Thursday, May 08, 2008
Wakatobi Belum Terpengaruh Perubahan Iklim
“Kami tak menemukan adanya tanda kenaikan air laut yang berpengaruh pada tenggelamnya pulau-pulau di kawasan konservasi Wakatobi saat ini,” urai Wahju Rudianto, Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, Minggu (1/4), di Jakarta.
Justru yang ada saat ini, menurutnya, merupakan kecenderungan naiknya permukaan gosong-gosong (pulau karang) di sana. “Seperti gosong Kabota, yang menurut pengamatan kami malah tumbuh terus permukaan tanahnya,” papar beliau.
Kondisi tersebut menurutnya lazim terjadi karena wilayah ini merupakan daerah tumbukan lempengan. Karena pertumbukan itu, ada beberapa pulau karang terus naik wilayah permukaannya. Data tersebut kemudian disebut Wahju, baru dari pengamatan melalui pasang surut air laut.
Wilayah Wakatobi sendiri dikenal sebagai area dengan topografi bergelombang. Kebanyakan sisi yang menjorok lautan, tidak datar langsung menemui laut. Keberadaan tersebut membuat kondisi fluktuasi kenaikan air laut karena perubahan iklim menjadi isu yang tidak terlalu mencemaskan.
Karena pandangan itu pula, kemudian belum ada program adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim di sana. “Bukan menyepelekan, namun bila melihat kondisi yang ada, kondisi tenggelamnya pulau-pulau di Wakatobi karena kenaikan air laut tampaknya belum akan terjadi dalam waktu dekat ini,” ucapnya.
Tak Ada Pemutihan
Kondisi perubahan lingkungan karena perubahan iklim yang terjadi, saat ini di Wakatobi yang paling signifikan malah terlihat pada naiknya suhu lautan. “Namun kondisi tersebut belum membuat terjadinya pemutihan karang,” kata Wahju.
Meskipun data kenaikan suhu belum dapat dirata-ratakan. Namun kecenderungan kenaikan tidak mencapai titik dua derajat celcius. Sementara itu, tingkat mencemaskan untuk pemutihan karang (bleaching) karena pemanasan bumi diperkirakan bila mencapai titik tiga derajat celcius.
Faktor kerusakan karang yang dicemaskan saat ini kebanyakan datang dari intervensi manusia. Karena hingga saat ini masih banyak nelayan menggunakan bom, bahan kimia, dan jaring sebagai sarana untuk menangkap ikan.
Meskipun Bupati Wakatobi saat ini, Ir Hugua, sudah menyatakan perang terhadap para perusak karang laut. Namun disinyalir cakupan penangkapan ikan secara tak ramah lingkungan di wilayah yang dahulu dikenal dengan nama Kepulauan Tukang Besi tersebut masih luas.
Hal lain yang mencemaskan lestarinya terumbu karang di sana adalah masih digunakannya terumbu karang laut sebagai fondasi rumah. Kebiasaan ini sendiri merupakan adat turun-temurun yang hingga kini masih banyak dilakukan masyarakat sekitar Wakatobi.
Tindakan tersebut terutama terlihat pada masyarakat Sampela yang dikenal beretnis Bajo. Dalam penelitian yang dilakukan Caitlyn Louise Stanley, “Sikap-sikap dan Kesadaran Orang Bajo terhadap Lingkungan Hidup dan Konservasi”, tahun 2005 lalu, terungkap kalau masalah utama dari kebiasaan ini merupakan mahalnya bahan subtitusi pengganti karang laut sebagai fondasi rumah. Konsep keberlanjutan terhadap lingkungan juga belum melekat pada adat budaya mereka.
Oleh
Sulung Prasetyo (Sinar Harapan)
Tuesday, May 06, 2008
Kunjungan Putri Indonesia 2005 ke Wakatobi
Nadine Chandrawinata, memenuhi undangan Bupati, berkunjung ke Wakatobi. Berangkat bersama ayah dan sepupunya serta beberapa orang kru dokumentasi Nadine berangkat untuk melakukan sesi pemotretan sekaligus memenuhi hasrat hobi barunya, menyelam.
Promosi gencar Kabupaten Wakatobi sebagai satu destinasi penyelaman unggulan di ajang pameran Deep Indonesia 2007 menyebabkan banyak orang bertanya-tanya "Seperti apa sih Wakatobi dan surga nyata bawah lautnya itu". Surga nyata bawah laut di pusat segitiga karang dunia merupakan visi kabupaten Wakatobi yang tak pernah lupa dikumandangkan dalam setiap event di nasional maupun internasional. Tak heran banyak orang penasaran untuk membuktikannya. Dan Nadine merupakan salah satu yang dengan penuh antusias datang ke Wakatobi untuk membuktikannya.
Perjalanan mengarungi perairan Wakatobi, mulai 10 - 15 April 2008, tak lengkap rasanya tanpa menikmati pengalaman tinggal di kapal FRS Menami. Kapal ini sejauh ini telah menjadi saksi bisu dari kedatangan para jurnalis, pejabat dan selebritis ke Wakatobi. Tak luput pula si Putri Indonesia ini. Tentunya ini berkah tersendiri bagi para ABK, yang sebelumnya hanya bisa menonton di layar kaca, bisa tinggal bersama sang putri selama empat hari.
Selamat buat para ABK dan semoga Nadine dan seleb yang lain akan terus ingin menikmati FRS Menami.
Sunday, April 27, 2008
Seminar dan Diskusi: Dive Resorts and Sustainable Tourism in Indonesia
Kajian seminar National Geographic Indonesia mengenai keberadaan operator asing, nasional dan komunitas masyarakat lokal, yang diselenggarakan di Lumba Lumba room, Asembly Hall, Jakarta Convention Centre pada hari minggu, 30 Maret 2008, pukul 15:00-17:00, berlangsung hangat, menyerap peserta lebih dari 110 orang membuat panitia harus menambah kapasitas kursi pada saat seminar hendak dibuka oleh moderator Wayan Veda Santiadji dari WWF.
Tantyo Bangun, chief editor majalah National Geographic Indonesia ikut hadir untuk membuka seminar yang dihadiri oleh Bupati Wakatobi, Hugua yang secara khusus diundang untuk ikut berbicara sore itu. Juga Komeng yang mewakili Elang Ekowisata kepulauan seribu, Paul Batuna dari Murex Dive-Bunaken, Sandra Turok dari Eco Divers-Bunaken dan Bapak Ahyaruddin dari Departemen Budaya dan Pariwisata. Cipto Aji Gunawan juga hadir sebagai salah satu panelis mewakili konsultan wisata bahari.
Beragam kalangan datang untuk menyimak seminar bebas yang digelar untuk memeriahkan acara pameran Deep Indonesia 2008 ini. Termasuk juga di antaranya yang hadir beberapa pagawai pemerintah, pelaku pendidikan universitas negeri, pembaca majalah National Geographic Indonesia, mahasiswa, rekan wartawan daerah hingga prospektus bisnis.
Acara yang berlangsung selama 2 jam tersebut mengangkat tema yang sedikit berusaha menggelitik rasa nasionalis dan pula berusaha mengajak membuka peluang berbisnis warna negara lokal untuk merebut dominasi dive operator asing yang masih merambah. Acara ini pun sekaligus menjadi simbolik pembuka Indonesia Reef 2008 yang akan datang.
(dikutip dari http://indonesiareef.com/?show=blog&id=78)
Thursday, April 24, 2008
Nadine Punya Sertifikat Menyelam
Thursday, April 03, 2008
Seru, diskusi soal bisnis selam tanah air
Friday, March 21, 2008
Berupaya Demi Penghidupan Masa Depan
Friday, March 07, 2008
Ekspedisi NGI ke Wakatobi
Trip to Wakatobi
by Tono Suhartono
Towards the end of the year 2007, I still got no plan to spend the end of the year while there are still a lot of leaves that I have not been able to spend. Suddenly, there was an announcement in Alfa Dolfin mailing list, inviting divers to participate in Reef and Spawning Aggregations monitoring at Wakatobi. I registered and soon found out that Bonar Sitohang (my friend at Alfa Dolfin as we used to dive together) also participated in the event.
The trip was organized by Indonesia Reef – NGI (National Geographic Indonesia) together with TNC (The Nature Conservancy) and WWF (World Wildlife Federation). A lot of sponsors are supporting the event including Ody Dive. Ody Dive was involved in planning the trip together with NGI.
Initially there were 12 divers, but soon after it was increased to 18 divers. At the technical meeting, Sari - the dive coordinator - reminded us to limit our baggage to maximum 15 kg. She said it was caused by relatively small airplane that flying from Makassar to Baubau at Buton Island where by only 65% of the gross weight will be carried by the airplane the rest will be sent on the next day. After nearly removing all fancy items, I managed to get 20 kg. Sari was in no objection when I sent an SMS to her indicating my baggage weight. It turned up later the baggage limitation inflicted some problems in some of the divers. Some found the meals were not suitable but they did not bring enough food of their own choice. Many of participated divers did not bring their Under Water casing for underwater photography.
On 25 December 2007 early in the morning, we embark on the journey to Makassar by plane. Soon after we landing at the Makassar, there was another mishaps as a result of miss management where by our luggage were not transferred directly to next flight to Baubau but was sent down to conveyor belt instead. So we recheck in again at Makassar. The flight to Baubau was delayed also for about 2 hours. I met with my co-worker at the airport lounge but I forgot who he was. After talking with him around 15 minutes, I finally gave up and asked Department he working for and he said Field Human Resource. I then remembered he was Arnham Pattamwari. I used to meet him at Musholla in Badak while performing Ashar prayer. I left Badak already for more than a year, so it a bit hard to remember everyone.
I was a bit sick when leaving Jakarta, but since Debbie – Sari’s assistance- requested me to submit a health certificate I went to a doctor couple days before trip. The doctor then directed me to an internist specialist. Then I got a lot of medicine including Aridin that should be used before diving.
Finally at 15:00 WITA, there was an announcement to board the plane to Baubau. Makassar - Baubau took around 45 minutes using twin turboprop engine. Soon after we landed at Baubau, we embark on land cruise to Pasarwajo which took around 2 hours driving using a bus. The facility at Baubau airport was very poor. The toilet has no water. I cannot imagine if I have to wait for a flight in that airport. The airstrip also very short, I think that was the reason for limiting baggage weight.
At Pasarwajo port, the ship FRS (Floating Ranger Station) Menami already waiting for us. Some divers took liberty to shower and clean themselves as Menami was loaded with fresh water. The spirit was a bit high at that time. I can feel it. From a driver at Wanci, I later learned that Menami is the common local name for Napoleon fish. Menami have 12 beds at the bottom deck and 4 beds at the lower deck. She has two toilets. The upper deck was an open but sheltered deck giving a room for a meeting and comfortable sleeping room at night. The pre-dive briefing and training were given in the upper deck.
On the day two, at the Hoga Channel near Kaledupa Island, we were attending training and met with media team consisting reporters and presenters. I managed to get signature and photo of the famous presenter Rianni Djangkaru as requested by my nephew who is very much fond of her. The training was about how to perform monitoring. It was very much scientific, but to perform it requires an advanced diving skill. The data will be used as a feed back to TNKW (Taman National Kepulauan Wakatobi – Wakatobi islands National park). The data includes Reef health status, herbivore fish population, and carnivore fish population. There is a correlation between those three that indicates ecosystem healthiness. The other training was on Spawning Aggregations (SPAGs) monitoring; whereby we monitor fishes especially of a rather large commercial fishes were mating in a large aggregation. There were 5 known locations for the SPAGs usually takes place, that are now reserved and agreed with locals not be fished. The locations are kept secret to preserve the fish populations. To monitor SPAGs requires a lot of effort as it took place in heavy current area. The current ensures eggs are spread around avoiding being eaten by the predators.
I realized, I have entered a scientific community where people talking about fish by their scientific names instead of common names such as Baronang, Kerapu etc. The TNC personnel were talking about fuscogattus, aerolatus, etc. Upon mixing with these researchers, Bendri –our speed boat captain- has developed his own scientific name for his Batak friends such as ucoklatus etc.
The diving was quite good. We saw several Spawning Aggregations. We saw Wakatobi pigmy sea horse, turtle, large fish and also nudi branch. I was once attacked by a trigger fish called Titan. Luckily, I can move back quickly avoiding it. Pak Putu, TNC personnel, was laughing when I met him shortly afterwards, it was the first time he was laughing under water and I was a bit shock at that time. Later at the ship, Sessy informed me that there was an event she read in a magazine where by a diver lost his ear eaten by Titan. Titan can be very aggressive especially when approached by human while it nesting. Titan has very strong jaws.
To avoid problems due to unfit body, I always dive closer to the surface than anybody else in the group and immediately went on to the surface once one of the researchers surfacing. Kiki once asked me why I surfaced so quickly. The next dive, however, she was diving close to the surface also. Upon asking her on air status, she showed me the gauge that went 50bar then reduce to 30 bar and increase again to 50bar. I then open her tank exhaust and immediately the indicator showing 100bar. So she surfaced with 100bar tank.
On the day three we were hit by a storm. The ship was move around by gusty winds on top and heavy current in opposite direction at the bottom resulting both anchors were moved several meters. The ship ended up sink to the sea sand below. Upon starting the engine, the rear side of the ship sink deeper as the front side was stuck at the sea bottom. The ship can leave the site after water level increased due to high tide at mid night. The next morning, the snorkeling crew found the ship propeller was damaged. The ship was then docking at Kaledupa port and we stayed there for about 2 days while waiting for propeller being fixed at Wanci. The good thing was that we can perform Jum’ah prayer at Kaledupa in congregation instead of individually at the ship as it was originally planned.
After hit by a storm, the team spirit was down, nearly all team members were sick. The only one who was not sick was Darwin, the body builder. Sari tried to boost team spirit by performing a visit to Kaledupa salt water lake and wait for sun set at Sombanu beach at the other side of the Kaledupa Island. It was quite enjoying actually. Just before the storm, we visited a village in Hoga to release tension after a training that finished late at night and a full day monitoring exercises. However, being a true divers, the team spirit always boosted when we were about to dive especially a fun dive. Nearly all team members went diving regardless of their sickness. At the bottom, the sickness is healed, they said.
From Tomia, we were informed that BMG (National Weather Bureau) had released information saying that in 1-2 days ahead a huge tropical storm will be approaching. After diving in the morning under light rain, we headed up to Wanci which took around 5 hours under heavy storm using Menami. We spent New Year eve at the boat at Wanci and visited TNC-WWF office at Wanci. I took Yayan’s picture in front of TNC-WWF office as depicted above. From Wanci we went to Kendari using regular ship that took around 10 hours.
At the end of trip, we were greeted with Ir. Hugua, Wakatobi district head (Bupati) in Kendari. He asked us how our feel on the overall trip. Before meeting him, Sari already appointed Yayan, the eldest among us to talk on our behalf. So when Bupati asked how our observation was, we all looked at Yayan. Being late at night (around 23:00 hours at that time) and lack of sleep, Yayan nervously mentioned that we have visited Tomiang (should be Tomia) and Kelapa dua (a district in Jakarta instead of Kaledupa). The team was then burst in laughing. Anyway, I saw a leader with very optimistic view in pak Bupati. Being an entrepreneur himself, he has a vision to make Wakatobi a major tourist destination in the near future.
Overall trip was quite adventurous and yet scientific. Look forward for another trip with NGI.
Seru... khan!!! Ditunggu loh kalau ada yang mo ke Wakatobi di trip berikutnya 2008
Sunday, March 02, 2008
Perdagangan Penyu Masih Terjadi di Sultra
WAKATOBI
Sang Guru Mengajarkan Berutang
Kampung Bajo, "Negeri di Atas Karang"
Pulau Runduma, Surganya Penyu
Friday, January 18, 2008
Pelatihan Perikanan
Di Tomia tepatnya di Balai Desa Kulati, tidak kurang dari 20 orang nelayan berkumpul untuk melaksanakan pelatihan perikanan pelagis. Ke 20 orang tersebut berbagi pengetahuan dan pengalaman dipandu oleh Abbas, nelayan jaring lingkar dari Tomia. Selain itu ada dua narasumber juga hadir yaitu Bpk. Bambang Sadhotomo dari BRPL dan Imam dari WWF Indonesia.
Saturday, March 03, 2007
Melintas Kelaut Tetangga
MELINTASI laut tetangga mungkin ungkapan yang tepat. Setelah krisis perikanan di sejumlah wilayah pengelolaan perikanan, ramai-ramai industri perikanan melirik kawasan yang dianggap ‘aman’. Di Sulawesi Tenggara, kedatangan kapal-kapal penampung ini memicu ramainya perdagangan ikan yang tak terdata.
Tahun 2007, sekitar 15 kapal asal Pulau Bali masuk di perairan Sulawesi Tenggara. “Mereka membeli berbagai jenis ikan dari nelayan kita,” kata Muchtar Spi, kepala pengawas perikanan Sultra. Tak mudah memantau perairan di Sulawesi Tenggara, terlebih lagi mengetahui secara pasti jumlah dan jenis ikan yang keluar. Mekanisme pengelolaan tangkap belum bisa dilakukan secara maksimal.
Sampel dari Kabupaten Wakatobi selama dua tahun terakhir 2006-2007 menunjukkan, sebanyak 70% ikan hasil tangkapan nelayan Wakatobi dijual ke perusahaan perikanan, sedangkan 30% lainya dijual ke pasaran lokal.Data lainnya, sekitar 60% habitat ikan di perairan Wakatobi dinyatakan siap tangkap, namun 40% diantaranya belum dewasa. Sayangnya, karena penangkapan yang berlebihan seringkali ikan-ikan yang belum dewasa ikut terjaring.
Masalah ini tak hanya menimpa Sulawesi Tenggara, Data Departemen Kelautan dan Perikanan menunjukkan, tangkap lebih itu terjadi di semua wilayah pengelolaan perikanan di Indonesia. Diperkirakan jumlah tangkap nelayan Indonesia maupun oleh nelayan asing mencapai 6,4 juta ton per tahun yang diperoleh dari sembilan wilayah perairan utama Indonesia yakni ; (1) wilayah perairan Selat Malaka, (2) wilayah perairan Laut Jawa (3) wilayah perairan Selat Makasar (4) wilayah perairan Laut Banda (5) wilayah perairan laut Arafuru (6) wilayah perairan Teluk Tomini (7) wilayah perairan Hidia bagian Barat Sumatera (8) wilayah perairan Hindia bagian Selatan Pulau Jawa dan (9) wilayah perairan Laut Cina Selatan.
Peneliti Balai Riset Perikanan Laut, Duto Nugroho, Suherman Banon Atmadja, dan Subhat Nurhakim mengatakan sejumlah data statistik produksi perikanan tahun 2000-2004 yang digunakan untuk memperlihatkan gambaran kualitatif jenis sumberdaya ikan, alat tangkap serta struktur armada yang bekerja di satu zona menunjukkan posisi berbeda-beda. Namun, semua gambaran itu menunjukkan sinyal krisis wilayah pengelolaan perikanan (WPP) yang merujuk pada ketersediaan demersal (jenis ikan-ikan dasar, cetacean, udang, gurita atau kerang) berbeda-beda.
Untuk WPP Laut Cina Selatan telah tereksploitasi khusus untuk pelagis besar dan kecil, demersal serta beberapa jenis ikan karang. Perikanan di Laut Jawa dinyatakan mengalami eksploitasi berlebihan. WPP Laut Flores dan Selat Makassar mengalami tangkap lebih untuk jenis demersal dan eksploitasi berlebihan untuk pelagis kecil. WPP Laut Banda pengelolaan perikanan hanya direkomendasikan untuk pelagis kecil dan pelagis besar tidak untuk spesies lain. Untuk WPP Laut Seram dan Teluk Tomini illegal fishing melanda demersal dan pelagis besar maupun kecil. WPP Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik juga mengalami tangkap lebih. Laut Arafura juga mengalami tangkap lebih untuk jenis demersal dan udang. Sedang untuk WPP Samudera Hindia tak bisa lagi dilakukan pengelolaan karena tangkap lebih menimpa semua status stok baik demersal, udang, pelagis kecil maupun besar.
Kendari Pos, (WED, 30 - JAN - 2007)
Jejak - Krisis Perikanan Landa Indonesia, Sinyal Bahaya Dari Laut
Sunday, February 18, 2007
Met jalan n met datang...
Saturday, September 09, 2006
Wakatobi, Geliat Wisata Taman Nasional
Wakatobi adalah nama yang diambil dari kependekan pulau terbesar yakni Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko yang terletak di sebelah tenggara Sulawesi. Dahulu, orang menyebutnya di Kepulauan Tukang Besi. Kawasan seluas 1,39 juta hektare itulah yang kemudian dijadikan taman nasional laut pada tahun 1996. Luas kawasan itu pula yang menjadi disahkan sebagai Kabupaten Wakatobi pada tahun 2004.
"Taman Laut Nasional Kepulauan Wakatobi menjadi harapan kami. Kewajiban saya adalah menjaga agar ekosistem taman nasional tidak rusak. Selain itu, pengembangan sumber daya Wakatobi hendaknya dapat dilakukan oleh masyarakat setempat," kata Penjabat Bupati Wakatobi HAM, Madra ketika menyambut rombongan wartawan baru-baru ini. Sektor pariwisata Wakatobi memang sedang menggeliat. Pemda setempat terus membenahi infrastruktur untuk menunjang pengembangan pariwisata. Hingga kini, arus kunjungan wisata telah mencapai 3.000-5.000 orang per tahun. Namun, kunjungan wisata masih didominasi turis asing asal Eropa dan Amerika.
Taman Nasional Kepulauan Wakatobi (TNKW) memang merupakan taman laut terbesar kedua setelah Taman Nasional laut Teluk Cendrawasih di Papua. Di kepulauan ini, banyak orang mengagumi pesona Karang Kaledupa yang merupakan karang terluas dan terpanjang di Indonesia. TNKW memang terletak di kawasan Segitiga Terumbu Karang Dunia.
Kepulauan Wakatobi memiliki 25 gugusan terumbu karang. Terumbu karang tersebar di antara 37 pulau yang ada. Di kepulauan ini, baru enam pulau saja yang dihuni. Sementara hanya 11 pulau yang memiliki nama. Sisanya, 31 pulau masih tak bernama dan belum dikelola. Para wisatawan yang datang , umumnya melakukan kegiatan selam, snorkeling, berenang, berkemah dan wisata budaya.
Keindahan alam Wakatobi memang berasal dari kekayaan sumber daya alamnya. Kajian ekologi yang dilakukan The Nature Conservancy (TNC) dan World Wide Fund for Nature (WWF) pada tahun 2003 menemukan 396 jenis karang batu penyusun terumbu karang. Di kawasan itu, sebanyak 590 jenis ikan ditemukan berkembang biak. Untuk melihat upaya konservasi di Wakatobi, WWF dan TNC mengundang para wartawan dari Jakarta dan Kendari. Dari Kendari, rombongan menuju Bau-Bau dan melanjutkan perjalanan dengan kapal Phinisi bernama Menami. Dengan kapal bermesin itu, kami mengunjungi pulau-pulau di Wakatobi.
Musim Kunjungan Jika menggemari olahraga selam, situs penyelaman di Wakatobi sampai ratusan jumlahnya. Seorang pengusaha asal Swiss bernama Lorenz Mader bahkan telah membuka Wakatobi Dive Resort, yang menawarkan wisata selam. Resor tersebut malah sudah dilengkapi dengan bandara perintis, yang melayani turis langsung dari Bali. "Musim kunjungan terbaik adalah bulan April sampai Juni dan Oktober sampai Desember. Di luar bulan itu, ombak terlalu besar sehingga terlalu berisiko untuk melakukan perjalanan," kata Maaruji, warga se- tempat.
Selain Wakatobi Resort, ada beberapa perusahaan yang mengurus kunjungan wisatawan ke Wakatobi dan kawasan wisata lainnya di Kabupaten Buton, antara lain Badan Pengembangan Wallacea (Jakarta) dan Wolio Travel (Baubau). Biasanya, wisata-wan juga dapat menggunakan kapal besar dari Kendari. Jarak Kendari-Wakatobi dapat ditempuh dalam waktu 16 jam.
Wisatawan yang berkunjung ke TNKW dapat menginap di 63 bungalow, milik pemda di Pulau Hoga. Sementara PT Wakatobi Dive Resort mengelola Pulau Onemobaa, pulau kecil berpasir putih secara eksklusif. Namun paket wisata di sana relatif mahal. Sementara di Pulau Hoga, sebelah utara Pulau Kaledupa, tarif menginap di satu bungalow masih Rp 50.000, per malam.
Masing-masing pulau tersebut berstatus pemerintahan kecamatan. Kepulauan yang terletak di Laut Banda itu berjarak 150-200 mil dari Baubau, ibu kota Kabupaten Buton. Dahulu Wakatobi memang menjadi bagian dengan Kabupaten Buton. Itu sebabnya, sebagian wisatawan kadang juga memilih rute Kendari - Bau-Bau - Wanci. "Setiap hari, ada dua kali kapal cepat, dengan lama 5 jam perjalanan. Ada juga kapal kayu, tetapi memakan waktu 12 jam perjalanan. Kota Wanci di Pulau Wangi-wangi adalah pintu gerbang Wakatobi," papar Outreach & Community Development Coordinator WWF Indonesia, Veda Santiadji.
Daya Tarik Menurut Monitoring & Surveilance Coordinator TNC, Anton Wijonarno, sejak berstatus taman nasional, Wakatobi terus mengembangkan program konservasi sumber daya alam. Tujuannya adalah melestarikan kekayaan sumber daya alam flora dan fauna baik di luar maupun di darat. "Berkat keanekaragaman terumbu karang, Wakatobi memiliki keistimewaan biota laut. Selain berlimpah sumber daya laut, kepulauan ini juga mempunyai kekayaan fauna and flora spesies langka," ujarnya.
Di perairan Wakatobi, para nelayan tradisional cukup mudah mendapatkan ikan. Populasi ikan tersebut memang sangat bergantung dengan keberadaan terumbu karang. Oleh karena itu, praktik penangkapan ikan dengan bom atau obat bius cukup meresahkan. Hal itu mulai disadari setelah WWF dan TNC melakukan edukasi terhadap masyarakat setempat.
"Kami juga mencoba mengupayakan peran petani rumput laut. Kalau banyak petani rumput laut, otomatis nelayan pembom akan takut. Mereka saling bertentangan karena rumput laut akan rusak," ujar Kepala Balai TNKW, Syihabuddin. Perairan Wakatobi sangat kaya dengan sumber daya laut. Setelah mengenal rumpon, para nelayan makin mudah mendapatkan ikan. Seekor ikan tuna dengan berat 4 kg dijual dengan harga Rp 20.000.
Berbagai spesies ikan memang dapat ditemukan dengan mudah. Mulai dari kakap, kerapu, ekor kuning, tuna, napoleon, sampai hiu. Jika beruntung, wisatawan juga dapat menyaksikan iringan lumba-lumba berenang dari atas kapal.
Tiga bulan sekali, beberapa kapal pengumpul ikan berlabuh di perairan Tomia. Kapal-kapal itu membeli ikan dari para nelayan setempat. Hampir sebulan penuh, mereka mengisi muatan. Salah satu kapal pengumpul malah berasal dari Muara Baru, Jakarta. Menurut mereka, ikan-ikan itu akan dipasok untuk pasar-pasar Jakarta. Jika waktu perjalanan mencapai dua minggu, bisa dibayangkan, berapa lama ikan-ikan dalam pengawetan?
Wakatobi tidak hanya punya daya tarik alam. Di kepulauan itu, ada beberapa perkampungan Suku Bajo yang didirikan di atas laut. Mereka dikenal sebagai pelaut tangguh. Para nelayan Bajo juga dikenal mampu menangkap ikan hanya dengan tombak. Di pulau Kaledupa dan Binongko, wisatawan dapat membeli kain tenun hasil kerajinan penduduk setempat. Sehelai kain tenun ikat dijual dengan harga Rp 100.000- Rp 200.000.
Di Kaledupa, kerajinan yang dikenal adalah kain sarung Wuray dan tikar lipat. Jika mampir ke Pulau Binongko, jangan ragu mengunjungi lokasi para pengrajin besi. Dari para pengrajin inilah, Wakatobi dikenal sebagai kepulauan Tukang Besi. Menikmati keindahan alam Wakatobi rasanya tak cukup hitungan hari. Keanekaragaman flora dan faunanya begitu memanjakan mata. Tak kunjung puas orang mengagumi pesonanya.
Setelah sauh diangkat, Menami membawa kami pulang. Jauh di sanubari, kami pun berjanji. Wakatobi, suatu hari nanti, kami kan kembali. [Pembaruan/Unggul Wirawan]
Last modified: 15/6/06 SUARA PEMBARUAN DAILY
