Showing posts with label Forum Nelayan. Show all posts
Showing posts with label Forum Nelayan. Show all posts

Tuesday, June 01, 2010

Pelatihan Penilaian Mandiri Ekowisata di Wakatobi

Kerja bareng Pemkab Wakatobi, Balai TN Wakatobi, dan Join Program TNC-WWF melakukan assessment mengenai peluang pengembangan ekowisata berbasis masyarakat. Untuk itu diundanglah INDECON untuk memfasilitasi pelatihannya sekaligus melakukan assessment. Tim pendahulu INDECON Khaerul dan Rifky, meluncur lebih dulu dari Jakarta ke Wakatobi pada tanggal 21 Mei 2010. Tiba di Wakatobi langsung melihat2 kampung Bajo di Mola. Keesokan harinya menyeberang ke Kapota dipandu oleh Ali Basaru, fasilitator lokal TNC-WWF.
Hari Senin, 24 Mei 2010, bersama LD Arifudin (Outreach Officer TNC-WWF) dan Suliyanto (staf DISBUDPAR Wktb), meluncurlah mereka ke pulau Binongko. Di Binongko mereka melakukan Diskusi Fokus dengan beberapa narasumber lokal. Pertemuan ini dilakukan di dua tempat, Wali dan Oihu.
Setelah menghabiskan waktu semalam sehari, mereka menyeberang ke pulau Tomia untuk melakukan hal yang sama dengan di Binongko.
Hari Rabu, 26 Mei 2010, mbak Wita dan mas Ary Suwandi, menyusul tiba di Wangi-Wangi dan langsung menelusuri kampung Mola. Malamnya, kami berkunjung ke Patuno Beach Resort, untuk bertemu Kepala Dinas BUDPAR Wktb dan Bupati Wakatobi. Malam itu ada pemaparan tim BRKP yang melakukan study kelayakan tahap awal untuk pemasangan listrik tenaga arus laut.
Esok harinya diantar Sadar, mas Ary n mbak Wita, ke pelabuhan penyeberangan reguler WangiWangi - Kaledupa, untuk bergabung dengan Khaerul n Rifky di Kaledupa.

Tanggal 30 - 31 Mei 2010 adalah hari pelatihannya. Beberapa wakil masyarakat dari Binongko, Tomia, Kaledupa dan Wangi-Wangi diundang untuk ikut serta dalam pelatihan ini. Acara dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata, Bpk H. Hasirun Ady, yang dilanjutkan penyampaian materi pertama olehnya. Belum lewat setengah materi terjadilah guncangan yang lumayan mengejutkan peserta. Panik! Bagaimana tidak, kami berada di lantai 3 hotel Azizyah yang saat itu bergoyang kurang lebih selama 30 detik. Selama 7 tahun bertugas di Wakatobi, inilah guncangan terkuat yang kurasakan. Hmm ini gempa apa ada paus nabrak pulau neh :)
Bubarlah semua dan kabur ke luar gedung. Akibatnya tertundalah penyampaian materi sekitar satu jam untuk menenangkan diri. Selanjutnya bergeserlah acara tersebut ke ruang restoran di lantai dasar. Yah.. setidaknya cukup dekatlah kalau diperlukan kabur lagi. Walaupun akhirnya sampai selesai acara tidak ada lagi guncangan susulan.


Friday, March 21, 2008

Berupaya Demi Penghidupan Masa Depan

Text by Sari Widiati, GARUDA Magazine Maret 2008

Sebagian besar wilayah Indonesia merupakan pusat segitiga terumbu karang (The Coral Triangle Center) dunia bersama dengan Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste dan Kepulauan Solomon, mencakupi 5,7 juta km2 wilayah laut.

Taman Nasional (TN) Wakatobi di Sulawesi Tenggara, yang berada di pusatnya, terus mengupayakan penyelamatan dan pelestarian kekayaan alamnya demi keseimbangan dan penghidupan masa depan yang lebih baik.

Pulau Hoga dijadikan tempat penelitian Operation Wallacoa di TN Wakatobi.

Andalan bagi Berbagai Sektor
Ditetapkan sebagai taman nasional pada 1996 oleh Departemen Kehutanan ketika masih menjadi bagian Kabupaten Buton, nasib Wakatobi, yang merupakan gugusan dari empat pulau besar—Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko—sama seperti taman nasional-taman nasional lainnya di Indonesia. Di samping sebagai tumpuan hidup masyarakat di sekitarnya, ia juga diandalkan oleh berbagai sektor penting. Dilihat dari wilayahnya yang merupakan 97% laut, sektor perikanan dan kelautan adalah yang paling utama setelah pariwisata.

Dengan luas 1.390 juta hektar yang memiliki 39 pulau (hanya tujuh pulau berpenghuni), tiga gosong (beting) dan lima atol (pulau karang), TN Wakatobi menyimpan kekayaan yang melimpah. Tercatat ada 942 jenis ikan dan 750 spesies karang di dalamnya. Bandingkan ini dengan kawasan Karibia yang hanya memiliki 50 spesies karang dan Laut Merah 300 spesies karang serta di dunia yang berjumlah 850 spesies karang saja.

Berdasarkan penelitian Operation Wallacea—pusat penelitian berbasis di Inggris yang membuka pusat penelitiannya di Pulau Hoga, Wakatobi—diasumsikan bahwa 90% kekayaan alam dunia itu terdapat pada taman nasional ini. Belum lagi dalam area seluas 90 ribu hektar terumbu karang itu terdapat atol 48km di Kaledupa, terpanjang di dunia.

Dengan posisinya yang dikelilingi oleh Laut Banda, Laut Flores dan Pulau Buton, ia memiliki keistimewaan tersendiri dibanding daerah-daerah lain karena kemampuannya memberikan jaminan ketahanan dan kemampuan pulih yang tinggi bagi spesies terumbu karang jika mengalami kerusakan. Itu dikarenakan pola arus air yang mempertahankan area ini yang juga berperan sehingga tidak mudah terkena dampak bleaching akibat pemanasan global.

Kegiatan monitoring adalah penting untuk pengelolaan konservasi di TN Wakatobi.Tidak berlebihan jika taman nasional ini dinobatkan sebagai surga bawah laut bagi para penyelam dunia yang disediakan 29 titik penyelaman yang tersebar di kawasannya. Kekayaan hayati yang tinggi tersebut tidaklah serta merta membuai untuk terus digunakan tanpa batas. Praktik penangkapan ikan yang merugikan, seperti pengeboman, penggunaan racun sianida dan kegiatan destruktif lainnya, menjadi ancaman yang terus menghantui. Namun, kondisi yang memprihatinkan itu membentuk pola pikir konservasi akan pentingnya potensi hayati agar di masa depan ia tetap dapat menghidupi masyarakat Waktobi dan pada saat yang sama tetap bagian terpenting dari The Coral Triangle Center.

Berperan untuk Pelestarian
Keindahan TN Wakatobi juga mendorong para pemerhati dan pelestari lingkungan baik dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan masyarakat untuk bersama-sama melakukan konservasi guna memperpanjang kehidupan hingga generasi selanjutnya.

Dari peninjauan pada kegiatan Visit Wakatobi bersama WWF-Indonesia beberapa waktu lalu telah terbentuk kesepahaman dalam mengelola pelestarian TN Wakatobi yang dilakukan pemerintah serta LSM atau organisasi terkait, yang kemudian membentuk inisiatif masyarakat untuk berbuat arif.

Setelah membentuk kabupaten baru, yaitu Kabupaten Wakatobi pada 2004, pemerintah setempat semakin serius dalam pengelolaan konservasi aset penting itu. Salah satunya dengan menerapkan sistem zonasi yang dalam perumusannya telah disepakati bersama antara pemerintah pusat, pemerintah kabupaten dan masyarakat setempat. Disusun melalui proses konsultasi publik yang melibatkan banyak pihak, termasuk kelompok-kelompok masyarakat, khususnya kelompok pemanfaat sumber daya alam kelautan di Wakatobi.

Kegiatan monitoring adalah penting untuk pengelolaan konservasi di TN Wakatobi.Sistem zonasi yang ditanda tangani bersama dengan Direktur Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan (PHKA-Dephut) pada 23 Juli 2007 tersebut adalah salah satu cara strategis yang diyakini dapat menjamin pelestarian sumber daya alam hayati serta untuk keberlangsungan perekonomian berbasis masyarakat dan untuk kabupaten.
Aturan zonasi terdiri dari zona inti: daerah larang ambil dan larang lintas, dan zona perlindungan bahari. Daerah larang ambil, boleh lintas dan zona wisata mencakup 36% dari total target konservasi.

Aturan zonasi ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Tata Ruang Wilayah Wakatobi; pemerintah kabupaten kemudian menyusun visi pembangunan yang mengedepankan dua sektor unggulan, pariwisata dan perikanan.

Sebagai pendukung dalam bidang infrastruktur dibangun lapangan terbang di Wangi-Wangi yang direncanakan beroperasi pada awal 2008. Menurut Bupati Wakatobi Huguan "Dengan adanya lapangan terbang ini Wakatobi tidak lagi terisolasi sehingga lebih mudah dicapai oleh siapa pun yang mau berkunjung, khususnya wisatawan. Untuk sektor perikanan, pemerintah kabupaten mengarahkan peralihan dari perikanan karang ke perikanan laut dalam dan budidaya komiditi laut."

Dalam hal penyelenggaraan pelestarian, Balai TN Wakatobi sebagai badan pengelola kawasan konservasi memiliki 3 pilar utama. Seperti yang disampaikan Kepala Balai TN Wakatobi Wahju Rudianto, "3 pilar utama yang diemban atau diamanatkan itu terdiri dari perlindungan kawasan, pengawetan sumber daya alam dan pemanfaatan sumber daya alam itu sendiri secara lestari."

Kemudian, Wahju Rudianto menjelaskan bahwa dari hasil penyusunan zonasi ada 11 sumber daya penting yang menjadi prioritas konservasi, mereka adalah terumbu karang yang terdiri dari tiga macam; terumbu karang tepi, terumbu karang penghalang dan terumbu karang atol. Kemudian SPAGs (Spawning Aggregation sites) yaitu lokasi pemijahan ikan, penyu, mangrove, burung migran, upwelling (naiknya massa air dari kedalaman ke permukaan yang membawa zat hara), lintasan mamalia laut, padang lamun (seagrass) dan rumput laut (seaweed).

Kejernihan air laut di Pulau Binongko.Perumusan konsep konservasi pun tidak terlepas dari peran aktif organisasi atau LSM pecinta lingkungan. Dari keterangan Project Leader Program Bersama WWF-TNC (The Nature Conservancy) Wakatobi Veda Santiaji, survey lapangan dimulai pada 2003 dengan berkerja sama dengan Balai TN Wakatobi untuk eksplorasi awal dan kelayakan program untuk diterapkan. Dari situ, difokuskan tiga hal untuk lebih dioptimalkan. Pertama, meng-komprehensifkan desain perencanaan kawasan yang juga ditinjau dari pertimbangan ekologis, kepentingan sosial dan ekonomi serta target yang ingin dikejar dalam pengembangannya. Kedua, kegiatan monitoring secara kontinyu sebagai dasar pertimbangan pengelolaan, termasuk penyediaan alat pengamanan dan operasionalnya serta sumber daya manusia. Ketiga, penyuluhan dan pengorganisasian kelompok-kelompok masyarakat sampai pada titik kesadaran bahwa potensi TN Wakatobi yang menjadi bagian hidup mereka harus dijaga kelestariannya.

Upaya-upaya yang dilakukan di atas pada akhirnya membentuk kesetaraan pemahaman di antara masyarakat dalam pengelolaan potensi TN Wakatobi. Mereka yang berpikir lebih jauh mengenai keberlangsungan masa depan segera melahirkan organisasi kecil yang menunjang seperti Forkani (Forum Komunitas Tani) dan Komunto (Kelompok-Kelompok Nelayan Tomia).

Berkat buah pikiran dan tenaga yang mereka lakukan di atas, bukan hal yang mustahil jika TN Wakatobi terus hidup. Namun yang terpenting adalah bagaimana terus menyalakan semangat melestarikannya meskipun masih banyak yang enggan atau bahkan tidak peduli akan nasibnya di masa depan.

Friday, January 18, 2008

Pelatihan Perikanan


Di Tomia tepatnya di Balai Desa Kulati, tidak kurang dari 20 orang nelayan berkumpul untuk melaksanakan pelatihan perikanan pelagis.  Ke 20 orang tersebut berbagi pengetahuan dan pengalaman dipandu oleh Abbas, nelayan jaring lingkar dari Tomia.  Selain itu ada dua narasumber juga hadir yaitu Bpk. Bambang Sadhotomo dari BRPL dan Imam dari WWF Indonesia.

Wednesday, August 02, 2006

Munculnya Gerakan Kemandirian

Hal-hal besar sering kali berawal dari sepotong kesadaran awal yang mulanya tampak kecil. Itulah yang kini muncul bagai gelombang dan menggulung kelompok petani rumput laut dan nelayan di gugusan Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. 
Dalam sebuah kalimat, inilah kesadaran yang menggerakkan itu, "jangan pernah berharap pada orang-orang Kaledupa yang ada di luar sana. Nasib warga ditentukan oleh kita yang ada di sini." Adalah Ketua Forum Kahedupa Toudani (Forkani), La Beloro, yang mengungkapkan kalimat itu. 
Forum yang berdiri tahun 2002 itu berawal dari sebuah kegelisahan. Gantungan hidup mereka yang mulai mapan terancam musnah karena zonasi Balai Taman Nasional Kepulauan Wakatobi (TNKW). Perlu diketahui, seluruh wilayah Kabupaten Wakatobi seluas 1,3 juta hektar juga merupakan kawasan taman nasional. 
Zonasi yang diakui Kepala Balai TNKW disusun di atas meja nun jauh di Kendari sana-memasukkan kawasan pertanian rumput laut warga ke dalam zona inti. Artinya, di lahan mereka itu dilarang ada aktivitas pemanfaatan. "Bagaimana hidup kami nantinya?" kata La Beloro, mewakili seruan para petani rumput laut yang di Pulau Kaledupa berjumlah sekitar sepuluh persennya. 
Maka, tak ada pilihan selain memulai perlawanan. Namun, semua dilakukan dengan dialog. Warga mengusulkan agar zona inti diterapkan di bagian tubir, bukan di kawasan pantai. 
"Kalau pemerintah maunya memaksa, kenapa tidak kami bom saja semua terumbu karang yang bagus supaya rusak dan tidak ada taman nasional," demikian dikatakan Beloro, ketika mengisahkan perjalanan berdirinya Forkani kepada rombongan wartawan dari Jakarta dan Kendari di Pulau Hoga, pada akhir Mei 2006 lalu. 
Perlawanan mereka berhasil, karena pihak Balai TNKW menyadari kekeliruannya yang merumuskan penzonaan tanpa mempelajari kawasan terlebih dahulu. Kini, Forkani selalu dilibatkan dalam revisi zonasi yang sedang dibahas. 
Dalam kurun waktu empat tahun, Forkani telah memiliki 22 kelompok binaan di 11 desa di Pulau Kaledupa. Secara rutin setiap kelompok mengadakan pertemuan membahas persoalan-persoalan aktual dan mencari solusinya. 
Menurut Beloro, sebagaimana diiyakan beberapa pengurus yang hadir dalam pertemuan, tak ada upah bagi mereka untuk menggerakkan organisasi. Justru mereka mengeluarkan iuran rutin. 
Semangat dan kejelasan visi dan misi Forkani terlihat dalam antusiasme dan susunan program kerjanya. Salah satu rencana yang tertunda adalah membentuk koperasi simpan pinjam yang terkendala pagu keuangan Rp 12 juta. 
Mereka juga berencana mendirikan radio komunitas sebagai ajang komunikasi antaranggota. Radio juga akan dijadikan sarana pembentukan kelompok di setiap desa di Kaledupa. 
Membela hak 
Adapun program utama Forkani-yang ditegaskan menjadi prinsip utama-adalah pembelaan hak-hak atas sumber daya alam setempat. Sungguh sebuah kesadaran yang tidak umum dimiliki komunitas masyarakat di daerah lain di Indonesia. 
Kalaupun muncul kesadaran, umumnya tidak sampai pada pembentukan sebuah organisasi seperti halnya Forkani. Apalagi bergerak dengan visi dan misi yang rinci. "Adalah penting memberi pendidikan dan menekankan pentingnya konservasi, tetapi penting juga memberi akses ekonomi bagi masyarakat. Pemerintah juga harus bisa membuat masyarakat tidak bergantung kepada SDA. Harus punya alternatif," kata Beloro. 
Selama masih terus bergantung kepada SDA, kearifan sebesar apa pun lambat laun akan luntur oleh keterdesakan kebutuhan hidup. Demikian pula pengambilan dari alam seramah apa pun akan menyebabkan lingkungan menjadi kolaps. 
Salah satu contoh konkret yang ditawarkan Forkani, khususnya bagi masyarakat Kaledupa adalah melatih memanfaatkan lahan untuk kebun sayur mayur. Seluruh kebutuhan sayur di Kaledupa dan pulau-pulau lain di Wakatobi selama ini disuplai dari Bau-Bau, Pulau Buton. 
Gugusan karang yang menjadi Pulau Kaledupa sebagian besar ditumbuhi pohon kelapa, jambu mente, perdu, dan semak belukar. Tak ada perladangan sayur mayur di sana. 
Forkani juga menyerukan perlunya pelatihan intensif untuk memberi nilai tambah produk rumput laut. Kamaluddin (43), petani rumput laut yang mengenal budidaya rumput laut sepuluh tahun lalu berkisah, hingga kini ia dan semua petani lainnya hanya dapat menjual rumput laut kering kepada tengkulak. "Harganya terserah mereka," kata dia. 
Saat ini, hampir merata di seluruh Wakatobi, harga rumput laut kering Rp 3.600 per kilogramnya. Harga ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Adanya keahlian baru mengolah rumput laut diharapkan turut mendongkrak pendapatan mereka. 
Para petani mengaku sulit mengubah situasi yang ada sekarang ini, karena ketika rumput laut mereka jual langsung ke pengepul di Bau-Bau, harganya justru anjlok. "Seperti ada kesepakatan mereka dengan tengkulak," lanjut Kamaluddin. 
Kamaluddin mengaku masih beruntung karena berhasil keluar dari rantai tengkulak yang pernah membelitnya. Para tengkulak umumnya memberi bantuan modal bibit dan tali dengan perjanjian seluruh hasil panenan harus dijual kepada mereka. Tentu dengan harga tertekan. 
Kesadaran mengubah roda nasib juga muncul di Pulau Tomia, salah satu pulau besar tetangga Kaledupa. Di pulau dengan rumah-rumah yang tertata rapi di kawasan pesisir tersebut, berdiri tiga kelompok nelayan jaring. "Kami melihat perlunya kebersamaan untuk maju," kata Armin, Ketua Kelompok Lapara-para. 
Dua kelompok lainnya adalah Lapotau-tau dan Lakomay. Ketiga kelompok beranggotakan 163 nelayan yang menyadari daya rusak bom ikan. Berbeda dengan Forkani, berdirinya ketiga kelompok itu tidak lepas dari dorongan WWF dan TNC, dua LSM yang bekerja sama dengan Balai TNKW. 
Salah satu impian sederhana Lapara-para yang berdiri enam bulan lalu adalah keberadaan zona pemijahan ikan. Nantinya, di zona tersebut para nelayan tidak akan melempar jaring atau memancing ikan. Sebaliknya, titik tersebut dijaga demi perkembangbiakan ikan. 
Harapannya, dalam tiga tahun di sekitar kawasan pemijahan itu, ikan-ikan akan mudah ditangkap. Nelayan tradisional bermodal kecil pun tak perlu jauh-jauh ke tengah laut untuk mendapat ikan. 
Yang diharapkan tertangkap, di antaranya ikan sunu hitam seharga Rp 20.000 per kilogram (kg) dan kerapu macan seharga Rp 40.000 per kg. "Hasil rata-rata per hari kami antara 3-4 kilogram. Cukup untuk hidup anak istri selama dua hari. Tidak perlu terlalu luar biasa," kata Armin. 
Hasil rata-rata yang dimaksud Armin khusus untuk bulan-bulan tertentu, yakni antara Oktober-April yang merupakan musim ikan. Di luar bulan itu, hasil ikan tak bisa dijadikan gantungan hidup keluarga nelayan tradisional. 
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, selain sebagai nelayan, tidak sedikit penduduk pulau yang berdagang antarpulau atau menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia atau Singapura. 
Terus eksploitasi 
Menurut Armin, secara teori sebenarnya mereka bisa membudidayakan ikan laut, tetapi keterbatasan pengetahuan belum memungkinkan hal itu. Satu-satunya jalan yang sudah mentradisi, ya terus mengambil dari alam. 
Menurut Veda Santiaji, staf Outreach WWF untuk Wakatobi, pendekatan yang dilakukan kepada para nelayan sejak tahun 2003, di antaranya mengarahkan pada pengorganisasian diri dengan mengajak sejumlah tokoh masyarakat ikut dalam pelatihan. Selain untuk memudahkan penjagaan kawasan taman nasional, para nelayan pun dapat bersama-sama memecahkan persoalan mereka sendiri. Tentu dengan bantuan fasilitas. "Selama ini mereka berjalan sendiri." 
Sebenarnya, seperti diungkapkan Armin, mereka telah memiliki nilai budaya seperti poasa-asa (bersama-sama) dan pohamba-hamba (bantu membantu) dalam berkehidupan. Namun, selama ini nilai itu menghilang. 
Kini, nilai kebersamaan itu muncul kembali bersama kesadaran untuk maju dan hidup lebih baik. Jika kesadaran itu baru saja bertunas di Tomia, di Kaledupa sudah tumbuh. Kelompok-kelompok itu terus berkembang dengan berbagai persoalan masing-masing. Campur tangan pemerintah sungguh dibutuhkan. Namun, dengan atau tanpa campur tangan itu, mereka sesungguhnya telah menemukan kekuatan yang hebat.

Oleh GESIT ARIYANTO Kompas, Kamis, 27 Juli 2006

Monday, July 10, 2006

jurnal 8 juli 2006


Sejak tanggal 5 Juli kemarin, 25 orang petani rumput laut di Wakatobi kedatangan dua tamu. Pak Hariadi dan Pak Marcel diundang Balai Taman Nasional Kepulauan Wakatobi untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam mengelola usaha budidaya rumput laut. Pak Hariadi memulai usahanya sejak 1967. Bisa jadi beliaulah yang memulai usaha budidaya rumput laut di Indonesia ini. Kalau Pak Marcel sih pengusaha rumput laut yang masih aktif pengekspor sampai sekarang melalui perusahaannya CV Sumber Rejeki di Menado.



Tips untuk Pembudidaya Rumput Laut

Lokasi
- Dasar pasir sedikit kasar atau karang atau karang berpasir
- Arus air berkisar antara 20 – 40 cm/detik
- Salinitas : 28 – 33 ppt
- Di dasar terdapat hamparan sargassum atau lamun
- Untuk lepas dasar minimum bisa dipasang 30 cm dari dasar (saat surut)

Tanam
1. Pilih bibit yang banyak cabangnya dan tidak cacat atau terluka agar hasilnya pun akan bagus.
2. Ikatkan bibit pada tali ris dengan cara ikat seperti mengikat kolor celana. Ini agar dapat dilepas dengan mudah tanpa harus memotong rumput laut itu. Agar tidak mudah terlepas karena arus, jangan lupa kunci dua kali ikatan tersebut.
3. Lebih baik gunakan tali rafia atau plastik untuk es dibanding tali nilon. Ini agar rumput laut yang tumbuh besar nantinya tidak mudah terpotong karena tajamnya tali nilon.
4. Apabila pertumbuhan rumput laut di lokasi tanam sangat cepat, pasang saja bibit yang kecil dan cukup dua tangkai per ikatan.
5. Ketika membawa bibit baik saat mengambil maupun akan menanam, upayakan selalu terlindungi dari panas matahari. Untuk itu di perahu perlu dipasangkan tudungan dari bambu atau karton. Jangan langsung ditutup dengan plastik karena perlu udara di bawah tudungan tersebut.
6. Bibit yang belum sempat dipasang, bisa direndam dulu di air laut agar tetap segar dan sehat.
7. Untuk tanam apung upayakan tali ris 20 cm dari permukaan air laut. Ini untuk mencegah rumput laut terekspos langsung oleh sinar matahari, yang akan menyebabkan kerusakan.


Pelihara
1. Salah satu musuh rumput laut adalah lumut. Selalu bersihkan rumput laut dari lumut. Ini agar rumput laut anda tidak dimakan ikan. Ikan memakan lumut, karena lumut menempel di rumput laut maka termakan pula rumput laut itu.
2. Arus yang kurang kuat akan menyebabkan tumbuhnya lumut lebih cepat, untuk itu perlu lebih rajin lagi pemeliharaan agar tidak menurun pertumbuhan rumput laut karena terselebungi lumut.
3. Belum ada pupuk yang tepat bagi rumput laut. ”Pupuk” terbaik adalah bayang-bayang manusia, dimana artinya pemeliharaan setiap hari.
4. Rumput laut harus dibiarkan di perairan selama minimal 45 hari. Kurang dari itu akan menyebabkan kualitas karagenan rendah.
5. Apabila pertumbuhan terlalu cepat besar, kurangi bibitnya, jangan mengurangi hari tanam kurang dari 45 hari.



Panen
1. Setelah umur 45 hari segeralah dipanen, agar tidak rugi waktu.
2. Masih dalam keadaan terikat di tali ris, rumput laut tidak perlu dilepas dulu. Tiriskan saja di gantungan yang dapat dibuat dari bambu seperti jemuran baju.
3. Tiriskan rumput laut selama 1 sampai 1,5 hari bersama tali risnya. Ini bisa sekalian menjemur tali ris hingga kering.
4. Setelah ditiriskan baru lepaskan rumput laut dari tali risnya. Ingat jangan melepas rumput laut dengan cara menariknya karena akan melukai tangkai rumput laut dang membuang kandungan karagenan dalam rumput laut.
5. Apabila ikatan seperti tali kolor celana yang digunakan maka akan lebih mudah melepasnya. 6. Bila tidak bisa dilepas dengan memotong tangkai tepat di jeratan tali sehingga luka dapat diminimalkan.


Pasca Panen
1. Penjemuran harus dilakukan di atas para-para, dan jangan di atas tanah atau lantai. Ini untuk mempercepat proses pengeringan dan tidak kotor.
2. Hamparkan rumput laut di para-para selapis saja. Jangan menumpuk terlalu tebal agar proses pengeringan merata.
3. Setiap dua sampai tiga jam sekali hamparan tersebut harus dibolak-balik agar lebih merata keringnya.
4. Standar kualitas rumput laut yang baik adalah : kandungan air maksimum 35% dengan kekotoran maksimum 2%.
5. Penyimpanan di gudang atau di rumah tetap harus ditutupi plastik atau di dalam karung agar tidak terserap lagi uap air di udara. Apabila rumput laut kering berwarna putih bisa jadi pernah tersiram air tawar atau kena hujan.
6. Satu karung plastik 100 kg umumnya memuat 80 kg rumput laut.