Showing posts with label Veda. Show all posts
Showing posts with label Veda. Show all posts
Thursday, September 23, 2010
Hari-hari tersisa di Wakatobi
Perjalanan panjang mengunjungi pulau-pulau dan mengarungi perairan Wakatobi akhirnya harus berakhir jua. Lebih dari 7 tahun sejak kepulauan ini masih Taman Nasional Kepulauan Wakatobi dan beralih menjadi Taman Nasional Wakatobi dan Kabupaten Wakatobi berdiri, hari demi hari berlalu saja begitu cepat dan kejadian demi kejadian telah kulalui bersama warga tercinta dan kawan sejawat menjadi kisah2 penghibur di waktu lengang.
Hmm.. 1 Oktober 2010 nanti aku harus mulai menjalani tantangan baru. Sepertinya tidak akan lebih menyenangkan dari apa yang telah kujalani selama 7 tahun ini. Namun ketika zona nyaman sudah kian mengurung dan dunia di luar sana memanggil untuk mengarungi keluasan rentang berkarya maka tak elok berdiam diri seolah tak terjadi apa-apa. Sudah waktunya keluar dari bak mandi ini untuk berenang di lautan luas. Maka kuterima posisi sebagai MPA Program Leader dan melepaskan Wakatobi Project Leader.
Harus memulai lagi dari nol dan semoga pembelajaran selama ini di Wakatobi bisa menjadi energi yang cukup untuk mengarungi kepulauan nusantara ini
Saturday, February 07, 2009
Penyelaman pertama di 2009


Setelah liburan dan serial pertemuan-pertemuan di Bali dan Jakarta akhirnya tiba saat yang paling mengasyikkan. Back to the nature. Wakatobi.
Kegiatan pertama adalah menyelam. Wajib itu...
Penyelaman pertama di 2009 ini dilakukan di Coral Garden Reef dekat pulau Hoga. Bersama dalam penyelaman ini adalah Bupati Wakatobi, Hugua, dan Kapolres Wakatobi, AKBP R Pitra Andreas Ratulangi SS SIK, serta para penyelam Wakatobi, Noval, Safrin, Didi dan Udin. Pukul 16.00 WITA, setelah rangkaian kunjungan kerja Bupati di Lintea dan Derawa, kami mulai turun menyelam. Tak kurang dari 45 menit, kami harus mulai naik ke permukaan. Langit sudah mulai agak gelap. Selain matahari sudah mulai ke Barat, awan mendung juga sedikit menutupi. Yah.. lumayan.
Sebuah awal yang menyegarkan untuk memulai kerja lapangan tahun ini.
Saturday, December 20, 2008
Dewan Pesisir Wakatobi Gelar Pertemuan Semester II
Wangi-Wangi, Kepres - Dewan pesisir Wakatobi yang terdiri dari perwakilan sejumlah organisasi dan profesi, Selasa (16/12) lalu melakukan pertemuan semester II. Bertempat di Aula RM Wisata Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi. Salah satu tujuan dari pertemuan ini yakni melakukan review atas pelaksanaan tugas Dewan Pesisir Wakatobi. Salah satu tugas dari Dewan Pesisir ini yakni memberikan masukan pada pihak pengelola terumbu karang Wakatobi. Dalam hal ini PMU Coremap II Wakatobi.
Dalam pertemuan ini, ditarik beberapa kesimpulan yang nantinya akan disusun dalam sebuah rekomendasi untuk PMU Coremap II. Diantaranya perlu peningkatan peran media lokal dalam memberikan informasi yang dapat mebuka wawasan dan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan terumbu karang yang berkelanjutan. Serta perlunya peningkatan kerjasama dengam lembaga-lembaga yang konsen dalam melakukan konservasi sumber daya alam di Wakatobi.
Pertemuan ini dihadiri oleh, Ir Salim yang mewakil Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Wakatobi, Ir Veda Santiaji Pimpinan TNC WWF Wakatobi, Ir Abdul Haris coordinatir tim leader Coremap II Wakatobi, dan Abd Rahman konsultan publik awarnes Coremap II Wakatobi. Hadir pula sejumlah tokoh pemuda, tokoh agama yang juga tergabung dalam Dewan Pesisir ini.
Sekedar diketahui, sekitar awal juni 2008 lalu Dewan Pesisir ini juga telah melakukan pertemuan yang sama dan berhasil melahirkan sejumlah rekomendasi. Selain pertemuan semesteran semacam ini Dewan Pesisir juga akan melakukan pertemuan tahunan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.CR2/B/LEX
KENDARI EKSPRESS 17 DESEMBER 2008
Friday, December 05, 2008
Wakatobi Pusat Penelitian Bawah Laut Dunia
WAKATOBI, KOMPAS, 5 Desember 2008 - Kekayaan keragaman hayati atau biodiversity terumbu karang di kawasan Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, bukan cuma menarik untuk kepentingan pariwisata, melainkan juga ilmu pengetahuan dan penelitian. Bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi ternama di Eropa, Pemerintah Kabupaten Wakatobi akan menjadikan Taman Nasional Wakatobi sebagai pusat keunggulan dunia untuk penelitian bawah laut
"Proses pembangunan pusat keunggulan penelitian bawah laut dunia itu sedang dalam persiapan," kata Hugua, Bupati Wakatobi, di Wangi-wangi, Wakatobi, Kamis (4/12).Hugua menyebutkan. Wakatobi layak mengklaim sebagai surga nyata bawah laut di jantung segitiga terumbu karang dunia yang meliputi enam negara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Niugini, Pulau Solomon, dan Timor Leste. Taman Nasional Wakatobi memiliki 750 jenis terumbu karang dari 850 jenis terumbu karang di dunia.
"Dari tiga pusat penyelaman kelas dunia, Wakatobi lebih unggul dan menakjubkan. Ini sudah diakui dunia. Karibia hanya punya 50 jenis terumbu karang, sedangkan Laut Merah (Mesir) punya 300 jenis terumbu karang," jelas Hugua.Selama ini, peneliti dari sejumlah negara datang ke Wakatobi untuk meneliti biodiversity bawah laut Bahkan, pada 2009 ratusan peneliti dunia akan mengadakan pertemuan untuk presentasi soal kajian bawah laut di Wakatobi,Sebagai tahap awal, kata Hugua, Pemkab Wakatobi menyiapkan bangunan di Pulau Hoga untuk menjadi laboratorium lahanbasah (wetland laboratorium) pada 2009. Untuk sumber energi, dikembangkan dari tenaga air, angin, atau matahari.Veda Santiaji, Project Leader Joint Program The Nature Conservancy-WWF untuk Taman Nasional Wakatobi, mengatakan sumber daya alam di Wakatobi sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai laboratorium alam yang luar biasa. WWF mengidentifikasi delapan sumber daya alam yang penting di Taman Nasional Wakatobi.Sumber daya alam di Wakatobi itu meliputi terumbu karang, mangrove, lamun atau padang rumput laut (sea grass), daerah pemijahan ikan, mamalia laut, burung-burung migrasi, penelur-an penyu, dan ikan-ikan pesisir. Tetapi yang penting, Pemkab Wakatobi harus tegas soal zonasi wilayah yang sudah disepakati," kata Veda. (ELN)
Monday, August 25, 2008
Menengok Jantung Karang Dunia
WAKATOBI. Kawasan kepulauan dekat Pulau Buton ini disebut-sebut sebagai “jantung karang dunia”. Di perairan itu memang muncul sebuah keajaiban alam. Sebuah gugusan pulau karang membentang sekitar 48 kilometer, dengan luas 90 ribu hektare, yang menjadikannya karang terpanjang di dunia.
Di situlah para penyelam internasional bersaksi, di dasar lautnya terdapat panorama terumbu karang yang paling cantik, penuh keanekaragaman ikan yang tak ada duanya di dunia, bahkan dibanding Karibia. Dengan snorkeling sebentar, kita dapat menemui barracuda, ikan badut, dan kuda laut.
Dan siang itu–dalam perjalanan menuju “surga” tersebut–kapal motor yang saya tumpangi pontang-panting digoyang ombak keras Laut Banda. Perjalanan ditempuh dari Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. Dengan perahu cepat itu, Kendari ke Wangi-Wangi, salah satu pulau di sana, biasanya ditempuh tiga setengah jam. Namun, ombak ganas hari itu membuat perjalanan kami memakan waktu delapan jam.
Nama Wakatobi diambil dari singkatan empat pulau utama: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Pertengahan April 2008 lalu, saya bergabung dalam sebuah ekspedisi mengeksplorasi potensi wisata Wakatobi. Acara ini diadakan Pemerintah Kabupaten Wakatobi, diikuti sejumlah wartawan dari Jakarta dan lokal. Kami bermaksud mengunjungi keempat pulau tersebut.
Sejak 1996, pemerintah meresmikan perairan Wakatobi menjadi Taman Nasional Wakatobi. Sebuah keputusan yang saya kira tepat, karena sebagaimana hasil penelitian Operation Wallacea, sebuah lembaga penelitian yang berpusat di Inggris: Wakatobi mempunyai angka tertinggi di dunia untuk keanekaragaman biota lautnya. Lembaga ini mencatat ada 942 spesies ikan hidup di sini.
Di Wakatobi juga terdapat 750 spesies karang dari 850 spesies yang ada di muka bumi. Bandingkan dengan dua pusat terumbu karang lain di dunia. Laut Merah yang hanya mempunyai 300 spesies, sedangkan Laut Karibia hanya 50 spesies.
Pulau-pulaunya juga menyimpan keunikan. Di situ misalnya ada perkampungan para “petualang laut” terkenal suku Bajo. Di beberapa tempat juga terdapat peninggalan sejarah–kejayaan kekuasaan Kesultanan Buton.
***
Kami akhirnya tiba di Wangi-Wangi, pulau terbesar dengan penduduk 50 ribu jiwa, ibu kota kabupaten. Pagi itu tampak sebagian warga memulai aktivitas mereka. Di Desa Liya Mawi, kaum ibu terlihat sibuk memanen rumput laut sembari mengasuh anak mereka. Tumbuhan berkhasiat ini diangkat dari tempat persemaian di laut, tak jauh dari pantai. Rumput laut atau disebut garanggang adalah penghasilan utama mereka. Setelah dipanen, garanggang dijemur kemudian dijual Rp 7.000-8.000 per kilogram.
Tak syak, masyarakat Kepulauan Wakatobi mengandalkan penghasilan utama dari laut. Meski begitu, ada juga sebagian warga Wanci–sebutan lokal untuk Wangi-Wangi–yang berdagang barang bekas impor. “Mereka berburu barang sampai ke Singapura pakai kapal kayu, lalu dijual di sini,” kata Saleh, warga lokal yang menemani saya jalan-jalan di pulau itu.
Wangi-Wangi sempat dikenal sebagai daerah pemasok barang bekas impor berharga murah. Dari pakaian bermerek terkenal, barang elektronik, sampai kendaraan bermotor “beredar” di sini. Saya sempat heran ketika melihat motor gede merek Aprilia melintas di depan saya. “Di sini motor seperti itu bisa dibeli seharga Rp 10 juta saja,” ujar Saleh, yang juga aktivis World Wildlife Fund. Buset.. kata saya dalam hati, karena di Jakarta, merek terkenal itu mungkin harganya lima kali lipat.
Saya mengunjungi Masjid Liya di Wangi-Wangi. Masjid ini konon tertua setelah Masjid Keraton Buton di Pulau Buton. Letak masjid ini di atas bukit, di dekat Benteng Liya Togo. Di zaman penjajahan Portugis dan Belanda, tempat ini merupakan salah satu benteng pertahanan. Tak jauh dari benteng, ada makam Talo-Talo, pemimpin kadiye atau “kerajaan kecil” bagian Kesultanan Buton. Talo-Talo dalam bahasa setempat berarti “dia yang mengalahkan”.
Ada pula makam Djilabu, ulama penyebar syiar Islam daerah itu. Sejumlah bangunan bersejarah ini berada di Desa Liya Togo. Sesuai dengan artinya, tempat ini dulu togo atau pusat kota. Tiap-tiap Lebaran desa ini menyelenggarakan ritual adat Posepa, semacam tawuran massal yang diakhiri dengan bermaaf-maafan, di tanah lapang di depan masjid. Rumah peninggalan La Ode Taru tak jauh dari Masjid Liya. La Ode Taru “raja kecil” terakhir Liya yang dibunuh pada zaman penjajahan Jepang.
Sorenya saya mengunjungi pasar malam Wanci. Pasar itu menjual berbagai kebutuhan warga Wangi-Wangi. Ikan berbagai ukuran, dari yang kecil sampai sebesar anak umur empat tahun, juga ada.
***
Pukul dua dini hari. Tatkala sunyi menyelimuti warga Wangi-Wangi, kami menuju ke Kaledupa. Sebuah kapal pinisi putih bernama Menami yang buang sauh 500 meter di lepas pantai pelabuhan kecil Wangi-Wangi telah menanti kami untuk perjalanan ke Kaledupa.
Pinisi itu sulit bersandar di dermaga karena air laut surut. Untuk mencapainya, kami naik speedboat. Pelayaran dari Wangi-Wangi ke Kaledupa dengan kapal Menami yang punya kecepatan maksimum delapan mil per jam butuh waktu tiga jam.
“Kita berangkat dini hari. Biar pukul lima pagi kita sudah masuk perairan Kaledupa,” kata Veda Santiaji, project leader The Nature Conservancy- World Wildlife Fund, yang memimpin pelayaran.
The Nature Conservancy dan World Wildlife Fund adalah dua lembaga yang dalam lima tahun ini buka base camp di Wakatobi. Bersama pemerintah setempat, kedua lembaga itu memonitor kawasan taman laut nasional.
Kami memasuki perairan Kaledupa ketika matahari masih malu-malu memperlihatkan wajahnya. Sunrise begitu indah di tempat ini. Pukul enam, kapal buang sauh di perairan yang diapit Pulau Kaledupa dan Hoga. Saya tak sabar bergegas pindah ke kapal motor untuk merapat ke Pulau Hoga.
Meski pulau kecil, Hoga adalah salah satu tempat favorit penyelam profesional dalam dan luar negeri. Di pulau ini terdapat Marine Research Station, yang dikelola Operation Wallacea. Biasanya musim penyelaman terjadi sepanjang satu bulan pada Maret atau tiga bulan sepanjang Juni-Agustus (musim panjang). “Musim panjang, tamu yang datang bisa ratusan orang,” kata Asri, pengurus stasiun riset itu.
Umumnya mereka mahasiswa Eropa dan Amerika yang meneliti biota laut. Di tempat ini mereka bisa tinggal berminggu-minggu. Saya sempat jalan-jalan di pulau teduh dengan rerimbunan pohon itu. Lewat jalan setapak, saya mengelilingi area penginapan para peneliti asing tersebut. Ada sekitar 200 penginapan sederhana, berbentuk rumah panggung kecil dari kayu, tersebar di sebagian pulau. Itu milik warga Kaledupa. “Sewanya Rp 40 ribu semalam tiap orang,” ujar Asri. Harga yang murah untuk orang asing.
Bupati Wakatobi, Hugua mengatakan kehadiran stasiun penelitian itu dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat. Selain mendapat uang sewa penginapan, warga memperoleh penghasilan dari penyediaan makanan untuk mereka. “Operation Wallacea cuma tangani penelitian. Penginapan dan makanan diserahkan ke warga,” kata Hugua.
Sayang, lantaran waktunya tidak tepat, saya tak menemukan satu bule pun di sana. Ratusan penginapan itu kosong melompong, meski adakalanya pulau ini penuh sesak. Wajar jika Hoga jadi daya tarik para penyelam. Pantainya sangat indah berpasir putih, nyiur melambai menyambut siapa pun yang datang. Tak satu pun bungkus permen atau biskuit saya temukan. Kebersihannya terjaga, pemandangan langka di pantai-pantai wisata di Jawa.
Dari atas dermaga kayu, saya melihat ikan warna-warni bermain di celah terumbu karang. Air lautnya jernih, memungkinkan saya menonton pemandangan dasar laut tanpa harus terjun ke air. Pulau Hoga mengingatkan orang akan keindahan laut dan pantai di film The Beach yang diperankan Leonardo DiCaprio. Tak terasa, dua jam kami berjalan-jalan di Hoga. Kami harus kembali ke kapal Menami.
Di kapal ternyata ada rombongan lain bergabung. Mereka menyusul dari Wangi-Wangi naik speedboat. Ada tim penyelam profesional yang akan membuat film bawah laut dengan Nadine Chandrawinata sebagai bintang-nya. Mantan Putri Indonesia itu ditemani ayahnya, Andy Chandrawinata.
Dan peralatan selam kemudian disiapkan. Dua buah boat parkir di sisi kapal Menami, siap mengantar ke Hoga Channel. Ini sebuah dive site atau situs penyelaman yang terletak antara Pulau Hoga dan Kaledupa. Di sini kami membagi dua tim. Tim pertama menyelam hingga kedalaman 20 meter. Tim ini tentu melengkapi diri dengan pakaian selam (wet suit), sepatu katak (fin), masker, dan tabung oksigen. Nadine, yang kini rajin menyelam, tentu di tim pertama.
Saya sendiri bergabung dengan tim kedua, ber-snorkeling ria. Kami tak perlu tabung oksigen. Cuma modal kacamata snorkel dengan selang menjulur ke atas untuk nyemplung ke laut. Selang ini membantu bernapas dengan mulut saat berenang dengan kepala di bawah permukaan air untuk melihat pemandangan dasar laut. Karena itu, tim kami memilih lokasi yang tak terlalu dalam, dua setengah sampai lima meter saja. Saya tidak mau ambil risiko ikut tim pertama menyelam puluhan meter. Jujur, saya tak punya keterampilan menyelam. Ingat semboyan, “Safety first.”
Meski cuma snorkeling, saya mendapat pengalaman tak kalah keren. Di Wakatobi, snorkeling pun bisa menyaksikan “surga” bawah laut. Karang warna-warni menggerombol di sana-sini. Anemon fish atau ikan badut bermain di sela-sela karang lembut anemon yang jadi rumah mereka. Apa jadinya jika karang indah itu rusak gara-gara pemakaian bom ikan?
Makhluk laut yang cantik itu tentu tak lagi bisa bermain dan berkembang biak di sana. Kelestariannya sangat bergantung pada kelestarian karang. Cipto Aji Gunawan, penyelam profesional yang ikut dalam kegiatan ini, mengatakan ada jenis ikan yang bertelur di karang, tapi banyak juga jenis yang tinggal dan hidup di sana. “Lebih dari 33 persen jenis ikan laut bergantung pada terumbu karang,” ujar konsultan pengembangan wisata bahari ini.
Selain Hoga Channel, ada sekitar 20 situs penyelaman tersebar di perairan Wakatobi. Di antara itu, ada yang menjadi favorit para penyelam. Itulah situs Pinnacle, di dekat Pulau Hoga. Di Kaledupa ada Karang Kaledupa dan di Pulau Tomia ada Mari Mabuk. Setiap situs ini punya keunikan masing-masing. Seperti di Karang Kaledupa, terdapat table coral (karang berbentuk meja) berukuran 2-3 meter. “Ini jarang dijumpai di dive site lain,” kata Cipto.
Soal keindahan struktur karang, Pinnacle pusatnya. Di situs ini, karangnya bergunung-gunung, sesuai dengan namanya, Pinnacle atau “puncak”. Lokasi ini juga menjadi habitat ikan barracuda yang jarang ditemui di tempat lain. Ikan berbentuk lonjong seperti peluru itu termasuk hewan laut tercepat. Di Pinnacle, ikan barracuda bergerombol. Hoga Channel lain lagi. Di lokasi ini bisa dijumpai pygmy, kuda laut berukuran sangat kecil. Nadine sampai dua kali menyelam hari itu. Keindahan bawah laut Wakatobi tak pernah ia temukan di tempat lain. “Karangnya indah, ikannya cantik-cantik,” ujarnya.
***
Pada hari ketiga saya mengunjungi Pulau Tomia. Seperti dari Wangi-Wangi ke Kaledupa, perjalanan Kaledupa-Tomia berlangsung sekitar tiga jam. Sebelum berlayar ke Tomia malam harinya, kami mampir di Kaledupa. Dekat dermaga Kaledupa, rumah-rumah panggung warga hampir seragam, berderet rapi. Di sini saya mencicipi ikan bakar, juga kaswami dari ubi dan luluta. Luluta atau nasi bambu adalah nasi ketan yang dibakar dengan batang bambu. Enak.
Kami kembali menyelam dan snorkeling di Tomia. Kami juga mengunjungi Benteng Patua. Seperti Benteng Liya di Wangi-Wangi, Benteng Patua konon dibangun di masa kekuasaan Kesultanan Buton. Letaknya juga di atas bukit. Perlu 30 menit bermobil plus 20 menit jalan kaki ke sini. Beberapa meriam kuno masih terpasang mengarah ke laut, “menyambut” kedatangan musuh. Konon perairan ini dulu dilewati kapal penjajah yang “merampok” rempah dari Maluku. Di area benteng juga terdapat makam tokoh pejuang lokal dan bekas perkampungan.
Ada pula Jomba Katepi yang menyita perhatian. Sumur berlubang kecil sedalam lebih dari 100 meter itu ternyata WC “masa lalu”. Versi berbeda selain tempat buang hajat adalah tempat menceburkan orang-orang hukuman. Sayang, peninggalan arkeologis itu kurang mendapat perhatian. Saat ke sini, jalan setapak menuju benteng tertutup alang-alang. Bangunan benteng dan makam yang seharusnya terlihat, sebagian tertutup pohon dan semak belukar. Apa boleh buat, kesan angker yang terasa.
***
Hari itu juga kami mengunjungi Pulau Binongko. Kami tidak menggunakan kapal Menami, tapi naik speedboat agar cukup waktu. Esoknya kami harus balik badan ke Wangi-Wangi dan kembali ke Jakarta. Memakai perahu cepat, dari Tomia ke Binongko sekitar satu jam saja. Di Pulau Binongko kami mendatangi para tukang besi yang jumlahnya makin berkurang.
Kembali ke Tomia, kami mampir di Wakatobi Dive Resort. Resor eksklusif ini milik penanam modal asing. Mungkin jarang turis lokal menginap di sini. Kebanyakan turis asing berkantong tebal, karena paket menginap dan wisata selamnya dipatok dengan dolar.
Saking eksklusifnya, resor ini membangun Bandar Udara Maranggo, bandara kecil untuk pesawat pengangkut tamu mereka dari Bali. Pemerintah kabupaten pun sekarang tengah membangun lapangan terbang umum di Wangi-Wangi. Bandara yang bakal bernama Matahora ini memiliki landasan sepanjang 1.600 meter, pembangunannya ditargetkan rampung tahun 2008 ini. Sebuah maskapai penerbangan pelat merah sudah siap mendaratkan pesawatnya untuk menarik minat wisatawan berkunjung.
Saat perjalanan pulang dari Binongko, sejumlah ikan lumba-lumba beriringan melintas di depan speedboat kami. Saya jadi ingat yang dikatakan Veda Santiaji. Dulu, di Wakatobi terdapat 30 area pemijahan ikan alami. Pada 2003 jumlahnya menyusut tinggal 12 karena penangkapan ikan berlebihan atau over-fishing. Tahun lalu jumlah ini melorot lagi tinggal empat, dengan satu lokasi kini dalam keadaan kolaps.
Penangkapan ikan di area konservasi masih terjadi. Penggunaan bom untuk menangkap ikan masih dilakukan sembunyi-sembunyi, di tempat yang jauh dari pantauan. Penggunaan bius atau potas oleh nelayan yang dimodali pengusaha lokal masih marak.
Bom menghancurkan terumbu karang. Potas mematikan hewan karang dan sebaran racunnya merusak biota laut lain. Saya tercenung, jangan sampai Wakatobi tak lagi menjadi “surga” ikan-ikan dan terumbu karang.
Di situlah para penyelam internasional bersaksi, di dasar lautnya terdapat panorama terumbu karang yang paling cantik, penuh keanekaragaman ikan yang tak ada duanya di dunia, bahkan dibanding Karibia. Dengan snorkeling sebentar, kita dapat menemui barracuda, ikan badut, dan kuda laut.
Dan siang itu–dalam perjalanan menuju “surga” tersebut–kapal motor yang saya tumpangi pontang-panting digoyang ombak keras Laut Banda. Perjalanan ditempuh dari Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. Dengan perahu cepat itu, Kendari ke Wangi-Wangi, salah satu pulau di sana, biasanya ditempuh tiga setengah jam. Namun, ombak ganas hari itu membuat perjalanan kami memakan waktu delapan jam.
Nama Wakatobi diambil dari singkatan empat pulau utama: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Pertengahan April 2008 lalu, saya bergabung dalam sebuah ekspedisi mengeksplorasi potensi wisata Wakatobi. Acara ini diadakan Pemerintah Kabupaten Wakatobi, diikuti sejumlah wartawan dari Jakarta dan lokal. Kami bermaksud mengunjungi keempat pulau tersebut.
Sejak 1996, pemerintah meresmikan perairan Wakatobi menjadi Taman Nasional Wakatobi. Sebuah keputusan yang saya kira tepat, karena sebagaimana hasil penelitian Operation Wallacea, sebuah lembaga penelitian yang berpusat di Inggris: Wakatobi mempunyai angka tertinggi di dunia untuk keanekaragaman biota lautnya. Lembaga ini mencatat ada 942 spesies ikan hidup di sini.
Di Wakatobi juga terdapat 750 spesies karang dari 850 spesies yang ada di muka bumi. Bandingkan dengan dua pusat terumbu karang lain di dunia. Laut Merah yang hanya mempunyai 300 spesies, sedangkan Laut Karibia hanya 50 spesies.
Pulau-pulaunya juga menyimpan keunikan. Di situ misalnya ada perkampungan para “petualang laut” terkenal suku Bajo. Di beberapa tempat juga terdapat peninggalan sejarah–kejayaan kekuasaan Kesultanan Buton.
***
Kami akhirnya tiba di Wangi-Wangi, pulau terbesar dengan penduduk 50 ribu jiwa, ibu kota kabupaten. Pagi itu tampak sebagian warga memulai aktivitas mereka. Di Desa Liya Mawi, kaum ibu terlihat sibuk memanen rumput laut sembari mengasuh anak mereka. Tumbuhan berkhasiat ini diangkat dari tempat persemaian di laut, tak jauh dari pantai. Rumput laut atau disebut garanggang adalah penghasilan utama mereka. Setelah dipanen, garanggang dijemur kemudian dijual Rp 7.000-8.000 per kilogram.
Tak syak, masyarakat Kepulauan Wakatobi mengandalkan penghasilan utama dari laut. Meski begitu, ada juga sebagian warga Wanci–sebutan lokal untuk Wangi-Wangi–yang berdagang barang bekas impor. “Mereka berburu barang sampai ke Singapura pakai kapal kayu, lalu dijual di sini,” kata Saleh, warga lokal yang menemani saya jalan-jalan di pulau itu.
Wangi-Wangi sempat dikenal sebagai daerah pemasok barang bekas impor berharga murah. Dari pakaian bermerek terkenal, barang elektronik, sampai kendaraan bermotor “beredar” di sini. Saya sempat heran ketika melihat motor gede merek Aprilia melintas di depan saya. “Di sini motor seperti itu bisa dibeli seharga Rp 10 juta saja,” ujar Saleh, yang juga aktivis World Wildlife Fund. Buset.. kata saya dalam hati, karena di Jakarta, merek terkenal itu mungkin harganya lima kali lipat.
Saya mengunjungi Masjid Liya di Wangi-Wangi. Masjid ini konon tertua setelah Masjid Keraton Buton di Pulau Buton. Letak masjid ini di atas bukit, di dekat Benteng Liya Togo. Di zaman penjajahan Portugis dan Belanda, tempat ini merupakan salah satu benteng pertahanan. Tak jauh dari benteng, ada makam Talo-Talo, pemimpin kadiye atau “kerajaan kecil” bagian Kesultanan Buton. Talo-Talo dalam bahasa setempat berarti “dia yang mengalahkan”.
Ada pula makam Djilabu, ulama penyebar syiar Islam daerah itu. Sejumlah bangunan bersejarah ini berada di Desa Liya Togo. Sesuai dengan artinya, tempat ini dulu togo atau pusat kota. Tiap-tiap Lebaran desa ini menyelenggarakan ritual adat Posepa, semacam tawuran massal yang diakhiri dengan bermaaf-maafan, di tanah lapang di depan masjid. Rumah peninggalan La Ode Taru tak jauh dari Masjid Liya. La Ode Taru “raja kecil” terakhir Liya yang dibunuh pada zaman penjajahan Jepang.
Sorenya saya mengunjungi pasar malam Wanci. Pasar itu menjual berbagai kebutuhan warga Wangi-Wangi. Ikan berbagai ukuran, dari yang kecil sampai sebesar anak umur empat tahun, juga ada.
***
Pukul dua dini hari. Tatkala sunyi menyelimuti warga Wangi-Wangi, kami menuju ke Kaledupa. Sebuah kapal pinisi putih bernama Menami yang buang sauh 500 meter di lepas pantai pelabuhan kecil Wangi-Wangi telah menanti kami untuk perjalanan ke Kaledupa.
Pinisi itu sulit bersandar di dermaga karena air laut surut. Untuk mencapainya, kami naik speedboat. Pelayaran dari Wangi-Wangi ke Kaledupa dengan kapal Menami yang punya kecepatan maksimum delapan mil per jam butuh waktu tiga jam.
“Kita berangkat dini hari. Biar pukul lima pagi kita sudah masuk perairan Kaledupa,” kata Veda Santiaji, project leader The Nature Conservancy- World Wildlife Fund, yang memimpin pelayaran.
The Nature Conservancy dan World Wildlife Fund adalah dua lembaga yang dalam lima tahun ini buka base camp di Wakatobi. Bersama pemerintah setempat, kedua lembaga itu memonitor kawasan taman laut nasional.
Kami memasuki perairan Kaledupa ketika matahari masih malu-malu memperlihatkan wajahnya. Sunrise begitu indah di tempat ini. Pukul enam, kapal buang sauh di perairan yang diapit Pulau Kaledupa dan Hoga. Saya tak sabar bergegas pindah ke kapal motor untuk merapat ke Pulau Hoga.
Meski pulau kecil, Hoga adalah salah satu tempat favorit penyelam profesional dalam dan luar negeri. Di pulau ini terdapat Marine Research Station, yang dikelola Operation Wallacea. Biasanya musim penyelaman terjadi sepanjang satu bulan pada Maret atau tiga bulan sepanjang Juni-Agustus (musim panjang). “Musim panjang, tamu yang datang bisa ratusan orang,” kata Asri, pengurus stasiun riset itu.
Umumnya mereka mahasiswa Eropa dan Amerika yang meneliti biota laut. Di tempat ini mereka bisa tinggal berminggu-minggu. Saya sempat jalan-jalan di pulau teduh dengan rerimbunan pohon itu. Lewat jalan setapak, saya mengelilingi area penginapan para peneliti asing tersebut. Ada sekitar 200 penginapan sederhana, berbentuk rumah panggung kecil dari kayu, tersebar di sebagian pulau. Itu milik warga Kaledupa. “Sewanya Rp 40 ribu semalam tiap orang,” ujar Asri. Harga yang murah untuk orang asing.
Bupati Wakatobi, Hugua mengatakan kehadiran stasiun penelitian itu dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat. Selain mendapat uang sewa penginapan, warga memperoleh penghasilan dari penyediaan makanan untuk mereka. “Operation Wallacea cuma tangani penelitian. Penginapan dan makanan diserahkan ke warga,” kata Hugua.
Sayang, lantaran waktunya tidak tepat, saya tak menemukan satu bule pun di sana. Ratusan penginapan itu kosong melompong, meski adakalanya pulau ini penuh sesak. Wajar jika Hoga jadi daya tarik para penyelam. Pantainya sangat indah berpasir putih, nyiur melambai menyambut siapa pun yang datang. Tak satu pun bungkus permen atau biskuit saya temukan. Kebersihannya terjaga, pemandangan langka di pantai-pantai wisata di Jawa.
Dari atas dermaga kayu, saya melihat ikan warna-warni bermain di celah terumbu karang. Air lautnya jernih, memungkinkan saya menonton pemandangan dasar laut tanpa harus terjun ke air. Pulau Hoga mengingatkan orang akan keindahan laut dan pantai di film The Beach yang diperankan Leonardo DiCaprio. Tak terasa, dua jam kami berjalan-jalan di Hoga. Kami harus kembali ke kapal Menami.
Di kapal ternyata ada rombongan lain bergabung. Mereka menyusul dari Wangi-Wangi naik speedboat. Ada tim penyelam profesional yang akan membuat film bawah laut dengan Nadine Chandrawinata sebagai bintang-nya. Mantan Putri Indonesia itu ditemani ayahnya, Andy Chandrawinata.
Dan peralatan selam kemudian disiapkan. Dua buah boat parkir di sisi kapal Menami, siap mengantar ke Hoga Channel. Ini sebuah dive site atau situs penyelaman yang terletak antara Pulau Hoga dan Kaledupa. Di sini kami membagi dua tim. Tim pertama menyelam hingga kedalaman 20 meter. Tim ini tentu melengkapi diri dengan pakaian selam (wet suit), sepatu katak (fin), masker, dan tabung oksigen. Nadine, yang kini rajin menyelam, tentu di tim pertama.
Saya sendiri bergabung dengan tim kedua, ber-snorkeling ria. Kami tak perlu tabung oksigen. Cuma modal kacamata snorkel dengan selang menjulur ke atas untuk nyemplung ke laut. Selang ini membantu bernapas dengan mulut saat berenang dengan kepala di bawah permukaan air untuk melihat pemandangan dasar laut. Karena itu, tim kami memilih lokasi yang tak terlalu dalam, dua setengah sampai lima meter saja. Saya tidak mau ambil risiko ikut tim pertama menyelam puluhan meter. Jujur, saya tak punya keterampilan menyelam. Ingat semboyan, “Safety first.”
Meski cuma snorkeling, saya mendapat pengalaman tak kalah keren. Di Wakatobi, snorkeling pun bisa menyaksikan “surga” bawah laut. Karang warna-warni menggerombol di sana-sini. Anemon fish atau ikan badut bermain di sela-sela karang lembut anemon yang jadi rumah mereka. Apa jadinya jika karang indah itu rusak gara-gara pemakaian bom ikan?
Makhluk laut yang cantik itu tentu tak lagi bisa bermain dan berkembang biak di sana. Kelestariannya sangat bergantung pada kelestarian karang. Cipto Aji Gunawan, penyelam profesional yang ikut dalam kegiatan ini, mengatakan ada jenis ikan yang bertelur di karang, tapi banyak juga jenis yang tinggal dan hidup di sana. “Lebih dari 33 persen jenis ikan laut bergantung pada terumbu karang,” ujar konsultan pengembangan wisata bahari ini.
Selain Hoga Channel, ada sekitar 20 situs penyelaman tersebar di perairan Wakatobi. Di antara itu, ada yang menjadi favorit para penyelam. Itulah situs Pinnacle, di dekat Pulau Hoga. Di Kaledupa ada Karang Kaledupa dan di Pulau Tomia ada Mari Mabuk. Setiap situs ini punya keunikan masing-masing. Seperti di Karang Kaledupa, terdapat table coral (karang berbentuk meja) berukuran 2-3 meter. “Ini jarang dijumpai di dive site lain,” kata Cipto.
Soal keindahan struktur karang, Pinnacle pusatnya. Di situs ini, karangnya bergunung-gunung, sesuai dengan namanya, Pinnacle atau “puncak”. Lokasi ini juga menjadi habitat ikan barracuda yang jarang ditemui di tempat lain. Ikan berbentuk lonjong seperti peluru itu termasuk hewan laut tercepat. Di Pinnacle, ikan barracuda bergerombol. Hoga Channel lain lagi. Di lokasi ini bisa dijumpai pygmy, kuda laut berukuran sangat kecil. Nadine sampai dua kali menyelam hari itu. Keindahan bawah laut Wakatobi tak pernah ia temukan di tempat lain. “Karangnya indah, ikannya cantik-cantik,” ujarnya.
***
Pada hari ketiga saya mengunjungi Pulau Tomia. Seperti dari Wangi-Wangi ke Kaledupa, perjalanan Kaledupa-Tomia berlangsung sekitar tiga jam. Sebelum berlayar ke Tomia malam harinya, kami mampir di Kaledupa. Dekat dermaga Kaledupa, rumah-rumah panggung warga hampir seragam, berderet rapi. Di sini saya mencicipi ikan bakar, juga kaswami dari ubi dan luluta. Luluta atau nasi bambu adalah nasi ketan yang dibakar dengan batang bambu. Enak.
Kami kembali menyelam dan snorkeling di Tomia. Kami juga mengunjungi Benteng Patua. Seperti Benteng Liya di Wangi-Wangi, Benteng Patua konon dibangun di masa kekuasaan Kesultanan Buton. Letaknya juga di atas bukit. Perlu 30 menit bermobil plus 20 menit jalan kaki ke sini. Beberapa meriam kuno masih terpasang mengarah ke laut, “menyambut” kedatangan musuh. Konon perairan ini dulu dilewati kapal penjajah yang “merampok” rempah dari Maluku. Di area benteng juga terdapat makam tokoh pejuang lokal dan bekas perkampungan.
Ada pula Jomba Katepi yang menyita perhatian. Sumur berlubang kecil sedalam lebih dari 100 meter itu ternyata WC “masa lalu”. Versi berbeda selain tempat buang hajat adalah tempat menceburkan orang-orang hukuman. Sayang, peninggalan arkeologis itu kurang mendapat perhatian. Saat ke sini, jalan setapak menuju benteng tertutup alang-alang. Bangunan benteng dan makam yang seharusnya terlihat, sebagian tertutup pohon dan semak belukar. Apa boleh buat, kesan angker yang terasa.
***
Hari itu juga kami mengunjungi Pulau Binongko. Kami tidak menggunakan kapal Menami, tapi naik speedboat agar cukup waktu. Esoknya kami harus balik badan ke Wangi-Wangi dan kembali ke Jakarta. Memakai perahu cepat, dari Tomia ke Binongko sekitar satu jam saja. Di Pulau Binongko kami mendatangi para tukang besi yang jumlahnya makin berkurang.
Kembali ke Tomia, kami mampir di Wakatobi Dive Resort. Resor eksklusif ini milik penanam modal asing. Mungkin jarang turis lokal menginap di sini. Kebanyakan turis asing berkantong tebal, karena paket menginap dan wisata selamnya dipatok dengan dolar.
Saking eksklusifnya, resor ini membangun Bandar Udara Maranggo, bandara kecil untuk pesawat pengangkut tamu mereka dari Bali. Pemerintah kabupaten pun sekarang tengah membangun lapangan terbang umum di Wangi-Wangi. Bandara yang bakal bernama Matahora ini memiliki landasan sepanjang 1.600 meter, pembangunannya ditargetkan rampung tahun 2008 ini. Sebuah maskapai penerbangan pelat merah sudah siap mendaratkan pesawatnya untuk menarik minat wisatawan berkunjung.
Saat perjalanan pulang dari Binongko, sejumlah ikan lumba-lumba beriringan melintas di depan speedboat kami. Saya jadi ingat yang dikatakan Veda Santiaji. Dulu, di Wakatobi terdapat 30 area pemijahan ikan alami. Pada 2003 jumlahnya menyusut tinggal 12 karena penangkapan ikan berlebihan atau over-fishing. Tahun lalu jumlah ini melorot lagi tinggal empat, dengan satu lokasi kini dalam keadaan kolaps.
Penangkapan ikan di area konservasi masih terjadi. Penggunaan bom untuk menangkap ikan masih dilakukan sembunyi-sembunyi, di tempat yang jauh dari pantauan. Penggunaan bius atau potas oleh nelayan yang dimodali pengusaha lokal masih marak.
Bom menghancurkan terumbu karang. Potas mematikan hewan karang dan sebaran racunnya merusak biota laut lain. Saya tercenung, jangan sampai Wakatobi tak lagi menjadi “surga” ikan-ikan dan terumbu karang.
Dimas Adityo, Wakatobi, April 2008
Sunday, July 16, 2006
Siapa seh yang nenek moyangnya pelaut?

Kami di Wanci kedatangan tamu tak diundang. Berbekal pesan dari seorang Yunani penggila bola yang ditemui di Banda Neira, Piere sekeluarga berlayar ke Wakatobi menuju Wanci mencari kantor WWF. Katanya sih ada orang yg baik yang bisa diajak ngobrol. Dan tibalah mereka sekeluarga dengan yacht-nya "Archibald" di Wanci 15 July 2006 kemarin. Nah mereka sekeluarga ini dah 9 bulan ninggalin negaranya, New Caledonia, hanya tuk memastikan bisa berkumpul sekeluarga setelah sekian tahun sibuk bekerja. Pak Pierre dan bu Veronique ninggalin pekerjaannya di rumah sakit dan satu klinik swasta, sebagai dokter, tuk mengarungi lautan bersama anak2nya. Pas ditanya kapan mo pulang, enteng aja mereka menjawab " Ya ntar deh kalau emang udah waktunya nyampe di New Caledonia, gak perlu ditarget deh..." Wow... Jadi sebenarnya siapa seh yang nenek moyangnya pelaut itu...?
Ntar dibawah ada sepenggal data yang dikumpulkan Rustam (journalist Media Sultra) , yang terpaksa kucatat juga berhubung kendala bahasa do'i pas mo wawancara.
Aku bareng Akas, Saleh, Rustam and Menami captain, menghabiskan sore yang asik itu ngobrol bersama Piere dan Veronique. Sementara anak2 mereka, asyik berlarian bermain di anjungan dan sekali dua keluar masuk cabin yang mungil tapi keliatan sangat nyaman itu. Gak tahan rasa ingin tahuku, kuminta ijin untuk melongok cabinnya. Ada 5 tempat tidur yang nyaman seukuran badan lebih dikit. Ada toilet kecil, kalau mandi gak muat kali ye.. dan dapur yang jg gak kalah mungilnya. Ada kulkas buat simpan ikan hasil pancingan atau memanah, tapi hanya berfungsi kalau langit cerah atau berangin kuat. Maklum pembangkit listrik di kapal itu melulu dihasilkan dengan solar panel dan kincir angin yang terletak di atas buritan kapal. Jadi untuk menghemat listrik, yang juga digunakan untuk mengakses email via laptop dengan satelit phone mereka dan penerangan serta perangkat pemandu pelayaran maka kulkas prioritas terakhir. Lagian selama perjalanan mereka gak kekurangan ikan hasil tangkapan. Praktis duit cuma tuk beli beras dan sayur dan buah kata Veronique. Lumayan irit..!
Gak terasa senja kian gelap, terpaksa deh kami harus balik ke darat. Gak enak lagi, siapa tahu mereka mo dinner, kita kan jadi ngrepotin. Terpaksa dengan masih memendam rasa penasaran dan ingin tahu yang masih menggumpal kami mohon pamit dari kapal mereka.
Yang bikin takjub lagi pas kami mo pulang dari berkunjung di yacht yang mungil tapi canggih itu mereka sempat nanya
"Ada gak sih tempat sampah di Wanci?"
Pikirku "Maksudnya apa neh...?"
Veronique bilang bahwa pagi tadi pas turun ke darat n sampai ke pasar, tuk belanja, doi tuh bawa dua plastik isi sampah mereka. Nah nglongok kiri kanan gak dapetin yang namanya tempat sampah. Karenanya mereka bawa balik lagi deh tas plastik isi sampah itu ke kapalnya. Hebat gak seh...?
Yah karena gak mo malu, masak segede ini pulau Wangi-Wangi gak ada tempat sampah, maka kami putuskan untuk bawa saja tuh plastik dua buah tuk kami buang ke tempat sampah di kantor. Itu baru bangsa pelaut ! Gak tega ngotorin laut biar gak ada yang ngawasin mereka, ya gak...
My note :
Pierre and Veronique with Archibald yacht.
They left New Caledonian on Sept 2005
They both are doctors who used to work at hospital and private clinic.
Their children study by themselves under their own control and they sent 6 weekly test/exam to France through Veronique sister.
The kids study Math, Geography, French, English, Science, Drawing, Art.
They bring modul for Sept-June, when pass the exam they will get the new modul for next class level.
They had been lived on the Archibald for 6 years since they move from France to New Caledonian
They journey passed Vanuatu, Papua New Guinea, Manokwari, Sorong, Banda Neira n Wangi2.
Then Hoga, Tomia, Takabonerate, Maumere, Flores, Bali, Kalimantan, Malaysia, Singapore, Thailand, Madagascar, South Africa, Panama n back to New Caledonian
They stayed at Banda for a week on June and watch World Cup game especially on France match facing Spain, Brazil, n then the final with Italia.
The boat has 500 liter freshwater and solar panel and wind generator for electricity.
They usually get freshwater from rain.The boat is 19 gt, 15 m length and 4 m wide, with 5 bed in the cabin.
Monday, July 10, 2006
jurnal 8 juli 2006

Sejak tanggal 5 Juli kemarin, 25 orang petani rumput laut di Wakatobi kedatangan dua tamu. Pak Hariadi dan Pak Marcel diundang Balai Taman Nasional Kepulauan Wakatobi untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam mengelola usaha budidaya rumput laut. Pak Hariadi memulai usahanya sejak 1967. Bisa jadi beliaulah yang memulai usaha budidaya rumput laut di Indonesia ini. Kalau Pak Marcel sih pengusaha rumput laut yang masih aktif pengekspor sampai sekarang melalui perusahaannya CV Sumber Rejeki di Menado.
Tips untuk Pembudidaya Rumput Laut
Lokasi
- Dasar pasir sedikit kasar atau karang atau karang berpasir
- Arus air berkisar antara 20 – 40 cm/detik
- Salinitas : 28 – 33 ppt
- Di dasar terdapat hamparan sargassum atau lamun
- Untuk lepas dasar minimum bisa dipasang 30 cm dari dasar (saat surut)
Tanam
1. Pilih bibit yang banyak cabangnya dan tidak cacat atau terluka agar hasilnya pun akan bagus.
2. Ikatkan bibit pada tali ris dengan cara ikat seperti mengikat kolor celana. Ini agar dapat dilepas dengan mudah tanpa harus memotong rumput laut itu. Agar tidak mudah terlepas karena arus, jangan lupa kunci dua kali ikatan tersebut.
3. Lebih baik gunakan tali rafia atau plastik untuk es dibanding tali nilon. Ini agar rumput laut yang tumbuh besar nantinya tidak mudah terpotong karena tajamnya tali nilon.
4. Apabila pertumbuhan rumput laut di lokasi tanam sangat cepat, pasang saja bibit yang kecil dan cukup dua tangkai per ikatan.
5. Ketika membawa bibit baik saat mengambil maupun akan menanam, upayakan selalu terlindungi dari panas matahari. Untuk itu di perahu perlu dipasangkan tudungan dari bambu atau karton. Jangan langsung ditutup dengan plastik karena perlu udara di bawah tudungan tersebut.
6. Bibit yang belum sempat dipasang, bisa direndam dulu di air laut agar tetap segar dan sehat.
7. Untuk tanam apung upayakan tali ris 20 cm dari permukaan air laut. Ini untuk mencegah rumput laut terekspos langsung oleh sinar matahari, yang akan menyebabkan kerusakan.
Pelihara
1. Salah satu musuh rumput laut adalah lumut. Selalu bersihkan rumput laut dari lumut. Ini agar rumput laut anda tidak dimakan ikan. Ikan memakan lumut, karena lumut menempel di rumput laut maka termakan pula rumput laut itu.
2. Arus yang kurang kuat akan menyebabkan tumbuhnya lumut lebih cepat, untuk itu perlu lebih rajin lagi pemeliharaan agar tidak menurun pertumbuhan rumput laut karena terselebungi lumut.
3. Belum ada pupuk yang tepat bagi rumput laut. ”Pupuk” terbaik adalah bayang-bayang manusia, dimana artinya pemeliharaan setiap hari.
4. Rumput laut harus dibiarkan di perairan selama minimal 45 hari. Kurang dari itu akan menyebabkan kualitas karagenan rendah.
5. Apabila pertumbuhan terlalu cepat besar, kurangi bibitnya, jangan mengurangi hari tanam kurang dari 45 hari.
Panen
1. Setelah umur 45 hari segeralah dipanen, agar tidak rugi waktu.
2. Masih dalam keadaan terikat di tali ris, rumput laut tidak perlu dilepas dulu. Tiriskan saja di gantungan yang dapat dibuat dari bambu seperti jemuran baju.
3. Tiriskan rumput laut selama 1 sampai 1,5 hari bersama tali risnya. Ini bisa sekalian menjemur tali ris hingga kering.
4. Setelah ditiriskan baru lepaskan rumput laut dari tali risnya. Ingat jangan melepas rumput laut dengan cara menariknya karena akan melukai tangkai rumput laut dang membuang kandungan karagenan dalam rumput laut.
5. Apabila ikatan seperti tali kolor celana yang digunakan maka akan lebih mudah melepasnya. 6. Bila tidak bisa dilepas dengan memotong tangkai tepat di jeratan tali sehingga luka dapat diminimalkan.
Pasca Panen
1. Penjemuran harus dilakukan di atas para-para, dan jangan di atas tanah atau lantai. Ini untuk mempercepat proses pengeringan dan tidak kotor.
2. Hamparkan rumput laut di para-para selapis saja. Jangan menumpuk terlalu tebal agar proses pengeringan merata.
3. Setiap dua sampai tiga jam sekali hamparan tersebut harus dibolak-balik agar lebih merata keringnya.
4. Standar kualitas rumput laut yang baik adalah : kandungan air maksimum 35% dengan kekotoran maksimum 2%.
5. Penyimpanan di gudang atau di rumah tetap harus ditutupi plastik atau di dalam karung agar tidak terserap lagi uap air di udara. Apabila rumput laut kering berwarna putih bisa jadi pernah tersiram air tawar atau kena hujan.
6. Satu karung plastik 100 kg umumnya memuat 80 kg rumput laut.
jurnal 10 juli 2006



Hari ini berakhir pelatihan operator radio untuk beberapa rekan yang telah memiliki maupun baru mau bikin radio komunitas. Tiga rekan dari Kendari : Bayu, Fadly dan Berpin, memandu pelatihan ini. Bayu dan Fadly melatih pembuatan materi siaran radio baik berupa berita, iklan ataupun feature. Sedangkan Berpin melatih pemeliharaan perangkat siar radio dan merakit pemancar.
Tuesday, August 02, 2005
jurnal 1 Agustus 2005
Pelabuhan Murhum pukul 21.05. KM Riko Saputra tujuan Wanci, sudah menurunkan putaran mesinnya pertanda bersiap untuk melaut kembali setelah seharian tambat.
Pagi tadi acaraku pertemuan dengan staf Balai TNKW untuk evaluasi program outreach dan membahas tindaklanjut pertemuan-pertemuannya. Selesai pukul 15 - an melanjutkan acara hari ini dengan nongkrong di Kamali Beach bersama Beloro, rekan dari Kaledupa. Tampak keramaian wisatawan lokal yang menikmati pinggiran pantai yang belum selesai direhab itu.
Sambil menikmati nasi campur, kulihat speed "Nautilus" meluncur dari utara menuju pelabuhan ferry. "Pasti itu Bardin" gumamku. Tadi pagi sebelum meninggalkan kamar 205 hotel Rajawali ia sempat bilang mau ujicoba speed baru yang sedang finishing setelah beberapa hari dibongkar akibat kesalahan desain di Jakarta.
Pagi tadi acaraku pertemuan dengan staf Balai TNKW untuk evaluasi program outreach dan membahas tindaklanjut pertemuan-pertemuannya. Selesai pukul 15 - an melanjutkan acara hari ini dengan nongkrong di Kamali Beach bersama Beloro, rekan dari Kaledupa. Tampak keramaian wisatawan lokal yang menikmati pinggiran pantai yang belum selesai direhab itu.
Sambil menikmati nasi campur, kulihat speed "Nautilus" meluncur dari utara menuju pelabuhan ferry. "Pasti itu Bardin" gumamku. Tadi pagi sebelum meninggalkan kamar 205 hotel Rajawali ia sempat bilang mau ujicoba speed baru yang sedang finishing setelah beberapa hari dibongkar akibat kesalahan desain di Jakarta.
Subscribe to:
Posts (Atom)