lahanbasah (wetland laboratorium) pada 2009. Untuk sumber energi, dikembangkan dari tenaga air, angin, atau matahari.Veda Santiaji, Project Leader Joint Program The Nature Conservancy-WWF untuk Taman Nasional Wakatobi, mengatakan sumber daya alam di Wakatobi sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai laboratorium alam yang luar biasa. WWF mengidentifikasi delapan sumber daya alam yang penting di Taman Nasional Wakatobi.Sumber daya alam di Wakatobi itu meliputi terumbu karang, mangrove, lamun atau padang rumput laut (sea grass), daerah pemijahan ikan, mamalia laut, burung-burung migrasi, penelur-an penyu, dan ikan-ikan pesisir. Tetapi yang penting, Pemkab Wakatobi harus tegas soal zonasi wilayah yang sudah disepakati," kata Veda. (ELN)

Wednesday, December 03, 2008

Students head marine conservation in Wakatobi

Matahora is a fishing village on the island of Wangi-wangi, one of four in an island chain which comprises the Wakatobi National Park, Southeast Sulawesi. 

After Wangi-wangi the chain extends southeast -- Kaledupa, Tomia, Binongko -- between the Banda and Flores seas. The quartet makes up the territory of Wakatobi regency, which has much water and little land: 823 square kilometers are islands and 55,113 square kilometers are ocean, 98.5 percent of its total area. 

Wakatobi was declared a protected area in 2002. 

"Wakatobi can claim some of the broadest biological marine diversity in the world," said Ali Basaru, an environmental activist and public high-school teacher from Matahora. 

Ali cited data on coral: Ninety percent of the world's 850 species can be found in Wakatobi regency. 

Research conducted by the Coral Reef Rehabilitation and Management Program from the Indonesian Institute of Sciences (COREMAP LIPI) in 2007 recorded 942 species of fish in the region. It also discovered the world's longest atoll, the coral island of Kaledupa, which spans 48 km. 

Ali said the coral reefs around his village, particularly those along the island's eastern shoreline, were severely damaged between 1998 and 2001. 

"There was a lot of illegal fishing going on with explosives and poisons. The ecosystem was damaged, which then cut into the fishermen's catches." 

Anggun Ciputri Pratami, 18, one of Ali's students, said people near the village had been quarrying coral and stealing sand during that period. 

"The marine and shoreline ecosystem was damaged by locals and outsiders. Unscrupulous fishing was trying to meet export needs to increase their income and they didn't heed good conservation practices," Anggun said. 

Anggun said the rural community and administration in 2002 had begun efforts to restore the coral ecosystem around their village. 

"They gave the lagoon area, Ou Matahora, special protection status.... The open-close system has been in effect in that protected area." 

The open-close system is a traditional marine conservation strategy which allows the area to be open for use by Matahora villagers but closed to outsiders. The Matahore people are responsible for protecting the area at the same time. 

Anggun and her two classmates, Dian Ekawati (18) and Musriani (17) conducted research from May to August 2008 on the effectiveness of this moderate conservation strategy. The three undertook field surveys, studied relevant literature, drew up site maps and interviewed local residents. 

"This system has proven to be effective for rehabilitating damaged coral reefs," Dian said. 

Based on the team's observations, 96 percent of the lagoon's coral is now growing better than eight years ago, thanks to the conservation effort. Fishing in the lagoon is open only during a certain period for local ceremonial practices, and then only after consulting with village leadership. 

"Ou Matahora is closed to all outsiders, not just those using equipment hostile to the environment," Dian said, adding local residents who fished near the lagoon were required to use environmentally friendly equipment. 

Violators could face warnings, customary sanctions and fines. 

The young researchers said they hoped other regions in Indonesia, particularly those around Wakatobi, could imitate the coral reef conservation efforts Matahora villagers have undertaken. They also suggested regional authorities facilitate the local endeavor by legalizing existing customary rules for effective control. 

The group's research efforts earned Anggun and her peers third place in the Young Innovator Contest III for Indonesia's Coral Reef Conservation 2008, organized by COREMAP LIPI on Oct. 24-25 in Jakarta. They presented a working paper to marine experts on Ou Matahora, describing the lagoon as a potential fish bank to support sustainable fishing. 

Since 2007, Wangi-wangi's high school has taught marine conservation as part of its local curriculum. The subjects has also been taught at Wangi-wangi's primary school. 

Ali Basaru said making the subject a full part of the curriculum brings home to the students the importance of safeguarding environmental conditions around their school and homes. 

"Some 70 percent of the studies involve field practice and the rest is theoretical classroom work. So students are taught to practice direct observation in nature," he said. 

Field studies, he added, had proven to be very effective because students could directly observe actual objects or natural conditions. To learn about the coral reefs, Wangi-wangi students snorkeled or dived around the island. 

"They've become more acquainted with the diversity of coral reef and marine biodata through direct experience," said Ali, who sidelines as a marine researcher and dive guide in addition to his teaching and activism. 

He said when his students observed sea grass they discovered various plant species growing around their village that they hadn't seen in their textbooks. 

"Their findings didn't match what the books said. Perhaps the author had gotten pictures and species samples from other regions. 

"Textbook descriptions are often different from actual circumstances in nature ... when the students are taken to coral areas, they can see for themselves the actual conditions and better examine their shapes, sizes and colors," he added. 

Musriani, 17, a second-year Wangi-wangi high school student, said outdoor surveys were very exciting. 

"We can immediately see a wide variety of flora and fauna in the sea and around the shore," she said, adding field work was a valuable experience which acquainted her both with the marine biota and with the ecosystem damage caused by human behavior. 

Through her observations, Musriani said she discovered why coral growth in Ou Matahora had proceeded so fast. Within eight years, damaged coral reefs in Ou Matahora were now almost totally restored. 

"It's because Wakatobi waters are very rich in nutrients conducive to the growth of coral and fish," said the school's research team member. 

In view of the great potential of natural resources in Wakatobi National Park, elevating marine conservation as a full-fledged subject in the schools is a wise move. 

The park has great tourism potential: Its gorgeous beaches and fascinating aquatic panorama attracts foreign tourists and marine wildlife researchers alike. 

"With its conserved marine wealth and unique ecotourism features, our archipelago can bring economic benefit to the local population," Ali said.

Bambang Parlupi ,  Contributor ,  Wakatobi   |  Tue, 12/02/2008

Monday, August 25, 2008

Menengok Jantung Karang Dunia

WAKATOBI. Kawasan kepulauan dekat Pulau Buton ini disebut-sebut sebagai “jantung karang dunia”. Di perairan itu memang muncul sebuah keajaiban alam. Sebuah gugusan pulau karang membentang sekitar 48 kilometer, dengan luas 90 ribu hektare, yang menjadikannya karang terpanjang di dunia.

Di situlah para penyelam internasional bersaksi, di dasar lautnya terdapat panorama terumbu karang yang paling cantik, penuh keanekaragaman ikan yang tak ada duanya di dunia, bahkan dibanding Karibia. Dengan snorkeling sebentar, kita dapat menemui barracuda, ikan badut, dan kuda laut.


Dan siang itu–dalam perjalanan menuju “surga” tersebut–kapal motor yang saya tumpangi pontang-panting digoyang ombak keras Laut Banda. Perjalanan ditempuh dari Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. Dengan perahu cepat itu, Kendari ke Wangi-Wangi, salah satu pulau di sana, biasanya ditempuh tiga setengah jam. Namun, ombak ganas hari itu membuat perjalanan kami memakan waktu delapan jam.

Nama Wakatobi diambil dari singkatan empat pulau utama: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Pertengahan April 2008 lalu, saya bergabung dalam sebuah ekspedisi mengeksplorasi potensi wisata Wakatobi. Acara ini diadakan Pemerintah Kabupaten Wakatobi, diikuti sejumlah wartawan dari Jakarta dan lokal. Kami bermaksud mengunjungi keempat pulau tersebut.

Sejak 1996, pemerintah meresmikan perairan Wakatobi menjadi Taman Nasional Wakatobi.  Sebuah keputusan yang saya kira tepat, karena sebagaimana hasil penelitian Operation Wallacea, sebuah lembaga penelitian yang berpusat di Inggris: Wakatobi mempunyai angka tertinggi di dunia untuk keanekaragaman biota lautnya. Lembaga ini mencatat ada 942 spesies ikan hidup di sini.

Di Wakatobi juga terdapat 750 spesies karang dari 850 spesies yang ada di muka bumi. Bandingkan dengan dua pusat terumbu karang lain di dunia. Laut Merah yang hanya mempunyai 300 spesies, sedangkan Laut Karibia hanya 50 spesies.

Pulau-pulaunya juga menyimpan keunikan. Di situ misalnya ada perkampungan para “petualang laut” terkenal suku Bajo. Di beberapa tempat juga terdapat peninggalan sejarah–kejayaan kekuasaan Kesultanan Buton.

***

Kami akhirnya tiba di Wangi-Wangi, pulau terbesar dengan penduduk 50 ribu jiwa, ibu kota kabupaten. Pagi itu tampak sebagian warga memulai aktivitas mereka. Di Desa Liya Mawi, kaum ibu terlihat sibuk memanen rumput laut sembari mengasuh anak mereka. Tumbuhan berkhasiat ini diangkat dari tempat persemaian di laut, tak jauh dari pantai. Rumput laut atau disebut garanggang adalah penghasilan utama mereka. Setelah dipanen, garanggang dijemur kemudian dijual Rp 7.000-8.000 per kilogram.

Tak syak, masyarakat Kepulauan Wakatobi mengandalkan penghasilan utama dari laut. Meski begitu, ada juga sebagian warga Wanci–sebutan lokal untuk Wangi-Wangi–yang berdagang barang bekas impor. “Mereka berburu barang sampai ke Singapura pakai kapal kayu, lalu dijual di sini,” kata Saleh, warga lokal yang menemani saya jalan-jalan di pulau itu.

Wangi-Wangi sempat dikenal sebagai daerah pemasok barang bekas impor berharga murah. Dari pakaian bermerek terkenal, barang elektronik, sampai kendaraan bermotor “beredar” di sini. Saya sempat heran ketika melihat motor gede merek Aprilia melintas di depan saya. “Di sini motor seperti itu bisa dibeli seharga Rp 10 juta saja,” ujar Saleh, yang juga aktivis World Wildlife Fund. Buset.. kata saya dalam hati, karena di Jakarta, merek terkenal itu mungkin harganya lima kali lipat.

Saya mengunjungi Masjid Liya di Wangi-Wangi. Masjid ini konon tertua setelah Masjid Keraton Buton di Pulau Buton. Letak masjid ini di atas bukit, di dekat Benteng Liya Togo. Di zaman penjajahan Portugis dan Belanda, tempat ini merupakan salah satu benteng pertahanan. Tak jauh dari benteng, ada makam Talo-Talo, pemimpin kadiye atau “kerajaan kecil” bagian Kesultanan Buton. Talo-Talo dalam bahasa setempat berarti “dia yang mengalahkan”.

Ada pula makam Djilabu, ulama penyebar syiar Islam daerah itu. Sejumlah bangunan bersejarah ini berada di Desa Liya Togo. Sesuai dengan artinya, tempat ini dulu togo atau pusat kota. Tiap-tiap Lebaran desa ini menyelenggarakan ritual adat Posepa, semacam tawuran massal yang diakhiri dengan bermaaf-maafan, di tanah lapang di depan masjid. Rumah peninggalan La Ode Taru tak jauh dari Masjid Liya. La Ode Taru “raja kecil” terakhir Liya yang dibunuh pada zaman penjajahan Jepang.

Sorenya saya mengunjungi pasar malam Wanci. Pasar itu menjual berbagai kebutuhan warga Wangi-Wangi. Ikan berbagai ukuran, dari yang kecil sampai sebesar anak umur empat tahun, juga ada.

***

Pukul dua dini hari. Tatkala sunyi menyelimuti warga Wangi-Wangi, kami menuju ke Kaledupa. Sebuah kapal pinisi putih bernama Menami yang buang sauh 500 meter di lepas pantai pelabuhan kecil Wangi-Wangi telah menanti kami untuk perjalanan ke Kaledupa.

Pinisi itu sulit bersandar di dermaga karena air laut surut. Untuk mencapainya, kami naik speedboat. Pelayaran dari Wangi-Wangi ke Kaledupa dengan kapal Menami yang punya kecepatan maksimum delapan mil per jam butuh waktu tiga jam.

“Kita berangkat dini hari. Biar pukul lima pagi kita sudah masuk perairan Kaledupa,” kata Veda Santiaji, project leader The Nature Conservancy- World Wildlife Fund, yang memimpin pelayaran.

The Nature Conservancy dan World Wildlife Fund adalah dua lembaga yang dalam lima tahun ini buka base camp di Wakatobi. Bersama pemerintah setempat, kedua lembaga itu memonitor kawasan taman laut nasional.

Kami memasuki perairan Kaledupa ketika matahari masih malu-malu memperlihatkan wajahnya.  Sunrise begitu indah di tempat ini. Pukul enam, kapal buang sauh di perairan yang diapit Pulau Kaledupa dan Hoga. Saya tak sabar bergegas pindah ke kapal motor untuk merapat ke Pulau Hoga.

Meski pulau kecil, Hoga adalah salah satu tempat favorit penyelam profesional dalam dan luar negeri. Di pulau ini terdapat Marine Research Station, yang dikelola Operation Wallacea. Biasanya musim penyelaman terjadi sepanjang satu bulan pada Maret atau tiga bulan sepanjang Juni-Agustus (musim panjang). “Musim panjang, tamu yang datang bisa ratusan orang,” kata Asri, pengurus stasiun riset itu.

Umumnya mereka mahasiswa Eropa dan Amerika yang meneliti biota laut. Di tempat ini mereka bisa tinggal berminggu-minggu. Saya sempat jalan-jalan di pulau teduh dengan rerimbunan pohon itu. Lewat jalan setapak, saya mengelilingi area penginapan para peneliti asing tersebut. Ada sekitar 200 penginapan sederhana, berbentuk rumah panggung kecil dari kayu, tersebar di sebagian pulau. Itu milik warga Kaledupa. “Sewanya Rp 40 ribu semalam tiap orang,” ujar Asri. Harga yang murah untuk orang asing.

Bupati Wakatobi, Hugua mengatakan kehadiran stasiun penelitian itu dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat. Selain mendapat uang sewa penginapan, warga memperoleh penghasilan dari penyediaan makanan untuk mereka. “Operation Wallacea cuma tangani penelitian. Penginapan dan makanan diserahkan ke warga,” kata Hugua.

Sayang, lantaran waktunya tidak tepat, saya tak menemukan satu bule pun di sana. Ratusan penginapan itu kosong melompong, meski adakalanya pulau ini penuh sesak. Wajar jika Hoga jadi daya tarik para penyelam. Pantainya sangat indah berpasir putih, nyiur melambai menyambut siapa pun yang datang. Tak satu pun bungkus permen atau biskuit saya temukan. Kebersihannya terjaga, pemandangan langka di pantai-pantai wisata di Jawa.

Dari atas dermaga kayu, saya melihat ikan warna-warni bermain di celah terumbu karang. Air lautnya jernih, memungkinkan saya menonton pemandangan dasar laut tanpa harus terjun ke air. Pulau Hoga mengingatkan orang akan keindahan laut dan pantai di film The Beach yang diperankan Leonardo DiCaprio. Tak terasa, dua jam kami berjalan-jalan di Hoga. Kami harus kembali ke kapal Menami.

Di kapal ternyata ada rombongan lain bergabung. Mereka menyusul dari Wangi-Wangi naik speedboat. Ada tim penyelam profesional yang akan membuat film bawah laut dengan Nadine Chandrawinata sebagai bintang-nya. Mantan Putri Indonesia itu ditemani ayahnya, Andy Chandrawinata.

Dan peralatan selam kemudian disiapkan. Dua buah boat parkir di sisi kapal Menami, siap mengantar ke Hoga Channel. Ini sebuah dive site atau situs penyelaman yang terletak antara Pulau Hoga dan Kaledupa. Di sini kami membagi dua tim. Tim pertama menyelam hingga kedalaman 20 meter. Tim ini tentu melengkapi diri dengan pakaian selam (wet suit), sepatu katak (fin), masker, dan tabung oksigen. Nadine, yang kini rajin menyelam, tentu di tim pertama.

Saya sendiri bergabung dengan tim kedua, ber-snorkeling ria. Kami tak perlu tabung oksigen. Cuma modal kacamata snorkel dengan selang menjulur ke atas untuk nyemplung ke laut. Selang ini membantu bernapas dengan mulut saat berenang dengan kepala di bawah permukaan air untuk melihat pemandangan dasar laut. Karena itu, tim kami memilih lokasi yang tak terlalu dalam, dua setengah sampai lima meter saja. Saya tidak mau ambil risiko ikut tim pertama menyelam puluhan meter. Jujur, saya tak punya keterampilan menyelam. Ingat semboyan, “Safety first.”

Meski cuma snorkeling, saya mendapat pengalaman tak kalah keren. Di Wakatobi, snorkeling pun bisa menyaksikan “surga” bawah laut. Karang warna-warni menggerombol di sana-sini. Anemon fish atau ikan badut bermain di sela-sela karang lembut anemon yang jadi rumah mereka. Apa jadinya jika karang indah itu rusak gara-gara pemakaian bom ikan?

Makhluk laut yang cantik itu tentu tak lagi bisa bermain dan berkembang biak di sana. Kelestariannya sangat bergantung pada kelestarian karang. Cipto Aji Gunawan, penyelam profesional yang ikut dalam kegiatan ini, mengatakan ada jenis ikan yang bertelur di karang, tapi banyak juga jenis yang tinggal dan hidup di sana. “Lebih dari 33 persen jenis ikan laut bergantung pada terumbu karang,” ujar konsultan pengembangan wisata bahari ini.

Selain Hoga Channel, ada sekitar 20 situs penyelaman tersebar di perairan Wakatobi. Di antara itu, ada yang menjadi favorit para penyelam. Itulah situs Pinnacle, di dekat Pulau Hoga. Di Kaledupa ada Karang Kaledupa dan di Pulau Tomia ada Mari Mabuk. Setiap situs ini punya keunikan masing-masing. Seperti di Karang Kaledupa, terdapat table coral (karang berbentuk meja) berukuran 2-3 meter. “Ini jarang dijumpai di dive site lain,” kata Cipto.

Soal keindahan struktur karang, Pinnacle pusatnya. Di situs ini, karangnya bergunung-gunung, sesuai dengan namanya, Pinnacle atau “puncak”. Lokasi ini juga menjadi habitat ikan barracuda yang jarang ditemui di tempat lain. Ikan berbentuk lonjong seperti peluru itu termasuk hewan laut tercepat. Di Pinnacle, ikan barracuda bergerombol. Hoga Channel lain lagi. Di lokasi ini bisa dijumpai pygmy, kuda laut berukuran sangat kecil. Nadine sampai dua kali menyelam hari itu. Keindahan bawah laut Wakatobi tak pernah ia temukan di tempat lain. “Karangnya indah, ikannya cantik-cantik,” ujarnya.

***

Pada hari ketiga saya mengunjungi Pulau Tomia. Seperti dari Wangi-Wangi ke Kaledupa, perjalanan Kaledupa-Tomia berlangsung sekitar tiga jam. Sebelum berlayar ke Tomia malam harinya, kami mampir di Kaledupa. Dekat dermaga Kaledupa, rumah-rumah panggung warga hampir seragam, berderet rapi. Di sini saya mencicipi ikan bakar, juga kaswami dari ubi dan luluta. Luluta atau nasi bambu adalah nasi ketan yang dibakar dengan batang bambu. Enak.

Kami kembali menyelam dan snorkeling di Tomia. Kami juga mengunjungi Benteng Patua. Seperti Benteng Liya di Wangi-Wangi, Benteng Patua konon dibangun di masa kekuasaan Kesultanan Buton. Letaknya juga di atas bukit. Perlu 30 menit bermobil plus 20 menit jalan kaki ke sini. Beberapa meriam kuno masih terpasang mengarah ke laut, “menyambut” kedatangan musuh. Konon perairan ini dulu dilewati kapal penjajah yang “merampok” rempah dari Maluku. Di area benteng juga terdapat makam tokoh pejuang lokal dan bekas perkampungan.

Ada pula Jomba Katepi yang menyita perhatian. Sumur berlubang kecil sedalam lebih dari 100 meter itu ternyata WC “masa lalu”. Versi berbeda selain tempat buang hajat adalah tempat menceburkan orang-orang hukuman. Sayang, peninggalan arkeologis itu kurang mendapat perhatian. Saat ke sini, jalan setapak menuju benteng tertutup alang-alang. Bangunan benteng dan makam yang seharusnya terlihat, sebagian tertutup pohon dan semak belukar. Apa boleh buat, kesan angker yang terasa.

***

Hari itu juga kami mengunjungi Pulau Binongko. Kami tidak menggunakan kapal Menami, tapi naik speedboat agar cukup waktu. Esoknya kami harus balik badan ke Wangi-Wangi dan kembali ke Jakarta. Memakai perahu cepat, dari Tomia ke Binongko sekitar satu jam saja. Di Pulau Binongko kami mendatangi para tukang besi yang jumlahnya makin berkurang.

Kembali ke Tomia, kami mampir di Wakatobi Dive Resort. Resor eksklusif ini milik penanam modal asing. Mungkin jarang turis lokal menginap di sini. Kebanyakan turis asing berkantong tebal, karena paket menginap dan wisata selamnya dipatok dengan dolar.

Saking eksklusifnya, resor ini membangun Bandar Udara Maranggo, bandara kecil untuk pesawat pengangkut tamu mereka dari Bali. Pemerintah kabupaten pun sekarang tengah membangun lapangan terbang umum di Wangi-Wangi. Bandara yang bakal bernama Matahora ini memiliki landasan sepanjang 1.600 meter, pembangunannya ditargetkan rampung tahun 2008 ini. Sebuah maskapai penerbangan pelat merah sudah siap mendaratkan pesawatnya untuk menarik minat wisatawan berkunjung.

Saat perjalanan pulang dari Binongko, sejumlah ikan lumba-lumba beriringan melintas di depan speedboat kami. Saya jadi ingat yang dikatakan Veda Santiaji. Dulu, di Wakatobi terdapat 30 area pemijahan ikan alami. Pada 2003 jumlahnya menyusut tinggal 12 karena penangkapan ikan berlebihan atau over-fishing. Tahun lalu jumlah ini melorot lagi tinggal empat, dengan satu lokasi kini dalam keadaan kolaps.

Penangkapan ikan di area konservasi masih terjadi. Penggunaan bom untuk menangkap ikan masih dilakukan sembunyi-sembunyi, di tempat yang jauh dari pantauan. Penggunaan bius atau potas oleh nelayan yang dimodali pengusaha lokal masih marak.

Bom menghancurkan terumbu karang. Potas mematikan hewan karang dan sebaran racunnya merusak biota laut lain. Saya tercenung, jangan sampai Wakatobi tak lagi menjadi “surga” ikan-ikan dan terumbu karang.

Dimas Adityo, Wakatobi, April 2008

Friday, August 08, 2008

Wakatobi; Keindahan Terumbu Karangnya Terbaik di Dunia

Satu lagi tulisan tentang Wakatobi yang dimuat di www.ruang keluarga.com yang dikutip dari www. perempuan.com.   Tulisan yang cukup menarik untuk promosi Wakatobi.  Namun masih ada beberapa koreksi yang perlu dibuat pada tulisan ini seperti adanya pembagian suku Tukang Besi Utara dan Selatan, kayanya harus dicek ulang deh...  

Dituliskannya seperti ini, "Destinasi kali ini akan mengusik jiwa petualang anda. Sebuah kawasan yang masih terbilang masih asli menawarkan perjalanan yang tak terlupakan. Adalah Kepulauan Tukang Besi, sebuah gugusan kepulauan yang terdiri dari empat pulau besar dengan luas sekitar 821 km2. Empat pulau besar tersebut adalah Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko yang oleh masyarakat setempat biasa diakronimkan sebagai WAKATOBI.

Sebagaimana namanya, Tukang Besi, kepulauan ini memang terkenal dengan pembuatan keris tradisional yang indah dan tetap diproduksi hingga sekarang. Gugusan kepulauan ini memiliki alam yang masih asli, tenang dengan air laut yang segar, gua-gua bawah laut yang saling berdekatan satu sama lain yang disuguhkan khusus untuk pecinta alam sejati. Bisa dikatakan bahwa wilayah ini merupakan kawasan wisata taman laut pertama di Indonesia.

Meski menyelam bisa dilakukan setiap saat, tetapi bulan April dan Desember adalah bulan yang paling baik untuk melakukan penyelaman karena cuacanya sangat bagus. Di samping menyelam dan snorkling di pantai juga disediakan khusus motor selam, tour snorkling dan penjelajahan di kepulauan. Sebuah kawasan kecil yang berlokasi di samping pulau Tomia seluas 8 km2, bernama Pulau Tolandona (Pulau Onernobaa) memiliki keunikan karena pulau ini dikelilingi taman laut yang indah.

Setelah menempuh perjalanan 5-6 jam dengan kapal cepat dari Kendari, Bau-Bau menjadi tempat transit berikutnya ke Wakatobi. Perjalanan tidak dapat langsung karena jadwal penyeberangan Bau-Bau-Wanci, pintu gerbang Wakatobi terbatas. Lagi pula penyeberangan dengan kapal kayu sekitar satu hari akan sangat melelahkan. Jalur yang biasa dipakai dari Bau-Bau adalah perjalanan darat ke Lasalimu, kecamatan di sebelah tenggara Bau-Bau, sekitar 3 jam. Selanjutnya menyeberang ke Wakatobi. Itu pun jadwal penyeberangan sekali sehari, pukul 06.00.

Ada dua macam suku di Kepulauan Tukang Besi, yaitu Tukang Besi utara dan selatan. Total penduduk kedua suku tersebut kini mencapai kisaran 250.000 orang, tersebar di empat pulau besar Wakatobi. Mata pencarian suku Tukang Besi adalah bertani. Makanan pokok mereka adalah ubi-ubian, yang biasa dibakar dan dimakan bersama ikan. Suku Tukang Besi selatan juga termasuk rumpun suku Buton. Ketergantungan hidup mereka terletak pada hasil laut yang menjadi santapan sehari-hari.

Jika anda ingin berkunjung ke Wakatobi, pada bulan Juli-September ombak bisa setinggi gunung. Namun, bagi anda yang berjiwa petualang, ombak besar tidak menjadi halangan untuk mengunjungi gugusan kepulauan di antara Laut Banda dan Laut Flores ini. Tapi bila anda ingin lebih ‚aman’, bulan Oktober sampai awal Desember merupakan pilihan terbaik menikmati keindahan di Wakatobi. Begitulah beberapa pesan penduduk Wakatobi yang ditemui di Kota Bau-Bau.

Sebenarnya Wakatobi tidak hanya mengandalkan transportasi laut dari Bau-Bau atau Lasalimu. Sejak tahun 2001, transportasi udara bisa menjangkau wilayah kepulauan di timur Pulau Buton ini. Namun, ongkos perjalanan sangat mahal, selain itu transportasi udara hanya melayani jalur Denpasar-Wakatobi dengan jadwal tiap 11 hari.

Kepulauan Tukang Besi mempunyai 25 gugusan terumbu karang yang masih asli dengan spesies beraneka ragam bentuk. Terumbu karang menjadi habitat berbagai jenis ikan dan makhluk hidup laut lainnya seperti moluska, cacing laut, tumbuhan laut. Ikan hiu, lumba-lumba dan paus juga menjadi penghuni kawasan ini. Kesemuanya menciptakan taman laut yang indah dan masih alami. Taman laut yang dinilai terbaik di dunia ini sering dijadikan ajang diving dan snorkling bagi para penyelam dan wisatawan. Sejak tahun 1996, kawasan Wakatobi ditetapkan sebagai taman nasional.

Kawasan wisata juga terdapat di Pulau Wangi-Wangi, Hoga, pulau di sebelah Kaledupa dan Binongko. Selain snorkling dan diving, aktivitas pariwisata lain yang bisa dinikmati adalah pemandangan pantai, menyusuri gua, fotografi, berjemur, dan camping.

Empat pulau besar di Wakatobi memiliki karakteristik khusus, yakni setiap pulau merupakan satu wilayah kecamatan, kecuali Pulau Wangi-Wangi yang terdiri dari dua kecamatan. Wangi-Wangi, pulau pertama yang dijumpai saat memasuki Kabupaten Wakatobi, menjadi pintu gerbang dan paling dekat dengan Pulau Buton. Di sini terdapat pelabuhan besar yang melayani kapal barang dan penumpang di Desa Wanci. Jika Pulau Wangi-Wangi menjadi pintu gerbang transportasi laut, maka Pulau Tomia menjadi pintu gerbang transportasi udara.

Pastikan Wakatobi menjadi destinasi kunjungan anda selanjutnya. Berikan liburan yang sedikit berbeda kepada keluarga anda."

Saturday, August 02, 2008

Suku Bajo dan “No Go Area”

Zonasi Taman Nasional Wakatobi diperbarui untuk mencegah makin susutnya area pemijahan ikan alami. Nelayan suku Bajo khawatir daerah tangkapan menyempit.

——-

DESA Mola Selatan, perkampungan suku Bajo di Pulau Wangi-Wangi, suatu siang pertengahan April 2008 lalu. Rumah La Ode Mustamin tiba-tiba dipenuhi belasan warga. Padahal sang empunya rumah, yang menjabat kepala desa, tidak sedang menggelar pertemuan.


Para nelayan Bajo ini mendadak berkumpul karena sejumlah wartawan–termasuk saya dari Tempo–bertandang ke rumah Mustamin. Seperti dikomando, mereka nimbrung ketika sang pemimpin berkeluh-kesah tentang kesulitan ekonomi yang dialami warga.

Ketua komunitas kerukunan masyarakat Bajo se-Kabupaten Wakatobi ini mengeluhkan aturan zonasi Taman Nasional Wakatobi yang ditetapkan tahun lalu. Sejumlah lokasi menjadi daerah terlarang bagi nelayan untuk menangkap ikan. “Sekarang semua serba dilarang,” kata Mustamin.

Pada Juli 2007, Balai Taman Nasional Wakatobi bersama Pemerintah Kabupaten Wakatobi serta Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam menetapkan peta zonasi. Zonasi ini untuk membatasi daerah yang bisa dimanfaatkan dan yang tidak. Peta ini membagi perairan Wakatobi menjadi lima zona: zona inti, perlindungan bahari, pariwisata, pemanfaatan lokal, dan pemanfaatan umum.

Zona inti atau “no go area” adalah kawasan yang sama sekali tidak boleh dimanfaatkan atau dilintasi kapal. Zona perlindungan bahari juga terlarang untuk penangkapan ikan, meski kapal nelayan boleh melintas. Adapun zona pariwisata hanya untuk wisata. Nelayan hanya boleh menangkap ikan di zona pemanfaatan lokal dan zona pemanfaatan umum.

Zona pemanfaatan lokal inilah yang bisa dimanfaatkan nelayan setempat. Sedangkan nelayan daerah lain, asalkan mengantongi izin, bisa mencari ikan di zona pemanfaatan umum. Aturan zonasi inilah yang dikhawatirkan semakin mempersulit ekonomi warga. Suku Bajo, kata Mustamin, sangat menggantungkan hidup pada hasil laut.

***

Suku Bajo, bagaimana keadaan mereka?

JUMLAH penduduk suku Bajo di Kepulauan Wakatobi kini 12 ribu orang, yang tersebar di beberapa kampung. Selain Mola Selatan, ada Desa Mantigola dan Sampela di Pulau Kaledupa serta Desa Lamanggau di Tomia. Mola terbanyak penduduknya, 7.000 orang. Kampung ini juga paling “modern” dibanding kampung Bajo lain. Beberapa rumah terbuat dari tembok, sebagian beratap seng, menunjukkan sisa-sisa “kejayaan” mereka.

Jalan-jalan setapak yang melintasi kampung dibeton, seakan sudah menyatu dengan daratan. Itu berbeda dengan Kampung Sampela, yang merupakan “rumah tancap” di tengah laut, terpisah dari darat, seakan membentuk sebuah pulau sendiri. Meski lebih modern, sebagian rumah warga di Mola masih menunjukkan ciri khas perkampungan Bajo: rumah panggung dari kayu atau gedek, dengan atap daun kelapa. Kampung didirikan di atas laut, yang ditimbun karang.

Suku Bajo memang tak terpisahkan dari laut. Sejak dulu, mereka dikenal sebagai pelaut ulung, gemar mengarungi lautan Nusantara. Sejak puluhan tahun lalu, para orang tua mereka mendapat berkah dari hasil laut perairan ini. Mereka bisa menangkap ikan dan penyu di mana pun tanpa larangan.

Untuk menangkap ikan, mereka berlayar ke perairan Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, bahkan sampai ke wilayah Australia. Nelayan Desa Mola Selatan “terkenal” sering terjaring pihak berwajib Australia. “Saya pernah ditahan polisi Australia karena menangkap hiu untuk diambil sirip dan ekornya,” ujar Mujur, nelayan Bajo di Mola.

Mustamin bercerita, pada 1980-an hingga 1990-an, warga Bajo Wakatobi mengalami “masa kejayaan” berdagang penyu sisik. Penyu yang ditangkap sebagian dijual, sebagian dikembangbiakkan. Dulu mereka bisa menjual penyu sisik ukuran 60 sentimeter seharga Rp 100-200 ribu per ekor. “Penyu itu sekarang harganya jutaan,” ujarnya. Mereka menjualnya ke beberapa daerah, terutama Bali. Di Pulau Dewata, kata Mustamin, penyu laku keras karena dibutuhkan untuk upacara adat. Ia pernah menjual 200 ekor penyu sisik ke Bali sekali kirim.

Penjualan penyu memang bergantung pada besar kapal yang digunakan. “Dari berdagang penyu, tiga bulan sekali kami mendapat puluhan juta rupiah.” Setelah penangkapan penyu dilarang di seluruh perairan Indonesia, kegiatan perdagangan hewan itu merosot drastis. Pendapatan mereka sejak beberapa tahun lalu pun jauh berkurang.

Kini kesulitan itu ditambah dengan kekhawatiran soal penetapan zonasi. Meski para nelayan Bajo bisa saja mencari ikan di luar kawasan konservasi, larangan itu tak urung membuat daerah tangkapan mereka semakin sempit. Warga khawatir pendapatan mereka yang sudah berkurang makin menyusut. “Dulu pinjam uang jutaan mudah, sekarang Rp 100 ribu saja sulit,” ujar Mustamin.

Bupati Wakatobi, Hugua, mengungkapkan keresahan warga Bajo. “Manusiawi, mereka merasa terusik.” Padahal, kata Hugua, hanya 10 persen kawasan perairan Wakatobi yang tidak boleh diganggu. Meski demikian, ia mengaku tak membiarkan warga Bajo kesulitan akibat aturan itu. Belum lama ini, kabupaten mengucurkan kredit ringan Rp 20 miliar untuk masyarakat, termasuk warga Bajo.

Kredit ini untuk mengembangkan usaha di sektor perikanan dan kelautan, kerajinan, serta pariwisata. Untuk warga Bajo, kredit dikucurkan antara lain melalui program motorisasi kapal. “Untuk meningkatkan kemampuan menangkap ikan, tapi dengan alat ramah lingkungan.” Nelayan diberi pemahaman bahwa mereka masih bisa menangkap ikan meskipun selektif. Misalnya ikan yang bermigrasi sepanjang waktu dari laut dalam atau laut lepas. “Ikan laut dalam ini yang kita tangkap di Wakatobi,” kata Hugua.

Veda Santiaji, project leader The Nature Conservancy-World Wildlife Fund, mengatakan aturan zonasi dibuat untuk mengefektifkan konservasi kawasan itu. Sejak taman nasional diresmikan, 1996, sebenarnya telah dibuat peta zonasi. “Tapi sampai 2003 belum berjalan efektif,” ujarnya. Nelayan masih menangkap ikan di daerah terlarang.

Area pemijahan ikan, yang dulu tersebar di 30 lokasi, pada 2003 menyusut tinggal 12 lokasi karena penangkapan berlebihan. Penggunaan bom ikan, bius (potas), dan pukat harimau (trawl) yang merusak lingkungan masih terjadi. Terumbu karang di kawasan “segi tiga karang dunia” itu banyak yang rusak akibat praktek tersebut. “Karena itu, zonasi didesain ulang,” kata Veda.

Meski peta zonasi yang baru telah dikeluarkan tahun lalu, bukan berarti aturan ini langsung efektif. Penangkapan ikan di zona-zona terlarang masih terjadi. Penggunaan bom ikan, meski jauh berkurang, kadang dilakukan di tempat yang jauh dari pantauan. “Penggunaan potas juga masih marak.” Karena itu, kata Veda, penerapan zonasi bukan untuk membatasi hajat hidup nelayan. “Tapi justru menjamin suplai sumber daya laut demi kepentingan hajat hidup mereka di masa depan.”

Warga Bajo sendiri sesungguhnya mempersilakan aturan zonasi kawasan konservasi diterapkan. Tapi mereka tetap menanti solusi “alternatif” jika lokasi-lokasi yang mereka anggap banyak ikannya justru masuk zona terlarang. “Kami kan butuh makan,” katanya. Mereka menganggap program bantuan yang direncanakan pemerintah setempat masih belum jelas manfaat dan sasarannya. Tapi, di sisi lain, nelayan Bajo selalu menjadi pihak yang dicurigai melanggar kawasan konservasi. “Kami merasa dianggap seperti anak tiri,” ujar Mustamin.

Dimas Adityo, Wakatobi, April 2008
http://dimasadityo.wordpress.com

Thursday, May 08, 2008

Wakatobi Belum Terpengaruh Perubahan Iklim

JAKARTA - Meskipun suhu laut diakui memanas, Kepulauan Wakatobi (Wangiwangi, Kaledupa, Tomea, dan Binongko) tetap diasumsikan belum terpengaruh perubahan iklim. Kenaikan air laut juga tak ditemui.
“Kami tak menemukan adanya tanda kenaikan air laut yang berpengaruh pada tenggelamnya pulau-pulau di kawasan konservasi Wakatobi saat ini,” urai Wahju Rudianto, Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, Minggu (1/4), di Jakarta.
Justru yang ada saat ini, menurutnya, merupakan kecenderungan naiknya permukaan gosong-gosong (pulau karang) di sana. “Seperti gosong Kabota, yang menurut pengamatan kami malah tumbuh terus permukaan tanahnya,” papar beliau.
Kondisi tersebut menurutnya lazim terjadi karena wilayah ini merupakan daerah tumbukan lempengan. Karena pertumbukan itu, ada beberapa pulau karang terus naik wilayah permukaannya. Data tersebut kemudian disebut Wahju, baru dari pengamatan melalui pasang surut air laut.
Wilayah Wakatobi sendiri dikenal sebagai area dengan topografi bergelombang. Kebanyakan sisi yang menjorok lautan, tidak datar langsung menemui laut. Keberadaan tersebut membuat kondisi fluktuasi kenaikan air laut karena perubahan iklim menjadi isu yang tidak terlalu mencemaskan.
Karena pandangan itu pula, kemudian belum ada program adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim di sana. “Bukan menyepelekan, namun bila melihat kondisi yang ada, kondisi tenggelamnya pulau-pulau di Wakatobi karena kenaikan air laut tampaknya belum akan terjadi dalam waktu dekat ini,” ucapnya.

Tak Ada Pemutihan
Kondisi perubahan lingkungan karena perubahan iklim yang terjadi, saat ini di Wakatobi yang paling signifikan malah terlihat pada naiknya suhu lautan. “Namun kondisi tersebut belum membuat terjadinya pemutihan karang,” kata Wahju.
Meskipun data kenaikan suhu belum dapat dirata-ratakan. Namun kecenderungan kenaikan tidak mencapai titik dua derajat celcius. Sementara itu, tingkat mencemaskan untuk pemutihan karang (bleaching) karena pemanasan bumi diperkirakan bila mencapai titik tiga derajat celcius.
Faktor kerusakan karang yang dicemaskan saat ini kebanyakan datang dari intervensi manusia. Karena hingga saat ini masih banyak nelayan menggunakan bom, bahan kimia, dan jaring sebagai sarana untuk menangkap ikan.
Meskipun Bupati Wakatobi saat ini, Ir Hugua, sudah menyatakan perang terhadap para perusak karang laut. Namun disinyalir cakupan penangkapan ikan secara tak ramah lingkungan di wilayah yang dahulu dikenal dengan nama Kepulauan Tukang Besi tersebut masih luas.
Hal lain yang mencemaskan lestarinya terumbu karang di sana adalah masih digunakannya terumbu karang laut sebagai fondasi rumah. Kebiasaan ini sendiri merupakan adat turun-temurun yang hingga kini masih banyak dilakukan masyarakat sekitar Wakatobi.
Tindakan tersebut terutama terlihat pada masyarakat Sampela yang dikenal beretnis Bajo. Dalam penelitian yang dilakukan Caitlyn Louise Stanley, “Sikap-sikap dan Kesadaran Orang Bajo terhadap Lingkungan Hidup dan Konservasi”, tahun 2005 lalu, terungkap kalau masalah utama dari kebiasaan ini merupakan mahalnya bahan subtitusi pengganti karang laut sebagai fondasi rumah. Konsep keberlanjutan terhadap lingkungan juga belum melekat pada adat budaya mereka.
 
Oleh
Sulung Prasetyo (Sinar Harapan)

Sunday, April 27, 2008

Seminar dan Diskusi: Dive Resorts and Sustainable Tourism in Indonesia

Sebagian dari upaya mempromosikan Wakatobi dilakukan melalui seminar di forum nasional Deep Indonesia. Liputannya sebagai berikut :

Kajian seminar National Geographic Indonesia mengenai keberadaan operator asing, nasional dan komunitas masyarakat lokal, yang diselenggarakan di Lumba Lumba room, Asembly Hall, Jakarta Convention Centre pada hari minggu, 30 Maret 2008, pukul 15:00-17:00, berlangsung hangat, menyerap peserta lebih dari 110 orang membuat panitia harus menambah kapasitas kursi pada saat seminar hendak dibuka oleh moderator Wayan Veda Santiadji dari WWF.

Tantyo Bangun, chief editor majalah National Geographic Indonesia ikut hadir untuk membuka seminar yang dihadiri oleh Bupati Wakatobi, Hugua yang secara khusus diundang untuk ikut berbicara sore itu. Juga Komeng yang mewakili Elang Ekowisata kepulauan seribu, Paul Batuna dari Murex Dive-Bunaken, Sandra Turok dari Eco Divers-Bunaken dan Bapak Ahyaruddin dari Departemen Budaya dan Pariwisata. Cipto Aji Gunawan juga hadir sebagai salah satu panelis mewakili konsultan wisata bahari.

Beragam kalangan datang untuk menyimak seminar bebas yang digelar untuk memeriahkan acara pameran Deep Indonesia 2008 ini. Termasuk juga di antaranya yang hadir beberapa pagawai pemerintah, pelaku pendidikan universitas negeri, pembaca majalah National Geographic Indonesia, mahasiswa, rekan wartawan daerah hingga prospektus bisnis.

Acara yang berlangsung selama 2 jam tersebut mengangkat tema yang sedikit berusaha menggelitik rasa nasionalis dan pula berusaha mengajak membuka peluang berbisnis warna negara lokal untuk merebut dominasi dive operator asing yang masih merambah. Acara ini pun sekaligus menjadi simbolik pembuka Indonesia Reef 2008 yang akan datang.

(dikutip dari http://indonesiareef.com/?show=blog&id=78)

Thursday, April 03, 2008

Seru, diskusi soal bisnis selam tanah air

Guna memeriahkan pameran Deep Indonesia 2008 pada 28-30 Maret 2008, National Geographic Indonesia ikut berpartisipasi menggelar diskusi bertajuk "Dive Resort and Sustainable Tourism". Titik berat diskusi adalah "menggugat" fakta bahwa jumlah operator selam asing jauh lebih banyak daripada milik negeri sendiri. Selain itu juga dibahas bagaimana mengelola turisme yang berwawasan lingkungan.

Hadir sebagai narasumber adalah Bupati Wakatobi Hugua, Achyarudin dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang mewakili pemerintah, Sandra Terok dari Edo Divers Bunaken, Paul Batuna dari Murex Dive Bunaken, Komeng dari Elang Ekowisata Pulau Pramuka, Cipto Aji Gunawan, Marine Eco Tourism Development Consultant, dan Hugua, Bupati Wakatobi. 

Hugua bersuara agak kritis dalam melihat fenomena tidak imbangnya jumlah pengusaha resort selam asing dibandingkan dalam negeri. "Orang Indonesia tidak mau melihat hal-hal kecil yang sudah mereka lihat sehari-hari, sehingga orang asing lebih menghargainya," kata Hugua. Selain itu, dia melanjutkan, "orang kita sering kali melihat orang asing lebih hebat sehingga kita kurang berani. Kalaupun berani, dalam berusaha orang kita cenderung langsung menyaingi bukan mencoba mencipta yang lebih baik.

Sementara itu, dalam presentasinya Achyarudin mengemukakan alasan mengapa wisata selam domestik justru dikuasai oleh pihak asing. "Karena usaha ini lebih dulu dikenal di luar negeri dan mereka lebih memiliki pengetahuan terhadap industri ini," ujarnya. Karenanya, belum banyak pengusaha Indonesia yang memahami industri ini.

Hal berbeda disampaikan Sandra Terok. Dominasi asing, jelas Sandra, disebabkan oleh keberanian mereka berinvestasi. "Penguasaan bahasa asing sesuai negara asal konsumen ikut memengaruhi lakunya dive operator mereka," tegas Sandra. Di sisi lain, konsumen dalam negeri sendiri masih belum banyak karena sarana transportasi dirasakan masih mahal. "Pendidikan lingkungan juga penting karena akan meningkatkan minat terhadap kegiatan selam," tambahnya.




Pendapat senada disampaikan Komeng dari Elang Ekowisata. Di Kep Seribu saat ini banyak resor yang mati suri. "Selain dianggap mahal, ekosistem di Kep Seribu juga banyak yang sudah rusak. Karenanya Elang berupaya mengembalikan ekosistem dengan melakukan transplantasi dan pendidikan lingkungan bagi anak-anak sekolah di P Pramuka untuk mengenal kehidupan bawah laut.

Upaya yang dilakukan Elang selain melakukan transplantasi adalah melakukan pendidikan lingkungan bagi anak2 sekolah di Pulau Pramuka untuk mengenal kehidupan bawah laut. Mereka secara bergiliran diajak dan diajari untuk mampu snorkling. Diharapkan pengetahuan dan minat mereka terhadap laut akan meningkat.

Lalu bagaimana cara agar pengusaha kita bisa bersaing? Cipto Aji Gunawan menawarkan empat hal: pengetahuan, ketegaran, kapital, dan penjangkauan pasar. "SDM kita yang berkualitas masih sedikit. Dan dari yang sedikit tersebut tidak banyak yang berminat membuka usaha diving," tukas Cipto.

 

Diskusi yang dimoderatori oleh Veda Santiadji dari WWF-Indonesia ini diwarnai dengan tanggapan dan pertanyaan dari puluhan peserta diskusi. Salah seorang penanggap menyatakan kelemahan kita adalah kurangnya communication marketing ke generasi muda. Nada kritis terhadap departemen terkait (Budpar) juga terlontar dari Kirtya (Grand Komodo). Budpar, jelasnya, tidak banyak mendukung pengembangan wisata bahari. "Sebabnya, jabatan dalam direktorat terkait tidak diduduki oleh orang yang tepat."*** (Foto-foto: Debbie Hanna)

Friday, March 21, 2008

Berupaya Demi Penghidupan Masa Depan

Text by Sari Widiati, GARUDA Magazine Maret 2008

Sebagian besar wilayah Indonesia merupakan pusat segitiga terumbu karang (The Coral Triangle Center) dunia bersama dengan Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste dan Kepulauan Solomon, mencakupi 5,7 juta km2 wilayah laut.

Taman Nasional (TN) Wakatobi di Sulawesi Tenggara, yang berada di pusatnya, terus mengupayakan penyelamatan dan pelestarian kekayaan alamnya demi keseimbangan dan penghidupan masa depan yang lebih baik.

Pulau Hoga dijadikan tempat penelitian Operation Wallacoa di TN Wakatobi.

Andalan bagi Berbagai Sektor
Ditetapkan sebagai taman nasional pada 1996 oleh Departemen Kehutanan ketika masih menjadi bagian Kabupaten Buton, nasib Wakatobi, yang merupakan gugusan dari empat pulau besar—Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko—sama seperti taman nasional-taman nasional lainnya di Indonesia. Di samping sebagai tumpuan hidup masyarakat di sekitarnya, ia juga diandalkan oleh berbagai sektor penting. Dilihat dari wilayahnya yang merupakan 97% laut, sektor perikanan dan kelautan adalah yang paling utama setelah pariwisata.

Dengan luas 1.390 juta hektar yang memiliki 39 pulau (hanya tujuh pulau berpenghuni), tiga gosong (beting) dan lima atol (pulau karang), TN Wakatobi menyimpan kekayaan yang melimpah. Tercatat ada 942 jenis ikan dan 750 spesies karang di dalamnya. Bandingkan ini dengan kawasan Karibia yang hanya memiliki 50 spesies karang dan Laut Merah 300 spesies karang serta di dunia yang berjumlah 850 spesies karang saja.

Berdasarkan penelitian Operation Wallacea—pusat penelitian berbasis di Inggris yang membuka pusat penelitiannya di Pulau Hoga, Wakatobi—diasumsikan bahwa 90% kekayaan alam dunia itu terdapat pada taman nasional ini. Belum lagi dalam area seluas 90 ribu hektar terumbu karang itu terdapat atol 48km di Kaledupa, terpanjang di dunia.

Dengan posisinya yang dikelilingi oleh Laut Banda, Laut Flores dan Pulau Buton, ia memiliki keistimewaan tersendiri dibanding daerah-daerah lain karena kemampuannya memberikan jaminan ketahanan dan kemampuan pulih yang tinggi bagi spesies terumbu karang jika mengalami kerusakan. Itu dikarenakan pola arus air yang mempertahankan area ini yang juga berperan sehingga tidak mudah terkena dampak bleaching akibat pemanasan global.

Kegiatan monitoring adalah penting untuk pengelolaan konservasi di TN Wakatobi.Tidak berlebihan jika taman nasional ini dinobatkan sebagai surga bawah laut bagi para penyelam dunia yang disediakan 29 titik penyelaman yang tersebar di kawasannya. Kekayaan hayati yang tinggi tersebut tidaklah serta merta membuai untuk terus digunakan tanpa batas. Praktik penangkapan ikan yang merugikan, seperti pengeboman, penggunaan racun sianida dan kegiatan destruktif lainnya, menjadi ancaman yang terus menghantui. Namun, kondisi yang memprihatinkan itu membentuk pola pikir konservasi akan pentingnya potensi hayati agar di masa depan ia tetap dapat menghidupi masyarakat Waktobi dan pada saat yang sama tetap bagian terpenting dari The Coral Triangle Center.

Berperan untuk Pelestarian
Keindahan TN Wakatobi juga mendorong para pemerhati dan pelestari lingkungan baik dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan masyarakat untuk bersama-sama melakukan konservasi guna memperpanjang kehidupan hingga generasi selanjutnya.

Dari peninjauan pada kegiatan Visit Wakatobi bersama WWF-Indonesia beberapa waktu lalu telah terbentuk kesepahaman dalam mengelola pelestarian TN Wakatobi yang dilakukan pemerintah serta LSM atau organisasi terkait, yang kemudian membentuk inisiatif masyarakat untuk berbuat arif.

Setelah membentuk kabupaten baru, yaitu Kabupaten Wakatobi pada 2004, pemerintah setempat semakin serius dalam pengelolaan konservasi aset penting itu. Salah satunya dengan menerapkan sistem zonasi yang dalam perumusannya telah disepakati bersama antara pemerintah pusat, pemerintah kabupaten dan masyarakat setempat. Disusun melalui proses konsultasi publik yang melibatkan banyak pihak, termasuk kelompok-kelompok masyarakat, khususnya kelompok pemanfaat sumber daya alam kelautan di Wakatobi.

Kegiatan monitoring adalah penting untuk pengelolaan konservasi di TN Wakatobi.Sistem zonasi yang ditanda tangani bersama dengan Direktur Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan (PHKA-Dephut) pada 23 Juli 2007 tersebut adalah salah satu cara strategis yang diyakini dapat menjamin pelestarian sumber daya alam hayati serta untuk keberlangsungan perekonomian berbasis masyarakat dan untuk kabupaten.
Aturan zonasi terdiri dari zona inti: daerah larang ambil dan larang lintas, dan zona perlindungan bahari. Daerah larang ambil, boleh lintas dan zona wisata mencakup 36% dari total target konservasi.

Aturan zonasi ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Tata Ruang Wilayah Wakatobi; pemerintah kabupaten kemudian menyusun visi pembangunan yang mengedepankan dua sektor unggulan, pariwisata dan perikanan.

Sebagai pendukung dalam bidang infrastruktur dibangun lapangan terbang di Wangi-Wangi yang direncanakan beroperasi pada awal 2008. Menurut Bupati Wakatobi Huguan "Dengan adanya lapangan terbang ini Wakatobi tidak lagi terisolasi sehingga lebih mudah dicapai oleh siapa pun yang mau berkunjung, khususnya wisatawan. Untuk sektor perikanan, pemerintah kabupaten mengarahkan peralihan dari perikanan karang ke perikanan laut dalam dan budidaya komiditi laut."

Dalam hal penyelenggaraan pelestarian, Balai TN Wakatobi sebagai badan pengelola kawasan konservasi memiliki 3 pilar utama. Seperti yang disampaikan Kepala Balai TN Wakatobi Wahju Rudianto, "3 pilar utama yang diemban atau diamanatkan itu terdiri dari perlindungan kawasan, pengawetan sumber daya alam dan pemanfaatan sumber daya alam itu sendiri secara lestari."

Kemudian, Wahju Rudianto menjelaskan bahwa dari hasil penyusunan zonasi ada 11 sumber daya penting yang menjadi prioritas konservasi, mereka adalah terumbu karang yang terdiri dari tiga macam; terumbu karang tepi, terumbu karang penghalang dan terumbu karang atol. Kemudian SPAGs (Spawning Aggregation sites) yaitu lokasi pemijahan ikan, penyu, mangrove, burung migran, upwelling (naiknya massa air dari kedalaman ke permukaan yang membawa zat hara), lintasan mamalia laut, padang lamun (seagrass) dan rumput laut (seaweed).

Kejernihan air laut di Pulau Binongko.Perumusan konsep konservasi pun tidak terlepas dari peran aktif organisasi atau LSM pecinta lingkungan. Dari keterangan Project Leader Program Bersama WWF-TNC (The Nature Conservancy) Wakatobi Veda Santiaji, survey lapangan dimulai pada 2003 dengan berkerja sama dengan Balai TN Wakatobi untuk eksplorasi awal dan kelayakan program untuk diterapkan. Dari situ, difokuskan tiga hal untuk lebih dioptimalkan. Pertama, meng-komprehensifkan desain perencanaan kawasan yang juga ditinjau dari pertimbangan ekologis, kepentingan sosial dan ekonomi serta target yang ingin dikejar dalam pengembangannya. Kedua, kegiatan monitoring secara kontinyu sebagai dasar pertimbangan pengelolaan, termasuk penyediaan alat pengamanan dan operasionalnya serta sumber daya manusia. Ketiga, penyuluhan dan pengorganisasian kelompok-kelompok masyarakat sampai pada titik kesadaran bahwa potensi TN Wakatobi yang menjadi bagian hidup mereka harus dijaga kelestariannya.

Upaya-upaya yang dilakukan di atas pada akhirnya membentuk kesetaraan pemahaman di antara masyarakat dalam pengelolaan potensi TN Wakatobi. Mereka yang berpikir lebih jauh mengenai keberlangsungan masa depan segera melahirkan organisasi kecil yang menunjang seperti Forkani (Forum Komunitas Tani) dan Komunto (Kelompok-Kelompok Nelayan Tomia).

Berkat buah pikiran dan tenaga yang mereka lakukan di atas, bukan hal yang mustahil jika TN Wakatobi terus hidup. Namun yang terpenting adalah bagaimana terus menyalakan semangat melestarikannya meskipun masih banyak yang enggan atau bahkan tidak peduli akan nasibnya di masa depan.

Sunday, March 02, 2008

Perdagangan Penyu Masih Terjadi di Sultra

Kamis, 28 Februari 2008 | 22:03 WIB

KENDARI, KAMIS - Meski sudah menurun, praktik perdagangan satwa langka penyu masih terjadi di Sulawesi Tenggara terutama di Wanci, Moramo, Ereke, dan Tikep, demikian hasil investigasi ProFauna Indonesia.

"Perdagangan penyu di wilayah Sultra sebagian besar terjadi di pesisir timur, terutama yang menghadap ke laut banda, "kata Koordinator ProFauna Indonesia I Wayan Wiradnyana di Kendari, Kamis (28/2). Menurut dia, penyu-penyu yang di perdagangkan di Sultra selain untuk konsumsi lokal sebahagian juga di kirim keluar pulau, terutama ke Bali.

Dari perbagai informasi yang diperoleh di lapangan, penyu yang dikirim ke Bali selain berasal dari Sultra juga berasal dari Sulteng, yaitu Pulau Padei dan Pulau Masudihang. Daerah yang paling banyak mengirim penyu ke Bali yaitu Wanci, Kabupaten Wakatobi dengan pengiriman pertahun rata-rata 600 ekor penyu dan sebahagian besar ditangkap di perairan Taman Nasional Wakatobi.

Sedangkan daerah lain di Sultra Yaitu Ereke, Kabupaten Buton Utara rata-rata sebanyak 250 ekor per tahun, Moramo, Kabupaten Konawe Selatan rata-rata 240 ekor dan Tikep Kabupaten Muna 25 ekor per tahun.

"Penampungan penyu di Wanci sangat terbuka, penyu-penyu tersebut diletakan di kolam-kolam penampungan yang ada di depan rumah penduduk dan apabila ada kapal dari Bali yang datang maka penyu tersebut baru akan dinaikan ke kapal," katanya.

Jika petugas mau melakukan penyitaan maka sebenarnya sangatlah mudah untuk dilakukannya karena kolam penampungan penyu tersebut lokasinya didepan rumah. Perdagangan penyu di Wanci diduga masih terjadi dan pengiriman penyu dari Wanci ke Bali biasanya dua sampai tiga kali dalam setahun dengan waktu yang tidak bisa ditentukan secara pasti.

Menurunnya, perdagang penyu di Sultra di sebabkan petugas BKSDA dan Departemen Kehutanan, Polisi dan TNI AL aktif melakukan operasi penyitaan dan dalam dua tahun terakhir ini petugas telah menyita lebih 300 ekor penyu.

Meski Perdagangan penyu di Sultra telah menurun, tapi ini bukan berarti perdagangan penyu berhenti total. Hasil investigasi ProFauna Indonesia tahun 2007 membuktikan bahwa perdagangan penyu di daerah ini masih terjadi meski dengan cara sembunyi-sembunyi dan diperkirakan dalam satu tahun ada sekitar 1.115 ekor penyu yang diperdagangkan.

Jenis penyu yang diperdagangankan di Sultra yaitu penyu hijau (Chelonia mydas) dan faktor harga jual yang tinggi menjadi penyebab terjadinya penangkapan penyu. Harga penyu hijau yang dijual ke kapal-kapal yang berasal dari Bali, Rp450.000/ekor, sedangkan harga untuk pasaran di Bali mencapai Rp1 juta per ekor ukuran dewasa.(ANT/WAH)