Sunday, February 18, 2007
Met jalan n met datang...
Saturday, September 09, 2006
Wakatobi, Geliat Wisata Taman Nasional
Wakatobi adalah nama yang diambil dari kependekan pulau terbesar yakni Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko yang terletak di sebelah tenggara Sulawesi. Dahulu, orang menyebutnya di Kepulauan Tukang Besi. Kawasan seluas 1,39 juta hektare itulah yang kemudian dijadikan taman nasional laut pada tahun 1996. Luas kawasan itu pula yang menjadi disahkan sebagai Kabupaten Wakatobi pada tahun 2004.
"Taman Laut Nasional Kepulauan Wakatobi menjadi harapan kami. Kewajiban saya adalah menjaga agar ekosistem taman nasional tidak rusak. Selain itu, pengembangan sumber daya Wakatobi hendaknya dapat dilakukan oleh masyarakat setempat," kata Penjabat Bupati Wakatobi HAM, Madra ketika menyambut rombongan wartawan baru-baru ini. Sektor pariwisata Wakatobi memang sedang menggeliat. Pemda setempat terus membenahi infrastruktur untuk menunjang pengembangan pariwisata. Hingga kini, arus kunjungan wisata telah mencapai 3.000-5.000 orang per tahun. Namun, kunjungan wisata masih didominasi turis asing asal Eropa dan Amerika.
Taman Nasional Kepulauan Wakatobi (TNKW) memang merupakan taman laut terbesar kedua setelah Taman Nasional laut Teluk Cendrawasih di Papua. Di kepulauan ini, banyak orang mengagumi pesona Karang Kaledupa yang merupakan karang terluas dan terpanjang di Indonesia. TNKW memang terletak di kawasan Segitiga Terumbu Karang Dunia.
Kepulauan Wakatobi memiliki 25 gugusan terumbu karang. Terumbu karang tersebar di antara 37 pulau yang ada. Di kepulauan ini, baru enam pulau saja yang dihuni. Sementara hanya 11 pulau yang memiliki nama. Sisanya, 31 pulau masih tak bernama dan belum dikelola. Para wisatawan yang datang , umumnya melakukan kegiatan selam, snorkeling, berenang, berkemah dan wisata budaya.
Keindahan alam Wakatobi memang berasal dari kekayaan sumber daya alamnya. Kajian ekologi yang dilakukan The Nature Conservancy (TNC) dan World Wide Fund for Nature (WWF) pada tahun 2003 menemukan 396 jenis karang batu penyusun terumbu karang. Di kawasan itu, sebanyak 590 jenis ikan ditemukan berkembang biak. Untuk melihat upaya konservasi di Wakatobi, WWF dan TNC mengundang para wartawan dari Jakarta dan Kendari. Dari Kendari, rombongan menuju Bau-Bau dan melanjutkan perjalanan dengan kapal Phinisi bernama Menami. Dengan kapal bermesin itu, kami mengunjungi pulau-pulau di Wakatobi.
Musim Kunjungan Jika menggemari olahraga selam, situs penyelaman di Wakatobi sampai ratusan jumlahnya. Seorang pengusaha asal Swiss bernama Lorenz Mader bahkan telah membuka Wakatobi Dive Resort, yang menawarkan wisata selam. Resor tersebut malah sudah dilengkapi dengan bandara perintis, yang melayani turis langsung dari Bali. "Musim kunjungan terbaik adalah bulan April sampai Juni dan Oktober sampai Desember. Di luar bulan itu, ombak terlalu besar sehingga terlalu berisiko untuk melakukan perjalanan," kata Maaruji, warga se- tempat.
Selain Wakatobi Resort, ada beberapa perusahaan yang mengurus kunjungan wisatawan ke Wakatobi dan kawasan wisata lainnya di Kabupaten Buton, antara lain Badan Pengembangan Wallacea (Jakarta) dan Wolio Travel (Baubau). Biasanya, wisata-wan juga dapat menggunakan kapal besar dari Kendari. Jarak Kendari-Wakatobi dapat ditempuh dalam waktu 16 jam.
Wisatawan yang berkunjung ke TNKW dapat menginap di 63 bungalow, milik pemda di Pulau Hoga. Sementara PT Wakatobi Dive Resort mengelola Pulau Onemobaa, pulau kecil berpasir putih secara eksklusif. Namun paket wisata di sana relatif mahal. Sementara di Pulau Hoga, sebelah utara Pulau Kaledupa, tarif menginap di satu bungalow masih Rp 50.000, per malam.
Masing-masing pulau tersebut berstatus pemerintahan kecamatan. Kepulauan yang terletak di Laut Banda itu berjarak 150-200 mil dari Baubau, ibu kota Kabupaten Buton. Dahulu Wakatobi memang menjadi bagian dengan Kabupaten Buton. Itu sebabnya, sebagian wisatawan kadang juga memilih rute Kendari - Bau-Bau - Wanci. "Setiap hari, ada dua kali kapal cepat, dengan lama 5 jam perjalanan. Ada juga kapal kayu, tetapi memakan waktu 12 jam perjalanan. Kota Wanci di Pulau Wangi-wangi adalah pintu gerbang Wakatobi," papar Outreach & Community Development Coordinator WWF Indonesia, Veda Santiadji.
Daya Tarik Menurut Monitoring & Surveilance Coordinator TNC, Anton Wijonarno, sejak berstatus taman nasional, Wakatobi terus mengembangkan program konservasi sumber daya alam. Tujuannya adalah melestarikan kekayaan sumber daya alam flora dan fauna baik di luar maupun di darat. "Berkat keanekaragaman terumbu karang, Wakatobi memiliki keistimewaan biota laut. Selain berlimpah sumber daya laut, kepulauan ini juga mempunyai kekayaan fauna and flora spesies langka," ujarnya.
Di perairan Wakatobi, para nelayan tradisional cukup mudah mendapatkan ikan. Populasi ikan tersebut memang sangat bergantung dengan keberadaan terumbu karang. Oleh karena itu, praktik penangkapan ikan dengan bom atau obat bius cukup meresahkan. Hal itu mulai disadari setelah WWF dan TNC melakukan edukasi terhadap masyarakat setempat.
"Kami juga mencoba mengupayakan peran petani rumput laut. Kalau banyak petani rumput laut, otomatis nelayan pembom akan takut. Mereka saling bertentangan karena rumput laut akan rusak," ujar Kepala Balai TNKW, Syihabuddin. Perairan Wakatobi sangat kaya dengan sumber daya laut. Setelah mengenal rumpon, para nelayan makin mudah mendapatkan ikan. Seekor ikan tuna dengan berat 4 kg dijual dengan harga Rp 20.000.
Berbagai spesies ikan memang dapat ditemukan dengan mudah. Mulai dari kakap, kerapu, ekor kuning, tuna, napoleon, sampai hiu. Jika beruntung, wisatawan juga dapat menyaksikan iringan lumba-lumba berenang dari atas kapal.
Tiga bulan sekali, beberapa kapal pengumpul ikan berlabuh di perairan Tomia. Kapal-kapal itu membeli ikan dari para nelayan setempat. Hampir sebulan penuh, mereka mengisi muatan. Salah satu kapal pengumpul malah berasal dari Muara Baru, Jakarta. Menurut mereka, ikan-ikan itu akan dipasok untuk pasar-pasar Jakarta. Jika waktu perjalanan mencapai dua minggu, bisa dibayangkan, berapa lama ikan-ikan dalam pengawetan?
Wakatobi tidak hanya punya daya tarik alam. Di kepulauan itu, ada beberapa perkampungan Suku Bajo yang didirikan di atas laut. Mereka dikenal sebagai pelaut tangguh. Para nelayan Bajo juga dikenal mampu menangkap ikan hanya dengan tombak. Di pulau Kaledupa dan Binongko, wisatawan dapat membeli kain tenun hasil kerajinan penduduk setempat. Sehelai kain tenun ikat dijual dengan harga Rp 100.000- Rp 200.000.
Di Kaledupa, kerajinan yang dikenal adalah kain sarung Wuray dan tikar lipat. Jika mampir ke Pulau Binongko, jangan ragu mengunjungi lokasi para pengrajin besi. Dari para pengrajin inilah, Wakatobi dikenal sebagai kepulauan Tukang Besi. Menikmati keindahan alam Wakatobi rasanya tak cukup hitungan hari. Keanekaragaman flora dan faunanya begitu memanjakan mata. Tak kunjung puas orang mengagumi pesonanya.
Setelah sauh diangkat, Menami membawa kami pulang. Jauh di sanubari, kami pun berjanji. Wakatobi, suatu hari nanti, kami kan kembali. [Pembaruan/Unggul Wirawan]
Last modified: 15/6/06 SUARA PEMBARUAN DAILY
Wednesday, August 02, 2006
Lebih Baik Terlambat Daripada...
Munculnya Gerakan Kemandirian
Monday, July 17, 2006
Sunday, July 16, 2006
Siapa seh yang nenek moyangnya pelaut?

Kami di Wanci kedatangan tamu tak diundang. Berbekal pesan dari seorang Yunani penggila bola yang ditemui di Banda Neira, Piere sekeluarga berlayar ke Wakatobi menuju Wanci mencari kantor WWF. Katanya sih ada orang yg baik yang bisa diajak ngobrol. Dan tibalah mereka sekeluarga dengan yacht-nya "Archibald" di Wanci 15 July 2006 kemarin. Nah mereka sekeluarga ini dah 9 bulan ninggalin negaranya, New Caledonia, hanya tuk memastikan bisa berkumpul sekeluarga setelah sekian tahun sibuk bekerja. Pak Pierre dan bu Veronique ninggalin pekerjaannya di rumah sakit dan satu klinik swasta, sebagai dokter, tuk mengarungi lautan bersama anak2nya. Pas ditanya kapan mo pulang, enteng aja mereka menjawab " Ya ntar deh kalau emang udah waktunya nyampe di New Caledonia, gak perlu ditarget deh..." Wow... Jadi sebenarnya siapa seh yang nenek moyangnya pelaut itu...?
Ntar dibawah ada sepenggal data yang dikumpulkan Rustam (journalist Media Sultra) , yang terpaksa kucatat juga berhubung kendala bahasa do'i pas mo wawancara.
Aku bareng Akas, Saleh, Rustam and Menami captain, menghabiskan sore yang asik itu ngobrol bersama Piere dan Veronique. Sementara anak2 mereka, asyik berlarian bermain di anjungan dan sekali dua keluar masuk cabin yang mungil tapi keliatan sangat nyaman itu. Gak tahan rasa ingin tahuku, kuminta ijin untuk melongok cabinnya. Ada 5 tempat tidur yang nyaman seukuran badan lebih dikit. Ada toilet kecil, kalau mandi gak muat kali ye.. dan dapur yang jg gak kalah mungilnya. Ada kulkas buat simpan ikan hasil pancingan atau memanah, tapi hanya berfungsi kalau langit cerah atau berangin kuat. Maklum pembangkit listrik di kapal itu melulu dihasilkan dengan solar panel dan kincir angin yang terletak di atas buritan kapal. Jadi untuk menghemat listrik, yang juga digunakan untuk mengakses email via laptop dengan satelit phone mereka dan penerangan serta perangkat pemandu pelayaran maka kulkas prioritas terakhir. Lagian selama perjalanan mereka gak kekurangan ikan hasil tangkapan. Praktis duit cuma tuk beli beras dan sayur dan buah kata Veronique. Lumayan irit..!
Gak terasa senja kian gelap, terpaksa deh kami harus balik ke darat. Gak enak lagi, siapa tahu mereka mo dinner, kita kan jadi ngrepotin. Terpaksa dengan masih memendam rasa penasaran dan ingin tahu yang masih menggumpal kami mohon pamit dari kapal mereka.
Yang bikin takjub lagi pas kami mo pulang dari berkunjung di yacht yang mungil tapi canggih itu mereka sempat nanya
"Ada gak sih tempat sampah di Wanci?"
Pikirku "Maksudnya apa neh...?"
Veronique bilang bahwa pagi tadi pas turun ke darat n sampai ke pasar, tuk belanja, doi tuh bawa dua plastik isi sampah mereka. Nah nglongok kiri kanan gak dapetin yang namanya tempat sampah. Karenanya mereka bawa balik lagi deh tas plastik isi sampah itu ke kapalnya. Hebat gak seh...?
Yah karena gak mo malu, masak segede ini pulau Wangi-Wangi gak ada tempat sampah, maka kami putuskan untuk bawa saja tuh plastik dua buah tuk kami buang ke tempat sampah di kantor. Itu baru bangsa pelaut ! Gak tega ngotorin laut biar gak ada yang ngawasin mereka, ya gak...
My note :
Pierre and Veronique with Archibald yacht.
They left New Caledonian on Sept 2005
They both are doctors who used to work at hospital and private clinic.
Their children study by themselves under their own control and they sent 6 weekly test/exam to France through Veronique sister.
The kids study Math, Geography, French, English, Science, Drawing, Art.
They bring modul for Sept-June, when pass the exam they will get the new modul for next class level.
They had been lived on the Archibald for 6 years since they move from France to New Caledonian
They journey passed Vanuatu, Papua New Guinea, Manokwari, Sorong, Banda Neira n Wangi2.
Then Hoga, Tomia, Takabonerate, Maumere, Flores, Bali, Kalimantan, Malaysia, Singapore, Thailand, Madagascar, South Africa, Panama n back to New Caledonian
They stayed at Banda for a week on June and watch World Cup game especially on France match facing Spain, Brazil, n then the final with Italia.
The boat has 500 liter freshwater and solar panel and wind generator for electricity.
They usually get freshwater from rain.The boat is 19 gt, 15 m length and 4 m wide, with 5 bed in the cabin.
Saturday, July 15, 2006
Monday, July 10, 2006
jurnal 8 juli 2006

Sejak tanggal 5 Juli kemarin, 25 orang petani rumput laut di Wakatobi kedatangan dua tamu. Pak Hariadi dan Pak Marcel diundang Balai Taman Nasional Kepulauan Wakatobi untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam mengelola usaha budidaya rumput laut. Pak Hariadi memulai usahanya sejak 1967. Bisa jadi beliaulah yang memulai usaha budidaya rumput laut di Indonesia ini. Kalau Pak Marcel sih pengusaha rumput laut yang masih aktif pengekspor sampai sekarang melalui perusahaannya CV Sumber Rejeki di Menado.
Tips untuk Pembudidaya Rumput Laut
Lokasi
- Dasar pasir sedikit kasar atau karang atau karang berpasir
- Arus air berkisar antara 20 – 40 cm/detik
- Salinitas : 28 – 33 ppt
- Di dasar terdapat hamparan sargassum atau lamun
- Untuk lepas dasar minimum bisa dipasang 30 cm dari dasar (saat surut)
Tanam
1. Pilih bibit yang banyak cabangnya dan tidak cacat atau terluka agar hasilnya pun akan bagus.
2. Ikatkan bibit pada tali ris dengan cara ikat seperti mengikat kolor celana. Ini agar dapat dilepas dengan mudah tanpa harus memotong rumput laut itu. Agar tidak mudah terlepas karena arus, jangan lupa kunci dua kali ikatan tersebut.
3. Lebih baik gunakan tali rafia atau plastik untuk es dibanding tali nilon. Ini agar rumput laut yang tumbuh besar nantinya tidak mudah terpotong karena tajamnya tali nilon.
4. Apabila pertumbuhan rumput laut di lokasi tanam sangat cepat, pasang saja bibit yang kecil dan cukup dua tangkai per ikatan.
5. Ketika membawa bibit baik saat mengambil maupun akan menanam, upayakan selalu terlindungi dari panas matahari. Untuk itu di perahu perlu dipasangkan tudungan dari bambu atau karton. Jangan langsung ditutup dengan plastik karena perlu udara di bawah tudungan tersebut.
6. Bibit yang belum sempat dipasang, bisa direndam dulu di air laut agar tetap segar dan sehat.
7. Untuk tanam apung upayakan tali ris 20 cm dari permukaan air laut. Ini untuk mencegah rumput laut terekspos langsung oleh sinar matahari, yang akan menyebabkan kerusakan.
Pelihara
1. Salah satu musuh rumput laut adalah lumut. Selalu bersihkan rumput laut dari lumut. Ini agar rumput laut anda tidak dimakan ikan. Ikan memakan lumut, karena lumut menempel di rumput laut maka termakan pula rumput laut itu.
2. Arus yang kurang kuat akan menyebabkan tumbuhnya lumut lebih cepat, untuk itu perlu lebih rajin lagi pemeliharaan agar tidak menurun pertumbuhan rumput laut karena terselebungi lumut.
3. Belum ada pupuk yang tepat bagi rumput laut. ”Pupuk” terbaik adalah bayang-bayang manusia, dimana artinya pemeliharaan setiap hari.
4. Rumput laut harus dibiarkan di perairan selama minimal 45 hari. Kurang dari itu akan menyebabkan kualitas karagenan rendah.
5. Apabila pertumbuhan terlalu cepat besar, kurangi bibitnya, jangan mengurangi hari tanam kurang dari 45 hari.
Panen
1. Setelah umur 45 hari segeralah dipanen, agar tidak rugi waktu.
2. Masih dalam keadaan terikat di tali ris, rumput laut tidak perlu dilepas dulu. Tiriskan saja di gantungan yang dapat dibuat dari bambu seperti jemuran baju.
3. Tiriskan rumput laut selama 1 sampai 1,5 hari bersama tali risnya. Ini bisa sekalian menjemur tali ris hingga kering.
4. Setelah ditiriskan baru lepaskan rumput laut dari tali risnya. Ingat jangan melepas rumput laut dengan cara menariknya karena akan melukai tangkai rumput laut dang membuang kandungan karagenan dalam rumput laut.
5. Apabila ikatan seperti tali kolor celana yang digunakan maka akan lebih mudah melepasnya. 6. Bila tidak bisa dilepas dengan memotong tangkai tepat di jeratan tali sehingga luka dapat diminimalkan.
Pasca Panen
1. Penjemuran harus dilakukan di atas para-para, dan jangan di atas tanah atau lantai. Ini untuk mempercepat proses pengeringan dan tidak kotor.
2. Hamparkan rumput laut di para-para selapis saja. Jangan menumpuk terlalu tebal agar proses pengeringan merata.
3. Setiap dua sampai tiga jam sekali hamparan tersebut harus dibolak-balik agar lebih merata keringnya.
4. Standar kualitas rumput laut yang baik adalah : kandungan air maksimum 35% dengan kekotoran maksimum 2%.
5. Penyimpanan di gudang atau di rumah tetap harus ditutupi plastik atau di dalam karung agar tidak terserap lagi uap air di udara. Apabila rumput laut kering berwarna putih bisa jadi pernah tersiram air tawar atau kena hujan.
6. Satu karung plastik 100 kg umumnya memuat 80 kg rumput laut.
jurnal 10 juli 2006



Hari ini berakhir pelatihan operator radio untuk beberapa rekan yang telah memiliki maupun baru mau bikin radio komunitas. Tiga rekan dari Kendari : Bayu, Fadly dan Berpin, memandu pelatihan ini. Bayu dan Fadly melatih pembuatan materi siaran radio baik berupa berita, iklan ataupun feature. Sedangkan Berpin melatih pemeliharaan perangkat siar radio dan merakit pemancar.
Friday, December 02, 2005
Tempat Bertemunya Monster Laut
Monday, October 03, 2005
Man or beast? -- the daily talk in a national park
Sunday, October 02, 2005
Wakatobi dalam Transisi
Taman Nasional Wakatobi, Bertahan pada Dua Arus
Oleh Adiseno
Wanci – Kata orang di Pulau Hoga, kalau mau ke Binongko akan menyeberang selat dengan arus deras. Begitu juga dari Pasar Wajo di Pulau Buton menuju ke Pulau Hoga, ada gelombang yang menandakan arus ke Laut Banda. Buat orang yang tak biasa melaut, goncangan ini memabukan. Sekarang pulau-pulau di Sulawesi Tenggara itu pun terguncang dua arus, konservasi dan eksploitasi.
Pulau – pulau Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko adalah pulau terbesar di Kepalauan Tukang Besi. Sekarang orang lebih mengenalnya dengan Wakatobi, singkatan keempat nama pulau itu. Ini juga karena nama Wakatobi yang dipakai ketika kawasan seluas 1,39 juta hektare ini dijadikan taman nasional laut pada 1996.
Perkara taman nasional, seperti biasa dimulai dari ketakutan sumberdaya yang kaya didalamnya dijarah manusia. Hutan yang takut habis di darat sudah dari zaman kolonial dipagar-pagar dengan ketentuan hutan lindung. Sayangnya, baru zaman kemerdekaan pada kawasan yang jauh lebih luas lautannya seperti Kepulauan Nusantara kita ini, pelestarian kawasan laut dilakukan.
Salah satunya yang terbesar adalah Karang Kaledupa. Berada 10 mil laut ke barat dari Wakatobi. Ini yang bisa dilihat mata telanjang oleh orang darat dari atas kapal. Jika mau menyelam, situs penyelaman di Wakatobi sampai ratusan jumlahnya. Bahkan ada orang Swiss Lorenz Mader yang membuka resor penyelemanan lengkap dengan bandar udara perintis, yang melayani turis kaya langsung dari Bali.
Juga ada Operation Wallacea (Opswal) yang menyediakan kesempatan bagi ilmuwan dan mahasiswa yang mampu bayar 2000 poundsterling (Rp 37.808.000, - dengan kurs Rp 19.805,- /poundsterling) untuk belajar dari alam kita yang kaya. Ini di Pulau Hoga. Setiap musim pembelajaran yang lamanya tiga bulan bisa seratusan mahasiswa dan peneliti yang datang. Ini sudah berjalan lima tahun, begitu yang dijelaskan John Coop, direktur operasi Opswal.
Bagi awam seperti saya, ini indikasi bahwa memang ada sesuatu yang indah dan perlu dilestarikan. Perlu lestari sendiri diperkuat oleh Duncan May, seorang peneliti yang sudah tahunan di Wakatobi. “Keadaan tangkapan menurun, bisa dilihat jika predator pada rantai makan berkurang,” jelas dia dengan sabar. Maksudnya sekarang ini kalau berenang selepas pantai Hoga tidak bakal lagi ketemu ikan hiu. Padahal hal ini ketika May pertama meneliti bukan hal yang heboh. Jika hiu sudah jarang maka artinya populasi bawah laut juga langka, begitu kira-kira maksudnya.
Ini lah arus pertama yang sudah hampir sepuluh tahun melanda Wakatobi. Arus ini bagi para peneliti konservasi di Wakatobi dinilai lemah. Coba saja tanya pada para petugas taman nasional, pada anggota World Wide Fund for nature (WWF) dan The Nature Conservancy (TNC) yang bergerak dibidang itu disana. Veda Santiaji (WWF), Purwanto (TNC), La Fasa (Polhut), Murgianto (juga Polhut) semua khawatir akan kelestarian bawah laut di Wakatobi. Mereka rata-rata disana sudah selama Duncan May.
Kira-kira dua tahun lalu datang arus baru. Entah apa arus ini masih jadi tanda-tanya. Ada undang-undang no 29 tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Wakatobi. Yah, luasnya seluas 1,39 juta hektare, sama persis dengan luasnya taman nasional. Dan pemilihan kepala daerahnya yang direncanakan Juni ditunda jadi 20 September mendatang. Biasanya, pemerintah daerah dan pimpinannya akan mengarah pada peningkatan kesejahteraan yang kerap identik dengan eksploitasi.
“Saya yakin bisa sejalan,” begitu ujar Sarifudin Safaa pejabar bupati yang bertugas mempersiapkan kabupaten baru ini. Ia optimis pemerintah daerah bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat jika bupatinya mengutamakan konservasi. Demikian diutarakannya di Kaledupa ketika ditemui wartawan. “Saya optimis jika pimpinan mendahulukan konservasi. Hanya itu dan pariwisata.” Demikian Safaa (3/9).
Duncan May pun sepakat. Bisa jadi seperti “dua arus” bertemu seperti dalam ilmu kelautan dimana jika arus panas dan dingin bertemu (Kuroshiwo, contohnya) maka hasilnya jadi lokasi ikan. Richard Unsworth peneliti dari Essex University di Inggris yang jadi pendamping mahasiswa pun sepakat. “Ada kelompok Forkani yang merupakan kumpulan petani rumput laut. Mereka mulai merasa terganggu dengan adanya pengebom dan racun ikan. Jadi mereka mulai bertindak.” Maksud Unsworth masyarakat sendiri mulai menerima perubahan akan kebutuhan konservasi bukan hanya eksploitasi. Jadi ia dan Duncan juga berharap pemerintah daerah pun menerima yang sama.
Copyright © Sinar Harapan 2003
Tuesday, September 20, 2005
Chris Majoers: Bajo lovely
Tuesday, August 02, 2005
jurnal 1 Agustus 2005
Pagi tadi acaraku pertemuan dengan staf Balai TNKW untuk evaluasi program outreach dan membahas tindaklanjut pertemuan-pertemuannya. Selesai pukul 15 - an melanjutkan acara hari ini dengan nongkrong di Kamali Beach bersama Beloro, rekan dari Kaledupa. Tampak keramaian wisatawan lokal yang menikmati pinggiran pantai yang belum selesai direhab itu.
Sambil menikmati nasi campur, kulihat speed "Nautilus" meluncur dari utara menuju pelabuhan ferry. "Pasti itu Bardin" gumamku. Tadi pagi sebelum meninggalkan kamar 205 hotel Rajawali ia sempat bilang mau ujicoba speed baru yang sedang finishing setelah beberapa hari dibongkar akibat kesalahan desain di Jakarta.

