Sunday, February 18, 2007

Met jalan n met datang...

Selamat jalan pak Syihab, Syihabuddin. Selamat datang mas eh pak Wahyu, Wahju Rudianto. Semoga ini memberikan kebaikan yang lebih untuk Taman Nasional Wakatobi, the heart of world's coral triangle center.

Saturday, September 09, 2006

Wakatobi, Geliat Wisata Taman Nasional

Pasir putih terhampar sepanjang pesisir. Nyiur melambai disapu angin pantai. Saat laut surut, keindahan alam bawah laut kian menggoda. Ikan-ikan bercumbu di sela-sela terumbu karang. Keindahan itu bisa disaksikan cukup dengan mata telanjang. Wakatobi, di sanalah, pesona alam nan surgawi.
Wakatobi adalah nama yang diambil dari kependekan pulau terbesar yakni Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko yang terletak di sebelah tenggara Sulawesi. Dahulu, orang menyebutnya di Kepulauan Tukang Besi. Kawasan seluas 1,39 juta hektare itulah yang kemudian dijadikan taman nasional laut pada tahun 1996. Luas kawasan itu pula yang menjadi disahkan sebagai Kabupaten Wakatobi pada tahun 2004.
"Taman Laut Nasional Kepulauan Wakatobi menjadi harapan kami. Kewajiban saya adalah menjaga agar ekosistem taman nasional tidak rusak. Selain itu, pengembangan sumber daya Wakatobi hendaknya dapat dilakukan oleh masyarakat setempat," kata Penjabat Bupati Wakatobi HAM, Madra ketika menyambut rombongan wartawan baru-baru ini. Sektor pariwisata Wakatobi memang sedang menggeliat. Pemda setempat terus membenahi infrastruktur untuk menunjang pengembangan pariwisata. Hingga kini, arus kunjungan wisata telah mencapai 3.000-5.000 orang per tahun. Namun, kunjungan wisata masih didominasi turis asing asal Eropa dan Amerika.
Taman Nasional Kepulauan Wakatobi (TNKW) memang merupakan taman laut terbesar kedua setelah Taman Nasional laut Teluk Cendrawasih di Papua. Di kepulauan ini, banyak orang mengagumi pesona Karang Kaledupa yang merupakan karang terluas dan terpanjang di Indonesia. TNKW memang terletak di kawasan Segitiga Terumbu Karang Dunia.
Kepulauan Wakatobi memiliki 25 gugusan terumbu karang. Terumbu karang tersebar di antara 37 pulau yang ada. Di kepulauan ini, baru enam pulau saja yang dihuni. Sementara hanya 11 pulau yang memiliki nama. Sisanya, 31 pulau masih tak bernama dan belum dikelola. Para wisatawan yang datang , umumnya melakukan kegiatan selam, snorkeling, berenang, berkemah dan wisata budaya.
Keindahan alam Wakatobi memang berasal dari kekayaan sumber daya alamnya. Kajian ekologi yang dilakukan The Nature Conservancy (TNC) dan World Wide Fund for Nature (WWF) pada tahun 2003 menemukan 396 jenis karang batu penyusun terumbu karang. Di kawasan itu, sebanyak 590 jenis ikan ditemukan berkembang biak. Untuk melihat upaya konservasi di Wakatobi, WWF dan TNC mengundang para wartawan dari Jakarta dan Kendari. Dari Kendari, rombongan menuju Bau-Bau dan melanjutkan perjalanan dengan kapal Phinisi bernama Menami. Dengan kapal bermesin itu, kami mengunjungi pulau-pulau di Wakatobi.
Musim Kunjungan Jika menggemari olahraga selam, situs penyelaman di Wakatobi sampai ratusan jumlahnya. Seorang pengusaha asal Swiss bernama Lorenz Mader bahkan telah membuka Wakatobi Dive Resort, yang menawarkan wisata selam. Resor tersebut malah sudah dilengkapi dengan bandara perintis, yang melayani turis langsung dari Bali. "Musim kunjungan terbaik adalah bulan April sampai Juni dan Oktober sampai Desember. Di luar bulan itu, ombak terlalu besar sehingga terlalu berisiko untuk melakukan perjalanan," kata Maaruji, warga se- tempat.
Selain Wakatobi Resort, ada beberapa perusahaan yang mengurus kunjungan wisatawan ke Wakatobi dan kawasan wisata lainnya di Kabupaten Buton, antara lain Badan Pengembangan Wallacea (Jakarta) dan Wolio Travel (Baubau). Biasanya, wisata-wan juga dapat menggunakan kapal besar dari Kendari. Jarak Kendari-Wakatobi dapat ditempuh dalam waktu 16 jam.
Wisatawan yang berkunjung ke TNKW dapat menginap di 63 bungalow, milik pemda di Pulau Hoga. Sementara PT Wakatobi Dive Resort mengelola Pulau Onemobaa, pulau kecil berpasir putih secara eksklusif. Namun paket wisata di sana relatif mahal. Sementara di Pulau Hoga, sebelah utara Pulau Kaledupa, tarif menginap di satu bungalow masih Rp 50.000, per malam.
Masing-masing pulau tersebut berstatus pemerintahan kecamatan. Kepulauan yang terletak di Laut Banda itu berjarak 150-200 mil dari Baubau, ibu kota Kabupaten Buton. Dahulu Wakatobi memang menjadi bagian dengan Kabupaten Buton. Itu sebabnya, sebagian wisatawan kadang juga memilih rute Kendari - Bau-Bau - Wanci. "Setiap hari, ada dua kali kapal cepat, dengan lama 5 jam perjalanan. Ada juga kapal kayu, tetapi memakan waktu 12 jam perjalanan. Kota Wanci di Pulau Wangi-wangi adalah pintu gerbang Wakatobi," papar Outreach & Community Development Coordinator WWF Indonesia, Veda Santiadji.
Daya Tarik Menurut Monitoring & Surveilance Coordinator TNC, Anton Wijonarno, sejak berstatus taman nasional, Wakatobi terus mengembangkan program konservasi sumber daya alam. Tujuannya adalah melestarikan kekayaan sumber daya alam flora dan fauna baik di luar maupun di darat. "Berkat keanekaragaman terumbu karang, Wakatobi memiliki keistimewaan biota laut. Selain berlimpah sumber daya laut, kepulauan ini juga mempunyai kekayaan fauna and flora spesies langka," ujarnya.
Di perairan Wakatobi, para nelayan tradisional cukup mudah mendapatkan ikan. Populasi ikan tersebut memang sangat bergantung dengan keberadaan terumbu karang. Oleh karena itu, praktik penangkapan ikan dengan bom atau obat bius cukup meresahkan. Hal itu mulai disadari setelah WWF dan TNC melakukan edukasi terhadap masyarakat setempat.
"Kami juga mencoba mengupayakan peran petani rumput laut. Kalau banyak petani rumput laut, otomatis nelayan pembom akan takut. Mereka saling bertentangan karena rumput laut akan rusak," ujar Kepala Balai TNKW, Syihabuddin. Perairan Wakatobi sangat kaya dengan sumber daya laut. Setelah mengenal rumpon, para nelayan makin mudah mendapatkan ikan. Seekor ikan tuna dengan berat 4 kg dijual dengan harga Rp 20.000.
Berbagai spesies ikan memang dapat ditemukan dengan mudah. Mulai dari kakap, kerapu, ekor kuning, tuna, napoleon, sampai hiu. Jika beruntung, wisatawan juga dapat menyaksikan iringan lumba-lumba berenang dari atas kapal.
Tiga bulan sekali, beberapa kapal pengumpul ikan berlabuh di perairan Tomia. Kapal-kapal itu membeli ikan dari para nelayan setempat. Hampir sebulan penuh, mereka mengisi muatan. Salah satu kapal pengumpul malah berasal dari Muara Baru, Jakarta. Menurut mereka, ikan-ikan itu akan dipasok untuk pasar-pasar Jakarta. Jika waktu perjalanan mencapai dua minggu, bisa dibayangkan, berapa lama ikan-ikan dalam pengawetan?
Wakatobi tidak hanya punya daya tarik alam. Di kepulauan itu, ada beberapa perkampungan Suku Bajo yang didirikan di atas laut. Mereka dikenal sebagai pelaut tangguh. Para nelayan Bajo juga dikenal mampu menangkap ikan hanya dengan tombak. Di pulau Kaledupa dan Binongko, wisatawan dapat membeli kain tenun hasil kerajinan penduduk setempat. Sehelai kain tenun ikat dijual dengan harga Rp 100.000- Rp 200.000.
Di Kaledupa, kerajinan yang dikenal adalah kain sarung Wuray dan tikar lipat. Jika mampir ke Pulau Binongko, jangan ragu mengunjungi lokasi para pengrajin besi. Dari para pengrajin inilah, Wakatobi dikenal sebagai kepulauan Tukang Besi. Menikmati keindahan alam Wakatobi rasanya tak cukup hitungan hari. Keanekaragaman flora dan faunanya begitu memanjakan mata. Tak kunjung puas orang mengagumi pesonanya.
Setelah sauh diangkat, Menami membawa kami pulang. Jauh di sanubari, kami pun berjanji. Wakatobi, suatu hari nanti, kami kan kembali. [Pembaruan/Unggul Wirawan]
Last modified: 15/6/06 SUARA PEMBARUAN DAILY

Wednesday, August 02, 2006

Lebih Baik Terlambat Daripada...

25 Juli 2006 
Oleh: GESIT ARIYANTO

Kompas, 25 Juli 2005
Salah satu kenalan berkewarganegaraan asing yang lama bekerja di Indonesia langsung antusias ketika mendengar nama Wakatobi disebut. "Wow, asyik sekali pasti. Sudah lama saya ingin ke sana," katanya. 

Pembicaraan pun berlanjut seputar pariwisata, khususnya menyelam. Tak terbantahkan, para wisatawan telanjur mengidentikkan gugusan kepulauan di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara itu sebagai salah satu "surga" bawah air. 
Anggapan itu tak sepenuhnya salah, tapi juga tak sepenuhnya benar. Pasalnya, Wakatobi tak melulu urusan selam menyelam. Pada banyak lokasi lain, jejak bom ikan maupun potasium meluluhlantakan "surga" terumbu karang. 

Pemandangan yang diperlihatkan tim surveilans WWF-TNC menunjukkan, sampah botol bir dan bahan tak terurai lainnya menumpuk di dasar laut. Di bagian lain, lantai laut terlihat rata dengan pecahan-pecahan karang akibat bom. Atau, terumbu karang yang menghitam karena potasium. 

Dari sektor pariwisata, memang hanya segelintir penduduk Wakatobi yang menikmati. Satu-satunya resor di Kepulauan Wakatobi dikelola warga Swiss sepuluh tahun lalu. Lokasinya di Pulau Tolandona yang lebih dikenal dengan Onemobaa; sepenggal daratan yang berdekatan dengan Pulau Tomia. 

Pulau Tomia merupakan salah satu nama pulau dari gugusan Kepulauan Wakatobi. Wakatobi merupakan singkatan dari empat pulau besar, masing-masing Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. 
Berdirinya resor merupakan hasil kerja sama investor asing dengan Pemerintah Kabupaten Buton, sebelum akhirnya dimekarkan dan kini berdiri Pemkab Wakatobi. Kerja sama pengelolaan disepakati selama 25 tahun dengan salah satu keistimewaan menguasai garis pantai. 

Di kawasan pantai yang menjadi "milik" resor, nelayan dilarang menangkap ikan. Penjaga keamanan akan dengan sigap mengusir mereka. 
Dalam situs web mereka, pengelola resor menjanjikan layanan sempurna. Pengunjung diiming-imingi pemandangan pantai yang spektakuler dan terumbu karang yang termasuk dalam kelompok terbaik di dunia. 

Adapun tarif menginap tujuh hari dipatok 1,940 dollar AS sedangkan paket 11 hari 2,840 dollar AS. Tarif belum termasuk sewa alat selam atau snorkling. Istimewanya, peminat yang telah deal di situs web akan dijemput pesawat khusus di Bandara Ngurah Rai dan langsung dibawa menuju Pulau Tomia yang memiliki lapangan terbang eksklusif. 
Selama liburan, pengunjung dapat memilih waktu menyelam kapan pun di pantai berjarak 20 mil dari resor. Dijamin tanpa gangguan lalu lalang kapal nelayan. 
Itulah salah satu "surga" layanan yang dijanjikan satu-satunya resor di Wakatobi. Resor itu pula yang selama bertahun-tahun menjual eksotisme bawah air Wakatobi. Sayangnya, tak semua cerita indah datang dari keberadaan resor tersebut. 

Sifat eksklusivitasnya cenderung kaku dan berjarak dengan masyarakat lokal. Bahkan, bupati dan kepala polda setempat pernah dibuat berang lantaran dilarang masuk ke area resor. 
Belakangan, kehadiran resor dipersoalkan. "Di satu sisi kami harus berterimakasih karena resor turut membuka mata dunia akan Wakatobi, tetapi kelayakan administrasi, usaha, dan operasinya juga harus sesuai ketentuan," kata Bupati Kepulauan Wakatobi caretaker AM Madra ketika menerima rombongan wartawan dan staf WWF-TNC Joint Programme di kantornya di Pulau Wangi-Wangi, akhir Mei 2006 lalu. 

Salah satu penataan menyangkut pajak Rp 130 juta per tahun yang dapat dicicil. Jumlah itu dinilai di luar kesepakatan karena luas resor sudah bertambah seiring penyewaan dari masyarakat. 

Penataan lainnya menyangkut nasib nelayan. Kelestarian terumbu karang juga diharapkan turut menyejahterakan nelayan tradisional. 
Taman nasional 

Perlu diketahui, seluruh luas wilayah Kepulauan Wakatobi merupakan kawasan Taman Nasional Kepulauan Wakatobi (TNKW) yakni 1.390.000 hektar. Saat ini, sedang dikerjakan revisi zonasi karena sebelumnya tumpang tindih dengan kepentingan penduduk. 
Hal itu disebabkan pembuatan zona kawasan disusun di Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara, tanpa melihat kondisi lapangan yang terdiri dari 37 pulau. "Akibatnya tidak koneksi dengan kondisi lapangan," kata Kepala Balai TNKW Syihabuddin. 

Bayangkan, kawasan mencari ikan nelayan yang mentradisi, tiba-tiba masuk menjadi zona inti yang berarti dilarang ada aktivitas penangkapan ikan di sana. Demikian pula kawasan budidaya rumput laut. 

Revisi yang sedang dikerjakan saat ini melibatkan pihak pemerintah daerah, taman nasional, WWF, The Nature Conservancy/TNC, dan perwakilan masyarakat. Salah satu kendala yang dihadapi adalah belum adanya peraturan daerah mengenai tata ruang wilayah. 
Bupati Kepulauan Wakatobi AM Madra menyatakan, mendukung penzonaan yang sedang dilakukan selama melibatkan masyarakat. Ia memahami pentingnya menjaga kelestarian kawasan yang berujung pada keberlanjutan mata pencaharian warga. 

Pendekatan langsung kepada masyarakat, termasuk pelatihan-pelatihan pemberdayaan selain penyuluhan pentingnya menjaga kelestarian terumbu karang mulai membuahkan hasil. Hal ini ditunjang patroli rutin kapal cepat dan surveilans kapal motor Menami (milik WWF-TNC). 

Kini, sepuluh hari dalam setiap bulannya KM Menami kapasitas 63 GT mengitari kawasan Kepulauan Wakatobi. Selain para penyelam, surveilans diikuti polisi hutan yang berpatroli. Terakhir, mereka menangkap basah pengebom ikan yang tengah sandar di Pulau Runduma, salah satu pulau terjauh dari gugusan pulau-pulau besar Wakatobi. 

Penangkapan tidak lepas dari kesadaran warga Runduma yang mengontak kru kapal KM Menami yang menginformasikan keberadaan kapal pengebom ikan. "Kami tangkap mereka ketika sedang joget-joget hingga subuh," kata Syukur, polisi hutan BTNKW. 
Sebanyak 15 orang ditangkap dengan barang bukti 60 botol bom ikan. Kawasan Pulau Runduma relatif jauh dari jangkauan patroli karena faktor transportasi dan jarak. 
Menurut penuturan beberapa warga di beberapa pulau, aktivitas pengeboman ikan sudah menurun drastis dalam lima tahun terakhir. Sebelumnya, dentuman bom selalu terdengar sejak subuh di beberapa pulau. "Dulu hampir tiap hari dapat lihat pengebom ikan," kata Udin (37), warga asli Wakatobi yang juga penyelam WWF. 

Berbenah 
Perubahan mulai terasa di Wakatobi. Masyarakat diberi pelatihan budidaya rumput laut, ikan komersial, dan berorganisasi, yang selama puluhan tahun tidak mereka tekuni. 
Pemerintah pun menyatakan niat mereka untuk berubah, yang dimulai dari penataan internal dan pertanggungjawaban. Pemerintahan sebelumnya, hingga kini tidak menyampaikan laporan pertanggungjawaban (LPj). 

Soal Lpj bukan satu-satunya keanehan. Lainnya adalah penerimaan daerah tahun lalu dari sektor perikanan sebesar Rp 140 juta. Padahal, Wakatobi telah lama dikenal sebagai salah satu pusat penghasil ikan komersial seperti kerapu, sunu, hingga napoleon yang menjadi primadona di dunia. 

Menurut Koordinator Surveilans dan Monitor Program Bersama TNC-WWF Anton Wijonarno, kawasan Kepulauan Wakatobi memiliki keistimewaan dengan keberadan upwailling (pertemuan massa air hangat di permukaan dan air dingin dari laut dalam) di sana. Upwailling merupakan salah satu faktor utama banyaknya ikan. "Itu ada di sepanjang kepulauan," kata dia. 

Di Wakatobi tercatat sebanyak 396 spesies karang dan setidaknya 600 spesies ikan. Termasuk di antaranya ikan komersial seperti sunu, kerapu, dan napoleon. Soal kekayaan jenis ikan inilah yang selama ini kalah pamor dengan keindahan alam bawah air. 
Kekayaan itu ditambah dengan keberadaan Pulau Anano yang menjadi lokasi bertelur penyu sisik dan penyu hijau; dua jenis penyu yang hampir langka di dunia. Kepulauan Wakatobi juga memiliki gugusan karang Kaledupa yang membentang sepanjang 48 kilometer, yang menjadikannya salah satu gugusan karang terpanjang di Asia Tenggara. 

Di atas karang berair jernih itulah berdiri pondok-pondok singgah nelayan ketika melaut. Rombongan wartawan sempat mengunjungi keramba apung di gugusan karang Kaledupa. Pengelolanya bertutur, secara rutin kapal Hongkong datang mengambil kerapu, sunu, dan napoleon. 

Di sekitar Pulau Hoga, setidaknya dua kapal besar bersandar menunggu datangnya nelayan-nelayan untuk menjual ikan tangkapan mereka, sebelum akhirnya diekspor. Bertahun-tahun mereka telah beroperasi di sana. 

Dengan fakta-fakta itu, meskipun belum memiliki data potensi, tidak heran bila Bupati Kepulauan Wakatobi AM Madra menyatakan bahwa kebocoran penerimaan di sektor perikanan saja mencapai Rp 9 miliar per tahunnya. Seiring niat pemerintah daerah, taman nasional, dan aksi nyata organisasi non pemerintah di lapangan, wajar muncul harapan. 
Tidak ada kata terlambat untuk berubah.

Munculnya Gerakan Kemandirian

Hal-hal besar sering kali berawal dari sepotong kesadaran awal yang mulanya tampak kecil. Itulah yang kini muncul bagai gelombang dan menggulung kelompok petani rumput laut dan nelayan di gugusan Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. 
Dalam sebuah kalimat, inilah kesadaran yang menggerakkan itu, "jangan pernah berharap pada orang-orang Kaledupa yang ada di luar sana. Nasib warga ditentukan oleh kita yang ada di sini." Adalah Ketua Forum Kahedupa Toudani (Forkani), La Beloro, yang mengungkapkan kalimat itu. 
Forum yang berdiri tahun 2002 itu berawal dari sebuah kegelisahan. Gantungan hidup mereka yang mulai mapan terancam musnah karena zonasi Balai Taman Nasional Kepulauan Wakatobi (TNKW). Perlu diketahui, seluruh wilayah Kabupaten Wakatobi seluas 1,3 juta hektar juga merupakan kawasan taman nasional. 
Zonasi yang diakui Kepala Balai TNKW disusun di atas meja nun jauh di Kendari sana-memasukkan kawasan pertanian rumput laut warga ke dalam zona inti. Artinya, di lahan mereka itu dilarang ada aktivitas pemanfaatan. "Bagaimana hidup kami nantinya?" kata La Beloro, mewakili seruan para petani rumput laut yang di Pulau Kaledupa berjumlah sekitar sepuluh persennya. 
Maka, tak ada pilihan selain memulai perlawanan. Namun, semua dilakukan dengan dialog. Warga mengusulkan agar zona inti diterapkan di bagian tubir, bukan di kawasan pantai. 
"Kalau pemerintah maunya memaksa, kenapa tidak kami bom saja semua terumbu karang yang bagus supaya rusak dan tidak ada taman nasional," demikian dikatakan Beloro, ketika mengisahkan perjalanan berdirinya Forkani kepada rombongan wartawan dari Jakarta dan Kendari di Pulau Hoga, pada akhir Mei 2006 lalu. 
Perlawanan mereka berhasil, karena pihak Balai TNKW menyadari kekeliruannya yang merumuskan penzonaan tanpa mempelajari kawasan terlebih dahulu. Kini, Forkani selalu dilibatkan dalam revisi zonasi yang sedang dibahas. 
Dalam kurun waktu empat tahun, Forkani telah memiliki 22 kelompok binaan di 11 desa di Pulau Kaledupa. Secara rutin setiap kelompok mengadakan pertemuan membahas persoalan-persoalan aktual dan mencari solusinya. 
Menurut Beloro, sebagaimana diiyakan beberapa pengurus yang hadir dalam pertemuan, tak ada upah bagi mereka untuk menggerakkan organisasi. Justru mereka mengeluarkan iuran rutin. 
Semangat dan kejelasan visi dan misi Forkani terlihat dalam antusiasme dan susunan program kerjanya. Salah satu rencana yang tertunda adalah membentuk koperasi simpan pinjam yang terkendala pagu keuangan Rp 12 juta. 
Mereka juga berencana mendirikan radio komunitas sebagai ajang komunikasi antaranggota. Radio juga akan dijadikan sarana pembentukan kelompok di setiap desa di Kaledupa. 
Membela hak 
Adapun program utama Forkani-yang ditegaskan menjadi prinsip utama-adalah pembelaan hak-hak atas sumber daya alam setempat. Sungguh sebuah kesadaran yang tidak umum dimiliki komunitas masyarakat di daerah lain di Indonesia. 
Kalaupun muncul kesadaran, umumnya tidak sampai pada pembentukan sebuah organisasi seperti halnya Forkani. Apalagi bergerak dengan visi dan misi yang rinci. "Adalah penting memberi pendidikan dan menekankan pentingnya konservasi, tetapi penting juga memberi akses ekonomi bagi masyarakat. Pemerintah juga harus bisa membuat masyarakat tidak bergantung kepada SDA. Harus punya alternatif," kata Beloro. 
Selama masih terus bergantung kepada SDA, kearifan sebesar apa pun lambat laun akan luntur oleh keterdesakan kebutuhan hidup. Demikian pula pengambilan dari alam seramah apa pun akan menyebabkan lingkungan menjadi kolaps. 
Salah satu contoh konkret yang ditawarkan Forkani, khususnya bagi masyarakat Kaledupa adalah melatih memanfaatkan lahan untuk kebun sayur mayur. Seluruh kebutuhan sayur di Kaledupa dan pulau-pulau lain di Wakatobi selama ini disuplai dari Bau-Bau, Pulau Buton. 
Gugusan karang yang menjadi Pulau Kaledupa sebagian besar ditumbuhi pohon kelapa, jambu mente, perdu, dan semak belukar. Tak ada perladangan sayur mayur di sana. 
Forkani juga menyerukan perlunya pelatihan intensif untuk memberi nilai tambah produk rumput laut. Kamaluddin (43), petani rumput laut yang mengenal budidaya rumput laut sepuluh tahun lalu berkisah, hingga kini ia dan semua petani lainnya hanya dapat menjual rumput laut kering kepada tengkulak. "Harganya terserah mereka," kata dia. 
Saat ini, hampir merata di seluruh Wakatobi, harga rumput laut kering Rp 3.600 per kilogramnya. Harga ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Adanya keahlian baru mengolah rumput laut diharapkan turut mendongkrak pendapatan mereka. 
Para petani mengaku sulit mengubah situasi yang ada sekarang ini, karena ketika rumput laut mereka jual langsung ke pengepul di Bau-Bau, harganya justru anjlok. "Seperti ada kesepakatan mereka dengan tengkulak," lanjut Kamaluddin. 
Kamaluddin mengaku masih beruntung karena berhasil keluar dari rantai tengkulak yang pernah membelitnya. Para tengkulak umumnya memberi bantuan modal bibit dan tali dengan perjanjian seluruh hasil panenan harus dijual kepada mereka. Tentu dengan harga tertekan. 
Kesadaran mengubah roda nasib juga muncul di Pulau Tomia, salah satu pulau besar tetangga Kaledupa. Di pulau dengan rumah-rumah yang tertata rapi di kawasan pesisir tersebut, berdiri tiga kelompok nelayan jaring. "Kami melihat perlunya kebersamaan untuk maju," kata Armin, Ketua Kelompok Lapara-para. 
Dua kelompok lainnya adalah Lapotau-tau dan Lakomay. Ketiga kelompok beranggotakan 163 nelayan yang menyadari daya rusak bom ikan. Berbeda dengan Forkani, berdirinya ketiga kelompok itu tidak lepas dari dorongan WWF dan TNC, dua LSM yang bekerja sama dengan Balai TNKW. 
Salah satu impian sederhana Lapara-para yang berdiri enam bulan lalu adalah keberadaan zona pemijahan ikan. Nantinya, di zona tersebut para nelayan tidak akan melempar jaring atau memancing ikan. Sebaliknya, titik tersebut dijaga demi perkembangbiakan ikan. 
Harapannya, dalam tiga tahun di sekitar kawasan pemijahan itu, ikan-ikan akan mudah ditangkap. Nelayan tradisional bermodal kecil pun tak perlu jauh-jauh ke tengah laut untuk mendapat ikan. 
Yang diharapkan tertangkap, di antaranya ikan sunu hitam seharga Rp 20.000 per kilogram (kg) dan kerapu macan seharga Rp 40.000 per kg. "Hasil rata-rata per hari kami antara 3-4 kilogram. Cukup untuk hidup anak istri selama dua hari. Tidak perlu terlalu luar biasa," kata Armin. 
Hasil rata-rata yang dimaksud Armin khusus untuk bulan-bulan tertentu, yakni antara Oktober-April yang merupakan musim ikan. Di luar bulan itu, hasil ikan tak bisa dijadikan gantungan hidup keluarga nelayan tradisional. 
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, selain sebagai nelayan, tidak sedikit penduduk pulau yang berdagang antarpulau atau menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia atau Singapura. 
Terus eksploitasi 
Menurut Armin, secara teori sebenarnya mereka bisa membudidayakan ikan laut, tetapi keterbatasan pengetahuan belum memungkinkan hal itu. Satu-satunya jalan yang sudah mentradisi, ya terus mengambil dari alam. 
Menurut Veda Santiaji, staf Outreach WWF untuk Wakatobi, pendekatan yang dilakukan kepada para nelayan sejak tahun 2003, di antaranya mengarahkan pada pengorganisasian diri dengan mengajak sejumlah tokoh masyarakat ikut dalam pelatihan. Selain untuk memudahkan penjagaan kawasan taman nasional, para nelayan pun dapat bersama-sama memecahkan persoalan mereka sendiri. Tentu dengan bantuan fasilitas. "Selama ini mereka berjalan sendiri." 
Sebenarnya, seperti diungkapkan Armin, mereka telah memiliki nilai budaya seperti poasa-asa (bersama-sama) dan pohamba-hamba (bantu membantu) dalam berkehidupan. Namun, selama ini nilai itu menghilang. 
Kini, nilai kebersamaan itu muncul kembali bersama kesadaran untuk maju dan hidup lebih baik. Jika kesadaran itu baru saja bertunas di Tomia, di Kaledupa sudah tumbuh. Kelompok-kelompok itu terus berkembang dengan berbagai persoalan masing-masing. Campur tangan pemerintah sungguh dibutuhkan. Namun, dengan atau tanpa campur tangan itu, mereka sesungguhnya telah menemukan kekuatan yang hebat.

Oleh GESIT ARIYANTO Kompas, Kamis, 27 Juli 2006

Sunday, July 16, 2006

Siapa seh yang nenek moyangnya pelaut?


Kami di Wanci kedatangan tamu tak diundang. Berbekal pesan dari seorang Yunani penggila bola yang ditemui di Banda Neira, Piere sekeluarga berlayar ke Wakatobi menuju Wanci mencari kantor WWF. Katanya sih ada orang yg baik yang bisa diajak ngobrol. Dan tibalah mereka sekeluarga dengan yacht-nya "Archibald" di Wanci 15 July 2006 kemarin. Nah mereka sekeluarga ini dah 9 bulan ninggalin negaranya, New Caledonia, hanya tuk memastikan bisa berkumpul sekeluarga setelah sekian tahun sibuk bekerja. Pak Pierre dan bu Veronique ninggalin pekerjaannya di rumah sakit dan satu klinik swasta, sebagai dokter, tuk mengarungi lautan bersama anak2nya. Pas ditanya kapan mo pulang, enteng aja mereka menjawab " Ya ntar deh kalau emang udah waktunya nyampe di New Caledonia, gak perlu ditarget deh..." Wow... Jadi sebenarnya siapa seh yang nenek moyangnya pelaut itu...?
Ntar dibawah ada sepenggal data yang dikumpulkan Rustam (journalist Media Sultra) , yang terpaksa kucatat juga berhubung kendala bahasa do'i pas mo wawancara.

Aku bareng Akas, Saleh, Rustam and Menami captain, menghabiskan sore yang asik itu ngobrol bersama Piere dan Veronique. Sementara anak2 mereka, asyik berlarian bermain di anjungan dan sekali dua keluar masuk cabin yang mungil tapi keliatan sangat nyaman itu. Gak tahan rasa ingin tahuku, kuminta ijin untuk melongok cabinnya. Ada 5 tempat tidur yang nyaman seukuran badan lebih dikit. Ada toilet kecil, kalau mandi gak muat kali ye.. dan dapur yang jg gak kalah mungilnya. Ada kulkas buat simpan ikan hasil pancingan atau memanah, tapi hanya berfungsi kalau langit cerah atau berangin kuat. Maklum pembangkit listrik di kapal itu melulu dihasilkan dengan solar panel dan kincir angin yang terletak di atas buritan kapal. Jadi untuk menghemat listrik, yang juga digunakan untuk mengakses email via laptop dengan satelit phone mereka dan penerangan serta perangkat pemandu pelayaran maka kulkas prioritas terakhir. Lagian selama perjalanan mereka gak kekurangan ikan hasil tangkapan. Praktis duit cuma tuk beli beras dan sayur dan buah kata Veronique. Lumayan irit..!
Gak terasa senja kian gelap, terpaksa deh kami harus balik ke darat. Gak enak lagi, siapa tahu mereka mo dinner, kita kan jadi ngrepotin. Terpaksa dengan masih memendam rasa penasaran dan ingin tahu yang masih menggumpal kami mohon pamit dari kapal mereka.
Yang bikin takjub lagi pas kami mo pulang dari berkunjung di yacht yang mungil tapi canggih itu mereka sempat nanya
"Ada gak sih tempat sampah di Wanci?"
Pikirku "Maksudnya apa neh...?"
Veronique bilang bahwa pagi tadi pas turun ke darat n sampai ke pasar, tuk belanja, doi tuh bawa dua plastik isi sampah mereka. Nah nglongok kiri kanan gak dapetin yang namanya tempat sampah. Karenanya mereka bawa balik lagi deh tas plastik isi sampah itu ke kapalnya. Hebat gak seh...?
Yah karena gak mo malu, masak segede ini pulau Wangi-Wangi gak ada tempat sampah, maka kami putuskan untuk bawa saja tuh plastik dua buah tuk kami buang ke tempat sampah di kantor. Itu baru bangsa pelaut ! Gak tega ngotorin laut biar gak ada yang ngawasin mereka, ya gak...


My note :
Pierre and Veronique with Archibald yacht.
They left New Caledonian on Sept 2005
They both are doctors who used to work at hospital and private clinic.
Their children study by themselves under their own control and they sent 6 weekly test/exam to France through Veronique sister.
The kids study Math, Geography, French, English, Science, Drawing, Art.
They bring modul for Sept-June, when pass the exam they will get the new modul for next class level.
They had been lived on the Archibald for 6 years since they move from France to New Caledonian

They journey passed Vanuatu, Papua New Guinea, Manokwari, Sorong, Banda Neira n Wangi2.
Then Hoga, Tomia, Takabonerate, Maumere, Flores, Bali, Kalimantan, Malaysia, Singapore, Thailand, Madagascar, South Africa, Panama n back to New Caledonian
They stayed at Banda for a week on June and watch World Cup game especially on France match facing Spain, Brazil, n then the final with Italia.
The boat has 500 liter freshwater and solar panel and wind generator for electricity.
They usually get freshwater from rain.The boat is 19 gt, 15 m length and 4 m wide, with 5 bed in the cabin.

Saturday, July 15, 2006

Monday, July 10, 2006

jurnal 8 juli 2006


Sejak tanggal 5 Juli kemarin, 25 orang petani rumput laut di Wakatobi kedatangan dua tamu. Pak Hariadi dan Pak Marcel diundang Balai Taman Nasional Kepulauan Wakatobi untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam mengelola usaha budidaya rumput laut. Pak Hariadi memulai usahanya sejak 1967. Bisa jadi beliaulah yang memulai usaha budidaya rumput laut di Indonesia ini. Kalau Pak Marcel sih pengusaha rumput laut yang masih aktif pengekspor sampai sekarang melalui perusahaannya CV Sumber Rejeki di Menado.



Tips untuk Pembudidaya Rumput Laut

Lokasi
- Dasar pasir sedikit kasar atau karang atau karang berpasir
- Arus air berkisar antara 20 – 40 cm/detik
- Salinitas : 28 – 33 ppt
- Di dasar terdapat hamparan sargassum atau lamun
- Untuk lepas dasar minimum bisa dipasang 30 cm dari dasar (saat surut)

Tanam
1. Pilih bibit yang banyak cabangnya dan tidak cacat atau terluka agar hasilnya pun akan bagus.
2. Ikatkan bibit pada tali ris dengan cara ikat seperti mengikat kolor celana. Ini agar dapat dilepas dengan mudah tanpa harus memotong rumput laut itu. Agar tidak mudah terlepas karena arus, jangan lupa kunci dua kali ikatan tersebut.
3. Lebih baik gunakan tali rafia atau plastik untuk es dibanding tali nilon. Ini agar rumput laut yang tumbuh besar nantinya tidak mudah terpotong karena tajamnya tali nilon.
4. Apabila pertumbuhan rumput laut di lokasi tanam sangat cepat, pasang saja bibit yang kecil dan cukup dua tangkai per ikatan.
5. Ketika membawa bibit baik saat mengambil maupun akan menanam, upayakan selalu terlindungi dari panas matahari. Untuk itu di perahu perlu dipasangkan tudungan dari bambu atau karton. Jangan langsung ditutup dengan plastik karena perlu udara di bawah tudungan tersebut.
6. Bibit yang belum sempat dipasang, bisa direndam dulu di air laut agar tetap segar dan sehat.
7. Untuk tanam apung upayakan tali ris 20 cm dari permukaan air laut. Ini untuk mencegah rumput laut terekspos langsung oleh sinar matahari, yang akan menyebabkan kerusakan.


Pelihara
1. Salah satu musuh rumput laut adalah lumut. Selalu bersihkan rumput laut dari lumut. Ini agar rumput laut anda tidak dimakan ikan. Ikan memakan lumut, karena lumut menempel di rumput laut maka termakan pula rumput laut itu.
2. Arus yang kurang kuat akan menyebabkan tumbuhnya lumut lebih cepat, untuk itu perlu lebih rajin lagi pemeliharaan agar tidak menurun pertumbuhan rumput laut karena terselebungi lumut.
3. Belum ada pupuk yang tepat bagi rumput laut. ”Pupuk” terbaik adalah bayang-bayang manusia, dimana artinya pemeliharaan setiap hari.
4. Rumput laut harus dibiarkan di perairan selama minimal 45 hari. Kurang dari itu akan menyebabkan kualitas karagenan rendah.
5. Apabila pertumbuhan terlalu cepat besar, kurangi bibitnya, jangan mengurangi hari tanam kurang dari 45 hari.



Panen
1. Setelah umur 45 hari segeralah dipanen, agar tidak rugi waktu.
2. Masih dalam keadaan terikat di tali ris, rumput laut tidak perlu dilepas dulu. Tiriskan saja di gantungan yang dapat dibuat dari bambu seperti jemuran baju.
3. Tiriskan rumput laut selama 1 sampai 1,5 hari bersama tali risnya. Ini bisa sekalian menjemur tali ris hingga kering.
4. Setelah ditiriskan baru lepaskan rumput laut dari tali risnya. Ingat jangan melepas rumput laut dengan cara menariknya karena akan melukai tangkai rumput laut dang membuang kandungan karagenan dalam rumput laut.
5. Apabila ikatan seperti tali kolor celana yang digunakan maka akan lebih mudah melepasnya. 6. Bila tidak bisa dilepas dengan memotong tangkai tepat di jeratan tali sehingga luka dapat diminimalkan.


Pasca Panen
1. Penjemuran harus dilakukan di atas para-para, dan jangan di atas tanah atau lantai. Ini untuk mempercepat proses pengeringan dan tidak kotor.
2. Hamparkan rumput laut di para-para selapis saja. Jangan menumpuk terlalu tebal agar proses pengeringan merata.
3. Setiap dua sampai tiga jam sekali hamparan tersebut harus dibolak-balik agar lebih merata keringnya.
4. Standar kualitas rumput laut yang baik adalah : kandungan air maksimum 35% dengan kekotoran maksimum 2%.
5. Penyimpanan di gudang atau di rumah tetap harus ditutupi plastik atau di dalam karung agar tidak terserap lagi uap air di udara. Apabila rumput laut kering berwarna putih bisa jadi pernah tersiram air tawar atau kena hujan.
6. Satu karung plastik 100 kg umumnya memuat 80 kg rumput laut.

jurnal 10 juli 2006













Hari ini berakhir pelatihan operator radio untuk beberapa rekan yang telah memiliki maupun baru mau bikin radio komunitas. Tiga rekan dari Kendari : Bayu, Fadly dan Berpin, memandu pelatihan ini. Bayu dan Fadly melatih pembuatan materi siaran radio baik berupa berita, iklan ataupun feature. Sedangkan Berpin melatih pemeliharaan perangkat siar radio dan merakit pemancar.

Friday, December 02, 2005

Tempat Bertemunya Monster Laut

Kawasan perairan laut Indonesia bagian timur hingga saat ini masih menjadi segitiga terumbu karang terbaik dunia. Salah satunya adalah Taman Nasional Wakatobi di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Di kawasan tersebut, alga, udang, dan plankton tersedia melimpah. Apabila di darat berlaku pepatah, "di mana ada gula, di situ ada semut", maka di laut yang berlaku adalah "di mana ada plankton, di situ akan berkumpul banyak ikan".

Tidaklah mengherankan jika kawasan tersebut menjadi lokasi "favorit" beberapa jenis ikan dalam mencari pakan. Salah satu jenis ikan yang sering bertandang ke Wakatobi adalah ikan paus sperma (Physeter macrocephalus). Mamalia raksasa itu memang dikenal suka berpindah-pindah tempat saat mencari pakan, antara Lautan Hindia hingga Samudera Pasifik. Mungkin karena ukuran tubuhnya yang besar, paus butuh pakan dalam jumlah yang besar pula.

Biasanya, kawanan paus sperma berada di Wakatobi pada bulan November, saat belahan bumi lain membeku. Pada bulan tersebut perairan Wakatobi relatif lebih hangat dan berlimpah pakan yang bisa mengenyangkan perut kawanan paus. Pada saat itulah, para monster laut berkumpul. Mengapa disebut moster laut? Karena paus sperma dengan ciri noktah putih berbentuk mirip sperma di kepala itu termasuk dalam ordo Cetacea, yang dalam bahasa Yunani berarti monster laut.

Selain paus sperma, perairan Wakatobi juga dihuni oleh monster laut yang lain. Misalnya, ikan pari Manta (Manta ray) yang ukuran tubuhnya tergolong raksasa dan bentuknya seperti monster laut. Pari Manta merupakan salah satu jenis ikan yang khas dan unik, yang hanya terdapat di perairan tropis.

Menurut hasil survei ilmiah FDC-IPB pada 1994, kepulauan Wakatobi merupakan salah satu tempat penyelaman terbaik di Indonesia dengan keanekaragaman terumbu karang dan ikan yang tinggi. Atas dasar itu, melalui SK Menteri Kehutanan No.393/Kpts-V/1996, kepulauan Wakatobi ditetapkan sebagai taman nasional. Maka dari itu, jadilah Wakatobi sebagai kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (pasal 1 butir 14 UU No. 5 Tahun 1990).

Menyangkut keanekaragaman hayati laut, skala dan kondisi karang, Wakatobi menempati salah satu posisi prioritas tertinggi dari konservasi laut di Indonesia. Hal ini juga merupakan bagian terpenting dalam sebuah jaringan yang saling memenuhi dari Kawasan Perlindungan Laut sepanjang pesisir tenggara Sulawesi. Dengan luas total mencapai 1,39 juta ha, taman nasional ini termasuk kepulauan Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko.

Taman Nasional Wakatobi memiliki potensi sumber daya alam laut yang bernilai tinggi baik jenis dan keunikannya, dengan panorama bawah laut yang menakjubkan. Secara umum, perairan lautnya mempunyai konfigurasi dari mulai datar sampai melandai ke arah laut, dan di beberapa daerah perairan terdapat yang bertebing curam. Kedalaman airnya bervariasi. Bagian terdalam mencapai 1.044 meter dengan dasar perairan sebagian besar berpasir dan berkarang.

Wakatobi memiliki 25 buah gugusan terumbu karang dengan keliling pantai dari pulau-pulau karang sepanjang 600 km. Lebih dari 112 jenis karang dari 13 famili di antaranya Acropora formosa, A. hyacinthus, Psammocora profundasafla, Pavona cactus, Leptoseris yabei, Fungia molucensis, Lobophyllia robusta, Merulina ampliata, Platygyra versifora, Euphyllia glabrescens, Tubastraea frondes, Stylophora pistillata, Sarcophyton throchelliophorum, dan Sinularia spp.

Menurut sumber resmi di Departemen Kehutanan, Wakatobi sedikitnya dihuni oleh 93 jenis ikan konsumsi perdagangan dan ikan hias, di antaranya argus bintik (Cephalopholus argus), takhasang (Naso unicornis), pogo-pogo (Balistoides viridescens), napoleon (Cheilinus undulatus), ikan merah (Lutjanus biguttatus), baronang (Siganus guttatus), Amphiprion melanopus, Chaetodon specullum, Chelmon rostratus, Heniochus acuminatus, Lutjanus monostigma, Caesio caerularea, dan lain-lain.

Selain terdapat beberapa jenis burung laut seperti angsa-batu coklat (Sula leucogaster plotus), cerek melayu (Charadrius peronii), raja udang erasia (Alcedo atthis), juga terdapat tiga jenis penyu yang sering mendarat di pulau-pulau yang ada di taman nasional yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Masyarakat asli yang tinggal di sekitar taman nasional ini adalah suku laut atau yang disebut suku Bajau. Menurut catatan Cina kuno dan para penjelajah Eropa, manusia berperahu adalah manusia yang mampu menjelajahi Kepulauan Merqui, Johor, Singapura, Sulawesi, dan Kepulauan Sulu. Dari keseluruhan manusia berperahu di Asia Tenggara yang masih mempunyai kebudayaan berperahu tradisional adalah suku Bajau. Kehidupan mereka sehari-hari cukup unik dan menarik, terutama kemampuan mereka menyelam ke dasar laut tanpa peralatan menyelam dan alat untuk menombak ikan.

Pulau Hoga (Resort Kaledupa), Pulau Binongko (Resort Binongko), dan Resort Tamia, merupakan lokasi yang menarik untuk dikunjungi terutama untuk kegiatan menyelam, snor-
keling, wisata bahari, berenang, berkemah, dan wisata budaya. Musim kunjungan terbaik ke pulau ini adalah pada April s/d Juni dan Oktober s/d Desember setiap tahunnya.

Untuk mencapai lokasi, pengunjung bisa berangkat dari Kendari ke Bau-bau dengan kapal cepat regular yang beroperasi dua kali setiap hari, dengan lama perjalanan lima jam atau setiap hari dengan kapal kayu selama 12 jam. Dari Bau-bau ke Lasalimu pengunjung bisa naik kendaraan roda empat selama dua jam, lalu naik kapal cepat Lasalimu-Wanci selama satu jam atau kapal kayu Lasalimu-Wanci selama 2,5 jam. Wanci merupakan pintu gerbang pertama memasuki kawasan Taman Nasional Wakatobi. (Syarifah, S.P.)***

Monday, October 03, 2005

Man or beast? -- the daily talk in a national park

In early September the Indonesian offices of non-governmental organizations (NGOs) the World Wide Fund for Nature (WWF) and The Nature Conservancy (TNC) invited a number of journalists to Wakatobi National Park, Southeast Sulawesi province, comprising 1.3 million hectares, mostly of sea and a few small islands. The following is a report by The Jakarta Post's Ati Nurbaiti and contributor Hasrul.

The classic argument around ecosystems and conservation is ""man or beast"" -- which one to sacrifice? -- while environmentalists insist that sustainable use of natural resources and protection of the species is, in the long term, for the good of both. 

The debate still rages on in the isles of Southeast Sulawesi, involving passionate activists, worried researchers and grumbling fisherfolk. Zoning of fishing areas and national parks, for the locals who have ever heard of these concepts, simply means a series of ""no this, no that"" a nuisance and even unwanted intervention into their livelihoods. 

The middle way is the pragmatic, firm tone of Regent Safaruddin Safar: It's all about cash. ""If we want to attract dollars to Wakatobi then we must preserve the coral. Destroy it and the fish flee, and, in turn, the tourists leave."" 

Local elections are coming up later in September and the environment is becoming a hot political issue. But the incumbent says the pro-conservation stand is the only choice for whoever becomes the new regent for the sake of the economy. 

Already in the waters around the regency of Wakatobi -- an acronym for the main islands of Wangi-wangi, Kaledupa, Tomea and Binongko -- swimmers and divers are safe from the sharks, ironically because the feared rulers of the sea have already left in the past few decades. 

The absence of the feared predators is a main indicator of degradation of the ecosystem here, experts say. 

Bloro, a resident of Kaledupa, cites how sharks were numerous in his childhood. ""My uncle caught an octopus and tied it to the end of the boat, and soon after a shark followed us and we just dragged it home."" 

Fishermen among the famed sea gypsies in Sulawesi, the Bajo people, say they now increasingly sail to the waters further south, to Flores and even Australia, in search of the sharks. The value of the fins apparently continues to lure them to sail for months, even with the threat of imprisonment by Australia's immigration authorities. 

Assessments of coral and other marine life by staff and volunteers by the ongoing Operation Wallacea environmental program here has led to its latest conclusion: The sites selected for study have clearly degraded, compared with last year. 

Locals also cite the greater distance they now must cover to get their delicacies, the best seaslugs (tripang) compared to some years ago. This may be an initial sign of locals' awareness that the greens are looking for -- that people sense they are in trouble if fishing continues at the current rate, and increasingly involving destructive methods like bombing. 

However, it seems playing catch up on the part of these environmentalists will remain the norm in the foreseeable future. 

""There are fish to be caught, every single day,"" says Veda Santiadji of WWF, citing the strong belief of locals. 

He acknowledges the need of more expertise from anthropologists and the like; marine scientists and even those working on social issues say they are bewildered at the behavior here -- today's catch and today's earnings are for today only. 

""One family earned Rp 150,000 in a day and spent it all, including on food,"" says Veda

The global rule on national parks, environmentalists have found, is that local people are the best guardians of the ecosystem, no matter how many regulations or patrol boats the authorities may have (very little, in the case of Wakatobi). Instilling local awareness of retaining the marine life for the future is therefore vital, but the sense here is that high expectations are thrown on the shoulders of the communities alone, without much government support. 

""The locals can't be expected to guard the surroundings by themselves,"" a resident said. ""It's just not fair; we might refrain from fishing in a certain zone but then our neighbor does it and gets away with it."" 

Authorities know what they are up against. Regent Safaruddin says the budget allocates a mere Rp 25 million for patrolling the 1.3 million-hectare area; hence the heavy reliance on big international NGOs like WWF and TNC and their speedboats. 

The law on coastal areas is new, the maximum penalty being five years jail and a hefty fine of Rp 100 million for violations. ""Our approach is mostly giving information and being persuasive,"" says police patrol official La Fasa. 

On one bumping patrol trip through the long coral reefs of Karang Kaledupa, the speedboat stops besides a fairly large boat, belonging to Haji Sana, who's on the deck with his wife and other crew members. La Fasa steps up to approach the big, burly, dark man in a friendly manner, whose eyes dart suspiciously at La Fasa in his green uniform and the blue uniform of forestry policeman Murgiono. Then a few reporters augment the interrogation party and Sana gets worked up: I think he may push us off the boat! 

At La Fasa's question on whether he has a permit, he barks, ""I've been fishing all these years and I've never had to look for permits!"" ""But you should know"", Fasa says gently, ""that when you use a fishing boat like this you must have a permit."" 

He goes along to explain about the national park and Sana retorts he has never heard of it. ""Our catch is worth only so much and the permit is some Rp 100,000!"" 

There is no ticketing or anything and our group leaves after La Fasa and Murgiono feel they have shared enough information and understanding. Sana manages a hesitant smile when we wave, and La Fasa sighs later: ""Sometimes it's as though the supervision of the whole park depends on a few patrol men like us."" 

The current signs are that they might have lots of rest in the coming weeks; a quota policy on fuel has been introduced as the the impact of the fuel shortage has crept even into these waters.

The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Tue, 09/20/2005

Sunday, October 02, 2005

Wakatobi dalam Transisi

Jaman Beralih, Musim Bertukar 


Oleh
Adi Seno

WANCI – Perubahan! Itulah satu-satunya yang pasti dalam hidup ini. Dan orang Bajo menyiasati perubahan dengan kehidupan nomadik. Inilah mengapa mereka disebut juga “gypsy laut”. Bagi Chris Major yang sudah sepuluh tahun bersama orang Bajo bahkan beristrikan “orang laut” itu. Ini tantangan! Pasalnya, jika alam rusak, mereka pun minggat.
Ilmu perikanan itu bukan ilmu pasti, demikian Duncan May mengingatkan. Peneliti bergelar doktor ini sudah lima tahunan meneliti di Wakatobi. Ia menjelaskan indikator yang menentukan kurang tidaknya ikan di Wakatobi. “Persepsi masyarakat (melalui penelitian sosiologi) bahwa jumlah tangkapan ikan berkurang,” jelas Duncan yang merupakan wakil dari Wallacea Trust. Data hasil tangkapan pun menunjukkan yang didapat ikan-ikan usia muda. 
Rantai makan yang menjadi landasan siklus hidup untuk di Wakatobi membutuhkan terumbu karang. Sayangnya, terumbu sudah dirusak lewat racun ikan dan bom. 
Racun memabukkan ikan, juga sekaligus merusak terumbu karang. Terumbu itu tempat tinggal dan tempat mereka mencari pangan. Sedangkan, bom selain mengambangkan ikan, juga menghasilkan bongkah karang yang berguna untuk fondasi rumah.
Bagi Chris Major, saudaranya orang-orang Bajo inilah yang harus disadarkan mengenai pentingnya melestarikan sumberdaya laut. Walau mereka hanya sepuluh persen dari jumlah penduduk, menurut Chris Major, peran orang Bajo dalam perikanan sangat besar. Ia bahkan berani menyebutkan 90 persen kegiatan perikanan dilakukan orang Bajo. Ini dengan sendirinya peran mereka dalam overfishing serta praktik perikanan yang merusak juga besar.
“Jadi upaya konservasi harus melibatkan orang Bajo, tanpa mereka mungkin tidak akan berhasil,” ujar Major di Sampela (3/9), desa terapung di lepas pantai Pulau Kaledupa.
Sulitnya mengubah pandangan orang Bajo diungkap Joanna Swiecicka, peneliti antropologi di Sampela yang berasal dari Polandia. Ia menjelaskan, 

mengenai kepercayaan akan umbu mari laut yang selalu akan memberikan ikan lagi pada orang Bajo. Konsep konservasi susah diterima sehingga upaya membatasi perikanan dengan membuat daerah larang tangkap ditanggapi orang Bajo hanya sebagai kepentingan turis asing, bukan untuk mereka.
Major lebih lanjut menjelaskan bahwa orang Bajo, walau sudah memiliki kampung di Sampela, masih punya kecenderungan pindah. Sekarang ini banyak yang berangkat ke Timor. “Jika mereka sudah siap maka keluarga pun dibawa,” katanya.
Bukti omongan Chris Major didapat ketika melakukan kunjungan ke Mola Selatan. Ini juga desa yang mayoritas orang Bajo. Letaknya di bagian kota Wanci, Ibu Kota Kabupaten Wakatobi di Pulau Wangi-wangi. Di sana rombongan wartawan dari Jakarta dan Kendari berjumpa dengan Jufri, pria berputra tiga yang semuanya sudah di sekolah menengah atau lebih tua lagi. Ia sedang menyiapkan kompor untuk dipasang di perahunya. Rencananya dalam tiga hari sejak 5 September lalu, ia akan memulai perjalanan kesekiannya ke Timor.
Pelayaran sendiri akan makan seminggu. Di sana ia akan melanjutkan lagi ke perairan Australia. Rencananya akan menangkap hiu untuk mendapatkan “ekor”-nya. Menurut Jufri, “ekor” (sirip) ini bisa dijual sekilo mencapai Rp 1 juta lebih ke juragan di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam perjalanannya ke sana ia bisa menangguk Rp 33 juta.
Jufri juga mengakui sudah tiga kapal ditangkap di Australia. Kerugiannya diperkirakan satu kapal Rp 10 juta. Jadi Jufri yakin jika ia bisa lolos sekali saja sudah impas, apalagi jika dua kali lolos, pasti untung. 
Dia sendiri mengaku tidak ada niat menjual rumah batunya yang berdiri kokoh di atas fondasi batu karang. Anak-anaknya yang menempati rumah itu untuk melanjutkan sekolahnya. Namun, ia juga mengaku bahwa tetangganya sudah banyak yang berlayar “lama” atau “merantau” ke Timor. Bahkan, dia menyatakan 30 persen lebih orang di Mola Selatan sudah meninggalkan kota itu.

Seperti kata pepatah Melayu “zaman beralih, musim bertukar,” maka bagi orang Bajo jawabannya gampang saja. Mereka merantau mencari tempat-tempat di mana “umbi mari laut” masih menyediakan ikan bagi mereka. Jika itu di perairan Australia, jadilah! (*)

Copyright © Sinar Harapan 2003

Taman Nasional Wakatobi, Bertahan pada Dua Arus

Oleh  Adiseno

 

Wanci – Kata orang di Pulau Hoga, kalau mau ke Binongko akan menyeberang selat dengan arus deras. Begitu juga dari Pasar Wajo di Pulau Buton menuju ke Pulau Hoga, ada gelombang yang menandakan arus ke Laut Banda. Buat orang yang tak biasa melaut, goncangan ini memabukan. Sekarang pulau-pulau di Sulawesi Tenggara itu pun terguncang dua arus, konservasi dan eksploitasi.

Pulau – pulau Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko adalah pulau terbesar di Kepalauan Tukang Besi. Sekarang orang lebih mengenalnya dengan Wakatobi, singkatan keempat nama pulau itu. Ini juga karena nama Wakatobi yang dipakai ketika kawasan seluas 1,39 juta hektare ini dijadikan taman nasional laut pada 1996.

Perkara taman nasional, seperti biasa dimulai dari ketakutan sumberdaya yang kaya didalamnya dijarah manusia. Hutan yang takut habis di darat sudah dari zaman kolonial dipagar-pagar dengan ketentuan hutan lindung. Sayangnya, baru zaman kemerdekaan pada kawasan yang jauh lebih luas lautannya seperti Kepulauan Nusantara kita ini, pelestarian kawasan laut dilakukan.

Salah satunya yang terbesar adalah Karang Kaledupa. Berada 10 mil laut ke barat dari Wakatobi. Ini yang bisa dilihat mata telanjang oleh orang darat dari atas kapal. Jika mau menyelam, situs penyelaman di Wakatobi sampai ratusan jumlahnya. Bahkan ada orang Swiss Lorenz Mader yang membuka resor penyelemanan lengkap dengan bandar udara perintis, yang melayani turis kaya langsung dari Bali.

Juga ada Operation Wallacea (Opswal) yang menyediakan kesempatan bagi ilmuwan dan mahasiswa yang mampu bayar 2000 poundsterling (Rp 37.808.000, - dengan kurs Rp 19.805,- /poundsterling) untuk belajar dari alam kita yang kaya. Ini di Pulau Hoga. Setiap musim pembelajaran yang lamanya tiga bulan bisa seratusan mahasiswa dan peneliti yang datang. Ini sudah berjalan lima tahun, begitu yang dijelaskan John Coop, direktur operasi Opswal.

Bagi awam seperti saya, ini indikasi bahwa memang ada sesuatu yang indah dan perlu dilestarikan. Perlu lestari sendiri diperkuat oleh Duncan May, seorang peneliti yang sudah tahunan di Wakatobi. “Keadaan tangkapan menurun, bisa dilihat jika predator pada rantai makan berkurang,” jelas dia dengan sabar. Maksudnya sekarang ini kalau berenang selepas pantai Hoga tidak bakal lagi ketemu ikan hiu. Padahal hal ini ketika May pertama meneliti bukan hal yang heboh. Jika hiu sudah jarang maka artinya populasi bawah laut juga langka, begitu kira-kira maksudnya.

Ini lah arus pertama yang sudah hampir sepuluh tahun melanda Wakatobi. Arus ini bagi para peneliti konservasi di Wakatobi dinilai lemah. Coba saja tanya pada para petugas taman nasional, pada anggota World Wide Fund for nature (WWF) dan The Nature Conservancy (TNC) yang bergerak dibidang itu disana. Veda Santiaji (WWF), Purwanto (TNC), La Fasa (Polhut), Murgianto (juga Polhut) semua khawatir akan kelestarian bawah laut di Wakatobi. Mereka rata-rata disana sudah selama Duncan May.

 Arus Baru

Kira-kira dua tahun lalu datang arus baru. Entah apa arus ini masih jadi tanda-tanya. Ada undang-undang no 29 tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Wakatobi. Yah, luasnya seluas 1,39 juta hektare, sama persis dengan luasnya taman nasional. Dan pemilihan kepala daerahnya yang direncanakan Juni ditunda jadi 20 September mendatang. Biasanya, pemerintah daerah dan pimpinannya akan mengarah pada peningkatan kesejahteraan yang kerap identik dengan eksploitasi.

“Saya yakin bisa sejalan,” begitu ujar Sarifudin Safaa pejabar bupati yang bertugas mempersiapkan kabupaten baru ini. Ia optimis pemerintah daerah bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat jika bupatinya mengutamakan konservasi. Demikian diutarakannya di Kaledupa ketika ditemui wartawan. “Saya optimis jika pimpinan mendahulukan konservasi. Hanya itu dan pariwisata.” Demikian Safaa (3/9).

Duncan May pun sepakat. Bisa jadi seperti “dua arus” bertemu seperti dalam ilmu kelautan dimana jika arus panas dan dingin bertemu (Kuroshiwo, contohnya) maka hasilnya jadi lokasi ikan. Richard Unsworth peneliti dari Essex University di Inggris yang jadi pendamping mahasiswa pun sepakat. “Ada kelompok Forkani yang merupakan kumpulan petani rumput laut. Mereka mulai merasa terganggu dengan adanya pengebom dan racun ikan. Jadi mereka mulai bertindak.” Maksud Unsworth masyarakat sendiri mulai menerima perubahan akan kebutuhan konservasi bukan hanya eksploitasi. Jadi ia dan Duncan juga berharap pemerintah daerah pun menerima yang sama. 

Copyright © Sinar Harapan 2003

Tuesday, September 20, 2005

Chris Majoers: Bajo lovely

Si bule yang jatuh cinta pada Bajo

Jauh sebelum James Cook mendarat di pesisir New South Wales, Australia tahun 1770, para pelaut suku Bajo atau Bajau, Sulawesi Tenggara, tanpa banyak ribut sudah menjelajahi kawasan utara benua tersebut.

Hal itu terbukti pada lukisan berusia puluhan ribu tahun di dinding bebatuan karya suku Aborigin di Kakadu National Park di Australia Utara. Sayang, baik Bajo maupun Aborigin bernasib sama. Terlupakan dan terpinggirkan.

Aborigin tak hanya tercerabut dari pola hidupnya yang sub sistem dan dipaksa berbudaya ala pendatang dari benua Eropa dan Amerika. Gamang dan tak nyaman.

Hasilnya, kini mudah ditemui Aborigin yang berkeliaran di jalanan Australia dalam kondisi mabuk menghabiskan jatah sosial secure mereka sembari meminta-minta.

Hal yang sama dialami suku Bajo yang sejatinya adalah penghuni laut karena kondisi politik dipaksa menjadi penghuni daratan. Bayangkan jika manusia yang terbiasa menebar jala harus mencangkul tanah.

Beruntung, Bajo masih memiliki harga diri. Seiring melemahnya pemerintahan Orde Baru yang renta, mereka kembali menjelajahi lautan yang menjadi tempat umbo made laut (ibunda lautan) bersemayam.

Menyelundup ke seputaran Asia sudah biasa. Ditangkap patroli AL Australia pun tak membuat nyali surut. Pendek kata, selama laut masih belum berpagar suku Bajo akan terus berlayar.

“Mereka adalah orang yang mengagumkan dan unik. Itu alasan utama saya terus tinggal di tempat ini sejak 10 tahun lalu,” ujar Chris Majoers pendiri Yayasan Bajau Matilla di Sampela, Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Sultra.

Menurut dia, orang Bajo memiliki pandangan hidup yang serupa dengan Suku Laut di perairan Riau atau Suku Moke di Thailand.

Bagi ketiga suku itu, laut adalah segalanya. Mereka memandang laut sebagai satu-satunya sumber penghidupan. Laut tak sebagai lahan mencari nafkah namun juga sebagai tempat tinggal, bahkan beranak-pinak.

Namun kehidupan Suku Bajo paling unik. Tidak hanya sejarahnya yang unik, tetapi persebarannya juga paling luas.

Sayang kehidupan yang tenang selama ribuan tahun itu harus terusik seiring penetapan Taman Nasional Wakatobi menjadi salah satu daerah konservasi alam.

Tambah lagi kearifan tradisional mulai ditinggalkan. Jika sebelumnya mereka menjala ikan untuk konsumsi sendiri maka seiring perjalanan waktu bom dan bius mulai dipergunakan.

“Mereka sulit untuk diberi pengertian. Mereka selalu beranggapan umbo made laut akan terus memberikan ikan. Tak hanya itu, untuk membangun rumah mereka juga menggali karang. Padahal karang adalah tempat ekosistem laut berbiak,” tutur Chris.

Hasilnya kini keindahan ekosistem batuan karang yang cantik menjadi rusak. berbagai jenis spesies ikan koral yang tinggal di daerah pantai bersama dengan koloni batuan koral makin sulit ditemukan.

Awalnya nyasar

Tidak hanya tinggal, Chris juga menikah dengan Ida, wanita asli suku Bajo dan dikaruniai seorang penerus darah Bajo bernama Era Majoers. “Dia cikal bakal suku Bajo bule. Nanti saya kepala sukunya,” katanya disusul tawa berderai.

Menurut pria kelahiran Saint. Louis, Missouri, AS yang tinggal di Perth, Australia sejak umur satu tahun itu perkenalannya dengan suku Bajo di Sampela itu berawal tak sengaja bahkan cenderung nyasar.

Pasalnya, pada 1993 seharusnya dia, yang saat itu masih merupakan mahasiswa Fakultas biologi di University of Western Australia, melakukan penelitian di hutan Kasi Guncu, Poso, Sulteng dengan pembimbing dari UI, Yatna Supriatna.

“Rupanya hutan di tempat itu sudah habis dibabat. Alhasil penelitian batal dilakukan dan saya kemudian pergi mengunjungi Sampela dan langsung jatuh cinta dengan tempat ini,” ujarnya.

Berbaur dan hidup selama berbulan di tempat itu menjadikan dia mengerti dan jatuh cinta dengan ketangguhan suku yang diharamkan pemerintah Australia. Digalangnya beberapa kawan Bajo untuk membentuk sebuah wadah yang bisa meningkatkan harkat suku itu.

“Tanpa memperkuat suku ini maka mereka akan senasib dengan Aborigin yang juga terbiasa hanya mengambil hasil alam tanpa memikirkan hari esok,”

Awal 1995 berdiri Yayasan Bajau Matilla. Matilla berasal dari bahasa Bajo yang berarti membagi ikan. Makin serius dengan urusan ini Chris pun pulang ke Perth dan pindah jurusan ke Social Science di Murdoch University.

Tak hanya menjadikan kehidupan suku penjelajah laut itu menjadi sumber tesis master dan doktoralnya. Dia juga menggalang dana bagi masyarakat.

Alasannya ikan Napoleon dan Kepe-kepe, Cakalang, Kerapu, Sunu, Cucut dan Kakap yang bernilai ekonomis tinggi makin sulit ditemukan karena perilaku over fishing. Tangkapan pun lebih banyak yang busuk kalau dijual ke pasar di Pulau Bau-Bau.

Itu alasan mengapa Yayasan Bajau Matilla lalu membuat fasilitas pengolahan awal yang dilengkapi sarana kotak es agar hasil tangkapan masyarakat Bajo tetap bernilai ekonomi.

“Mereka [Suku Bajo] memang hanya 10% dari komunitas di seluruh Wakatobi tetapi 90% pemanfaatan laut dilakukan oleh mereka, begitu pula kerusakan yang terjadi,” ujarnya.

Dengan adanya fasilitas ini, lanjutnya, masyarakat Bajo akan belajar bahwa kesejahteraan dapat diperoleh jika melakukan pengolahan dan tidak hanya melakukan penangkapan.

Beruntung sejak organisasi nirlaba lingkungan WWF mendirikan pos penelitian di tempat ini pola pemikiran masyarakat ikut berubah. Pasalnya sepanjang musim turis, Juni-Oktober sekitar Rp150 juta uang berputar.

Untuk setiap wawancara setiap orang suku Bajo dihargai Rp10.000. Jika setiap mahasiswa-yang umumnya berasal dari Inggris-rata-rata melakukan penelitian selama enam minggu dan butuh setidaknya 100 responden, maka jumlahnya lumayan.

“Jumlahnya kecil tapi itu besar bagi mereka. Dan lebih baik daripada nonton acara televisi Indonesia yang menjadikan mereka masyarakat konsumtif.”

Di satu sisi pola konsumtif itu cukup mengkhawatirkan, namun di sisi lain menggelikan.

Bayangkan saja setiap Jumat, saat adzan mengumandang masyarakat justru bergembira karena itu sat mereka dapat menonton VCD film Bollywood koleksi mereka.

Yang memalukan, pemerintah Indonesia mempersulit Chris untuk menjadi WNI. Akibatnya, setiap tahun dia harus bolak-balik memperpanjang visa dan bekerja utuk beberapa waktu di Australia untuk mempertahankan status kewarganegaraannya.

“Saya tidak mengerti mengapa, tapi tak apalah asal saya masih boleh tinggal dan dekat dengan keluarga saya di sini. Dan mungkin justru status ini baik bagi saya dan keluarga jika harus kembali Australia,” ujarnya santai.

*Bisnis Indonesia Edisi: 13/09/2005

Tuesday, August 02, 2005

jurnal 1 Agustus 2005

Pelabuhan Murhum pukul 21.05. KM Riko Saputra tujuan Wanci, sudah menurunkan putaran mesinnya pertanda bersiap untuk melaut kembali setelah seharian tambat.
Pagi tadi acaraku pertemuan dengan staf Balai TNKW untuk evaluasi program outreach dan membahas tindaklanjut pertemuan-pertemuannya. Selesai pukul 15 - an melanjutkan acara hari ini dengan nongkrong di Kamali Beach bersama Beloro, rekan dari Kaledupa. Tampak keramaian wisatawan lokal yang menikmati pinggiran pantai yang belum selesai direhab itu.
Sambil menikmati nasi campur, kulihat speed "Nautilus" meluncur dari utara menuju pelabuhan ferry. "Pasti itu Bardin" gumamku. Tadi pagi sebelum meninggalkan kamar 205 hotel Rajawali ia sempat bilang mau ujicoba speed baru yang sedang finishing setelah beberapa hari dibongkar akibat kesalahan desain di Jakarta.